Menggarap Ladang, Melatih Diri

Jurnalis : Indrawan Paimin (He Qi Timur), Fotografer : Indrawan Paimin (He Qi Timur)
 
 

fotoSebanyak 16 orang relawan Tzu Chi Timur menggarap ladang berkah dengan membersihkan gedung Aula Jing Si

Aula Jing Si di Pantai Indah Kapuk berdiri dengan megah dan kokoh, bangunan inilah yang disebut sebagai rumah bersama bagi semua insan Tzu Chi Indonesia. Keberadaan Aula Jing Si ini menunjukkan jejak langkah Yayasan Buddha Tzu Chi di Indonesia dan warisan buat anak cucu kita ke depan.

Setiap sudut Aula Jing Si merupakan sebuah karya agung yang berbasis humanis dengan simbol- simbol yang memiliki arti yang dalam. Misalnya, atap Aula Jing Si yang berbentuk segitiga memiliki simbol Ren yang artinya manusia, bersusun tiga mempunyai makna Buddha, Dhamma dan Sangha. Selain itu juga memiliki arti harfiah manusia haruslah saling mendukung dan mengasihi. Semua lapisan dinding yang berbatu sikat melambangkan kebersamaan seluruh relawan Tzu Chi dalam bahu membahu menyebarkan kebajikan, cinta kasih dan ajaran Master Chen Yen. 

Keberadaan Aula Jing Si di Indonesia merupakan sebuah sejarah dan rumah bagi seluruh Bodhisatwa dunia yaitu relawan Tzu Chi di Indonesia. Tentunya "rumah kita bersama" ini haruslah juga dijaga dan dibersihkan oleh pemilik rumahnya sendiri. Setiap minggu semua relawan dari seluruh He Qi diberikan kesempatan untuk menggarap ladang berkah membersihkan Aula Jing Si yang megah ini.

Tampak sekelompok relawan dari He Qi Timur, Kelapa Gading menggarap ladang berkah ini setiap Sabtu pagi dari jam 8 pagi hingga 11.30 siang. Relawan yang berjumah hampir sebanyak 16 orang terdiri dari berbagai kalangan pria dan wanita, muda dan senior bahu membahu saling membantu. Tampak semuanya sangat antusias dengan peralatan kerja di tangan yang sebagian dibawa masing masing dari oleh relawan. Tepat pukul 7 pagi relawan yang ingin bersumbangsih telah kumpul di halaman Sport Club Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Sebagian ada yang membawa bekal berupa sarapan dan makanan ringan seadanya bagi yang belum sempat menikmati sarapan pagi. Terdengar gelak tawa semua relawan.  Jam menunjukkan pukul 07.15 WIB, mobil bergerak meninggalkan lokasi menuju Aula Jing Si di kawasan Pantai Indah Kapuk.

Tepat pukul 8 semua relawan sudah berkumpul di halaman Aula Jing Si sambil menunggu juru kunci untuk membuka pintu Aula Jing Si. Semua relawan dengan He Xin (bersatu-padu) menuju lantai 5 Aula Jing Si. Lantai 5 Aula Jing Si merupakan tempat peristirahatan atau mess bagi semua relawan Tzu Chi yang datang dari luar daerah Jakarta.

foto   foto

Keterangan :

  • Kegiatan ini menjadi ajang pelatihan diri untuk lebih bisa merendahkan hati, bekerjasama dan saling mengasihi (kiri).
  • Meski cukup menguras tenaga, tapi tidak tampak rasa lelah di wajah para relawan. Hal ini karena mereka memiliki rasa (kanan).

Ketika memasuki Aula Jing Si lantai 5, tampak permukaan lantai marmer yang hampir tidak kelihatan cahaya kilatnya akibat tertutup oleh kotoran debu. Waah.. saya sekilas teringat dengan Dharma Master Cheng Yeng yang menyatakan bahwa apabila hati kita tidak dibersihkan maka kekotoran batin akan terbentuk dan menyebabkan manusia berbuat hal-hal yang tidak benar. Demikianlah juga lantai 5 Aula Jing Si  yang begitu penuh dengan debu. Tanpa basa basi semua relawan setibanya di lantai 5 langsung pencar ke semua sudut ruangan. Tanpa diinstruksikan semua relawan melakukan tugas bebersih masing masing. Debu di ruangan berterbangan, lantai penuh dengan debu bercampur tanah, dinding kaca penuh dengan noda dan debu, toilet yang lembab bercampur percikan air seni di closet maupun urinoir yang telah mengering menimbulkan bau yang kurang sedap.

Saya kembali merenung dan menundukkan kepala.. Demikian juga hati manusia. Seperti kata Perenungan Master Cheng Yen bahwa setiap manusia mempunyai hati yang welas asih dan penuh kebajikan. Apabila kita tidak melatih diri, dan bergaul salah maka hati kita akan penuh dan diliputi kekotoran bathin berupa lobha atau keserakahan, dosa atau kebencian, dan moha atau kebodohan. Hal ini membuat manusia terjerumus ke dalam pergaulan maupun lingkungan yang salah.

Beberapa relawan terlihat mengisi kegiatan bersih-bersih ini dengan saling bersenda-gurau, ada yang beberapa terdengar bersiul dan bernyanyi. Sebagian ada yang terlihat sangat serius dan hanyut dalam pekerjaannya.

Hu Ai - saling mengasihi, bahu-membahu tampak satu sama lain relawan mendukung untuk membersihkan seluruh sudut ruangan Aula Jing Si lantai 5 ini.  Seluruh bagian kamar, disapu lalu dipel. Lemari pakaian dibuka dan dipel agar debu yang menempel hilang. Dinding kaca disemprot dengan obat pembersih kaca dan lantai disapu lalu dipel. Sebagian relawan ada yang mengambil posisi di sudut kanan dan kiri Aula. Disana merupakan toilet dan tempat mandi.  Urinoir dan closet disikat, lantai disapu lalu dipel. Kaca di toilet dibersikan dengan pembersih dan dilap dengan kertas koran.

Tidak terasa, waktu menunjukkan pukul 11.00 siang. Sebagian relawan yang mulai terasa lelah dan dahaga. Dalam waktu 4 jam, semua permukaan lantai Aula Jing Si lantai 5 mulai kelihatan bersinar. Tapi apakah semuanya sudah boleh dikatakan bersih dan bebas debu. Tentu tidak!

Demikian juga kondisi batin manusia. Harus terus diasah agar senantiasa bersih dan  dilatih agar selalu diisi dengan hal yang bajik. Ibarat sebuah benih yang baik, ditanam di tempat yang subur dan dijaga serta diberikan pupuk secara rutin. Maka benih ini akan tumbuh dengan terawat dan kelak akan menghasilkan ratusan benih yang bajik juga. Itulah kekuatan sebuah benih yang baik dan terawat. Waktu menunjukkan pukul 11.30 siang, semua relawan mulai bersiap untuk beristirahat dan menyiapkan kembali semua peralatan kerja. Secara fisik saya sangat yakin semua relawan cukup lelah. Tapi tidak tampak sedikitpun guratan dan keluhan dari bahasa tubuh maupun ucapan mereka.  Tampak sebagian berjanji untuk membuat rencana kerja buat Sabtu depan. Sebuah pelatihan diri buat semuanya. Bukan hanya bebersih Aula Jing Si, tetapi sebuah pelatihan diri. Pelatihan diri untuk lebih bisa merendahkan hati, bekerjasama dan saling mengasihi. Demikianlah makna dari ajaran Master Cheng Yen yang ditularkan lewat sebuah kegiatan bebersih Aula Jing Si yang begitu megah. Dalam hati kecilku berkata, “Terima kasih Guru atas bimbingan lewat sebuah ladang berkah kegiatan bersih-bersih Aula Jing Si, satu pelatihan diri telah saya jalani hari ini. Semoga dan untuk selamanya, saya berjanji mengikuti bimbingan Master Cheng Yen.”

  
 

Artikel Terkait

Berawal dari Sebersit Niat

Berawal dari Sebersit Niat

12 Januari 2016

Pada 31 Desember 2015, relawan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun mengadakan kegiatan pelestarian lingkungan dengan mengambil sampah dan memilahnya di salah satu lokasi acara yang dihadiri oleh Bupati Karimun, Coastal Area. Sebanyak 40 relawan turut berpartisipasi dalam kegiatan ini, tak terkecuali warga dan para pedagang yang juga membantu memungut sampah-sampah.

Bermuara dalam Lautan Cinta Kasih

Bermuara dalam Lautan Cinta Kasih

23 Agustus 2016

Untuk mewujudkan niat baik yang digenggam oleh para karyawan Toko Sejahtera General Houseware, sebanyak 27 karyawan bersama-sama menuangkan kumpulan tetesan cinta kasih pada kegiatan penuangan celengan bambu pada 9 Agustus 2016. Koin yang terkumpul disalurkan untuk membantu sesama yang membutuhkan.

Perhatian untuk Korban Kebakaran Surabaya

Perhatian untuk Korban Kebakaran Surabaya

11 Desember 2018
Senin, 10 Desember 2018 relawan tanggap darurat melakukan pemberian bantuan kepada korban kebakaran di wilayah wilayah Kapasan Dalam Gang I dan II, Kecamatan Simokerto, Kelurahan Kapasan, Surabaya.
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -