Menghidupkan Urban Farming dan Biopori di Tengah Jakarta

Jurnalis : Fikhri Fathoni , Fotografer : Fikhri Fathoni
Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Pusat yang tergabung dalam tim urban farming dan biopori, memotong sampah organik yang terdiri dari sayur dan buah untuk dimanfaatkan menjadi pupuk alami biopori.

Di tengah padatnya kawasan perkotaan yang identik dengan minimnya ruang hijau, relawan Pelestarian Lingkungan He Qi Jakarta Pusat mengingatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana. Melalui kegiatan urban farming, para relawan mulai memanfaatkan ruang yang tersedia untuk menghadirkan lingkungan yang lebih hijau dan produktif.

Kegiatan ini dikembangkan di Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi, Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat. Meski lahan utama yang tersedia masih dalam tahap persiapan untuk digarap, para relawan telah memulai langkah awal dengan melakukan uji coba penanaman menggunakan pot-pot dari galon air bekas.

Saat ditemui pada Rabu, 29 Juli 2026, Koordinator Bidang Pelestarian Lingkungan He Qi Jakarta Pusat, Tiarlin Apridawati yang akrab disapa Agatha, menjelaskan alasan di balik pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Kita kan tinggal di Kota Jakarta, yang namanya kota itu kan lahan sudah terbatas, lebih banyak bangunan tembok daripada tanah daerah resapan. Kita melakukan urban farming itu karena di Depo Pelestarian Lingkungan Pangeran Jayakarta masih ada lahan terbuka,” jelas Agatha.

Lahan urban farming yang telah dipersiapkan oleh relawan. Nantinya, lahan tersebut akan ditanami buah, sayur, tanaman herbal, dan tanaman hias dengan metode biopori.

Lahan terbuka yang akan dimanfaatkan tersebut awalnya berupa area coran semen dan dipenuhi puing-puing. Tim urban farming dan biopori yang tergabung dalam Misi Pelestarian Lingkungan kemudian mulai bergotong royong menyiapkan lahan. Persiapan dilakukan secara bertahap, mulai dari membersihkan area, mengangkat puing-puing, membuat pembatas lahan, hingga penambahan tanah sebagai media tanam.

Saat itu, lahan tersebut belum dapat langsung digunakan untuk bercocok tanam. Kondisi tanahnya juga memerlukan pengolahan agar memiliki unsur hara yang cukup bagi pertumbuhan tanaman. Para relawan memanfaatkan sisa-sisa sayuran dan buah yang dikubur di dalam tanah sebagai sumber nutrisi alami.

Sambil menunggu proses penggarapan lahan utama, para relawan melakukan berbagai percobaan penanaman menggunakan pot dari galon air bekas. Pemanfaatan galon tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengurangi sampah plastik sekaligus memberikan fungsi baru pada barang yang sudah tidak digunakan.

Dengan kreativitas dan ketelitian, galon-galon bekas dipotong serta diberi lubang pori agar dapat digunakan sebagai media tanam. Di dalam pot-pot tersebut, bibit tanaman mulai disemai dan dirawat sebagai bagian dari uji coba awal urban farming.

Tanaman yang tumbuh nantinya akan dipindahkan ke lahan utama setelah lahan selesai disiapkan dan kondisi tanah dinilai cukup baik. Proses ini membutuhkan kesabaran, ketekunan, serta pengamatan yang berkelanjutan agar setiap tanaman dapat tumbuh dengan baik hingga siap dipindahkan ataupun dipanen.

Dengan kreativitas relawan, galon bekas di potong dan diberi pori-pori mengunakan solder. Relawan memanfaatkan galon bekas untuk menjadi pot tanaman yang mengunakan metode biopori.

Melalui langkah awal ini, relawan Pelestarian Lingkungan He Qi Jakarta Pusat menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang untuk mulai menjaga lingkungan. Dari pot-pot galon bekas, para relawan menanam bibit sekaligus merintis harapan akan hadirnya ruang hijau yang lebih produktif di tengah padatnya Kota Jakarta.

Ke depan, lahan tersebut tidak hanya akan dipenuhi tanaman sayuran dan buah, tetapi juga tanaman hias berbunga yang memiliki manfaat ekologis.

“Kenapa kita memilih tanaman hias yang berbunga? Karena refugia, tanaman refugia itu adalah tanaman hias yang berbunga, bunga itu akan mengundang serangga, sehingga serangga itu mencegah buah atau tanaman kita diserang hama. Kita menggunakan hubungan mata rantai,” jelasnya.

Mengubah Sampah Menjadi Kehidupan
Biopori menjadi salah satu inovasi sederhana yang diaplikasikan para relawan dalam mendukung gerakan urban farming. Di tengah keterbatasan ruang perkotaan, upaya ini tidak hanya bertujuan menghasilkan pangan sehat, tetapi juga menjawab persoalan lingkungan yang semakin nyata, yaitu mulai dari masalah berkurangnya daya resap air hingga meningkatnya volume sampah organik rumah tangga.

Berangkat dari semangat, relawan memanfaatkan botol plastik bekas air mineral menjadi lubang biopori yang ditanam di dalam tanah. Solusi sederhana itu bisa menjadi dua fungsi. Saat musim hujan, biopori membantu meningkatkan daya resap air untuk mengurangi genangan. Sehingga lubang tersebut menjadi tempat pengolahan sampah organik yang secara alami akan terurai menjadi pupuk organik untuk menyuburkan tanaman.

Relawan menyiapkan campuran bahan untuk isi pot yang terdiri dari tanah, pasir, arang, ijuk, batu, dan abu sisa bakaran yang berfungsi sebagai media tanam.

Setiap botol biopori menjadi bagian dari siklus yang menghubungkan pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan. Daun-daun, buah yang membusuk, hingga kulit buah yang sebelumnya dianggap limbah kini memiliki nilai baru sebagai sumber nutrisi bagi tanah.

“Kita mengolah sampah organik dari daun-daun, buah busuk, dan kulit buah menjadi pupuk organik. Karena bioporinya sudah banyak, jadi pupuk organiknya butuh banyak karena setiap empat hari sudah terurai di dalam botol. Jadi saat ini, dari dapur atau rumah relawan masih kurang sampah organiknya, jadi kita sekarang ambil dari pasar,” jelas Agatha.

Tak hanya memanfaatkan sampah dari rumah para relawan, mereka juga menggandeng pasar sebagai sumber tambahan limbah organik. Dengan demikian, semakin banyak sampah yang dapat dialihkan dari tempat pembuangan akhir dan kembali ke tanah sebagai unsur hara yang bermanfaat.

Proses pengolahannya dilakukan secara sederhana. Sampah organik lalu dipotong menjadi bagian-bagian kecil agar lebih cepat terurai. Selanjutnya, dimasukkan ke dalam botol biopori yang dikubur di sekitar tanaman sayuran, buah-buahan, tanaman herbal, maupun tanaman hias. Seiring waktu, mikroorganisme di dalam tanah menguraikan limbah tersebut menjadi pupuk organik yang memperkaya kesuburan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman secara alami.

“Kita menolak memakai pupuk kimia atau pestisida kimia, karena kita mau mengedukasi relawan Tzu Chi dan masyarakat yang belajar ke sini. Bahwa makanan sehat itu adalah makanan yang tidak memakai pestisida kimia dan tidak memakai pupuk kimia,” jelasnya.

Agatha (seragam biru), bersama relawan lainnya menanam bibit dengan media pot dari galon bekas dengan metode biopori. Nantinya ketika tanaman siap dipindahkan, relawan akan memindahkan tanaman tersebut ke lahan urban farming.

Selain itu, Agatha memandang urban farming sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas hidup masyarakat perkotaan. Kehadiran tanaman yang semakin banyak tidak hanya menyediakan pangan yang lebih sehat, juga menciptakan lingkungan yang lebih sejuk, lebih hijau, dan lebih nyaman untuk ditinggali.

“Pertama kita akan punya produksi sayur dan buah organik yang menyehatkan, yang kedua suhu panas akan turun dan ketiga kita juga akan mendapat oksigen gratis dari pohon yang kita tanam. Ketika kita hidup di lingkungan yang hijau kualitas hidup kita lebih bagus,” ungkapnya.

Menanam Harapan untuk Generasi Mendatang
Semangat pelestarian lingkungan yang dilakukan para relawan tidak berhenti di area kebun. Mereka juga membuka ruang belajar bagi masyarakat, termasuk anak-anak dan pelajar, agar semakin banyak orang yang terlibat menjaga bumi.

Agatha yang dibantu Khael, mengubur biopori ke dalam tanah di lahan urban farming untuk sumber nutrisi alami tanaman di sekitarnya.

Salah satu sosok yang menarik perhatian adalah Khael, seorang anak berusia enam tahun yang masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Di usianya yang masih belia, ia telah menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dengan ikut belajar tentang urban farming dan biopori.

“Di sini kita ada Khael yang berumur enam tahun kelas dua SD. Dia punya hati dan perhatian untuk lingkungan serta urban farming dan biopori. Kita berharap banyak yang seperti Khael di luar sana,” jelas Agatha.

Harapan tersebut tidak hanya ditujukan kepada Khael, tetapi juga kepada generasi muda di seluruh Indonesia.

“Kita berharap teman-teman Khael, mulai dari siswa SD, SMP, SMA hingga mahasiswa, memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Mereka mau mengolah sampah organik dan menanam sebagai upaya bersama untuk memperbaiki bumi kita serta mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA),” tambahnya.

Setiap benih yang ditanam bukan sekadar upaya menghijaukan lahan, melainkan juga menanam kesadaran bahwa perubahan besar selalu berawal dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Semangat itu selaras dengan ajaran Master Cheng Yen yang terus menjadi inspirasi setiap langkah relawan dalam menjalankan Misi Pelestarian Lingkungan.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan semakin berkurangnya ruang hijau di perkotaan, kisah para relawan Pelestarian Lingkungan He Qi Jakarta Pusat menjadi pengingat bahwa menyelamatkan bumi dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan konsisten.

“Saya ingat kata-kata Master Cheng Yen, yaitu dengan kedua tangan ini kita bisa menyelamatkan bumi. Sekecil apapun yang kita lakukan untuk meyelamatkan bumi teruslah lakukan. Master juga mengatakan sampah menjadi emas, emas menjadi cinta kasih,” ucap Agatha mengutip pesan Master Cheng Yen.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan semakin berkurangnya ruang hijau di perkotaan, kisah para relawan Pelestarian Lingkungan He Qi Jakarta Pusat menjadi pengingat bahwa menyelamatkan bumi tidak selalu membutuhkan langkah besar. Dengan pemanfaatan lahan, sebotol plastik bekas, segenggam kompos, dan tangan-tangan yang tulus bekerja bersama dapat menjadi awal tumbuhnya harapan bagi lingkungan yang lebih lestari.

Editor: Nur Al Fajar Rumsari

Artikel Terkait

Internasional : Menanam di Kebun Organik

Internasional : Menanam di Kebun Organik

26 Juli 2010
Kegiatan ini merupakan kerja yang penuh dengan sukacita dan cinta. Para relawan memiliki kepuasan batin, karena ketika mereka bekerja di ladang, mereka juga belajar untuk mengolah hati mereka sendiri.
Bahan Makanan dari Halaman

Bahan Makanan dari Halaman

10 Maret 2020

Relawan Tzu Chi Sinar Mas di Siak mengajak warga membudidayakan tanam hortikultura. Dengan menanam sayur-mayur dan tanaman pangan lainnya maka akan dapat menghemat pengeluaran warga. Sebanyak 80 ibu rumah tangga mengikuti sosialisasi ini dengan penuh semangat (29/02/2020).

Cintai Lingkungan dengan Tanaman Organik

Cintai Lingkungan dengan Tanaman Organik

24 Mei 2017
Beragam cara yang dapat dilakukan untuk melestarikan lingkungan. Mulai dari membuang sampah pada tempatnya, mendaur ulang sampah, hingga memanfaatkan lahan dengan menanam tanaman organik seperti yang telah dilakukan oleh relawan Tzu Chi Sinar Mas.
Keharmonisan organisasi tercermin dari tutur kata dan perilaku yang lembut dari setiap anggota.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -