Menghijaukan Pekarangan, Menyemai Harapan

Jurnalis : Jupiter (He Qi Jakarta Barat 3), Fotografer : Alvis Liong, Jupiter, Sim Budiman Setiawan (He Qi Jakarta Barat 3)

Budiman selaku Pembina kegiatan Penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA), Tanaman Pangan, dan Tanaman Buah sedang memberikan pengarahan mengenai tahapan penanaman kepada para relawan. Ia menjelaskan proses pembersihan lahan, pengolahan tanah, penentuan lokasi tanaman, serta hal-hal yang perlu diperhatikan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Dalam mendukung Misi Pelestarian Lingkungan, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 3 bersama mahasiswa BINUS University serta relawan muda-mudi Tzu Ching menyelenggarakan kegiatan Penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA), Tanaman Pangan, dan Tanaman Buah pada Sabtu, 17 Oktober 2026 di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Kebon Jeruk. Kegiatan ini bertujuan memanfaatkan lahan pekarangan yang tersedia menjadi area hijau yang produktif sekaligus memberikan manfaat bagi kebutuhan bersama.

Sebelum kegiatan dimulai, panitia menyiapkan berbagai perlengkapan berkebun, seperti sekop, garukan, cangkul, pupuk, dan sarung tangan bagi peserta. Sebanyak 20 jenis tanaman disiapkan untuk ditanam. Para relawan kemudian bekerja sama membersihkan lahan, mengolah tanah, dan mengatur posisi tanaman sesuai tinggi serta ukurannya.

Para relawan menyimak penjelasan yang diberikan sebelum memulai kegiatan penanaman. Dengan memperhatikan arahan, mereka memperoleh pemahaman mengenai persiapan lahan dan teknik penanaman yang tepat agar tanaman dapat tumbuh subur.

Para relawan berdiskusi dalam kelompok untuk menentukan tata letak tanaman berdasarkan jenis, tinggi, dan ukurannya. Mereka juga mempertimbangkan kedalaman tanah yang diperlukan agar setiap tanaman mendapatkan kondisi tumbuh yang sesuai.

Alvis, selaku PIC Utama kegiatan, menjelaskan bahwa penanaman ini bertujuan untuk memanfaatkan lahan pekarangan menjadi area hijau yang produktif. Selain memperindah lingkungan, tanaman tersebut diharapkan dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat bagi kebutuhan bersama. Meski menghadapi berbagai kendala selama proses penanaman, para relawan tetap bersemangat bekerja sama untuk memanfaatkan lahan pekarangan menjadi area hijau yang produktif. Selain menghijaukan lingkungan, tanaman yang ditanam diharapkan dapat memberikan manfaat dan memenuhi kebutuhan memasak dalam kegiatan Tzu Chi.

“Tujuan utamanya adalah memanfaatkan area pekarangan yang ada sebagai area hijau. Kita memilih tanaman obat keluarga (TOGA), tanaman pangan, dan tanaman buah karena hasilnya bisa kita gunakan untuk kebutuhan memasak Tzu Chi juga,” ujar Alvis.

Dengan penuh semangat, para relawan bekerja sama mencangkul dan menggemburkan tanah. Meskipun kondisi lahan dipenuhi batu, mereka tetap bergotong royong agar pekarangan siap ditanami.

Namun, proses penanaman tidak lepas dari tantangan. Dengan jumlah peserta yang mencapai lebih dari 60 orang, panitia perlu membagi relawan menjadi dua tim besar agar pekerjaan dapat berjalan dengan teratur. Kondisi tanah yang dipenuhi batu juga membuat proses pembersihan membutuhkan waktu dan tenaga ekstra. Selain itu, penentuan tata letak tanaman perlu mempertimbangkan tinggi dan ukuran, namun setiap relawan tetap bergotong royong menyelesaikan setiap tahapan pekerjaan. Ada yang membersihkan batu, menggemburkan tanah, hingga menanam dan menata tanaman. Kebersamaan ini menjadi kesempatan bagi setiap relawan untuk belajar saling membantu, bersabar, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Hani, salah satu relawan Tzu Ching, mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman baru yang menyenangkan baginya. Untuk pertama kalinya, ia berkesempatan mengikuti kegiatan penanaman bersama sekaligus belajar dan melatih keterampilan berkebun. “Senang juga karena bisa ikut kegiatan ini. Kebetulan baru pertama kali ikut kegiatan ini, jadi kita bisa tahu bagaimana rasanya menanam pohon bersama-sama. Terus, kita juga bisa melatih diri untuk berkebun,” tutur Hani.

Para relawan mulai melakukan penanaman di lahan yang telah dipersiapkan. Dengan mengikuti arahan pembina, mereka menempatkan tanaman sesuai lokasi yang telah ditentukan agar dapat tumbuh dengan baik.

Pengalaman ini juga mendorong Hani untuk terus merawat tanaman dalam kehidupan sehari-hari. Ia bercerita bahwa di rumahnya sudah terdapat beberapa tanaman yang biasa dirawat, seperti bonsai, lidah buaya, dan bunga. “Kalau kebiasaan baru untuk diterapkan di rumah, ya pasti ada. Kebetulan di rumah sudah biasa menyiram tanaman. Ada bonsai, lidah buaya, sama bunga,” tambahnya.

Keberhasilan kegiatan ini tidak hanya dilihat dari selesainya proses penanaman, tetapi juga dari keberlanjutan perawatan tanaman agar dapat tumbuh subur dan hasilnya dinikmati bersama. Kedepannya, kegiatan penanaman ini pun diharapkan dapat terus berlanjut. Tanaman yang masih dapat tumbuh akan dirawat dengan baik, sementara tanaman rimpang dapat ditanam kembali menggunakan rimpang yang sehat. Dengan demikian, pekarangan depo dapat terus menjadi area hijau yang produktif dan memberikan manfaat bagi kebutuhan bersama.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Jumat Bersih dan Olah TOGA jadi Sajian Takjil

Jumat Bersih dan Olah TOGA jadi Sajian Takjil

14 Maret 2025

Para relawan di Xie Li Kalimantan Timur 1 Unit Muara Wahau Mill menggelar Jumat Bersih sekaligus mengolah tanaman obat keluarga (TOGA) menjadi takjil. Kali ini membuat puding dengan bahan dasar Bawang Dayak dan pandan.

Menghijaukan Pekarangan, Menyemai Harapan

Menghijaukan Pekarangan, Menyemai Harapan

22 Oktober 2026

Relawan Tzu Chi Kebon Jeruk mengolah lahan dan menanam 20 jenis tanaman untuk menciptakan area pekarangan hijau yang produktif sekaligus memberikan manfaat bagi kebutuhan bersama di Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Kebon Jeruk.

Hijau Pekarangan, Sehat Keluarga, Inspirasi Sesama

Hijau Pekarangan, Sehat Keluarga, Inspirasi Sesama

15 Agustus 2025

Untuk memenuhi kebutuhan sayur dan buah, Jonesman Sidabutar dan Meyliza Ersonata Sirait memanfaatkan pekarangan rumah di Empasmen Nanga Tayap Estate (NTYE), Ketapang, Kalimantan Barat.

Jangan takut terlambat, yang seharusnya ditakuti adalah hanya diam di tempat.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -