Mengikis Ego di Universitas Kehidupan: Catatan dari Bedah Buku Guru Kendo
Jurnalis : Mellisa Sim (Tzu Chi Medan), Fotografer : Lim Hung Jeng (Tzu Chi Medan)
Jusni Lina memberikan esensi tentang tempat berlangsungnya bedah buku yang berada di Jing Si Book and Café ini. Master Cheng Yen ingin kita selalu berada di sini untuk menenangkan diri sejenak, membaca buku-buku tentang kehidupan yang mungkin bisa menjawab kerisauan hati.
Bedah buku telah menjadi oase spiritual yang rutin digelar setiap Jumat di Jing Si Books & Cafe Medan. Pada kesempatan kali ini, suasana terasa hangat sekaligus sarat makna ketika dua narasumber, Willey Eliot dan Yanti Yunita, membedah sebuah kisah reflektif berjudul Guru Kendo.
Diskusi ini tidak sekadar mengulas seni bela diri tradisional Jepang, tetapi juga mengupas nilai-nilai filosofis tentang pembentukan karakter, kedisiplinan, ketangguhan mental, serta proses pembelajaran dalam kehidupan. Lebih dari itu, kisah ini menjadi perjalanan batin yang mengajak setiap orang untuk bercermin dan melihat kembali ke dalam dirinya sendiri.
Cerita berpusat pada perjalanan seorang pemuda yang memiliki ambisi besar untuk menguasai ilmu Kendo dengan cepat. Namun, harapannya berubah ketika bertemu dengan sang guru. Alih-alih langsung mempelajari teknik bertarung tingkat tinggi, ia justru diminta menjalani latihan dasar yang panjang, berulang, dan melelahkan.
Perjalanan tersebut membuat konsentrasinya goyah dan dipenuhi rasa frustrasi. Ia merasa sang guru hanya mengulur waktu, sementara dirinya telah dikuasai oleh ego serta keinginan memperoleh hasil secara instan. Tanpa disadari, rutinitas yang tampak membosankan itu justru menjadi cara sang guru membangun fondasi batinnya.
Melalui proses yang panjang, perlahan tumbuh kesadaran baru dalam dirinya. Ia mulai memahami bahwa ketekunan, pengendalian diri, serta ketenangan batin merupakan kunci utama dalam menyelesaikan latihan Kendo sekaligus menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.
Universitas Kehidupan: Menundukkan Ego dan Menumbuhkan Kesabaran
Dalam pemaparannya, Willey Eliot menarik benang merah antara filosofi Kendo dengan nilai-nilai yang dijalankan di Tzu Chi. Ia menjelaskan bahwa Master Cheng Yen sendiri pernah belajar dari seorang guru asal Jepang yang dikenal sangat disiplin.
"Saya merasa bahwa di dunia Tzu Chi ini seperti Universitas Kehidupan. Tempat di mana kita dapat melatih kedisiplinan, karakter, mengendalikan emosi, sekaligus memupuk kesabaran," ujar Willey.
Ia juga mengingatkan pesan Master Cheng Yen bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula kerendahan hati yang harus dimiliki. Willey mengutip filosofi padi yang semakin berisi semakin merunduk. Menurutnya, dalam universitas kehidupan tidak ada kata tamat untuk belajar, sebab setiap orang dapat menjadi guru bagi kita.
Yanti Yunita menambahkan bahwa proses mempelajari keterampilan apa pun tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa.
"Semua harus dimulai dengan membangun kesabaran dan menumbuhkan keyakinan dalam hidup," tutur Yanti.

Suasana Jing Si Books & Café saat berlangsungnya kegiatan bedah buku cukup ramai. Ada 52 orang yang hadir untuk mendengarkan kisah perjalanan seorang pemuda yang berambisi menguasai ilmu bela diri Kendo.
Ketekunan yang Mengalahkan Frustrasi
Kisah Guru Kendo menggambarkan perjalanan seorang murid yang sempat merasa jenuh dan frustrasi karena harus menjalani latihan yang dilakukan berulang-ulang. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan instan, cerita ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak pernah dicapai dalam semalam.
Melalui bimbingan sang guru, murid tersebut akhirnya memahami dua kunci penting dalam menguasai Kendo maupun menjalani kehidupan.
Pertama adalah ketekunan yang berkelanjutan. Tidak ada keahlian yang diperoleh secara instan, karena setiap potensi memerlukan proses pembelajaran yang konsisten.
Kedua adalah ketenangan batin atau samadhi, yaitu kemampuan untuk menundukkan ego, mengikis kesombongan, serta membuka diri terhadap kritik agar terus berkembang. Ketika batin menjadi tenang, seseorang dapat melihat keadaan dengan lebih jernih dan bijaksana.
Kedua narasumber pun menyimpulkan bahwa kemenangan sejati bukanlah ketika pedang berhasil menyentuh lawan, melainkan saat seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri dan melepaskan keterikatan pada ego.
Dari Kisaran hingga Dunia Mikrobiologi
Diskusi semakin hidup ketika memasuki sesi tanya jawab. Yanti Yunita membagikan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan. Berasal dari Kisaran, ia harus menghadapi rasa khawatir dan ketidakpastian demi memperoleh pendidikan yang lebih baik di Kota Medan.
Melalui ketekunan serta kesabaran dalam menjalani proses belajar, kini Yanti berhasil berkarier di bidang mikrobiologi, salah satu subspesialisasi ilmu biologi. Pengalaman tersebut menjadi bukti nyata bahwa proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh pada akhirnya akan membuahkan hasil yang indah.
Proses Melatih Diri dan Kesadaran yang Bertumbuh
Untuk membangun interaksi, panitia menghadirkan sesi kuis yang diikuti peserta dengan antusiasme.
Teti, salah seorang peserta, menyampaikan bahwa dalam perjalanan di Tzu Chi terdapat berbagai tahapan yang perlu dilalui untuk bertumbuh menjadi insan Tzu Chi sejati, mulai dari melatih diri, menggalang hati, hingga menggalang dana.
"Ketekunan, kesabaran, ketelitian, dan keyakinan harus selalu menyertai kehidupan, apa pun profesinya," ujarnya.

Teti menyampaikan bahwa dalam dunia Tzu Chi, ada tahapan proses yang harus dilalui demi bertumbuh menjadi insan Tzu Chi yang sejati.
Peserta lainnya, Elena, menyoroti bagaimana tokoh dalam kisah Guru Kendo sempat kehilangan fokus karena tidak sabar menghadapi proses latihan yang panjang. Namun, latihan yang dilakukan secara konsisten justru melahirkan kesadaran dan kewaspadaan yang lebih tinggi.
"Jika kita sungguh-sungguh dalam melatih diri, apa pun yang dikerjakan dengan sepenuh hati akan menghasilkan keberhasilan," tutur Elena.
Musidin dan Cynthia Yaputri juga membagikan pengalaman mereka selama menjadi relawan Tzu Chi sebagai kesempatan untuk terus melatih diri, belajar bersyukur, serta menikmati keberkahan bersama.
Tempat Menenangkan Jiwa
Menjelang akhir kegiatan, Jusni Lina menyampaikan refleksi mengenai makna Jing Si Books & Cafe sebagai tempat yang menghadirkan ketenangan batin.
"Aura Jing Si sangat baik. Master Cheng Yen berharap kita memiliki ruang untuk menenangkan diri sejenak, membaca buku-buku kehidupan, serta menemukan jawaban atas berbagai keresahan hati," ungkap Jusni.
Ia juga menjelaskan bahwa seluruh hasil dari produk yang dijual di Jing Si Books & Cafe dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan makanan dan akomodasi para relawan maupun tamu yang berkunjung ke Hualien, Taiwan, sebagai bentuk dukungan terhadap misi kemanusiaan Tzu Chi.

Elena (kanan) relawan Tzu Chi yang turut hadir menerima souvenir yang diserahkan oleh Siti.
Kegiatan bedah buku yang penuh inspirasi ini akhirnya ditutup dengan penghormatan kepada Buddha dan Master Cheng Yen. Para peserta pun pulang membawa pemahaman baru bahwa kehidupan adalah proses panjang untuk melatih hati, mengikis ego, menumbuhkan kesabaran, serta menemukan kebahagiaan sejati melalui perjalanan yang dijalani dengan ketulusan.
Editor: Anand Yahya
Artikel Terkait
Membina Diri dengan Semangat Sutra Lotus
14 Oktober 2014 Menghirup Keharuman Dharma (Xun Fa Xiang ) kini dapat dilakukan oleh relawan Tzu Chi Indonesia. Kamis 2 Oktober 2014 pukul 19.03 WIB sebanyak 47 orang peserta yang terdiri dari relawan Tzu Chi dan umum dengan serius mendengarkan, menyimak dan mengikuti Xun Fa Xian di Jing Si Pluit."Kekuatan Hati"
08 Maret 2016"Kata orang, buku yang bagus, walaupun tidak dibaca dan hanya ditaruh di meja saja bisa membawa energi yang positif terhadap lingkungan. Apalagi kalau buku ini kita baca,” kata Chia Wen Yu, relawan Komite Tzu Chi dalam acara peluncuran Buku The Power of The Heart (Kekuatan Hati) pada Sabtu, 5 Maret 2016 di ruang Xi She Ting, Aula Jing Si Lantai 1, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.
Menggenggam Waktu dengan Mendengarkan Dharma
13 Mei 2022Para relawan Tzu Chi dari komunitas Xie Li Sunter selalu berusaha menggenggam waktu untuk mendengarkan Dharma. Sabtu, 30 April 2022, sebanyak 36 relawan hadir pada acara bedah buku.







Sitemap