Mengisi Bulan 7 Penuh Berkah dengan Pandangan Benar

Jurnalis : Agus (Tzu Ching Batam), Fotografer : Celia (Tzu Chi Tanjung Pinang), Djaya Iskandar, William (Tzu Chi Batam)
 
 

foto
Dengan penuh ketulusan hati, tim prosesi bulan 7 penuh berkah mempersembahkan buah dan bunga segar kepada "Yang Maha Tercerah Di Alam Semesta".

Pada masa Sang Buddha, para murid-Nya menjalankan masa vassa (berdiam diri dan membabarkan Dharma di suatu tempat) selama 3 bulan pada musim kemarau untuk sungguh-sungguh memahami dan menyerap Dhamma dan memperoleh berbagai pencapaian sehingga Sang Buddha merasa sukacita dan menyebut bulan 7 sebagai bulan penuh sukacita dan berkah. Tetapi pada masa kini, muncul sebuah pandangan yang mengganggap bulan 7 sebagai bulan “hantu” sehingga enggan untuk beraktivitas pada bulan ini.

Pandangan seperti inilah yang ingin diluruskan dengan diadakannya acara “Bulan 7 Penuh Berkah Dan Penuh Syukur” pada tanggal 4 Agustus 2013 di Kantor Perwakilan Tzu Chi Batam. Acara kali ini dihadiri oleh 151 orang termasuk relawan yang datang dari Kantor Penghubung Tzu Chi Tanjung Pinang.

Tepat pukul 10 pagi, Gatha Pendupaan dilantunkan di ruangan, pertanda mulainya acara doa bersama. Hadirin beranjali sementara para relawan berbaris rapi, berjalan perlahan menuju altar untuk mempersembahkan pelita, bunga, dan buah kepada Sang Buddha. Setelah prosesi ini, hadirin diajak untuk menyaksikan ceramah Master Cheng Yen mengenai Bulan 7 Penuh Berkah. Master prihatin akan kebiasaan mempersembahkan hewan (daging) pada bulan 7, alangkah baiknya apabila kita bertekad untuk bervegetarian dan memberikan mereka kesempatan untuk hidup tanpa rasa takut. Begitu juga dengan budaya pembakaran kertas sembahyang . Pada masa kini masih ada masyarakat yang percaya bahwa dengan membakar kertas lebih banyak, kita akan semakin diberkahi dan aman. Master berkata, “Kebiasaan yang kurang baik bisa kita ubah, budaya semacam itu bisa diubah menjadi budaya humanis. Banyaknya karbondioksida yang dihasilkan dari pembakaran kertas mengakibatkan polusi udara, alangkah baiknya apabila kita bisa memanfaatkan uang tersebut untuk membantu sesama manusia.”

Pada kesempatan ini, Ati Shixiong juga berbagi kisah kehidupannya. “Dulu saya sangat percaya pada takhayul karena mengikuti budaya dari orang tua, setiap ada perayaan hari-hari suci, saya banyak membakar kertas. Dan juga setiap bertemu masalah, saya akan menanyakan ke dewa yang dipercayai bisa memberikan solusi melalui jiwa seseorang yang dirasukinya. Sampai suatu hari, bisnis saya bermasalah, dan saya tetap menanyakan ke dewa tersebut berulang kali namun hasilnya nihil. Saya sempat pasrah terhadap agama Buddha dan berniat untuk beralih ke kepercayaan lain. Namun jodoh berkata lain, di saat itulah secara tidak sengaja, saya melihat ceramah Master Cheng Yen di DAAI TV yang mengajarkan apabila dengan mengandalkan dewa, kita bisa memperoleh keamanan dan ketentraman, segala masalah akan selesai dengan sendirinya. Maka dunia ini tiada lagi yang namanya hukum karma. Kata-kata tersebut langsung menyadarkan saya. Mulai saat itulah, pandangan seperti itu memudar, perlahan-lahan saya mengurangi pembakaran kertas sembahyang dan persembahan hewan diganti dengan persembahan bunga dan buah segar.”

foto  foto

Keterangan :

  • Pada acara kali ini, Ati Al. Sumarno Shixiong berbagi kisah hidupnya akan pengaruh budaya yang diwariskan terhadap kehidupannya dan bagaimana jalinan jodohnya dengan Master Cheng Yen sampai menginspirasi dirinya menjadi seorang relawan (kiri).
  • Tim isyarat tangan sedang membawakan Wen Yuan pada acara bulan 7 penuh berkah kali ini (kanan).

Bulan Vegetarian dan Bulan Berbakti
Agar hadirin lebih mengerti makna dari sosialisasi kali ini, relawan Tzu Chi Batam mempersembahkan dua drama yang bertema vegetarian dan berbakti kepada kedua orang tua, drama pertama menghimbau para hadirin untuk mengurangi pembakaran kertas sembahyang karena khawatir akan kesehatan bumi dan juga mengajak hadirin untuk  mempersembahkan bunga dan buah kepada para leluhur sebagai bentuk ketulusan kita yang sudah merupakan jasa berkah tak ternilai tanpa harus mengorbankan nyawa seekor makhluk hidup.

Bagi setiap orang, ada 2 "Buddha" yang patut dihormati, yakni kedua orang tua kita. Tidak peduli berapapun dana yang telah disumbangkan, tiada artinya apabila kita mengabaikan kedua orang tua kita dan tidak menghargai jasa-jasa besar yang telah mereka berikan. Drama kedua menceritakan tentang seorang nenek yang tidak bisa makan dan buang air dengan baik sehingga ditegur oleh anak dan menantunya seakan-akan lupa bahwa pada masa kecil, orang tua senantiasa mencintai dan memenuhi setiap kebutuhan anaknya.. Drama tersebut membuat para hadirin terharu dan tidak dapat menahan air matanya. Drama ini mengingatkan mereka akan pengorbanan kedua orang tua yang tiada taranya.

foto  foto

Keterangan :

  • Acara kali ini diawali dengan ceramah dari Master Cheng Yen yang mengambil topik "Bulan 7 Penuh Berkah" (kiri).
  • Tim Drama Zui Ai kali ini membawakan beberpa drama singkat, salah satunya adalah drama tentang pembakaran kertas sembahyang pada bulan 7 yang dipercayai sebagai bulan "hantu" (kanan).

Mengubah tradisi dan kebiasaan yang sudah mendarah daging tidaklah segampang membalikkan telapak tangan walau telah memperoleh kebijaksanan baru. Hal ini membutuhkan tekad kuat seperti yang dilakukan Mahabhiksu Jian Zhen ketika membabarkan Dhamma ke Jepang, 5 kali gagal dan berhasil mendarat di Jepang pada upaya ke 6 dalam kondisi mata sudah menjadi buta. Tim isyarat tangan juga mempersembahkan lagu WenYuan (Bertanya Jalinan Jodoh) dan YuanMeng (Mewujudkan Mimpi) yang terinspirasi oleh perjuangan perjalanan Mahabhiksu Jian Zhen ke Jepang.

Tekad Master demi ajaran Buddha, demi semua makhluk hidup juga tidak pernah goyah, mendedikasikan seluruh hidupnya demi menyucikan hati manusia agar masyarakat bisa hidup damai sejahtera. Hendaknya kita sebagai muridnya mengerti maha tekad Master, berdoa dan berikrar di depan Sang Buddha, pada bulan tujuh ini, berusaha untuk berbakti kepada kedua orang tua kita, menjalankan hidup vegetaris, demi keluarga kita dan saudara se-Dharma serta seluruh makhluk hidup di dunia.

  
 

Artikel Terkait

Peduli Merapi : Tahap Demi Tahap

Peduli Merapi : Tahap Demi Tahap

09 November 2010
Setelah bantuan tahap pertama dan kedua diserahkan kepada korban letusan di daerah Sleman, pada tahap ketiga ini relawan Tzu Chi Jakarta bergerak ke daerah Magelang, tepatnya di daerah Muntilan Jawa Tengah. Sebanyak 2.000 paket bantuan disiapkan untuk diberikan kepada para korban di beberapa lokasi pengungsian.
Operasi Katarak Bersama BKIM

Operasi Katarak Bersama BKIM

18 Februari 2010 Sabtu, tanggal 30 Januari 2010, Tzu Chi Medan bersama dengan Balai Kesehatan Indera Masyarakat (BKIM) Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara melaksanakan kegiatan baksos kesehatan operasi katarak bagi masyarakat kurang mampu di BKIM Jl. Karya II No. 66 – Sei Agul.
Kamp 4in1 2019: Tekad, Tanggung Jawab, dan Keyakinan dalam Bertindak

Kamp 4in1 2019: Tekad, Tanggung Jawab, dan Keyakinan dalam Bertindak

31 Juli 2019

Sabtu 27 Juli 2019, di paruh hari kedua pelatihan Kamp 4in1 2019, berlanjut dengan materi bertemakan tekad dan tanggung jawab insan Tzu Chi. Relawan senior dari Tzu Chi Taiwan, Gan Wan Cheng membagikan pengalaman hidupnya selama 18 tahun menjalani Misi Pelestarian Lingkungan.

Beramal bukanlah hak khusus orang kaya, melainkan wujud kasih sayang semua orang yang penuh ketulusan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -