Erika, Damar, dan Rijal menyemangati para relawan kembang yang merupakan mahasiswa dari Bina Nusantara (BINUS) yang sedang melakukan pemilahan sampah plastik dan pembuatan ecobrick. Rencananya, relawan Tzu Ching dan mahasiswa BINUS ini membuat rak buku dan mengadakan sebuah perpustakaan mini di Rumah Susun Barokah Palmerah.
Sebanyak 70 relawan Kembang yang terdiri atas mahasiswa Bina Nusantara (BINUS) bersama tiga relawan Tzu Ching mengikuti kegiatan pemilahan sampah plastik di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi PIK pada 30 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap pelestarian lingkungan melalui pengelolaan sampah plastik menjadi barang yang lebih bermanfaat.
Dengan penuh semangat, para peserta memilah sampah plastik lalu memotongnya menjadi bagian-bagian kecil. Selama tiga jam, mereka belajar mengolah sampah plastik yang telah dikumpulkan untuk dimasukkan ke dalam botol dan dijadikan ecobrick, yang nantinya akan digunakan sebagai penyangga papan rak buku.
Para relawan (mengenakan rompi) dari Universitas Bina Nusantara (BINUS) dengan senang memotong sampah plastik yang sudah bersih menjadi potongan-potongan kecil. Potongan-potongan plastik ini nantinya kan dijadikan ecobricks sebagai penyangga rak buku di perpustakaan mini Rusun Barokah.
Rijal sedang mencontohkan memasukkan potongan-potongan plastik kecil ke dalam botol plastik yang sudah dicuci bersih. Setelah 1 botol ukuran 1 liter terisi plastik seberat 350 gram, botol plastik ini dipadatkan menjadi penyangga rak buku beberapa tingkat.
Program ini dipimpin oleh Erika, alumni Tzu Ching yang saat ini menjadi perwakilan Indonesia dalam program International Youth Leadership Program. Menurut Erika, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Waste to Wisdom.
Erika mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam menjalankan program ecobrick adalah mengajak teman-teman untuk memahami manfaat dari proses pembuatannya. "Awalnya banyak yang bertanya, ‘Ini apa? Ini buat apa? Kok cuma motong-motong plastik saja?’ Tetapi setelah kami mendemonstrasikan bahwa hasil akhirnya bisa menjadi rak buku dari bahan daur ulang, mereka mulai tertarik dan memahami manfaatnya," jelas Erika yang tampak ceria menyemangati teman-temannya.
Melalui kegiatan pemilahan sampah plastik dan pembuatan ecobrick ini, Erika berharap semakin banyak anak muda yang memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan. "Program kami berfokus pada pencapaian SDGs, terutama pada aspek kualitas pendidikan, pengembangan komunitas, dan pembangunan kota yang berkelanjutan. Kami berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut, tidak berhenti sampai di sini saja, tetapi juga dapat diterapkan di lingkungan rumah masing-masing. Kegiatan ini juga melatih diri kita untuk lebih disiplin dan lebih sadar terhadap pengelolaan sampah," tutur Erika.
Para relawan dari BINUS University memilah sampah plastik lalu memotongnya menjadi bagian-bagian kecil. Selama tiga jam, mereka belajar mengolah sampah plastik yang telah dikumpulkan untuk dimasukkan ke dalam botol.
Hal senada disampaikan oleh Muhammad Ahmad Rukmana, yang akrab disapa Damar, mahasiswa Ilmu Sejarah FPIB Universitas Indonesia, Depok, sekaligus anggota program International Youth Leadership. Damar menjelaskan bahwa Tzu Chi Foundation menyelenggarakan sebuah bootcamp virtual selama 11 bulan yang diikuti oleh delegasi dari berbagai negara. "Dalam bootcamp Tzu Chi Foundation tersebut terdapat delegasi dari berbagai negara, salah satunya saya, Erika, dan Rijal yang terlibat dalam program ini," jelas Damar.
Selama mengikuti program International Youth Leadership, Damar, Erika, dan Rijal mendapatkan banyak pembelajaran mengenai keberlanjutan (sustainability). "Kami belajar bagaimana dapat menghadirkan dampak bagi masyarakat melalui bidang pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Salah satunya diwujudkan melalui proyek Waste to Wisdom," ujar Damar.
Damar menambahkan bahwa kegiatan bersama relawan Tzu Ching dan mahasiswa BINUS ini bertujuan untuk membangun sebuah perpustakaan mini di Rumah Susun Barokah Palmerah yang diperuntukkan bagi anak-anak penghuni rusun. "Harapannya, adik-adik di sana dapat belajar dan meningkatkan literasi mereka. Karena program ini juga berkaitan dengan lingkungan, kami ingin perpustakaan yang dibangun tetap memberikan dampak positif bagi Bumi. Salah satunya dengan memanfaatkan bahan daur ulang pada bagian papan rak, sementara penyangganya dibuat dari ecobrick yang berasal dari sampah plastik," jelas Damar.
Papan plastik berukuran 30 x 80 cm terbuat dari plastik yang dilelehkan melalui pemanasan, lalu dicetak menggunakan pelat dan pres hidrolik.
Kegiatan ini tidak hanya bertujuan memperpanjang usia pakai sampah plastik, tetapi juga menanamkan kesadaran mengenai pentingnya memilah dan mendaur ulang barang. Selain membantu mengurangi volume sampah, hasil karya para relawan Kembang Tzu Chi dari mahasiswa BINUS ini juga memiliki nilai estetika serta potensi nilai ekonomi.
Sejalan dengan misi pelestarian lingkungan Tzu Chi, kegiatan ini menjadi sarana untuk menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap kondisi bumi. Para mahasiswa diajak memahami bahwa tindakan sederhana, seperti memilah dan memanfaatkan kembali sampah plastik, dapat menghadirkan perubahan yang besar bagi lingkungan.
Di tengah tantangan global berupa perubahan iklim, kerusakan ekosistem, dan penumpukan sampah plastik yang semakin mengkhawatirkan, langkah-langkah kecil seperti ini menjadi sangat berarti. Melalui kegiatan tersebut, Tzu Ching ingin menunjukkan bahwa setiap orang dapat berkontribusi menjaga Bumi melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu contoh yang dibuat oleh relawan Tzu Ching adalah papan dan botol ecobrick yang nantinya tersusun beberapa tingkat menjadi rak-rak buku yang bermanfaat kembali.
Sebagai kelanjutan dari program ini, kegiatan pemilahan sampah botol plastik, pembuatan ecobrick, edukasi lingkungan, serta peresmian Pojok Literasi akan dilaksanakan oleh relawan Tzu Ching pada 1 Juli 2026 di Rumah Susun Barokah Palmerah. Kehadiran mini library atau Pojok Literasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat baca anak-anak sekaligus menjadi ruang belajar yang ramah lingkungan bagi masyarakat setempat.
Editor: Metta Wulandari