Anak-anak Kelas Budi Pekerti Qin Zi Ban menampilkan isyarat tangan berjudul "Mama" sebagai ungkapan cinta dan rasa syukur kepada ibu.
Suasana hening dan khidmat menyelimuti Kantor Tzu Chi Medan kompleks Cemara Asri, pada Minggu pagi, 24 Mei 2026. Di hadapan para ibu yang duduk dengan mata berkaca-kaca, anak-anak Kelas Budi Pekerti Qin Zi Ban berlutut perlahan. Dengan kedua tangan mungil mereka, kaki sang ibu dibasuh penuh hormat. Tidak sedikit ibu yang menahan haru ketika melihat anak mereka yang biasanya masih bermanja kini belajar mengungkapkan rasa terima kasih melalui tindakan sederhana namun sarat makna.
Momen itulah yang menjadi inti Perayaan Hari Ibu Kelas Budi Pekerti Qin Zi Ban tahun ini. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi anak-anak untuk memahami besarnya kasih sayang orang tua sekaligus menumbuhkan rasa bakti dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan penuh hormat, anak-anak berlutut di hadapan ibu mereka untuk mengikuti prosesi bakti yang menjadi puncak peringatan Hari Ibu.
Di Tzu Chi, pendidikan karakter tidak hanya diajarkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui pengalaman yang menyentuh hati. Heriyanti, Penanggung Jawab kegiatan, menjelaskan bahwa peringatan Hari Ibu merupakan salah satu momen penting untuk menanamkan nilai bakti kepada orang tua sejak dini.
"Di Tzu Chi terdapat tiga hari besar yang selalu diperingati, yaitu Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia. Melalui kegiatan ini kami terus mengingatkan anak-anak untuk menjalankan pesan Master Cheng Yen, yaitu berbakti kepada orang tua dan berbuat kebajikan," ujarnya.
Selain basuh kaki, nilai tersebut juga dihadirkan melalui berbagai penampilan yang dibawakan anak-anak, seperti penampilan isyarat tangan lagu "Mama", puisi "Fu Mu En" (Budi Jasa Orang Tua), lantunan lagu yang mengingatkan pentingnya berbicara dengan lembut kepada ibu, hingga alunan gu zheng yang mengiringi lagu tentang kasih sayang orang tua. Setiap penampilan menjadi ungkapan cinta yang mungkin selama ini sulit disampaikan secara langsung.

Permainan interaktif ibu dan anak menghadirkan suasana penuh keceriaan. Gelak tawa dan senyum yang mengembang menjadi cerminan kedekatan serta kasih sayang yang tumbuh dalam kebersamaan.
Namun yang paling berkesan bukanlah penampilan di atas panggung, melainkan saat anak-anak diajak menerjemahkan rasa syukur menjadi tindakan nyata. Ketika mereka membasuh kaki ibu, menyuguhkan teh hangat, dan menyuapkan semangkuk tahu hua, suasana aula berubah menjadi ruang refleksi bagi anak maupun orang tua. Di sana, banyak yang menyadari bahwa kasih sayang seorang ibu sering kali hadir begitu dekat hingga tanpa sadar dianggap sebagai hal yang biasa.
Perubahan yang diharapkan dari kegiatan semacam ini ternyata mulai dirasakan para orang tua. Shella, ibunda dari Chloe Winella (8 tahun), mengaku melihat perkembangan positif pada putrinya sejak mengikuti Kelas Budi Pekerti Qin Zi Ban.
"Chloe sekarang lebih patuh, lebih menghormati orang tua, dan mulai membantu pekerjaan di rumah. Saya berharap melalui kegiatan ini dia semakin memahami dan mensyukuri kasih sayang yang diberikan orang tua," tuturnya.
Pelukan hangat antara ibu dan anak menjadi ungkapan kasih sayang, rasa syukur, dan kebahagiaan yang menyentuh hati pada perayaan Hari Ibu.
Relawan Komite Senior Tzu Chi, Jusni Lina, menilai bahwa pendidikan bakti kepada orang tua perlu terus ditanamkan melalui pengalaman langsung. Menurutnya, anak-anak akan lebih mudah memahami makna berbakti ketika mereka merasakannya sendiri, bukan hanya mendengarnya sebagai teori.
Pesan serupa juga disampaikan melalui ceramah Master Cheng Yen yang diperdengarkan menjelang akhir acara. Master mengingatkan bahwa kasih sayang orang tua sering kali begitu besar hingga tidak dapat diukur. Melalui prosesi membasuh kaki, anak-anak diajak menyadari pengorbanan yang selama ini diberikan orang tua, sementara para orang tua juga memperoleh kesempatan untuk melakukan refleksi diri.
Perayaan Hari Ibu Kelas Budi Pekerti Qin Zi Ban tahun ini meninggalkan kenangan indah sekaligus menghadirkan pelajaran kehidupan yang mendalam. Di tengah pelukan, air mata, dan senyum yang mengiringi acara, benih-benih bakti ditanam di hati anak-anak. Kelak, benih itulah yang diharapkan tumbuh menjadi karakter luhur yang akan menemani mereka sepanjang hidup.
Editor: Metta Wulandari