Mengukir Makna Bakti dalam Goresan Pena

Jurnalis : Vincent Salimputra (He Qi Jakarta Utara 3), Fotografer : Henny Yohannes, Stephen Ang, Vincent Salimputra (He Qi Jakarta Utara 3)
Seorang relawan menyalin aksara Mandarin dalam buku Sutra Bakti Seorang Anak dengan penuh fokus guna melatih ketenangan batin sambil memahami makna luhur dari setiap barisnya.

Bagi banyak orang, hari ulang tahun identik dengan pesta, kue tart, dan kegembiraan. Namun, bagi relawan Tzu Chi, momen bertambahnya usia dapat dimaknai dengan cara yang berbeda. Melalui kegiatan menyalin sutra di Ruang Kaligrafi Gedung Gan En pada Sabtu, 15 Agustus 2026, relawan komunitas He Qi Jakarta Utara 3 mengajak para peserta melihat hari kelahiran dari sudut pandang yang jauh lebih luhur.

Hari kelahiran yang sering dirayakan dengan sukacita sejatinya juga merupakan Mu Nan Ri, atau hari penderitaan bagi seorang ibu. Sebanyak 29 peserta, terdiri atas relawan dan masyarakat umum, berkumpul sejak pukul 13.00 hingga 15.30 WIB untuk menyelami makna hari kelahiran.

Di tengah ketenangan ruang kaligrafi, para peserta diingatkan bahwa di balik sukacita sebuah kelahiran tersimpan kenangan tentang perjuangan seorang ibu yang bertaruh nyawa serta doa seorang ayah yang menunggu dengan penuh kekhawatiran di ruang persalinan.

Melalui setiap goresan pena di atas lembaran kertas, komunitas Tzu Chi He Qi Jakarta Utara 3 mengajak para peserta untuk sejenak berhenti dari kesibukan, menanggalkan ego, dan mengheningkan batin guna merenungkan kembali besarnya pengorbanan seorang ibu di balik kehadiran kita di dunia.

Menenangkan Hati dan Meresapi Budi Setinggi Gunung
Kegiatan menyalin sutra diawali dengan meditasi selama lima menit. Keheningan menyelimuti ruangan, menjadi jeda kecil untuk melepaskan hiruk-pikuk pikiran sebelum menyelami makna luhur yang akan disampaikan.

Suasana haru mulai terbangun saat Auliani Gunawan, pembawa materi, membimbing batin para peserta untuk meresapi kembali realitas pengorbanan orang tua yang sering kali luput dari pandangan kita.

Peserta mengheningkan batin melalui meditasi singkat guna melatih fokus sebelum memulai kegiatan menyalin Sutra Bakti Seorang Anak di Ruang Kaligrafi Gedung Gan En.

“Hari lahir kita bukan sekadar perayaan bertambahnya usia, melainkan Mu Nan Ri, sebuah momen ketika sukacita kita hari ini dibayar dengan pertaruhan nyawa seorang ibu di masa lalu,” ungkap Auliani.

Pengorbanan seorang ibu saat melahirkan menggambarkan betapa beratnya perjuangan fisik seorang ibu saat mengandung selama sepuluh bulan. Kondisi tersebut dalam naskah sutra diibaratkan sebagai penanggung penyakit berat yang tak kunjung sembuh.

Perenungan ini kian mendalam ketika Auliani menguraikan hakikat air susu ibu (ASI) sebagai sumber kehidupan pertama seorang bayi manusia.

“Dalam sutra ini dijelaskan bahwa air susu yang kita minum sejak bayi berasal dari transformasi darah sang ibu sendiri demi menghidupi anaknya. Setiap tetesnya adalah bukti nyata bagaimana seorang ibu memberikan seluruh raga agar kita bisa tumbuh sehat. Itulah sebabnya budi orang tua dikatakan setinggi dan seberat gunung karena memang tidak terukur nilainya,” tutur Auliani.

Youmi (kedua dari kiri) berharap melalui kegiatan ini setiap anak dapat terus diingatkan untuk membalas budi luhur orang tua melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mempertegas sakralnya hubungan kasih ini, Auliani mengisahkan momen ketika Sang Buddha bersujud di hadapan setumpuk tulang belulang. Tindakan yang sempat mengejutkan para murid tersebut mengandung pelajaran berharga bahwa tulang-tulang yang telah kering itu bisa jadi merupakan sosok orang tua kita di kehidupan lampau.

“Ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa di setiap kehidupan, kita memiliki orang tua yang telah mengasihi kita dengan tulus. Jika Buddha saja menaruh hormat yang begitu dalam pada tulang belulang, maka sudah sepatutnya kita berbakti dengan sepenuh hati kepada orang tua yang masih ada bersama kita saat ini,” jelas Auliani.

Auliani menutup paparannya dengan merujuk pada prinsip Bai Shan Xiao Wei Xian, sebuah pesan abadi bahwa di antara seratus jenis kebajikan di dunia, berbakti kepada orang tua adalah akar dari segala kebaikan yang harus didahulukan.

Mengukir Janji Bakti dalam Nada dan Aksara
Kesadaran akan besarnya budi orang tua kian meresap ketika seluruh peserta diajak menyanyikan lagu Qin Qing (Cinta Kasih Orang Tua) dan Zi Guo (Kesalahan Anak). Melodi yang melankolis dipadukan dengan lirik yang jujur menjadi sarana refleksi batin yang kuat. Lagu-lagu tersebut seolah menjadi cermin bagi setiap peserta untuk melihat kembali hubungan mereka dengan orang tua.

Bagi para peserta, menyalin sutra dimaknai sebagai bentuk meditasi yang membutuhkan ketenangan hati dan konsentrasi tinggi agar pesan yang terkandung di dalamnya dapat meresap dengan sempurna.

Auliani Gunawan memaparkan latar belakang Sutra Bakti Seorang Anak guna memberikan pemahaman mendalam kepada peserta mengenai besarnya pengorbanan orang tua sebelum memasuki sesi menyalin.

“Menyalin sutra adalah momen untuk melatih fokus sambil benar-benar menyerap arti dari setiap kalimatnya. Diperlukan suasana yang tenang agar pesan dalam sutra tersebut bisa masuk ke dalam sanubari,” ungkap Livia Tjhin, salah seorang peserta menyalin sutra.

Livia mengungkapkan bahwa ada energi yang berbeda saat menyalin sutra secara bersama-sama di dalam Gedung Tzu Chi Center. Lingkungan yang saling mendukung membuat para peserta lebih bersemangat dan tidak mudah terdistraksi.

Perbedaan bahasa juga tidak menjadi kendala karena di bawah setiap huruf Mandarin terdapat terjemahan bahasa Indonesia yang membantu peserta meresapi makna setiap goresan pena.

“Bagi yang tidak mengerti bahasa Mandarin, kita bisa membaca maknanya. Dengan begitu, setiap goresan pena yang kita buat selaras dengan pemahaman kita akan isinya,” jelas Livia.

Pada sesi berbagi pengalaman, dr. Maretta Santirini Chandra membangkitkan rasa haru yang mendalam setelah menyaksikan tayangan video tentang hubungan anak dan orang tua.

“Jujur, rasanya sangat sendu. Saya sampai merinding saat melihat video tentang seorang anak yang begitu menuruti pasangannya, namun justru mengabaikan orang tua kandungnya sendiri. Sebagai orang tua, saya benar-benar merasakan kesedihan yang mendalam jika membayangkan berada di posisi seorang anak,” ungkap dr. Maretta dengan nada bergetar.

dr. Maretta (paling kanan) khusyuk menyalin naskah saat Auliani Gunawan menjelaskan makna aksara lewat aplikasi kepada relawan di sampingnya guna meresapi budi luhur orang tua.

Dr. Maretta berharap kegiatan menyalin sutra ini mulai diarahkan kepada generasi muda agar mereka dapat meresapi makna bakti sejak dini.

Harapan dan pesan serupa disampaikan oleh Youmi, koordinator Bidang Pelatihan Hu Ai Pluit. Youmi menekankan bahwa esensi kegiatan menyalin sutra ini adalah pengingat diri yang berkelanjutan agar setiap anak selalu mengingat budi luhur orang tua.

“Kami berharap setiap peserta dapat memahami dan mengingat kembali pengorbanan besar orang tua melalui setiap lembar sutra yang mereka tulis hari ini,” ujar Youmi.

Ia juga mengingatkan pesan bijak dari Master Cheng Yen bahwa ada dua hal yang tidak bisa ditunda di dunia ini, yaitu berbuat kebajikan dan berbakti kepada orang tua.

Suasana kegiatan menyalin sutra kemudian ditutup dengan makan bersama sebagai wujud syukur. Bagi 29 relawan Tzu Chi dan masyarakat yang hadir, kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam sekaligus menjadi pembuka pintu kesadaran untuk lebih berbakti kepada kedua orang tua.

Harapan besar pun tercurah untuk kegiatan menyalin sutra sesi ke-2 pada 22 Agustus 2026 mendatang. Melalui kegiatan ini, setiap peserta diharapkan dapat semakin mendalami tujuan luhur dari ajaran bakti, sehingga nilai-nilai luhur yang mereka tuliskan tidak hanya berhenti di atas lembaran kertas, tetapi benar-benar menjelma dalam tindakan nyata kepada orang tua di rumah.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Kelas Menyalin Sutra Bukan Sekadar Belajar Kaligrafi

Kelas Menyalin Sutra Bukan Sekadar Belajar Kaligrafi

04 Agustus 2022

Yayasan Buddha Tzu Chi Batam kembali melakukan kegiatan Menyalin Sutra Makna Tanpa Batas pada Hari Minggu, 31 Juli 2022. Kegiatan ini merupakan pertemuan ke-9 yang sebelumnya sempat tertunda akibat pandemi.

Menyalin dan Menyelami Dharma

Menyalin dan Menyelami Dharma

30 April 2018
Suasana tenang dan khidmat menyapu seluruh ruang kelas di Tzu Chi University Continuing Education Center, Gan En Lou, Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Minggu 29 April 2018. Empat kelas di learning center tersebut dipenuhi oleh 93 relawan Tzu Chi yang tengah belajar menyalin Sutra Wu Liang Yi Jing dengan teknik kaligrafi.
Dari Satu Goresan Menuju Kebajikan Tanpa Batas

Dari Satu Goresan Menuju Kebajikan Tanpa Batas

12 Juni 2026

Relawan komunitas He Qi Jakarta Utara 2 menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Goresan Dharma, Jejak Kebaikan”. Kegiatan ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman terhadap Sutra Makna Tanpa Batas.

Berlombalah demi kebaikan di dalam kehidupan, manfaatkanlah setiap detik dengan sebaik-baiknya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -