Vivi Angel pemateri menjelaskan langkah-langkah pengiriman foto dan video dokumentasi kegiatan Tzu Chi. Batas waktu pengiriman foto maksimal 1 minggu setelah acara kegiatan.
Zhen Shan Mei (ZSM), yang berarti benar, bajik, dan indah, merupakan filosofi dalam misi budaya humanis Tzu Chi. Istilah ini juga merujuk pada relawan Tzu Chi yang bertugas mendokumentasikan jejak cinta kasih para Bodhisatwa Tzu Chi. Peran relawan ZSM sangat penting. Tanpa mereka, tidak akan ada sejarah Tzu Chi yang terukir.
Di balik setiap foto bermakna yang sering kita lihat dalam setiap kegiatan, terdapat hati yang peka dan penuh kasih. Hal tersebut tidak muncul secara spontan, melainkan membutuhkan proses belajar berbagai teknik serta praktik langsung di lapangan. Untuk itu, tanpa rasa bosan dan lelah, relawan Tzu Chi Tangerang kembali mengadakan Mini Training ZSM di Yayasan Buddha Tzu Chi Pinangsia, Karawaci, Tangerang.
Pada Minggu, 5 April 2026, Mini Training ZSM kali ini mengusung tema “Menjadi Mata dan Telinga Master Itu Mudah”. Tema ini memberikan pemahaman bahwa menjadi relawan dokumentasi Tzu Chi bukanlah hal yang sulit, melainkan membutuhkan kemauan belajar serta kesabaran untuk mencapai hasil yang baik.
Para peserta dengan penuh perhatian menyimak materi yang dibawakan oleh Ryanto Budiputra tentang fotografi, baik dari segi teknik maupun hasil yang layak untuk dikirim saat kegiatan.

Lily Santoso (tengah) ketua He Qi Tangerang turut hadir pada Mini Training pertama ditahun 2026 ini. Para peserta mencoba mendokumentasian dengan menggunakan smartphone masing-masing.
Dalam kegiatan ini, seluruh relawan mendapatkan pemahaman dasar mengenai teknik fotografi serta tata krama dalam pengambilan foto agar hasilnya memiliki nilai budaya humanis. Salah satu poin penting adalah bahwa pendokumentasian bukan hanya soal teknik, tetapi juga tentang kepekaan rasa. Seluruh relawan diajak untuk memahami bahwa “foto yang baik adalah foto yang dapat bercerita,” ujar Ryanto Budiputra, pengisi materi.
Para relawan juga mempelajari unsur dasar fotografi seperti pencahayaan, komposisi, dan momen. Selain itu, mereka dilatih untuk menulis artikel menggunakan konsep 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, dan How) serta belajar mengamati situasi dengan pendekatan yang tepat agar hasil dokumentasi memiliki makna yang jelas, utuh, dan mampu menginspirasi.
Hal yang tidak kalah penting adalah penanaman nilai budaya humanis. Setiap relawan diharapkan mampu menjaga sikap, ketenangan, serta rasa hormat saat mendokumentasikan kegiatan. Dengan demikian, hasil dokumentasi tidak hanya indah secara visual, tetapi juga mampu menyentuh secara emosional. Dokumentasi yang dihasilkan diharapkan menjadi jembatan untuk menyebarluaskan kebaikan dan menginspirasi masyarakat luas.

Angela yang ditemani Dominikus Yolairmanto Pario (suami) keduanya sangat antusias mendengarkan materi-materi yang diberikan.
Vanessa Lee pemandu acara training Zhen Shan Mei menyapa para peserta yang ingin mempelajari unsur dasar fotografi seperti pencahayaan, komposisi, dan momen. Selain itu, mereka dilatih untuk menulis artikel.
Pada sesi pertama yang dibawakan oleh Ryanto Budiputra, Wakil Korbid Fungsionaris ZSM He Qi Tangerang, peserta diajak menyaksikan video berbagi dari Cheng Yen. Dalam tayangan tersebut disampaikan bahwa setiap orang dapat menjadi relawan Zhen Shan Mei. Seluruh relawan Tzu Chi dapat berperan dalam merekam dan mencatat sejarah agar tidak ada momen berharga yang terlewatkan.
Beberapa peserta yang baru pertama kali mengikuti Mini Training ZSM terlihat antusias, di antaranya Angela Ika Aribawati (49) bersama suaminya, Dominikus Yolairmanto Pario (48).
“Bahagia dan senang mengikuti pelatihan ini karena menambah wawasan dan pengetahuan tentang fotografi, baik dari segi teknik maupun hasil yang layak untuk dikirim saat kegiatan,” ujar Angela. Ia berharap pada pelatihan berikutnya terdapat sesi praktik langsung menggunakan ponsel agar hasilnya dapat dievaluasi oleh narasumber.
Dominikus juga mengungkapkan rasa senangnya atas ilmu yang diperoleh. Selain mendapatkan pengetahuan teknik fotografi menggunakan ponsel, ia juga belajar tentang ketenangan diri, sopan santun, serta menghargai orang lain saat mengambil gambar.
Philip membantu Suryani cara mengatur settingan foto dan video pada smartphone.
Suryani Sariputra Nurtanio (48), salah satu peserta, menilai bahwa pelatihan ZSM ini sangat bermanfaat. Ia memahami bahwa tugas sebagai mata dan telinga Master Cheng Yen adalah menangkap momen, mengabadikannya melalui foto, video, dan tulisan, serta membagikannya melalui media Tzu Chi agar cinta kasih dapat tersebar ke seluruh penjuru dunia. Dokumentasi tersebut akan menjadi sejarah berharga dan warisan yang tak ternilai bagi generasi mendatang.
Dalam pelatihan ini juga hadir Ketua Tzu Chi He Qi Tangerang periode baru, Lily Santoso. Ia berharap ke depannya semakin banyak relawan yang tertarik untuk belajar dan mampu menghasilkan dokumentasi yang lebih baik dalam setiap kegiatan.
Editor: Anand Yahya