Menjadi Satu dari Ribuan Potong Puzzle

Jurnalis : Erli Tan, Fotografer : Erli Tan, Sudarman Koh (He Qi Utara 1)

Sudarman Koh (ketiga dari kanan), memberikan briefing kepada relawan tim alur lapangan. Dalam perayaan tiga hari besar Tzu Chi yang dilaksanakan minggu lalu, ia bertanggung jawab untuk mengkoordinir 16 relawan di tim alur.

Waisak yang berlangsung tanggal 8 mei 2016 di Stadion sepak bola SMP Tzu Chi, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, terasa khusyuk, rapi, dan indah. Di balik keindahan dan kerapian itu terdapat sekelompok relawan yang bersumbangsih demi lancarnya kelangsungan prosesi Waisak.

Dalam peringatan hari besar Tzu Chi, relawan Tzu Chi kerap kali membagi kelompok menjadi beberapa bagian dan menggarap “ladang” (tugas –red) yang berbeda-beda. Di antaranya ada sepasang suami istri, yaitu Sudarman Koh dan Lim Jeniliwaty. Mereka berkonsentrasi penuh dalam menjalankan tugas. Suami bertanggung jawab sebagai koordinator alur di lapangan, sedangkan istri di bagian dekor. Kedua bidang ini seringkali menjadi bagian dari tanggung jawab mereka saat ada kegiatan besar di Tzu Chi.

Sebagai koordinator tim alur lapangan bersama Anie Widjaja, Sudarman bertanggung jawab mengkoordinir 16 relawan di tim alur. Ia bertugas untuk memastikan barisan dan alur ribuan orang di lapangan itu terjaga rapi dan lancar. Mulai dari masuk lapangan, pemandian rupang Buddha, pradaksina, sampai proses bubar setelah acara usai.

Beberapa minggu sebelum Waisak, Sudarman (tengah) juga sudah berkoordinasi dengan tim dengan mengadakan 3 kali rapat di dalam ruangan dan 2 kali gladi di lapangan.

Dalam menjalankan kegiatan Tzu Chi, Sudarman juga kompak dengan sang istri, Lim Jeniliwaty (kiri). Jeni lebih sering memegang tanggung jawab sebagai relawan dekor dalam berbagai kegiatan Tzu Chi.

Beberapa minggu sebelum Waisak, ia pun sudah berkoordinasi dengan tim dengan mengadakan 3 kali rapat di dalam ruangan dan 2 kali gladi di lapangan. Dengan pengalaman tiap relawan yang bervariasi, Sudarman tak ragu untuk membagi pengalamannya agar semua timnya memiliki pemahaman yang sama. “Ya tentunya kita pasti ada masalah juga, tapi kita berusaha dengan komunikasi sederhana, dan apabila ada pertanyaan, kita bimbing di lapangan untuk menunjukkan titik-titiknya,” tukasnya.

Saat gladi bersih di lapangan tanggal 5 Mei, ia terlihat sibuk mengkoordinir anggota timnya agar dapat membentuk barisan Waisak yang rapi dan tertib. Bila terbentur masalah, ia tetap mengutamakan keharmonisan tim dalam berkomunikasi. “Tentunya kita pengen semuanya sempurna, dan ini kita kan satu tim ya, di acara seperti ini tentunya keharmonisan kita diutamakan,” ucap Sudarman.

Sementara itu, Lim Jeniliwaty yang akrab disapa Jeni, bersama relawan tim dekor sudah sibuk mendekor sejak 5 Mei 2016. Mereka mendekor meja persembahan untuk prosesi Waisak dengan total panjang meja mencapai 60 meter. Hingga hari Waisak 8 Mei pagi, mereka masih mendekor, menata rupang Buddha dan bunga-bunga, serta memberi sentuhan akhir. “Kalo dari dekorasi kita berusaha membuat orang memahami maksud dari acara. Untuk Waisak kita menampilkan suasana khidmat, tenang, dan agung. Jadi tidak terlalu banyak warna,” jelas Jeni.

Jeni adalah relawan yang selalu aktif mendekor untuk kegiatan apapun, besar maupun kecil. Tidak terkecuali Pameran 50 tahun Tzu Chi di Lobi Xi She lantai 1 Aula Jing Si yang telah didekor sejak bulan April lalu. “Pameran 50 tahun itu kita lebih banyak tantangannya, karena kan gak bisa cuma berdasarkan bunga atau daun, kita mesti bikin posternya itu keluar (pop up), supaya orang benar-benar bisa merasakan saat melihat poster itu,” timpal Jeni yang mengaku dirinya masih belum pintar mendekor. Ia merasa lebih sering dibantu banyak orang dan bersamaan dengan itu juga sambil belajar dari relawan-relawan lain.

Kadang dekorasi harus diubah-ubah sesuai dengan yang terbaik. Namun demikian, Jeni menerima dengan senang hati jika ada relawan yang memberikan masukan. “Pelatihan sabar.. maksudnya kita justru butuh banyak masukan dari orang lain, karena bisa lebih maju kalau banyak masukan. Jadi bukan berarti dekornya dibongkar, tapi membuatnya menjadi lebih bagus,” ujarnya optimis. Menurutnya, hasil dekor nantinya dilihat banyak orang, jadi tidak bisa hanya dari pemikirannya seorang.

Selain memang hobi, menurut Jeni, pekerjaan dekorasi pada umumnya jarang diminati relawan karena tidak berhubungan langsung dengan penerima bantuan, sehingga ia pun memantapkan diri untuk fokus dan mengisi “lowongan” ini.

Dalam perayaan tiga hari besar Tzu Chi, Jeni (depan) turut mendekor meja persembahan untuk prosesi Waisak dengan total panjang meja mencapai 60 meter. Hingga hari Waisak 8 Mei pagi, mereka masih mendekor, menata rupang Buddha dan bunga-bunga, serta memberi sentuhan akhir.

Jeni juga bersumbangsih dalam mendekor Pameran 50 tahun Tzu Chi di Lobi Xi She lantai 1 Aula Jing Si yang telah didekor sejak bulan April lalu.

Tiap kegiatan besar seperti Waisak, rumah mereka kosong karena sekeluarga, bersama suami, anak, mama, dan bahkan pembantu rumah tangga, semuanya ikut ke Aula Jing Si untuk membantu. Selesai acara barulah Jeni membereskan rumah dan istirahat. “Kalau ada acara besar udah begitu, ntar seminggu istirahat total. Pokoknya rumah saya kosong dan berantakan,” ucapnya disertai tawa ringan, setengah bercanda.

Suami istri bersatu hati di Tzu Chi, tanpa keluh kesah bersumbangsih sepenuh hati. Dengan sebaik mungkin melaksanakan tanggung jawab yang diemban, dan tak lupa sambil menggarap ladang berkah ini, mereka tetap berusaha mengasah diri menjadi lebih baik. Selesai Waisak, Sudarman lega karena semuanya berjalan lancar sesuai arahan. “Teamwork yang bagus. Saya berusaha menggunakan cara yang paling sederhana dan gampang dimengerti. Dari mengemban tanggung jawab ini, saya merasa lebih banyak suka daripada dukanya,” ucap Sudarman menutup pembicaraan.


Artikel Terkait

Menjadi Satu dari Ribuan Potong Puzzle

Menjadi Satu dari Ribuan Potong Puzzle

13 Mei 2016
Dalam peringatan hari besar Tzu Chi, relawan Tzu Chi kerap kali membagi kelompok menjadi beberapa bagian dan menggarap “ladang” (tugas) yang berbeda-beda. Di antaranya ada sepasang suami istri, yaitu Sudarman Koh dan Lim Jeniliwaty.
Dengan keyakinan yang benar, perjalanan hidup seseorang tidak akan menyimpang.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -