Menjaga Cahaya Ketulusan Dalam Peringatan Tiga Hari Besar Tzu Chi

Jurnalis : Elisa (Tzu Chi Batam), Fotografer : Andy Tan, Chandra (Tzu Chi Batam)

Sebanyak 149 relawan dan masyarakat umum membentuk formasi “TC 60” dalam peringatan Tiga Hari Besar Tzu Chi yang dilaksanakan Tzu Chi Batam.

Pernahkah terpikir bagaimana rasanya menjaga ketulusan selama 60 tahun? Semangat enam dekade Tzu Chi di dunia ini juga telah menjadi bagian tak terpisahkan dari langkah relawan Tzu Chi Batam selama 20 tahun terakhir. Hal ini pun diperingati dalam perayaan Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia (Tiga Hari Besar Tzu Chi) yang diadakan Tzu Chi Batam pada Minggu, 10 Mei 2026 di Aula Jing Si Batam.

Hari itu, langit Batam yang sempat mendung dan hujan sejak siang tidak menyurutkan semangat para relawan serta tamu undangan. Sebanyak 613 orang menyatukan hati dalam kehangatan perayaan Tiga Hari Besar Tzu Chi ini. Acara dimulai tepat pukul 13.30WIB dan suasana khidmat menyelimuti seluruh ruangan saat para Sangha memasuki aula dan diikuti lantunan Gatha Pujian pada Buddha. Selanjutnya, suara genderang dan lonceng yang mengiringi lagu Hymne Ajaran Jing Si berhasil membangkitkan semangat seluruh hadirin. Melalui setiap gerakan yang tenang, para relawan seolah kembali meneguhkan niat tulus mereka untuk selamanya mengingat ikrar agung dalam menyebarkan cinta kasih universal.

Sebanyak 15 anggota Sangha meninggalkan ruang kegiatan setelah kegiatan berakhir.

Cahaya Teratai Dalam Formasi
Sebagai wujud syukur atas usia Tzu Chi yang ke-60, sebanyak 149 peserta yang hadir juga membentuk sebuah formasi dengan tulisan "TC 60". Selain membentuk formasi, 149 peserta ini juga menampilkan isyarat tangan dengan memegang lilin lampu teratai. Cahaya lampu teratai ini memperlihatkan tulisan “TC 60” dengan indah meskipun berada di sela-sela kehadiran tamu undangan.

Pengaturan cahaya ini bukan tanpa alasan, setiap barisannya sengaja dirancang dengan menyisakan ruang kosong untuk diisi oleh para tamu. Hal ini menjadi simbol yang mendalam bahwa Tzu Chi sebagai wadah selalu terbuka merangkul siapa saja untuk bersatu hati dan melengkapi barisan cinta kasih ini.

Yasin, selaku koordinator acara, mengakui bahwa keindahan dalam formasi “TC 60” ini lahir dari perjuangan yang tidak mudah. "Mempersiapkan 149 peserta dalam waktu hanya satu setengah bulan itu tantangan yang sangat luar biasa," ungkap Yasin. Baginya, melihat semua orang bisa bersatu hati adalah sebuah berkah. Ia merefleksikan bagaimana organisasi Tzu Chi ini bisa bertahan hingga 60 tahun. "Bukan hal yang gampang bagi sebuah organisasi bisa beranjak sampai 60 tahun. Master Cheng Yen  benar-benar sungguh sangat luar biasa bisa menciptakan dunia Tzu Chi dan hari ini Tzu Chi sudah membantu lebih dari 100 negara," tambahnya.

Para muda-mudi Tzu Chi (Tzu Ching) membawakan pertunjukkan genderang bertemakan Hymne Ajaran Jing Si.

Di antara 149 peserta ini, terdapat 19 mahasiswa dari Universitas Internasional Batam (UIB). Salah satunya adalah Jennifer yang telah mengenal Tzu Chi sejak kecil karena sering menemani neneknya menonton tayangan DAAI TV. "Dulu nenek saya itu suka nonton DAAI TV. Jadi karena selalu dekat, makanya kalau nenek saya nonton, saya pasti ikut nonton, terus jadi tahu," kenang Jennifer. Meski baru pertama kali ikut, ia merasakan manfaat nyata bagi ketenangan pikirannya. "Menurut saya itu bisa membuat kita menjadi lebih tenang, damai, positive vibes gitu. Untuk diri saya sendiri pastinya lebih tenang, yang kadang suka tiba-tiba nggak mood atau apa, jadi sekarang bisa lebih mengontrol emosi juga," tuturnya.

Semangat generasi muda seperti Jennifer ini tentu selaras dengan dedikasi relawan lainnya, salah satunya Makado. Jika tahun lalu Makado baru mulai melangkah sebagai relawan, tahun ini ia memegang tanggung jawab lebih besar sebagai salah satu pengajar isyarat tangan (shou yu).

Jennifer (putih ke-3 dari kiri) belajar menenangkan diri dari pengalamannya sebagai tim isyarat tangan.

Bagi Makado, menjadi pengajar memberikan tantangan baru yang melatih kesabarannya, terutama saat membina relawan dengan rentang usia yang berbeda-beda. "Kadang-kadang kan ada beda umur itu sangat berpengaruh juga, jadi ada yang lebih cepat bisa diterima dan ada juga yang lambat, itu perlu kita butuh waktu untuk membina," jelasnya. Baginya, setiap sesi latihan di sela kesibukan kerja bukan lagi beban, melainkan bentuk sumbangsih yang mendalam.

Makado pun memaknai setiap bait sutra yang dibawakan, seperti Gatha Pendupaan (Lu Xiang Zhan), sebagai sarana meditasi. "Saya rasa di Tzu Chi, shou yu bukan hanya gerakan tangan tetapi itu merupakan latihan untuk menenangkan batin," ungkapnya. Melalui keselarasan musik dan makna sutra, Makado menemukan kebahagiaan yang mendalam saat melihat kerja keras seluruh tim selama satu setengah bulan membuahkan hasil yang khidmat. Ia berharap ke depannya semakin banyak orang yang bergabung untuk merasakan bahwa di Tzu Chi, setiap kegiatan adalah ladang untuk melatih diri menjadi pribadi yang lebih tenang dan bermakna.

Ketulusan yang Menyentuh Hati
Keharmonisan barisan tim isyarat tangan juga terpancar dari pasangan suami istri relawan, Bun Hiong dan Suriani. Bagi Suriani, momen ini sangat istimewa sehingga ia menggengam kesempatan berlatih di sela kesibukannya. "Saya buka lagu setiap saya di mobil menuju olahraga atau menuju mana, saya dengerin ‘oh sampai sini saya harus begini, disini saya begini’, dari situ saya latih, sambil nyetir sambil membayangkan,” kenangnya sambil tersenyum. Lewat latihan ini, ia belajar menjadi lebih sabar karena harus menyelaraskan gerakan dengan ratusan orang lainnya. Bun Hiong pun memberikan dukungan penuh bagi sang istri. "Harapan saya setelah 10 tahun di Tzu Chi kan, berharap Tzu Chi semakin maju dan berharap dia (Suriani) satu hari pun jadi komite gitu," ungkap Bun Hiong yang di sambut hangat oleh Suriani.

Andy dan Juli (pasangan berkaos hitam) mengikuti peringatan Tiga Hari Besar Tzu Chi dan terkesan dengan kehangatan relawan Tzu Chi.

Ketulusan para relawan di lapangan juga meninggalkan kesan mendalam bagi tamu undangan seperti Andy dan Juli. Mereka berdua sangat terkesan dengan kesigapan relawan saat hujan turun menyambut kedatangan tamu. “Tadi waktu datang kan hujan. Langsung kami berdua lah, 'Wow', relawannya sangat perhatian sampai bawa payung kan, payungin tamu-tamu yang datang gitu kan. Jadi terharu juga dengan relawan Tzu Chi memang mantap," ungkap Juli penuh apresiasi.

Senada dengan hal itu, Evendy Seng atau yang akrab disapa Achuan, Ketua RT Permata Regency memberikan kekagumannya pada kedisiplinan di Tzu Chi. "Saya cuma menyalutin kekompakan baik dari kepengurusan dan relawan dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Kita salut dari kecil sampai besar semua aturan on time. Kalau Yayasan Buddha Tzu Chi punya acara tidak pernah ada lelet dan waktunya on time," ujarnya dengan nada kagum. Beliau pun berharap agar Tzu Chi terus berkarya dan maju karena visi misinya yang sangat menyentuh masyarakat sekitar.

Memasuki puncak acara, relawan yang membawa persembahan memasuki ruangan dengan khidmat. Dengan persembahan lilin, air wangi, dan bung aini dapat membangkitkan hati yang penuh rasa hormat di hadapan rupang Buddha. Anggota Sangha memulai prosesi pemandian rupang Buddha dilanjutkan dengan para peserta. Prosesi berlangsung dengan tertib sebagai simbol untuk menenangkan diri dan membersihkan batin agar kembali jernih.

Juli juga menambahkan betapa pentingnya momen perayaan waisak ini untuk merenungkan proses pencerahan Sang Buddha. "Kita bisa melihat bagaimana Sang Buddha mencapai pencerahannya, semangatnya, serta keuletannya. Ini yang bisa menginspirasi kita biar kita lebih semangat dalam menjalani Buddha Dharma," ungkapnya.

Relawan Tzu Chi Batam membantu dan memastikan peserta dapat tiba di lokasi kegiatan peringatan Tiga Hari Besar Tzu Chi dengan aman.

Perjalanan 60 tahun ini kembali menguatkan tema “Jangan Lupakan Tekad Awal Masa Celengan Bambu, Selamanya Mengingat Ikrar Agung Silsilah dan Mazhab Tzu Chi”. Semangat masa celengan bambu inilah yang dijaga agar setiap relawan tidak melupakan langkah kecil mereka dalam mengemban misi kemanusiaan.

Meskipun acara telah selesai dan lilin lampu teratai telah dimatikan, semangat kebaikan di hati orang-orang yang hadir diharapkan tetap menyala. Seiring langkah kaki meninggalkan Aula Jing Si Batam, setiap orang membawa pulang pesan yang sama: bahwa kedamaian dunia dimulai dari ketulusan hati yang dijaga bersama-sama.

Editor: Arimami Suryo A

Artikel Terkait

Berbakti Pada Ibu di Waisak Tzu Chi

Berbakti Pada Ibu di Waisak Tzu Chi

06 Juni 2014 Wajah Nenek Hartati diliputi senyuman, walau kini umurnya telah mencapai 88 tahun, dengan kondisi pergerakannya sudah tidak leluasa lagi, tapi di umurnya yang telah lanjut nenek Hartati masih bisa mengikuti acara waisak yang di adakan oleh Tzu Chi di Aula Jing Si, Pantai Indah Kapuk, pada hari Minggu 11 Mei 2014.
Waisak Tzu Chi 2018: Doa Jutaan Insan yang Penuh Berkah

Waisak Tzu Chi 2018: Doa Jutaan Insan yang Penuh Berkah

16 Mei 2018

Tak terkecuali Tzu Chi Pekanbaru, kegiatan Doa Jutaan Insan ini pun diadakan bersamaan dengan perayaan yang diadakan di kantor-kantor penghubung Tzu Chi lainnya di Indonesia pada tanggal 13 Mei 2018.

Waisak Tzu Chi 2025: Refleksi Spiritual dalam Meneladani Ajaran Buddha

Waisak Tzu Chi 2025: Refleksi Spiritual dalam Meneladani Ajaran Buddha

16 Mei 2025

Perayaan tiga hari besar, yakni Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia, menjadi momen penuh makna bagi Yayasan Buddha Tzu Chi Tanjung Balai Karimun.

Keindahan kelompok bergantung pada pembinaan diri setiap individunya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -