Menjaga Hati dan Langkah di Misi Amal
Jurnalis : Metta Wulandari, Fotografer : Metta Wulandari, Indra Gunawan (He Qi Jakarta Barat 4)
(Dari kanan ke kiri) Philip (Moderator), Mau Lan dari He Qi Pusat, Budi Permana dari He Qi Cikarang, Collie Juang dari He Qi Utara 4, Anita Dradjat dari He Qi Sinarmas, Suherman dari He Qi Barat 1, dan Setiawan dari He Qi Barat 2 berbagi pengalaman dalam Talkshow 1 Gathering Relawan Amal 2026. Beragam pengalaman yang disampaikan menjadi pembelajaran bersama bagi para relawan dalam menjalankan misi amal.
Pernah merasa tidak berguna hanya karena menjadi orang paling muda di sebuah ruangan? Perasaan itu pernah dialami Setiawan ketika pertama kali terjun ke misi amal Tzu Chi. Saat itu usianya masih 20-an. Di antara para relawan yang rata-rata sudah berusia 40-an, ia lebih sering duduk diam dalam setiap kegiatan. Dalam meeting ia kebanyakan hanya mendengarkan, mengamati, tetapi nyaris tidak pernah ikut berpendapat. Saat itu ia merasa belum punya cukup pengalaman untuk bicara.
Lama-kelamaan, perasaan itu membuat Setiawan bertanya-tanya, untuk apa ia berada di sini? Setiawan bahkan sempat berpikir untuk meninggalkan misi amal karena merasa tidak memberikan kontribusi apa-apa, seperti tidak berguna.
Sampai suatu hari, sebuah tugas sederhana membuat pandangannya berubah. Setiawan mendapat tanggung jawab untuk mengantarkan bantuan biaya hidup sebesar 400 ribu rupiah kepada seorang gan en hu (penerima bantuan Tzu Chi) yang menderita diabetes dan sudah tidak dapat berjalan.
Sepele lah, pikirnya. Pulang dari meeting, ia langsung menghampiri rumah gan en hu tersebut untuk memberikan uang bantuan. Baginya tugas itu benar-benar sederhana saja, “Tinggal datang, kasih uang, pulang,” katanya singkat. Tapi momen itu ternyata mengubah pandangannya.
Ketika melihat Setiawan datang membawa bantuan, keluarga gan en hu menyambutnya dengan hangat. Sang istri pasien kala itu menerima uang 400 ribu rupiah dengan mata berkaca-kaca. Pulang dari sana, Setiawan terhenyak.
“Saat itulah saya merasa saya menjadi bermanfaat,” kenangnya, “padahal tindakan saya ini kecil, hanya antar uang. Tapi buat pasien dan keluarganya itu sangat berarti.”

(Dari kanan ke kiri) Lian Jiu Yan dari He Qi Barat 3, Anna Tukimin dari He Qi Barat 4, Benny Salim dari He Qi Utara 1, Tjoeng Sioe Fong dari He Qi Utara 2, Hok Lay dari He Qi Utara 3, dan Viona Angelia dari He Qi Tangerang berbagi pengalaman dalam Talkshow Sharing para fungsionaris Amal dari berbagai wilayah memperkaya wawasan relawan mengenai tantangan dan pembelajaran selama mendampingi gan en hu.
Setiawan pun mulai menyadari bahwa setiap relawan memiliki peran dan kontribusinya masing-masing. Ia tidak harus melakukan sesuatu yang besar untuk bisa membantu. Tugas sederhana yang dijalankannya ternyata juga memiliki arti bagi gan en hu. Kesadaran itu membuatnya tak lagi merasa tidak berguna atau tidak melakukan apa-apa, bahkan ia justru semakin rajin dan aktif menjalankan misi amal.
“Saya sangat senang dengan peran saya, ya seperti kurir ya… antar uang bantuan, antar pasien ke rumah sakit, bantu beli obat untuk pasien, segala macamnya. Saya jadi merasa, saya seperti bisa menyelamatkan nyawa mereka gitu, padahal ya kecil saja tindakan saya,” ucapnya haru.
Kini, bertahun-tahun setelah pengalaman itu, Setiawan menjadi salah satu fungsionaris Amal di relawan komunitas He Qi Barat 2 yang aktif. Ia pun berkesempatan berbagi kisah dalam Gathering Relawan Amal 2026 yang digelar di Guo Yi Ting, Tzu Chi Centre PIK, Minggu (23/8/2026).

Tak hanya melalui talkshow, pengalaman di lapangan juga dikemas dalam drama yang mengangkat berbagai persoalan yang kerap dihadapi relawan amal. Lewat kisah yang dekat dengan keseharian, para relawan diajak melihat kembali cara menghadapi berbagai tantangan dalam pelayanan.
Bersama sejumlah fungsionaris Amal dari berbagai wilayah, seperti Mau Lan dari He Qi Pusat, Budi Permana dari He Qi Cikarang, Collie Juang dari He Qi Utara 4, hingga Lian Jiu Yan, Anna Tukimin, Benny Salim, dan relawan lainnya, Setiawan berbagi pengalaman dan pembelajaran selama menjalankan misi amal. Kehadiran para relawan dari beragam usia dan latar pengalaman ini turut memperlihatkan bahwa misi amal bukan hanya wadah yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah lama menjadi relawan, melainkan bagi siapa saja yang memiliki hati terbuka untuk belajar dan bertumbuh.
Menurut Wie Sioeng, Wakil Ketua He Xin Indonesia sekaligus Ketua He Xin Amal Indonesia 1, keterbukaan hati justru menjadi bekal utama bagi siapa pun yang ingin terjun ke misi amal. Sebab, apa yang dijalani di lapangan tidak selalu mudah. Ada kalanya relawan harus berhadapan dengan perasaan sendiri, menghadapi kekecewaan ketika bantuan belum dapat diberikan, maupun menerima kenyataan yang tidak sesuai harapan.
“Kalau kita bisa terbuka, hati kita benar-benar penuh cinta kasih, penuh welas asih,” ujarnya. Baginya, berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar memahami kehidupan, sekaligus melatih hati untuk lebih terbuka dan toleran.

Wie Sioeng memberikan semangat kepada para relawan di awal kegiatan Gathering Relawan Amal 2026. Ia mengajak para relawan untuk terus membuka hati, menjaga semangat pelayanan, serta belajar dari setiap pengalaman yang ditemui dalam menjalankan misi amal.
Keterbukaan itu pula yang kini terlihat dalam hubungan antargenerasi di misi amal. Para relawan senior tidak hanya meneruskan pengalaman yang telah mereka jalani, tetapi juga memberi ruang bagi generasi muda untuk mengambil peran dan belajar melalui pengalaman mereka sendiri. Wie Sioeng melihat perkembangan ini sebagai sesuatu yang menggembirakan. Jika sebelumnya mencari anak muda yang mau terjun ke misi amal terasa tidak mudah, kini semakin banyak relawan muda yang berani mengambil tanggung jawab.
“Di tahun ini ada beberapa Shixiong-Shijie yang muda yang berani memegang tanggung jawab,” ujarnya. Menurutnya, para relawan muda juga membawa keberanian dan cara pandang yang lebih inovatif, update, dan menjadi bekal penting bagi keberlanjutan misi amal Tzu Chi.
Di tengah para relawan yang lebih senior, generasi muda pun mendapatkan ruang untuk belajar. Bukan hanya tentang bagaimana menjalankan misi amal, tetapi juga tentang bagaimana memahami kehidupan dari berbagai pengalaman yang mereka temui di lapangan.
Hal itulah yang didapatkan oleh Aya Andryan. Ia sudah mengenal Tzu Chi sejak masih belasan tahun melalui Tzu Ching dan mulai aktif sebagai relawan komunitas setelah lulus kuliah pada 2018. Meski masih muda, Aya yang kini berusia 33 tahun justru menikmati kesempatan belajar dari para relawan yang jauh lebih senior. Baginya, mereka bukan sekadar orang-orang yang telah lama menjadi relawan, tetapi teladan yang menunjukkan bagaimana kesabaran dibentuk melalui perjalanan dan pengalaman yang amat panjang. “Malahan semakin tua, semakin matang kesabarannya,” kata Aya.

Aya Andryan menyimak rangkaian sharing dalam Gathering Relawan Amal 2026. Mengenal Tzu Chi sejak usia muda menjadi kesempatan baginya untuk belajar dan bersumbangsih lebih awal, sekaligus mendapatkan banyak teladan dari para relawan yang lebih senior.
Dari para senior itu, Aya belajar bahwa apa yang didengar dalam sharing bukan sekadar teori. Nilai-nilai tersebut bisa dilihat dalam cara mereka menghadapi persoalan dan menjalani hubungan dengan orang lain. Karena itu, Aya merasa bersyukur telah mengenal Tzu Chi sejak muda. Ia berharap jalinan baik yang dimulainya sejak belasan tahun itu dapat terus ia rawat hingga kelak mencapai usia seperti para senior yang sekarang menjadi panutannya.
Pengalaman Aya menjadi salah satu gambaran bagaimana misi amal dapat menjadi ruang bertumbuh bagi generasi muda. Hal ini pula yang membuat Yully Kusnadi, Dept Head Bakti Amal dan Beasiswa Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersyukur melihat semangat anak muda untuk berkegiatan bersama dalam misi amal semakin tumbuh.
Kebahagiaan itu terasa semakin lengkap ketika Gathering Relawan Amal 2026 akhirnya dapat mempertemukan 294 peserta dari 12 He Qi di wilayah Jabodetabek. Bagi Yully, pertemuan tersebut bukan sekadar ajang berkumpul, tetapi juga kesempatan untuk kembali menguatkan hati para relawan.

Yully Kusnadi memberikan motivasi kepada para relawan untuk terus menjaga hati dan mengembangkan kebijaksanaan dalam menjalankan misi amal. Berbagai tantangan dan gesekan yang ditemui dalam pelayanan menjadi bagian dari proses belajar dan bertumbuh bersama.
“Sharing di Fungsionaris Amal itu kita merasa benar-benar bahwa mereka menjabat sebagai Fungsionaris Amal itu dengan hati. Dengan segala kekuatan dan kelemahan mereka, mereka punya hati untuk melayani,” ujarnya.
Menurut Yully, semangat itu penting untuk terus dijaga. Sebab, perjalanan dalam pelayanan tidak selalu berjalan mulus. Gesekan dengan sesama relawan maupun dengan gan en hu merupakan hal yang wajar dan justru menjadi bagian dari proses belajar bersama.
“Untuk itu hari ini kita sama-sama memotivasi diri dan semua relawan kita. Ayo, kita sama-sama menjaga hati,” katanya. “Semua gesekan itu, kesulitan-kesulitan itu adalah sebenarnya menjadi pembelajaran bagi kita semua agar welas asih dan kebijaksanaan kita itu bertumbuh,” tutupnya.
Editor: Hadi Pranoto
Artikel Terkait
Menjaga Hati dan Langkah di Misi Amal
24 Agustus 2026Gathering Relawan Amal 2026 menjadi ajang berkumpulnya 294 relawan dari 12 He Qi di wilayah Jabodetabek untuk menyatukan hati dan berbagi pengalaman dalam menjalankan misi amal. Kegiatan ini juga menjadi wadah bagi relawan dari berbagai generasi untuk belajar serta menumbuhkan semangat.







Sitemap