Menjaga Kehidupan dan Menebar Cinta Kasih di Bulan Tujuh Penuh Berkah

Jurnalis : Yanti Yunita, Liani (Tzu Chi Medan), Fotografer : Liani (Tzu Chi Medan)

(atas – dari kiri ke kanan) Haeyanti (pembawa acara), Yenny Waty (peserta sharing), Shu Tjeng (narasumber), dan Marintan (pembawa acara) bersama para peserta yang mengikuti kegiatan dengan penuh antusias secara daring melalui Zoom.

Bulan Tujuh Penuh Berkah menjadi momen untuk kembali menyadari pentingnya menghargai setiap kehidupan. Menjaga pola hidup, memilih makanan yang sehat, dan berbagi perhatian kepada sesama merupakan langkah sederhana untuk mewujudkan cinta kasih.

Semangat tersebut diwujudkan oleh relawan Tzu Chi Medan melalui kegiatan sosialisasi secara daring melalui Zoom pada 18 Agustus 2026. Kegiatan ini diikuti sekitar 78 relawan. Meski hujan lebat, angin kencang, serta sempat terjadi pemadaman listrik dan gangguan jaringan internet di Kota Medan, para relawan tetap bersemangat mengikuti kegiatan.

Di tengah berbagai keterbatasan, para relawan tetap dapat belajar dan berbagi nilai-nilai kebajikan. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memahami makna Bulan Tujuh Penuh Berkah sekaligus mengajak peserta lebih peduli terhadap kesehatan melalui pola hidup yang baik.

Kegiatan berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama membahas “Makna Bulan Tujuh Penuh Berkah”, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi “Mulai Sehat dengan Piringmu” yang mengajak peserta memahami pentingnya pola makan bergizi seimbang dan mengatur porsi makanan.

Memahami Lebih Dalam Makna Bulan Tujuh Penuh Berkah
Mengawali kegiatan, Shu Tjeng selaku narasumber menjelaskan makna Bulan Tujuh Penuh Berkah. Ia mengajak peserta untuk tidak lagi memandang bulan tujuh dengan ketakutan atau kepercayaan yang kurang tepat. Anggapan bahwa bulan tujuh adalah bulan hantu merupakan bagian dari takhayul. Karena itu, penting untuk membangun keyakinan yang benar agar dapat menjalani bulan ini dengan tenang, penuh rasa syukur, dan tanpa rasa takut.

“Bulan Tujuh Penuh Berkah merupakan momentum untuk berbakti dan berbuat kebajikan. Daripada mengisinya dengan berbagai pantangan dan kekhawatiran, kita dapat memanfaatkannya untuk mengenang jasa orang tua dan para pendahulu, mempererat hubungan keluarga, serta menumbuhkan niat untuk melakukan lebih banyak perbuatan baik,” ungkap Shu Tjeng.

Senyum dan semangat para relawan tetap terpancar meski kegiatan berlangsung secara daring. Tangkapan layar ini mengabadikan kebersamaan peserta dalam mengikuti rangkaian kegiatan Bulan Tujuh Penuh Berkah.

Pemahaman tersebut kemudian diperdalam melalui sesi berbagi pengalaman dan kesan batin. Salah satu peserta, Yenny Waty, menyampaikan bahwa menjadi vegetarian atau vegan bukan sekadar mengubah pola makan, tetapi juga merupakan wujud cinta kasih terhadap kesehatan, makhluk hidup, dan bumi.

Bagi Yenny, makna Bulan Tujuh Penuh Berkah dapat diwujudkan dengan mengubah rasa takut dan kebiasaan yang berlandaskan takhayul menjadi cinta kasih, rasa syukur, dan semangat untuk berbuat baik.

“Dengan mengikuti imbauan Master Cheng Yen, perubahan dapat dimulai dari hal-hal kecil, seperti memiliki tekad untuk menjalankan pola hidup vegetarian atau vegan tanpa merasa terbebani. Begitu pula dengan meninggalkan kebiasaan membakar kertas sembahyang dan menggantinya dengan tindakan yang lebih bermanfaat. Dengan demikian, niat baik dapat diwujudkan menjadi tindakan nyata yang membawa manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, semua makhluk, dan bumi,” ujar Yenny.

Mengubah Isi Piring, Mengubah Kesehatan dan Bumi
Kesempatan berikutnya menghadirkan Dr. Susianto Tseng, M.KM., ahli gizi sekaligus pendiri dan Presiden World Vegan Organization (WVO) sejak 2018. Peraih gelar Doktor Gizi Kesehatan Masyarakat dari Universitas Indonesia ini aktif mengedukasi masyarakat mengenai gaya hidup berbasis nabati melalui berbagai kegiatan dan tulisan.

Dalam pemaparannya, Dr. Susianto menjelaskan bahwa peralihan menuju gaya hidup vegan perlu didukung pemahaman berdasarkan data dan ilmu pengetahuan. Menurutnya, pilihan makanan berbasis nabati tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga menyangkut kepedulian terhadap lingkungan dan penghormatan terhadap kehidupan.

Ia menjelaskan bahwa industri peternakan memberikan dampak terhadap lingkungan melalui emisi gas rumah kaca. Dari sisi etika, hewan juga memiliki sistem saraf yang memungkinkan mereka merasakan sakit dan stres. Sementara dari sisi kesehatan, makanan berbasis nabati kaya akan serat dan tidak mengandung kolesterol.

Dr. Susianto Tseng, M.KM. membagikan pengetahuan mengenai pola hidup berbasis nabati serta manfaat menerapkan gaya hidup vegan bagi kesehatan, lingkungan, dan kehidupan.

Berbagai mitos tentang susu dan telur juga diluruskan. Dr. Susianto menjelaskan bahwa pola makan berbasis nabati dapat diterapkan dengan mengikuti panduan “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan RI, yang sebagian besar porsinya memang berasal dari kelompok pangan nabati.

Manfaat sumber protein nabati juga ditunjukkan melalui penelitian tempe yang dilakukan pada anak dengan stunting di Kuningan, Jawa Barat. Menurut Dr. Susianto, pemberian 50 gram tempe setiap hari selama 30 hari menunjukkan peningkatan tinggi badan anak sebesar 1,2 cm dibandingkan kelompok kontrol.

“Ini menunjukkan bahwa protein nabati yang terjangkau dapat membantu mengatasi stunting,” ungkap Dr. Susianto.

Berbagai pembelajaran dalam kegiatan ini kembali mengingatkan bahwa berbuat baik tidak harus dimulai dari hal besar. Menjaga kesehatan, memilih makanan yang lebih baik, menyayangi semua makhluk, dan meninggalkan kebiasaan yang kurang bermanfaat dapat menjadi langkah sederhana yang dilakukan setiap hari. Seperti pesan Master Cheng Yen, “Kita harus mewujudkan cinta kasih kita lewat tindakan nyata setiap hari.” Semoga semangat Bulan Tujuh Penuh Berkah tidak berhenti pada pemahaman, tetapi terus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Kehendak Bervegetarian dari Gadis Bernama Putri

Kehendak Bervegetarian dari Gadis Bernama Putri

25 Agustus 2015 Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia mengadakan kegiatan “Doa Bersama Bulan Tujuh Penuh Berkah” pada Minggu,  23 Agustus 2015, di Aula Jing Si, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara yang menampilkan drama musikal bertemakan pelestarian lingkungan. Sela-sela drama disusupi pemeragaan isyarat tangan. Salah satunya yang berjudul “Ciak Cai Siong Kai Can” yang dibawakan oleh relawan komunitas He Qi Timur berlatarkan bazar vegetarian Tzu Chi. Isyarat tangan bernuansa ceria dengan gerakan tangan dan badan yang jenaka.
Menghilangkan Takhayul, Membangkitkan Kebijaksanaan

Menghilangkan Takhayul, Membangkitkan Kebijaksanaan

21 Agustus 2014 Banyak orang menganggap bulan tujuh ini adalah bulan yang tidak baik, bulan hantu. Sedangkan di Tzu Chi bulan tujuh merupakan bulan yang penuh berkah dan bisa dikatakan sebagai bulan bakti, dimana setiap orang bisa memberikan rasa baktinya kepada para leluhur dengan berdoa bersama.
Menjalin Jodoh yang Baik dengan Semua Makhluk

Menjalin Jodoh yang Baik dengan Semua Makhluk

05 September 2014
Melalui Acara Doa Bersama di Bulan Tujuh Penuh berkah, Tzu Chi Medan ingin menyosialisasikan kepada masyarakat tentang pandangan keliru terhadap makna upacara ulambana yang sesungguhnya.
Dengan kasih sayang kita menghibur batin manusia yang terluka, dengan kasih sayang pula kita memulihkan luka yang dialami bumi.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -