Menjangkau Masyarakat Pedalaman di Bengkayang

Jurnalis : Jak Po (Tzu Chi Singkawang), Fotografer : Joni Willianto (Tzu Chi Singkawang)

Asmara Sri Astuti, relawan Tzu Chi International Medical Association (TIMA), memberikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat yang hadir dalam kegiatan pelayanan kesehatan di Dusun Pakeng, Bengkayang. Edukasi diberikan untuk membantu warga lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan dan mencegah penyakit.

Kepedulian terhadap kesehatan masyarakat terus diwujudkan oleh relawan Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Singkawang. Pada Minggu (23/8/2026), TIMA kembali menggelar pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Dusun Pakeng, Desa Bhakti Mulya, Kecamatan Bengkayang, Kabupaten Bengkayang.

Pelayanan yang meliputi pemeriksaan kesehatan umum dan pengobatan gratis ini mendapat sambutan antusias. Sebanyak 159 warga dari berbagai kelompok usia datang untuk mendapatkan pemeriksaan dan layanan kesehatan dari tim medis serta relawan nonmedis TIMA.

Usai menjalankan ibadah di gereja, warga mulai memadati lokasi pelayanan. Mereka mengikuti rangkaian pemeriksaan, mulai dari registrasi, pemeriksaan tanda-tanda vital, konsultasi dengan tenaga medis, hingga menerima obat sesuai hasil pemeriksaan. Beragam keluhan kesehatan ditemukan, di antaranya hipertensi, infeksi saluran pernapasan, gangguan pencernaan, nyeri otot dan sendi, serta penyakit kulit. Selain mendapatkan pengobatan, warga juga memperoleh edukasi mengenai kondisi kesehatan dan cara menjaganya.

Kehadiran pelayanan kesehatan ini menjadi sangat berarti bagi masyarakat Dusun Pakeng yang masih menghadapi keterbatasan akses menuju fasilitas kesehatan. Jarak yang cukup jauh serta kondisi jalan yang belum memadai menjadi tantangan tersendiri ketika warga membutuhkan layanan medis.

Ha Jit Chiong, relawan komite Tzu Chi, menggandeng seorang pasien menuju ruang pemeriksaan. Pendampingan ini menjadi bagian dari perhatian relawan dalam membantu warga selama mengikuti rangkaian pelayanan kesehatan.

Agustinus, tokoh masyarakat Bengkayang, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat mengusulkan adanya pelayanan kesehatan di wilayah mereka. “Latar belakang kami mengusulkan baksos seperti ini karena akses untuk ke fasilitas kesehatan cukup jauh dan kondisi jalan juga tidak bagus. Contohnya ketika harus membawa orang yang mau melahirkan dengan kondisi jalan yang bergelombang. Kami berharap ke depannya kondisi jalan dapat diperbaiki. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu baksos ini,” ujarnya.

Kepala Puskesmas Bengkayang, Yopita, juga mengapresiasi dukungan Yayasan Buddha Tzu Chi dalam membantu pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah tersebut. “Kami dari Puskesmas Bengkayang sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi melalui kerja sama dengan Pemerintah Daerah dan Yayasan Shanti Bhuana Bengkayang. Kegiatan seperti ini sangat membantu masyarakat, mengingat kondisi kesehatan masyarakat di wilayah ini masih cukup memprihatinkan dan tingkat penyakit yang ditemukan juga cukup tinggi,” ungkapnya.

Selain kesehatan, persoalan sanitasi turut menjadi perhatian. Yopita menyebutkan bahwa sebagian masyarakat masih menghadapi keterbatasan fasilitas sanitasi, termasuk kepemilikan toilet yang layak. Menurutnya, dukungan berbagai pihak sangat membantu Puskesmas dalam menjangkau dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Suster Santi menyampaikan pesan kepada para relawan yang terlibat dalam kegiatan pelayanan kesehatan di Dusun Pakeng. Ia mengapresiasi semangat kolaborasi dan kepedulian yang diwujudkan bersama untuk membantu masyarakat.

Apresiasi juga disampaikan dr. Agung Muliawan Wicaksana, perwakilan IDI Bengkayang. Menurutnya, pelayanan kesehatan seperti ini memiliki arti penting karena membantu tenaga kesehatan menjangkau masyarakat di wilayah terpencil. “Kami sangat berterima kasih dilibatkan kembali dalam kegiatan kemanusiaan ini. Seingat kami, dalam 2025–2026 ini telah tiga kali yayasan ini mengajak kami untuk memberi pelayanan kesehatan di dusun-dusun terpencil di Kabupaten Bengkayang,” tuturnya.

Ia menambahkan, wilayah seperti Dusun Pakeng memang menjadi bagian dari area pelayanan tenaga kesehatan di puskesmas. Namun, kolaborasi dengan Tzu Chi memberikan kesempatan untuk memperluas jangkauan pelayanan. “Sekali lagi kami berterima kasih kepada tim yayasan ini. Apalagi ternyata tidak hanya layanan pengobatan yang diberikan, tapi juga edukasi kepada anak-anak dan orang tuanya untuk memperhatikan kesehatan dan pendidikan. Ini sangat bagus!” ujar dr. Agung.

Kolaborasi juga terjalin dengan Institute Shanti Buana (ISB) Bengkayang. Mewakili pimpinan ISB, Suster Santi Thomas, S.Kom., M.MSI., mengatakan bahwa kerja sama dengan Yayasan Buddha Tzu Chi telah berlangsung sebanyak tiga kali dan menjadi momentum istimewa bagi ISB. “Sudah tiga kali ini kami dari ISB berkolaborasi dengan Yayasan Buddha Tzu Chi yang berlandaskan cinta kasih tanpa batas. Kami juga berlandaskan Budaya Amare, budaya kasih sayang,” ungkapnya.

Para relawan bersama-sama melakukan isyarat tangan Satu Keluarga sebagai ungkapan kebersamaan dan cinta kasih. Momen ini menjadi bagian dari kebersamaan setelah memberikan pelayanan kepada masyarakat Dusun Pakeng.

Pelayanan kesehatan kali ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan 10 tahun berdirinya Institute Shanti Buana. Karena itu, bagi Suster Santi, kegiatan tersebut memiliki makna tersendiri. “Kerja sama kemanusiaan berupa pelayanan kesehatan masyarakat kali ini bagi kami sangat istimewa karena ini menandai 10 tahun berdirinya Institute Shanti Buana. Bagi saya, ini kegiatan yang paling mengesankan di antara rangkaian kegiatan dalam rangka Dies Natalis ke-10 ISB,” ujarnya.

Semangat kolaborasi tersebut turut mendapat apresiasi dari Fam Tjit Chiong, Pembina Tumbuhnya Relawan Tzu Chi Bengkayang. Ia mengaku senang dan terharu melihat berbagai pihak bersatu menghadirkan pelayanan bagi masyarakat. “Saya senang dan terharu melihat kolaborasi seperti ini. Akses masyarakat terhadap layanan kesehatan memang masih sangat memprihatinkan. Saya mengapresiasi tim medis dan paramedis Bengkayang yang selalu antusias berpartisipasi dalam setiap kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat,” ungkapnya.

Menurut Fam Tjit Chiong, semangat gotong royong antara dokter, tenaga kesehatan, relawan, dan berbagai lembaga menjadi kekuatan penting dalam menghadirkan pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan. Ia juga melihat mulai tumbuhnya benih cinta kasih Tzu Chi di Kabupaten Bengkayang melalui keterlibatan berbagai pihak.

“Benih-benih Cinta Kasih Tzu Chi tampaknya mulai tumbuh di Bumi Bengkayang ini. Dari pengusaha terlihat berperan aktif, hadir dalam setiap kegiatan pelayanan kesehatan di Bengkayang, yaitu Bapak Anderson (Kong Ci), dari pihak kampus ada Bapak Aloysius Hari Hardjawiyata,” tuturnya. “Kiranya mereka berdua bisa menjadi pelopor untuk tumbuhnya benih-benih cinta kasih, agar semakin nyata kontribusi kepada masyarakat yang membutuhkan,” lanjut Fam Tjit Chiong.

Dokter dari IDI Bengkayang melakukan pemeriksaan kesehatan kepada seorang pasien dengan didampingi Ha Jit Chiong, Komite Tzu Chi. Kolaborasi tenaga medis dan relawan membantu memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik dan penuh perhatian.

Tidak hanya pelayanan kesehatan, Tzu Chi Singkawang juga menghadirkan edukasi pendidikan budi pekerti bagi anak-anak. Kegiatan yang dibawakan Merry Shijie dikemas melalui permainan edukatif dan pembagian hadiah. Anak-anak terlihat antusias mengikuti kegiatan sambil berinteraksi dengan para relawan.

Melalui permainan dan aktivitas sederhana, anak-anak diajak mengenal nilai-nilai kebajikan, kepedulian, serta pentingnya berbuat baik kepada sesama. Dengan demikian, kehadiran Tzu Chi di Dusun Pakeng tidak hanya menyentuh kebutuhan kesehatan fisik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai baik bagi generasi muda.

Pelayanan kesehatan di Dusun Pakeng menjadi wujud nyata kepedulian Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia melalui TIMA Kantor Penghubung Singkawang. Sebanyak 159 warga mendapatkan manfaat pelayanan kesehatan, sementara anak-anak memperoleh kesempatan belajar tentang kebajikan dalam suasana penuh keceriaan.

Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa kepedulian dapat menjadi lebih kuat ketika berbagai pihak melangkah bersama. Dokter dan tenaga kesehatan menyumbangkan keahlian, relawan memberikan waktu dan tenaga, sementara berbagai lembaga turut membuka jalan agar pelayanan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Di tengah keterbatasan akses dan berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat pedalaman Bengkayang, kehadiran para relawan menjadi jembatan antara kepedulian dan kebutuhan. Dari Dusun Pakeng, cinta kasih kembali menemukan jalannya untuk hadir dan memberikan manfaat bagi sesama.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Pelayanan Kesehatan untuk Warga Dusun Sompek, Kalbar

Pelayanan Kesehatan untuk Warga Dusun Sompek, Kalbar

24 Juli 2024

Pelayanan kesehatan kepada masyarakat di dusun-dusun terpencil di desa binaan Tzu Chi Singkawang sudah dilakukan sejak tahun 2019. Kali ini (14/7/2024), pelayanan diberikan di Dusun Sompek, Desa Pahokng, Kab. Landak, Kalimantan Barat.

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-117: Tekad Tulus Ingin Membantu Sesama

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-117: Tekad Tulus Ingin Membantu Sesama

29 Maret 2017

Melihat kesungguhan relawan kala proses baksos berlangsung, Suhendra mengaku tidak terbiasa. “Kami diperlakukan sangat baik sama bapak dan ibu di sini. Mereka (relawan Tzu Chi) tidak hanya merawat pasiennya tapi juga memperhatikan keluarga pasien. Seperti kami kemarin disediakan makan, diingatkan juga untuk makan, semua dengan ramah,” kata sopir angkutan umum Kota Bogor ini sembari tersenyum.

Screening Baksos Operasi Katarak ke-149 Tzu Chi Surabaya

Screening Baksos Operasi Katarak ke-149 Tzu Chi Surabaya

16 Juli 2025

Screening Baksos Kesehatan ke-149 di Surabaya Tzu Chi Surabaya bekerja sama dengan Kodam V/Brawijaya melaksanakan Baksos Kesehatan operasi katarak. Baksos Kesehatan ke-149 ini melibatkan relawan, TIMA, dan prajurit TNI.

Keteguhan hati dan keuletan bagaikan tetesan air yang menembus batu karang. Kesulitan dan rintangan sebesar apapun bisa ditembus.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -