Menjemput Harapan dari Rumah ke Rumah

Jurnalis : Widodo (Tzu Chi Cabang Sinar Mas), Fotografer : Titin Hasanah (Xie Li Jambi 2) 3in1 Xie Li Tebing Tinggi, Surono
dr. Irma Sinta memeriksa Sian Binti Tolis saat penjaringan calon pasien bakti sosial katarak.

“Kewajiban kita dalam kehidupan adalah harus melakukan hal yang bermanfaat bagi orang banyak.”
(Kata Perenungan Master Cheng Yen)

Selama dua bulan terakhir, berbekal data yang diperoleh dari Bakti Sosial Kesehatan Umum pada 31 Juli–1 Agustus 2026, dr. Irma Sinta bersama relawan Xie Li Jambi 2 menyusuri rumah-rumah warga di Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Mereka ingin memastikan warga yang mengalami katarak dan belum mendapatkan pengobatan dapat memperoleh kesempatan untuk menjalani operasi.

Dari rumah ke rumah, dr. Irma berbincang dengan warga, menanyakan kondisi penglihatan mereka, sekaligus mencari tahu apakah ada anggota keluarga atau tetangga yang mengalami katarak.

“Kami terbantu awal pertama itu saya turun ke desa-desa sebagian, tetapi yang paling membantu adalah waktu program baksos kami. Jadi, sebelum ada baksos operasi katarak ini, kita ada baksos pengobatan umum. Sebagian dari kami mendapat pasien dari sana.

“Jadi, sengaja kami mencari pasien katarak pada saat baksos pengobatan umum. Nah, di situ kami membuat surat keterangan dan nanti saya datang ke mereka masing-masing berdasarkan data yang tadi itu. Sebagian dapatnya dari sana,” terang dr. Irma Sinta.

Perjalanan tersebut mempertemukannya dengan Danit (62), seorang ayah dari lima anak yang sehari-hari mengandalkan hasil kebun sawit miliknya seluas seperempat hektare. Untuk mencapai kebunnya, Danit harus menaiki sampan. Namun, penglihatannya yang semakin kabur membuat pekerjaan sehari-hari menjadi tidak mudah. Kakinya bahkan sering terluka karena ia tidak dapat melihat dengan jelas tumbuhan liar yang berada di sekitar kebun.

Mata kanan Danit sudah tidak dapat melihat akibat komplikasi dan tidak memungkinkan untuk dioperasi. Sementara itu, mata kirinya masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan penglihatan yang lebih baik melalui operasi katarak.

“Ya, susah karena fungsi manusia itu dari mata. Kalau mata tidak normal, otomatis jalan itu numbur-numbur. Ini buktinya bekas duri-duri, habis kaki enggak nampak. Itulah kendala mata enggak nampak,” tutur Danit.

Danit diperiksa kesehatannya oleh dr. Irma Sinta dirumahnya di Lingkungan Tengah, Kelurahan Pauh.

Selain Danit, dr. Irma Sinta juga menemukan Sian binti Tolis (68). Ia tinggal bersama cicit angkatnya. Sian tidak memiliki anak, tetapi memiliki beberapa anak angkat. Sehari-hari, Sian mencari sayur pakis dan rebung untuk dijual. Dari hasil itulah ia memenuhi kebutuhan hidup bersama cicit angkatnya yang masih duduk di kelas 2 SMA.

Meski penglihatannya mulai terganggu, Sian tetap berusaha menjalani kesehariannya. Ia sempat ragu dan menolak ketika diajak menjalani operasi. Namun, pendekatan dr. Irma Sinta dan para relawan perlahan membuat hatinya terbuka hingga akhirnya Sian bersedia menjalani operasi katarak.

Menjemput Pasien dari Berbagai Penjuru
Perjuangan mencari calon pasien juga dilakukan Virmadona bersama relawan lainnya dari Xie Li Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar). Begitu mendapat informasi akan ada operasi katarak di Jambi, mereka segera bergerak mencari pasien. Media sosial dimanfaatkan untuk menjaring calon pasien. Komunikasi dengan perangkat desa dan puskesmas setempat juga terus dijalin.

Virmadona dan relawan bahkan menjaring pasien hingga ke pasar tradisional, seperti yang dilakukan di Pasar Pekanan.

“Begitu kita mendapat informasi, akhirnya kita buat panitia. Kita sudah menyebarkan lewat medsos ke Facebook, WA, IG, segala macam kalau kita mau mengadakan operasi katarak gratis. Karena ini kan operasi ke-4, saya selalu punya grup WA dari pasien-pasien lama. Itu pun saya share ke mereka. Biasanya dari situ yang lebih banyak.

“Begitu pasien itu berhasil, kan dia cerita ke kawan-kawannya kalau operasi katarak itu tidak semenyeramkan itu. Justru dapat banyak dari grup WA yang sudah selesai operasi,” ungkap Virmadona yang sehari-hari bekerja di PT Lontar Papyrus.

dr. Irma Sinta mendorong Danit yang berada di kursi roda setelah menjalani operasi katarak.

 

Virmadona menambahkan, tantangan mencari pasien bukan hanya akses yang sulit, tetapi juga persoalan komunikasi. Beberapa calon pasien tidak memiliki handphone. Karena itu, setiap ada informasi baru, relawan harus menyampaikannya secara langsung dari rumah ke rumah.

Bagi Virmadona, bakti sosial kali ini menjadi pengalaman keempatnya mendampingi pasien katarak. Relawan Xie Li Tebing Tinggi juga sudah beberapa kali mengantar pasien ke Kota Jambi untuk mendapatkan kesempatan menjalani operasi. Perjalanan dari Tebing Tinggi menuju Kota Jambi memakan waktu sekitar tiga jam.

“Spesialnya, yang jelas lebih banyak. Biasa saya bawa 11 orang, 17 orang, 15. Hari ini saya membawa 80 orang dari Tebing Tinggi, dari Pengabuhan, dari Tungkal, dan dari Jambi sendiri. Kurang lebih 80 dari pilar Lontar,” jelasnya.

Dari perjalanan mencari pasien tersebut, Virmadona bertemu Junaidi (56), seorang ustaz yang sehari-hari mengajar di madrasah dan juga menjadi guru mengaji. Setahun terakhir, mata sebelah kirinya mengalami gangguan penglihatan.

“Rasanya pudar itu pas kita ngajar kayak ngaji, apalagi malam hari itu susah. Sinar lampu itu silau. Itu pancaran mata. Siang juga kalau kita tidak pakai kacamata, mata itu berair. Nah, jadi pemandangan itu tidak jelas lagi, kayak huruf-huruf itu agak nyatu. Iya, sangat susah,” ucap Ustad Junaidi.

Virmadona (berkerudung) menjaring pasien di Pasar Pekanan.

Selain Ustad Junaidi, Virmadona juga menemukan pasangan Sabli dan Nurgayah yang tinggal di Desa Pijoan Baru, Tebing Tinggi. Keduanya mengikuti pemeriksaan dan dinyatakan lolos skrining untuk menjalani operasi. Namun, ada persoalan lain yang mereka hadapi: tidak ada anak yang dapat mendampingi selama proses operasi.

Di tengah kesempatan untuk mendapatkan pengobatan, keduanya dihadapkan pada sebuah pilihan. Akhirnya, Sabli memilih menemani istrinya. Ia merelakan kesempatan untuk menjalani operasi agar Nurgayah dapat menjalani operasi katarak dengan tenang dan memiliki pendamping selama proses pengobatan.

“Iya, keduanya lolos, tapi tidak ada pendamping, jadi saya mengalah dulu. Anak kerja, cucu sekolah, jadi saya mendampingi dulu. Biar dia dulu saja, karena masalah rumah tangga kan dia lebih banyak mengetahuinya. Saya kan kurang. Nanti kalau dia sudah sembuh, baru saya belakangan, apalagi kami tinggal berdua saja,” ucap Sabli.

Lelah yang Terbayar dengan Senyum
Bagi dr. Irma Sinta, yang berasal dari Kecamatan Pauh, dapat membawa pasien katarak dalam jumlah cukup banyak, menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Rasa lelah selama berbulan-bulan mencari dan mendampingi pasien seolah terbayar ketika melihat senyum bahagia mereka.

“Saya senang, saya bahagia karena sebagian besar itu adalah wilayah tempat tinggal saya dan saya mengenal mereka dengan baik. Saya merasa bertanggung jawab karena saya yang memeriksa mereka. Saya yang membawa mereka. Kalau seandainya saya tidak memeriksa mereka satu-satu, saya takut mereka tahu saya, nanti mereka nyari-nyari gitu,” ujar dr.Irma dengan bangganya.

“Jadi, ada rasa tanggung jawab saya sebagai dokter dan juga sebagai pendamping dan relawan untuk memastikan operasi mereka sudah selesai dan mendampingi mereka sampai balik lagi. Dan saya harapkan semua pasien saya itu berhasil operasinya, bisa melihat kembali dan bisa beraktivitas seperti biasa lagi,” ujar dr. Irma Sinta.

Relawan dari beberapa pilar usaha Sinar Mas mendukung pelaksanaan bakti sosial operasi katarak di RS Rapha Theresia.

 

Kebahagiaan yang sama juga dirasakan Virmadona. Rasa lelahnya terbayar ketika melihat wajah penuh kebahagiaan para pasien yang telah selesai menjalani operasi katarak.

“Wah, kalau capek, jelas capek banget, termasuk kerjaan di kantor, jadi agak kurang fokus karena kita harus mencatat data semua pasien segala macam, jangan sampai ada yang tertinggal dari data yang sudah kita catat. Capek, luar biasa. Alhamdulillah, itu terobati dengan keberhasilan operasi-operasi pasien,” pungkasnya.

Di balik setiap pasien yang akhirnya mendapatkan kesempatan menjalani operasi, ada perjalanan panjang yang dilakukan para dokter dan relawan. Mereka menyusuri desa, mendatangi rumah-rumah, menjalin komunikasi, dan memastikan tidak ada warga yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pengobatan.

Bagi mereka, perjalanan tersebut bukan sekadar mencari pasien. Setiap langkah adalah upaya menjemput harapan—agar mata yang selama ini memandang dunia dalam kabut kembali menemukan cahaya, dan para pasien dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih leluasa.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Menjemput Harapan dari Rumah ke Rumah

Menjemput Harapan dari Rumah ke Rumah

22 September 2026

Selama berbulan-bulan, dokter dan relawan Tzu Chi menyusuri rumah warga hingga pelosok Jambi untuk menemukan pasien katarak. Di balik perjalanan itu, tersimpan kisah perjuangan, pengorbanan, dan harapan kembali melihat.

Bakti Sosial Operasi Mata Katarak: Cerahkan Kembali Yang Dulu Gelap

Bakti Sosial Operasi Mata Katarak: Cerahkan Kembali Yang Dulu Gelap

07 Oktober 2021
Kepedulian 5 KM kembali dilakukan Relawan Tzu Chi Cabang Sinar Mas, Xie Li Jambi 3 dengan melaksanakan Bakti Sosial Operasi Mata Katarak pada 17-19 September 2021 di Rumah Sakit Dr. Bratanata, Jambi.
Satu Mata Kembali Melihat, Satu Keluarga Bersukacita

Satu Mata Kembali Melihat, Satu Keluarga Bersukacita

15 Juni 2020
Relawan He Qi Tanggerang melakukan kunjungan kasih ke rumah Madi di Desa Beberan, Kec. Ciruas, Kab. Serang, Banten (11/06/2020). Madi adalah pasien operasi katarak dalam Baksos Kesehatan Tzu Chi ke 128 yang diadakan 8 bulan lalu. Selain untuk mengetahui kondisi mata kiri Madi saat ini, relawan juga memberikan satu paket bantuan sembako kepada keluarga Madi guna meringankan beban mereka di tengah pandemi Covid-19 ini. 
Saat membantu orang lain, yang paling banyak memperoleh keuntungan abadi adalah diri kita sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -