Menulis dengan Benar, Bajik dan Indah

Jurnalis : Dina (He Qi Utara), Fotografer : Metasari (He Qi Utara)
 
 

fotoHadi Pranoto Shixiong (paling kanan) yang merupakan jurnalis dari Tim Media Cetak Tzu Chi memberikan sharing-nya mengenai cara penulisan berita di Tzu Chi.

 

 

“Jangan meremehkan kemampuan diri sendiri karena setiap orang memiliki kemampuan yang tak terhingga.” (Kata Perenungan Master Cheng Yen).

 

 

 

 

 

Merupakan satu kesempatan yang sangat baik bagi kami karena pada tanggal 21 Agustus 2011 lalu, di Jing Si Books and Café, Hadi Pranoto Shixiong yang merupakan jurnalis dari Tim Media Cetak Tzu Chi memberikan sharing-nya mengenai penulisan berita, terutama yang menyangkut penulisan artikel kegiatan Tzu Chi  kepada 10 orang relawan yang hadir.

Menurut Hadi Shixiong, berita merupakan laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang benar dan menarik serta penting. Setiap berita mengandung peristiwa atau kejadian, di mana proses pencarian berita dapat dilakukan dengan proses mengamati, wawancara, fakta, serta melaporkan dalam tulisan. Dalam suatu berita harus mengandung unsur 5W+1H (Who/siapa, What/apa, Where/dimana, Why/kenapa, When/kapan, dan How/bagaimana).

“Di dalam berita terdapat 2 jenis perbedaan yaitu hard news dan soft news,” jelas Hadi Shixiong. Ia menjelaskan bahwa Hard news harus berisikan fakta murni yang mengambarkan suatu peristiwa penting dengan cepat, segera dan langsung mengacu pada 5 W + 1 H, sedangkan soft news lebih kepada tulisan yang dikemas dengan gaya bahasa yang ringan dan biasanya beritanya lebih menarik (human interest) serta tetap mengandung 5W+1H. Menulis artikel untuk Tzu Chi lebih disarankan menggunakan gaya penulisan soft news.

foto  foto

Keterangan :

  • Kegiatan ini diikuti oleh 10 orang relawan yang aktif mendokumentasikan kegiatan-kegiatan Tzu Chi di masing-masing wilayahnya.(kiri)
  • Shixiong Hadi juga memberikan beberapa tips kepada relawan dalam membuat suatu berita.(kanan)

Shixiong Hadi juga memberikan tips dalam menulis berita, antara lain dengan mengamati kegiatan atau aktivitas narasumber, tentukan narasumber dan sudut berita, lakukan wawancara, cek/konfirmasi berita ke narasumber lainnya, dan terakhir membuat kerangka tulisan dan menulis berita. Tujuan utama dalam pelatihan kali ini adalah untuk belajar bagaimana cara menulis artikel yang benar yang menyangkut semua kegiatan Tzu Chi, sehingga tulisan tersebut dapat menjadi salah satu catatan sejarah dalam dunia Tzu Chi yang tidak akan lekang oleh waktu dan dapat dibaca dan menginspirasi orang lain.

“Dalam menulis berita Tzu Chi ada beberapa gaya skrip, antara lain harus berpedoman pada benar, bajik, indah, fokus pada kisah mengenai manusia atau interaksi antar manusia,  kegiatan Tzu Chi beserta data-datanya hanya menjadi latar belakang cerita,” tutur Hadi Shixiong

foto  foto

Keterangan :

  • Walaupun jumlah relawan yang hadir hanya 10 orang, namun suasana kerakraban sangat terasa. (kiri)
  • Relawan yang hadir diajak untuk belajar langsung menulis berita hard news dan soft news sehingga dapat dirasakan perbedaan kedua jenis berita tersebut. (kanan)

 

Walaupun jumlah relawan yang hadir sedikit, namun suasana kerakraban sangat terasa. Selain memberikan tips dan teknik penulisan, Shixiong Hadi juga mengajak relawan yang hadir untuk belajar langsung menulis berita hard news dan soft news, sehingga dapat dirasakan perbedaan kedua jenis berita tersebut. Salah satu relawan yang hadir adalah Indri yang baru saja mengikuti kegiatan pembagian beras di pagi harinya menuturkan “Saya baru pertama kali ikut pelatihan penulisan ini dan dapat merasakan manfaat dari pelatihan ini sehingga bisa tahu cara menulis yang baik,” ucapnya.

Berita dan Foto, Satu Kesatuan yang Tidak Dapat Dipisahkan
Berita tanpa foto seperti sayur tanpa garam, jadi di dalam suatu berita, harus ada foto karena kedua komponen ini menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Foto dapat mewakili apa yang di tulis. Setiap penulisan harus disertai foto, setelah tulisan dan foto telah ada maka ada beberapa media yang bisa digunakan untuk menpublikasikan hasil penulisan dan foto tersebut antara lain Majalah Dunia Tzu Chi, Buletin Tzu Chi, Website Tzu Chi, produk–produk cetak atau bahkan jika ada kesempatan tulisan tersebut dapat diterbitkan di media Tzu Chi di Taiwan, di mana tulisan tersebut akan diterjemahkan ke bahasa Mandarin.

Untuk alur pengiriman naskah penulisan dan foto dapat dilakukan melalui masing–masing 3 in 1 He Qi (Utara, Barat, Timur, dan Selatan). Setelah dikirim, tulisan tersebut akan diedit oleh editor masing-masing He Qi, baru kemudian dikirim ke 3 in 1 pusat di yayasan. Atau artikel juga dapat langsung dikirimkan ke email: dunia_tzuchi@yahoo.com. Selain itu harus memperhatikan waktu penulisan agar pada saat di muat, berita tersebut tidak kadaluwarsa.

Tanpa terasa pelatihan kali ini harus diakhiri. “Ada beberapa hal yang perlu diingat oleh seorang jurnalis Tzu Chi,” tutur Hadi shixiong kepada para relawan yang hadir, “yaitu semua orang bisa menjadi penulis, banyak membaca adalah syarat mutlak bagi penulis, semakin sering menulis maka akan terasa semakin mudah dan lancar dan lakukanlah sekarang untuk menulis.” Setiap peristiwa memiliki cerita dan makna yang dapat dipetik sehingga jika dicatat maka akan dapat menjadi catatan sejarah bagi generasi selanjutnya. Semoga dengan adanya pelatihan ini akan semakin banyak Bodhisatwa pencatat sejarah di Tzu Chi.

  
 

Artikel Terkait

Dukungan Terus Mengalir untuk Pelaku UMKM

Dukungan Terus Mengalir untuk Pelaku UMKM

11 November 2021

Angka jumlah pasien Covid-19 saat ini sudah menurun jauh. Tetapi kondisi perekonomian masih belum kembali normal. Kondisi ini menjadi pertimbangan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia untuk melanjutkan kegiatan Tzu Chi Peduli Tzu Chi Berbagi.

Tempat Baru untuk Melatih Diri

Tempat Baru untuk Melatih Diri

17 Maret 2011
Di atas tanah seluas 13 m x 25,5 m ini akan dibangun Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi. Ketua Tzu Chi Medan, Mujianto mengatakan, "Semoga pembangunan Depo Daur Ulang ini dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan saya harap nantinya akan ada depo daur ulang di setiap Xie Li." 
Syukuran Imlek dan Peresmian Posko Daur Ulang

Syukuran Imlek dan Peresmian Posko Daur Ulang

20 Februari 2014 Melalui depo pelestarian lingkungan ini agar dapat membangkitkan semangat jiwa Bodhisatwa di Kabupaten Karimun untuk menjadikan daerah yang indah, rapi, dan bebas dari sampah-sampah yang dapat mencemari lingkungan.
Memberikan sumbangsih tanpa mengenal lelah adalah "welas asih".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -