Menumbuhkan Bakti dan Cinta Kasih di Bulan Tujuh Penuh Berkah

Jurnalis : Diyang Yoga W (Tzu Chi Surabaya), Fotografer : Diyang Yoga W, Davian,Sheila, Sophie, Santoso, Hendra (Tzu Chi Surabaya)
Relawan Tzu Chi, Min Fong dengan penuh welas asih memberikan pengalamannya tetang warisan bakti kepada orang tua dengan harapan dapat diterapkan generasi selanjutnya.

Bulan tujuh dalam penanggalan Imlek kerap diselimuti berbagai pandangan keliru dan rasa takut. Namun, Master Cheng Yen mengingatkan bahwa bulan ketujuh merupakan bulan penuh berkah dan sukacita, sekaligus momentum untuk mengenang jasa serta membalas budi orang tua. Semangat inilah yang menjadi landasan relawan Tzu Chi Surabaya dalam memperingati Bulan Tujuh Penuh Berkah pada Minggu, 23 Agustus 2026.

Sejak pagi, sebanyak 68 relawan mengikuti kegiatan yang dipandu oleh Ida Sabrina Shijie. Melalui tayangan ceramah Master Cheng Yen, relawan diajak memahami kembali makna bulan ketujuh. Pada masa kehidupan Buddha, bulan ini menjadi momen penuh sukacita setelah para Sangha menyelesaikan masa vassa. Masyarakat pun mendukung para Sangha dengan berdana ke vihara, sehingga terhimpun banyak jalinan kebajikan.

Master Cheng Yen mengajak setiap insan tidak berhenti pada pemahaman, tetapi meneruskannya dalam tindakan nyata. Keteladanan relawan Tzu Chi di Nepal yang rela meninggalkan kenyamanan untuk membantu masyarakat menjadi pengingat agar setiap orang menghargai jalinan jodoh, memperteguh ikrar, dan menghimpun kebajikan untuk menolong sesama.

Menyayangi Semua Makhluk
Dalam ceramahnya, Master Cheng Yen juga mengajak umat mengurangi pembunuhan makhluk hidup dan menjaga kelestarian bumi. Pesan tersebut diwujudkan melalui persembahan lagu isyarat tangan. Dengan penuh keceriaan, para relawan mengajak hadirin mengenal pola makan nabati sebagai salah satu wujud cinta kasih kepada semua makhluk sekaligus upaya menjaga kesehatan dan bumi.

Para relawan bersama Tzu Ching (muda-mudi Tzu Chi) Suabaya menampilkan isyarat tangan dengan penuh semangat.

Semangat ini semakin bermakna melalui sharing Sufendi, relawam Tzu Chi yang telah menjalani pola hidup bervegetaris selama hampir 50 tahun. Keputusannya bermula ketika berusia 11 tahun setelah menyaksikan proses pemotongan hewan untuk konsumsi. Pengalaman tersebut menumbuhkan kesadaran bahwa setiap makhluk memiliki kehidupan yang patut dihargai.

Bagi beliau, bervegetaris merupakan salah satu wujud praktik cinta kasih kepada semua makhluk. “Vegetarian bukan hanya milik ajaran agama Buddha saja, melainkan wujud welas asih universal yang dapat dipraktikkan oleh siapa pun,” ungkapnya.

Bakti yang Tak Bisa Ditunda
Selain menyayangi semua makhluk, Master Cheng Yen juga mengingatkan pentingnya berbakti kepada orang tua. Tubuh yang dimiliki merupakan pemberian orang tua. Karena itu, salah satu cara membalas budi mereka adalah menggunakan tubuh yang sehat untuk berbuat kebajikan dan bersumbangsih bagi sesama.

Pesan ini diperdalam melalui sharing Ming Fong Shijie bertajuk “Warisan Bakti kepada Orang Tua”. Ia mengingatkan bahwa jalinan jodoh dengan orang tua memiliki batas waktu, sehingga bakti hendaknya diwujudkan selagi masih memiliki kesempatan.

“Dari semua kebajikan, berbakti kepada orang tua adalah yang terpenting,” ucap Min Fong.

Ming Fong, relawan Tzu Chi tampak fokus saat menjawab pertanyaan relawan baru mengenai vegetarian.

Bakti bukan hanya tentang memberikan materi, tetapi juga menjaga pikiran, tutur kata, dan perilaku agar tidak melukai hati orang tua. Sebagai orang tua, keteladanan pun menjadi warisan berharga bagi anak-anak.

“Anak akan meniru apa yang kita lakukan. Kelakuan kita adalah contoh nyata bagi mereka,” tuturnya.

Ia mengibaratkan bakti seperti aliran air yang terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya. Cinta kasih, kebijaksanaan, dan keteladanan yang ditanamkan orang tua akan menjadi bekal bagi anak untuk meneruskannya kepada generasi selanjutnya.

Jalinan Kasih yang Terus Mengalir
Pesan-pesan yang disampaikan meninggalkan perenungan mendalam bagi para relawan. Bagi Sufendi, relawan Tzu Chi berkegiatan ini bukan hanya menjadi momentum untuk memahami makna Bulan Tujuh Penuh Berkah, tetapi juga mempererat jalinan persaudaraan dalam keluarga besar Tzu Chi.

“Sesama relawan bisa lebih merasakan adanya ikatan tali kekeluargaan, saling memotivasi, saling berbagi, serta memiliki teman bajik yang sama visi dan misi dalam satu keluarga besar Tzu Chi,” ucap Sufendi dengan penuh syukur.

Salah satu relawan Tzu Chi, Sufendi, dengan penuh sukacita menyampaikan sharing dan memberikan pertanyaan kepada peserta agar kegiatan berlangsung interaktif.

Hal serupa dirasakan Budi Bambang. Ia merasa kegiatan ini mengajaknya kembali merenungkan kasih sayang kepada semua makhluk dan bakti kepada orang tua.

“Hari ini saya merasa diajak untuk merenungkan kembali hakikat kasih sayang, kepedulian terhadap sesama makhluk, dan berbakti kepada orang tua,” tuturnya.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipandu Ida Shijie. Dalam keheningan, para relawan menyatukan telapak tangan, mendoakan keselamatan dunia serta saudara-saudara yang tengah mengalami musibah. Sebelum pulang, mereka juga menuangkan ketulusan melalui lembar doa dan ikrar bervegetaris.

Di balik hangatnya kegiatan tersebut, ada cinta kasih yang telah dipersiapkan sejak dini hari. Relawan Pik Liang Shijie dengan penuh sukacita telah bangun sejak pagi buta untuk menyiapkan makanan sehat bagi para peserta. Hidangan vegetarian disajikan dengan penuh perhatian, menjadi sebuah pesan sederhana bahwa makanan tanpa daging pun dapat diolah menjadi hidangan yang lezat dan menggugah selera.

Tidak hanya Pik Liang Shijie, relawan Vonny Shijie turut berbagi cinta kasih dengan menyiapkan salad buah untuk dinikmati bersama. Setiap hidangan menjadi bentuk perhatian kecil yang menghangatkan kebersamaan.

Relawan Tzu Chi Surabaya dengan khidmat dan fokus mendengarkan Lentera Kehidupan tentang Bulan 7 Penuh Berkah.

Semangat para relawan senior ini menjadi teladan bahwa cinta kasih tidak pernah berhenti pada satu generasi. Apa yang telah ditanamkan dengan ketulusan akan terus diteruskan melalui tindakan nyata, dari satu tangan ke tangan lainnya, dari satu hati ke hati yang lain.

Pada akhirnya, Bulan Tujuh Penuh Berkah bukanlah tentang rasa takut, melainkan kesempatan untuk menumbuhkan rasa syukur, berbakti kepada orang tua, menyayangi semua makhluk, menjaga bumi, dan terus menebarkan kebajikan.

Editor : Nur Al Fajar Rumsari

Artikel Terkait

Memaknai Bulan 7 Penuh Berkah

Memaknai Bulan 7 Penuh Berkah

23 Agustus 2017

Untuk merangkul lebih banyak Bodhisatwa yang memiliki niat tulus untuk bervegetarian, relawan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun mengadakan kegiatan sosialisasi bulan tujuh penuh berkah, Minggu, 20 Agustus 2017.

Rangkaian Kegiatan Bulan Tujuh Penuh Berkah

Rangkaian Kegiatan Bulan Tujuh Penuh Berkah

18 September 2018

Dalam rangka bulan tujuh penuh berkah, Tzu Chi Pekanbaru mengadakan berbagai kegiatan yang bertujuan mengembalikan pandangan benar tentang bulan tujuh lunar.  Ada Go green Family Fun Walk, Makan malam vegetarian bersama, Kebaktian Sutra Ksitigarbha live dari Griya Perenungan, serta doa bulan tujuh penuh berkah.

Keharmonisan Kelompok Cerminan Kesatuan Hati

Keharmonisan Kelompok Cerminan Kesatuan Hati

24 Agustus 2015 Sebanyak 148 orang dan tim pendukung menampilkan drama dalam acara Bulan Tujuh Penuh Berkah yang dilaksanakan di Aula Jing Si, Pantai Indah Kapuk pada 23 Agustus 2015. Drama yang dikemas secara menarik ini bercerita mengenai makna bulan tujuh dan pengenalan pelestarian lingkungan serta bervegetarian.
Kendala dalam mengatasi suatu permasalahan biasanya terletak pada "manusianya", bukan pada "masalahnya".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -