Menyadari Melalui Tindakan Nyata

Jurnalis : Sufenny (He Qi Utara), Fotografer : Ciu Yen, Stephen Ang (He Qi Utara)

fotoSebanyak 55 peserta meramaikan acara bedah buku yang bertajuk “Sulit untuk Memahami Metode Terampil”.

“Memahami berbeda dengan menyadari. Memahami tanpa menyadari berarti hanya sekedar mengetahui, sementara untuk bisa menyadari suatu ajaran, harus disertai dengan tindakan nyata.”
Kata perenungan Master Cheng Yen

 

 

Pada tanggal 1 Maret 2012, pada acara bedah buku mingguan di Jing Si Books and Café Pluit, Lim Ji Shou Shixiong, seorang relawan Tzu Chi dari Malaysia membawakan materi “Sulit untuk Memahami Metode Terampil”, bab ke-20 dari buku 20 Kesulitan dalam Kehidupan. Malam itu hadir 55 peserta mengikuti kegiatan rutin mingguan ini.

Ji shou Shixiong mengawali pembahasan mengenai materi ini. Orang selalu menganggap bahwa metode terampil itu adalah kebenaran yang sebenarnya. Karena semua melakukan maka menjadi suatu kebenaran. Melakukan tanpa memahami dan mendalami adalah suatu kesalahan yang akan menjadi masalah bagi kita, seperti kata Master Cheng Yen, “banyak hal jika tidak dipahami, hanya belajar permukaannya saja maka akan menjadi masalah bagi kita”.

foto    foto

Keterangan :

  • Ji Shou Shixiong membagikan kisah jodohnya dengan Tzu Chi.(kiri).
  • Bedah Buku He Qi Utara diadakan rutin setiap Kamis Pukul 19.00 di Jing Si Books and Cafe Pluit. (kanan).

Kegiatan sosial di Tzu Chi merupakan “Metode Terampil”, sedangkan metode terampil adalah suatu alat. Tzu Chi memiliki budaya humanis, bersyukur pada penerima bantuan karena dengan melihat penderitaan secara langsung maka kita punya peluang untuk berbuat kebajikan dan dengan adanya penderitaan mengajari kita untuk bisa tahu berpuas diri dalam kehidupan ini.

Awal perjalanan Ji Shou Shixiong di Tzu Chi adalah sebagai donatur terlebih dahulu. Kemudian ia diajak oleh relawan untuk mengikuti kegiatan, tetapi selalu tidak ada waktu dan selama tiga bulan relawan Tzu Chi ini tak pernah putus asa. Relawan tersebut selalu mengajak untuk mengikuti kegiatan sehingga suatu hari tergeraklah hati Ji Shou Shixiong yang juga mengajak istrinya untuk ikut serta dalam kunjungan kasih. Mereka mengunjungi seorang nenek dan memberikan beras kepadanya setiap dua minggu sekali, serta membawa makanan yang siap untuk dimakan pada saat itu juga. Ketika mereka sampai di rumah nenek dan memberikan makanan itu, nenek lalu membagi makanannya menjadi dua. Satu dipersembahkan ke altar mendiang suaminya. Jishou Shixiong yang melihat kejadian ini lalu timbul suatu perasaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dia melihat seorang nenek yang sudah tua, tapi masih mengingat suaminya serta masih melayani. Semenjak saat itu Jishou Shixiong selalu menyempatkan waktu untuk mengikuti kegiatan yang ada.

foto   foto

Keterangan :

  • Para relawan juga menyimak kisah Ji Shou Shixiong tentang pengalamannya bertahun-tahun mengabdi pada Yayasan Buddha Tzu Chi (kiri).
  • Sharing dari relawan Tzu Chi selalu tidak hanya menginspirasi dan memotivasi, tapi juga menghibur (kanan).

Buddha menghendaki kita memiliki waktu untuk menempatkan kemampuan kita untuk hal-hal yang berguna. Waktu yang selama sehari 24 jam dipergunakan untuk apa saja? Padahal kerja hanya 8 jam yaitu sepertiga hari. Lalu 8 jam lainnya dipergunakan untuk tidur. Sedangkan 8 jam sisanya dipergunakan untuk apa? “Kadang kala kita menunggu, baik itu menunggu antrian di toilet atau menunggu datangnya kendaraan. Sebenarnya apa yang mau dilakukan dalam hidup ini? Apakah kita menyadari di mana waktu itu dihabiskan? Jika kita bisa menghargai waktu maka kita akan menghargai hidup dan bahagia,” tutur Ji Shou Shixiong.

Oleh karena itu kita harus berusaha untuk bangun lebih awal di pagi hari, saat kita memiliki semangat dan segar, kita dapat belajar meresapi kebijaksanaan dengan hasil yang maksimal. Di dalam sebuah kutipan Sutra Intan, Buddha berkata, “mengetahui ajaran-ajaran Ku seperti sebuah rakit yang dapat menyeberangkan Anda dari sungai penderitaan.” Master Cheng Yen juga ingin agar kita semua dapat menyeberangi sungai tersebut. Jangan ada timbul masalah di tengah-tengah penyeberangan tersebut, yang mengakibatkan rakit tersebut terbalik, sehingga semuanya tenggelam tanpa mencapai tujuan akhir.

Sebagai penutup Po San shixiong memberikan beberapa kata motivasi agar kita dapat memanfaatkan setiap detik kehidupan ini dengan sebaik-baiknya, Buddha Dharma harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dipelajari saja.

  
 

Artikel Terkait

Bervegetarian Sambil Beramal

Bervegetarian Sambil Beramal

17 November 2022

Dalam memperingati Hari Bervegetarian Sedunia yang jatuh pada 1 Oktober 2022, Tzu Chi Padang mengadakan pekan amal bertema “Bervegetarian Sambil Beramal”.

Uluran Tangan Seusai Banjir

Uluran Tangan Seusai Banjir

29 September 2009 Setelah tertimpa bencana banjir bandang Selasa (15/9) dini hari lalu, Mandailing Natal menderita kehilangan 9 korban meninggal dan 1 orang hilang. Tzu Chi berhasil mengunjungi empat desa dari enam desa yang tertimpa bencana banjir bandang di Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, yaitu Desa Lubuk Kapundung 1, Desa Lubuk Kapundung 2, Desa Rantau Panjang, dan Desa Hutalimbaru yang masih tertimbun lumpur setinggi satu meter.
Belajar dari Kehidupan Orang Lain

Belajar dari Kehidupan Orang Lain

17 Maret 2015 “Kita memang harus bersyukur dan belajar dari pengalaman orang lain,” pungkas relawan Tzu Chi lainnya, Luciana. Hal ini seperti dalam Kata Perenungan Master Cheng Yen: “Hanya dengan mengenal puas dan tahu bersyukur, kehidupan manusia baru bisa berbahagia.”
Cara untuk mengarahkan orang lain bukanlah dengan memberi perintah, namun bimbinglah dengan memberi teladan melalui perbuatan nyata.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -