Pelestarian Lingkungan Bagai Mentari Tak Terbenam

Jurnalis : Nuraisyah Baharuddin (Tzu Chi Makassar), Fotografer : Nuraisyah Baharuddin (Tzu Chi Makassar)
 

foto Pada masa-masa awal Tzu Chi di Indonesia banyak kegiatan Tzu Chi yang dilaksanakan di Tangerang, Banten

 

Sabtu, 26 Oktober 2013 pukul 16:00 WITA, Puluhan muda mudi Tzu Ching  dengan antusias mengemudikan kapal laut yang cukup sederhana untuk menyebrangi lautan biru melangkahkan kaki menuju salah satu pulau kecil di Makassar, Pulau Gusung. Pulau Gusung memiliki sedikit penduduk, namun tiap hari libur cukup banyak pengunjung yang menghampiri pulau ini sebagai tempat rekreasi. Perjalanan menuju pulau membutuhkan waktu setengah jam melewati hamparan laut di sore itu.

Tujuan Tzu Ching singgah di pulau tersebut untuk melakukan pelestarian lingkungan dengan memungut seluruh sampah yang ada ditepi-tepi pantai. Cuaca cukup bersahabat saat itu. Seluruh relawan Tzu Ching sangat bersemangat memilah-milah sampah untuk dimasukkan karung  yang dibawa setiap orang.

Setelah menyatukan beberapa sampah, waktu pun telah menunjukkan tengah hari. Maka puluhan relawan Tzu Ching bersama-sama beristirahat di salah satu pondok milik relawan Tzu Chi, Ronny Shibo. Rasa semangat dan sukacita membuat relawan Tzu Ching tidak merasa lelah. Hingga tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 18:00 WITA, sehingga matahari pun mulai tak nampak lagi.

Kegiatan ini direncanakan berlangsung dua hari, sehingga seluruh relawan bersama-sama bermalam di pondok. Untuk mengisi waktu setelah makan malam bersama, Icha yang merupakan ketua Tzu Ching Makassar telah menyiapkan beberapa acara. Ia memperkenalkan Tzu Chi dan Tzu Ching kepada relawan muda mudi baru. Icha menjelaskan sejarah Tzu Chi dan misi Tzu Chi, salah satunya pentingnya melestarikan lingkungan. Acara sosialisasi ini berlangsung selama dua jam. Muda mudi Tzu Chi juga bersama-sama mengakrabkan diri dengan sharing malam itu di tepi pantai sembari menyantap jagung bakar yang telah disiapkan bersama.

Keterangan :

  • Dengan semangat dan sukacita, para muda-mudi berhasil memberikan contoh pentingnya melestarikan lingkungan dengan memungut sampah yang terbuang sembarang tempat.

Minggu pagi, 27 Oktober 2013 pukul 5:30 WITA, seluruh Tzu Ching melanjutkan aktifitas kembali. Mereka bersama-sama sarapan pagi sebelum melakukan pembersihan sampah yang masih tersisa kemarin sore. Pagi yang begitu cerah membuat relawan Tzu Ching menikmati keindahan lautan pagi. Sembari menikmati kesejukan di pagi hari, sepasang tangan mereka mengangkat sampah-sampah yang telah mengotori pulau kecil ini. Pukul 10.00 WITA, pulau yang kemarin dijumpai begitu kotor, kini terlihat bersih dan indah tanpa ada sampah yang mengotori tepian pantai.

Akhirnya usaha Tzu Ching untuk melestarikan lingkungan berjalan dengan lancar. Acara pun diakhiri dengan berenang bersama-sama dan sebuah games yang membayar kelelahan mereka selama 2 hari di pulau. Sepulang dari kegiatan pelestarian ini, Ronny Shibo membawakan dua buah hadiah berupa sebuah payung dan boneka persembahan dari salah satu donatur Tzu Ching.

  
 
 

Artikel Terkait

Suara Kasih : Membangkitkan Welas Asih

Suara Kasih : Membangkitkan Welas Asih

22 Maret 2011 Setiap hari merupakan hari bersejarah bagi Tzu Chi yang mengingatkan kita tentang penderitaan di dunia. Kehidupan manusia sungguh penuh penderitaan. Pantas saja ajaran pertama yang dibabarkan oleh Buddha adalah tentang penderitaan dan Empat Kebenaran Mulia. Semoga setiap orang dapat giat melatih diri.
Senasib Sepenanggungan

Senasib Sepenanggungan

07 Juni 2010
Maryanah bersama dengan 12 relawan Tzu Chi He Qi Selatan melakukan kegiatan kunjungan kasih yang rutin dilakukan satu bulan sekali. Sudah 2 tahun lamanya, Chong Kim Sun - suami dari Heni dan ayah dari Christina yang terkena stroke menjadi pasien penanganan khusus Tzu Chi.
Langkah Awal Menuju Kebajikan

Langkah Awal Menuju Kebajikan

04 Januari 2016

Pelatihan relawan diadakan untuk menyatukan tekad dan semangat para relawan, sehingga dalam menebarkan kebajikan akan lebih merata kepada orang-orang yang membutuhkan dan menjadi sarana untuk melakukan pelatihan diri.

Dengan keyakinan yang benar, perjalanan hidup seseorang tidak akan menyimpang.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -