Menyalakan Cahaya Kebaikan, Menemukan Keluarga di Tzu Ching Camp 2026
Jurnalis : Vincent Salimputra (He Qi Jakarta Utara 3), Fotografer : Elysa (He Qi Jakarta Barat 4), Kelvin (He Qi Jakarta Utara 2), Vincent Salimputra (He Qi Jakarta Utara 3), Vincentius Xavier Haryathama (He Qi Jakarta
Sesi Fireflies in Community menghadirkan Astia Dika sebagai pemandu bersama tiga alumni Tzu Ching, yaitu Dora Tan, Shellen Setiawan, dan Kevin Gozali. Melalui kisah perjalanan dan pengalaman mereka dalam kegiatan sosial, para peserta Tzu Ching Camp 2026 diajak memahami makna ketulusan dan kepedulian terhadap sesama. Kegiatan berlangsung di Guo Yi Ting, Aula Jing Si lantai 3.
Seekor kunang-kunang tidak menunggu malam menjadi terang untuk memancarkan cahayanya. Meski kecil, sinarnya dapat menerangi kegelapan ketika berpadu dengan cahaya lainnya. Filosofi inilah yang menghidupkan semangat 211 relawan muda dalam hari pertama Tzu Ching Camp 2026 di Guo Yi Ting, Aula Jing Si lantai 3.
Mengusung tema Avatar 2.0: Brand New Day, kegiatan ini mengajak peserta memahami keberanian menundukkan ego demi kebaikan bersama. Semangat tersebut hadir melalui dua sesi, yakni Fireflies in Community yang menghadirkan keteladanan alumni Tzu Ching dan Tzu Ching Night, ruang berbagi pengalaman serta saling menguatkan.
Kisah Alumni yang Menyalakan Harapan
Dipandu Astia Dika, presenter DAAI TV, sesi Fireflies in Community menghadirkan tiga alumni Tzu Ching: Dora Tan dari DAAI TV, Shellen Setiawan dari tim dokumentasi Zhen Shan Mei, dan Kevin Gozali, pembimbing Tzu Ching Surabaya. Kisah mereka memperlihatkan bahwa berbuat baik dapat dilakukan dalam berbagai keadaan.
Dora mengenang awal keterlibatannya dalam Tzu Ching Camp pada 2012. Kala itu, ia mengaku sebagai relawan “paksawan” karena didaftarkan dan dibiayai orang tuanya tanpa sepengetahuannya. Meski awalnya enggan dan canggung, sambutan hangat para relawan senior perlahan mengubah pandangannya.
“Waktu itu saya benar-benar seorang paksawan karena disuruh mama. Tetapi sambutan hangat teman-teman dan para relawan senior membuat rasa canggung saya hilang perlahan,” kenangnya.

Berbagi pengalaman mendampingi warga terdampak bencana di Palu, Dora Tan mengajak generasi muda untuk tidak menunda niat baik. Selama masih sehat dan memiliki kesempatan, setiap orang dapat mengambil bagian dalam membantu sesama.
Setelah sempat vakum karena kesibukan kerja, Dora kembali menemukan kedekatan dengan komunitas melalui pekerjaannya di DAAI TV. Ia pun terlibat langsung dalam kegiatan sosial, termasuk mendampingi warga terdampak gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi di Palu pada 2018. Bersama relawan, ia memverifikasi ribuan data calon penerima rumah Tzu Chi di Tadulako. Dora bahkan bolak-balik ke Palu hingga enam kali, sampai penyerahan kunci rumah bagi para korban terlaksana.
“Melihat warga yang kehilangan segalanya tetap sabar mengantre membuat lelah kami hilang seketika. Momen paling menyentuh adalah saat warga yang sudah menerima rumah mulai bangkit, membuka warung kecil, mengajak kami makan bersama, bahkan ikut menyisihkan uang ke celengan bambu,” tuturnya.
Dora mengingatkan peserta agar tidak menunda niat baik. “Masa depan tidak ada yang tahu. Setengah detik ke depan pun kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Selagi raga masih sehat dan ada kesempatan, langsung genggam kesempatan itu untuk menolong sesama.”

Meski harus menjalani berbagai operasi akibat penyakit lupus, Shellen Setiawan tidak menyerah untuk terus berbuat baik. Melalui kegiatan dokumentasi Zhen Shan Mei dan kunjungan kasih, ia membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk tetap memberi manfaat bagi sesama.
Berbeda dengan Dora, Shellen Setiawan menghadapi ujian berat akibat penyakit lupus yang didiagnosis pada 2011. Efek samping penggunaan steroid jangka panjang merusak tulang pangkal pahanya. Saat pandemi, ia bahkan tidak bisa berjalan dan harus menjalani tujuh operasi besar di Tzu Chi Hospital, termasuk penggantian sendi serta penanganan infeksi tulang.
Meski kondisi fisiknya membatasi aktivitas, Shellen tidak berhenti berbuat baik. Ia bergabung dalam tim dokumentasi Zhen Shan Mei di komunitas He Qi Tangerang, membantu administrasi dan kunjungan kasih. Saat menjalani studi bahasa Mandarin selama setahun di Tiongkok, ia juga menyempatkan diri berkegiatan di kantor Tzu Chi setempat. Kini, ia telah lebih dari setahun bebas dari ketergantungan pada steroid.
“Ketika terbaring di tempat tidur rumah sakit dan melihat foto teman-teman relawan di ponsel, hati saya tergerak ingin segera sembuh agar bisa berkumpul lagi. Dokter memang melarang saya terkena panas matahari, jadi saya memilih membantu di bagian dokumentasi dan kunjungan kasih di dalam ruangan,” ungkapnya.
“Bisa melangkah di jalan kebaikan ini adalah berkah terbesar dalam hidup saya. Selama raga ini masih mampu digerakkan dan napas masih ada, saya ingin terus membantu orang lain,” tegas Shellen.
Sementara itu, Kevin Gozali berbagi pengalaman merintis kembali komunitas Tzu Ching di Surabaya. Setelah mengenal Tzu Chi sejak SMP dan SMA, ia bersama beberapa teman menghidupkan kembali komunitas yang hampir terhenti akibat kekurangan anggota. Dengan merangkul mahasiswa dari berbagai kampus di Jawa Timur, mereka kini berhasil membangun komunitas dengan puluhan anggota aktif.
Kevin juga menepis anggapan bahwa kegiatan sosial merenggut masa muda. Menurutnya, kuncinya adalah mengatur waktu secara seimbang.
“Ikut kegiatan sosial tidak membuat kita kehilangan masa muda. Pagi hari kita berkegiatan untuk belajar disiplin, lalu sore dan malamnya kita tetap bisa menikmati waktu luang bersama teman sebaya,” jelasnya.

Kevin Gozali berbagi pengalaman membangun kembali komunitas Tzu Ching di Surabaya. Ia mengajak para relawan muda untuk mengatur waktu secara bijak agar tetap dapat menjalankan kegiatan sosial tanpa kehilangan kesempatan menikmati masa muda.
Pengalaman mendampingi keluarga penerima bantuan menjadi pelajaran berharga bagi Kevin. Ia mengenang seorang anak kelas 3 SMP dari keluarga kurang mampu yang kehilangan kepercayaan diri dan malu melanjutkan sekolah. Melalui pendampingan rutin, kesediaan mendengarkan, dan dukungan moral, Kevin membantu anak itu kembali bersemangat.
“Waktu melihat anak itu akhirnya bisa tersenyum dan kembali percaya diri untuk melanjutkan sekolah, di situ saya merasa apa yang kita lakukan benar-benar membawa arti,” kenang Kevin.
Dalam sesi tanya jawab, Hillary Kresnaputeri dari Jakarta Utara menanyakan cara menghadapi perbedaan karakter dan gesekan dalam kepanitiaan. Kevin menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka.
“Ketika berkegiatan bersama banyak orang, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Kuncinya adalah bicara langsung dengan tutur kata yang santun dan jangan membiarkan pikiran negatif berkembang,” jelasnya.
“Singkirkan ego pribadi dan ingat kembali niat awal kita datang ke sini untuk menolong masyarakat, bukan mencari menang sendiri,” pesannya.
Sesi ditutup dengan pembagian kartu bergambar kunang-kunang yang dapat menyala dalam gelap. Peserta menuliskan pesan penyemangat dan membagikannya secara acak sebagai pengingat bahwa kebaikan kecil dapat menyalakan harapan bagi orang lain.
Tzu Ching Night: Menemukan Keluarga yang Saling Menguatkan
Usai makan malam, peserta mengikuti Tzu Ching Night dalam kelompok kecil yang didampingi relawan senior atau alumni. Dipandu Nancy Streisand, relawan Tzu Chi yang aktif membina generasi muda, sesi di ruang pertemuan Gedung DAAI ini menjadi ruang aman untuk membicarakan hubungan dengan orang tua dan pergulatan hidup.

Nancy Streisand memandu sesi Tzu Ching Night di ruang pertemuan Gedung DAAI. Dengan suasana hangat dan terbuka, ia mengajak peserta berbagi pengalaman, memahami hubungan dengan orang tua, serta menyadari pentingnya memiliki orang-orang yang dapat memberikan dukungan saat menghadapi kesulitan hidup.
Nancy mengajak peserta memahami mengapa sebagian anak muda lebih nyaman bercerita kepada relawan senior daripada kepada orang tua sendiri. Menurutnya, kelelahan dan kekhawatiran terkadang membuat orang tua berbicara dengan nada tinggi tanpa menyadarinya.
“Jangan menunggu orang tua yang berubah lebih dulu. Mulailah dari langkah kecil kita, misalnya berpamitan saat bepergian, memberi kabar lewat pesan singkat, dan jangan memperlakukan orang tua hanya sebagai penyedia uang saku atau pengantar jemputan,” pesannya.
Nancy kemudian membagikan pengalaman menghadapi tiga kedukaan besar dalam dua tahun: kepergian suami, nenek, dan ibu tercinta, sembari merawat ibu mertua yang mengalami demensia berat.
“Di saat saya berada di titik terendah, keluarga besar Tzu Chi hadir menopang. Para relawan mendampingi dan membantu mengurus segalanya tanpa perlu saya minta. Dari situ saya belajar bahwa ketika hidup menghantam kita sampai ke titik dasar, lepaskan topeng sok kuat. Kita tidak bisa berjalan sendirian. Milikilah setidaknya satu orang kepercayaan yang bisa menggenggam tangan kita agar kita tidak jatuh ke jurang keputusasaan,” ungkapnya haru.

Ani Winata, relawan Tzu Ching asal Bandung, membagikan perjuangannya merawat sang ibu yang sakit parah. Di tengah beratnya tanggung jawab dan tertundanya impian melanjutkan pendidikan, ia menemukan kekuatan baru melalui kebersamaan dan dukungan keluarga besar Tzu Chi.
Keterbukaan Nancy mendorong peserta berbagi pengalaman. Ani Winata dari Tzu Ching Bandung menceritakan perjuangannya merawat ibu yang sakit parah akibat komplikasi jantung dan paru-paru, penurunan daya ingat, serta ketergantungan pada tabung oksigen. Sejak orang tuanya berpisah, Ani hidup bersama sang ibu. Ia harus merawat ibunya seorang diri hingga impian kuliahnya tertunda.
“Waktu itu saya merasa hidup saya hancur dan sangat sendirian. Tetapi saat diajak kembali ke Tzu Ching dan ikut baksos, melihat senyuman para relawan dan pasien yang juga berjuang melawan derita, hati saya dipulihkan. Saya sadar penderitaan bukan milik saya sendiri. Di Tzu Chi saya tidak dihakimi, melainkan menemukan kekuatan dan keluarga baru untuk terus tabah merawat ibu saya,” tutur Ani.
Gavrila Darmawan, mahasiswi semester tujuh, berbagi pergulatan memilih jurusan Teknologi Industri Pertanian demi memenuhi harapan orang tua, meski minatnya berada di bidang seni musik. Ia mengaku sempat merasa tertekan, tetapi sesi malam itu memberinya sudut pandang baru.
“Awalnya saya merasa tertekan dan terpaksa menjalani kuliah ini. Tetapi mendengarkan nasihat malam ini, saya sadar bahwa menyelesaikan apa yang sudah dimulai adalah bentuk bakti dan kedewasaan saya kepada orang tua. Saya bertekad menuntaskan skripsi dengan baik, sembari tetap merawat bakat musik yang saya miliki,” ujarnya.
Menutup sesi, Nancy mengingatkan peserta agar tidak menghilang tanpa kabar atau melakukan ghosting ketika menghadapi persoalan dalam tim. Masalah perlu disampaikan secara jujur dan santun agar dapat diselesaikan bersama.
Hari pertama Tzu Ching Camp 2026 menegaskan bahwa menjadi cahaya bagi sesama juga berarti bersedia menerima dukungan dan menguatkan satu sama lain. Seperti kunang-kunang yang menerangi malam ketika bersinar bersama, 211 peserta diajak menundukkan ego, merawat kepedulian, dan melangkah bersama menyambut hari baru yang dipenuhi kebajikan.
Editor: Anand Yahya
Artikel Terkait
Benih Awal yang Mulai Tumbuh
30 April 2015Pada tanggal 24-26 April 2015, diadakannya Kamp Tzu Ching Palembang yang diikuti sebanyak 22 orang. Mengambil tema “Menyadari Berkah, Menghargai Berkah, dan Menciptakan Berkah Kembali”.
Tzu Ching Camp: Melihat Dunia dengan Hati
02 Desember 2011Pikiran pertama yang terlintas saat mendengar “Tzu Ching Camp” adalah Camp di dalam tenda dengan api unggun di tengah – tengahnya. Tepat di bulan Agustus 2010, saya mengikuti Tzu Ching Camp V yang dikemas sebegitu menariknya hingga membuat saya terharu dan mengenal Tzu Chi lebih dalam.
Menambah Barisan Tzu Ching
28 November 2017Muda mudi Tzu Chi (Tzu Ching) Bandung mengadakan Tzu Ching Camp 2017 yang diadakan di Aula Jing Si Tzu Chi Bandung, tanggal 18-19 November 2017. Peserta mendapatkan ilmu mengenai dunia Tzu Chi mulai dari budaya humanis Tzu Chi, sejarah Tzu Chi, visi dan misi Tzu Chi, serta sosialisasi Tzu Ching.







Sitemap