Dalam sesi edukasi Bakti Sosial Kesehatan Gigi di Sekolah Kristen Genesaret, drg. Manuel memperagakan teknik menyikat gigi yang benar dan lembut di hadapan para siswa. Edukasi ini menjadi bagian dari pelayanan yang diberikan kepada 94 peserta pada Minggu, 20 September 2026.
“Bukannya kapok, dia malah nanya, ‘Ibu, kapan kita ke dokter gigi lagi? Fadil mau tambal gigi yang bolong sekalian,’” celetuk Wasriatun (51) sambil tertawa renyah.
Fadil Aprilian Ramadhan (5), murid TK A, baru saja selesai mencabut gigi. Alih-alih takut melihat peralatan medis, bocah itu justru antusias menuntaskan perawatan giginya. Di rumah, Fadil tergolong penurut dan tak pernah menolak minum obat meski rasanya pahit. Hanya saja, seperti anak seusianya, ia kerap terlelap sebelum sempat menyikat gigi pada malam hari.
Kepolosan dan keberanian Fadil menjadi warna ceria dalam Bakti Sosial Kesehatan Gigi di Sekolah Kristen Genesaret, Minggu, 20 September 2026. Sejak pelayanan dibuka pukul 07.30 hingga selesai pukul 12.00 WIB, ruang-ruang kelas disulap menjadi klinik darurat yang ramah anak. Sebanyak 23 relawan komunitas Tzu Chi He Qi Jakarta Utara 3 bersama 19 dokter gigi dan enam perawat melayani 94 peserta yang terdiri atas murid dan warga sekitar.
Peserta datang melalui pintu gerbang sekolah dengan membawa surat pengantar. Di meja registrasi, relawan menyematkan lanyard nomor antrean. Sebelum tindakan medis, anak-anak mengikuti penyuluhan kesehatan gigi. Membawa peraga gigi dan sikat berukuran besar, drg. Manuel memperagakan teknik menyikat gigi yang benar.
“Kesehatan gigi bermula dari kebiasaan sederhana di rumah yang sering luput,” tutur drg. Manuel. “Menyikat gigi bukan asal basah, melainkan membersihkan setiap sela dengan lembut. Sikat berbulu halus penting agar gusi tidak terluka dan lapisan gigi tetap terlindungi.”
Vieren (kiri) menyimak penjelasan dokter gigi mengenai tindakan yang akan dijalani kedua putrinya, Michelle dan Gwen Bylie, dalam Bakti Sosial Kesehatan Gigi di Sekolah Kristen Genesaret. Pelayanan ini melibatkan 19 dokter gigi dan enam perawat bersama 23 relawan Tzu Chi He Qi Jakarta Utara 3.
Dari ruang penyuluhan, peserta menuju area penapisan (screening) di lantai dasar untuk menentukan gigi yang perlu ditambal atau dicabut. Setelah itu, anak-anak dipandu menuju lantai dua untuk menjalani tindakan medis. Sebagian besar siswa berbaris mandiri, sementara beberapa orang tua mendampingi.
Di luar ruang tindakan, para orang tua menunggu dengan sabar. Wasriatun mengaku lega melihat putranya mendapat pelayanan dengan penuh kelembutan.
“Harapannya ke depan, kegiatan kontrol gigi gratis seperti ini bisa dirutinkan lagi, ditambah pembagian sikat dan pasta gigi untuk anak-anak,” tuturnya.
Rasa takut anak-anak perlahan luruh ketika melihat teman-temannya menjalani pemeriksaan. Hal itu dirasakan Vieren saat mendampingi kedua putrinya, Michelle (9) dan Gwen Bylie (7), yang sama-sama mencabut gigi geraham belakang atas.
“Dokter dan timnya sangat baik dan ramah, anak-anak jadi tidak merasa cabut gigi itu menyeramkan,” tutur Vieren. “Apalagi di sekolah bersama teman-teman sekelas, suasananya terasa lebih menyenangkan.”
Kelegaan serupa dirasakan Yudi (45) yang mendampingi tiga buah hatinya, Patricia Tanu Yudiono (9), Florencia Tanu Yudiono (8), dan Axel Tanu Yudiono (5). Kedua putrinya menjalani pencabutan gigi, sedangkan Axel mendapat penambalan.
“Jauh lebih plong rasanya. Anak-anak merasa nyaman dan tidak ada yang mengeluh,” kata Yudi. “Waktu menemani Axel tambal gigi, dokternya juga menjelaskan kondisinya dengan sangat rinci,”ucap Yudi.

Ketenangan terpancar dari raut wajah Elleanor kala dokter gigi memeriksa susunan giginya secara saksama di ruang penapisan.
Baksos ini juga meninggalkan kesan bagi Nony Kussari Kardjui (38), yang menemani putrinya, Elleanor (6), atau Aling. Gigi bawah kiri Aling harus dicabut. Sempat menangis saat tindakan, Aling segera tenang setelah dibujuk dokter. Selesai tindakan, ia bahkan langsung menyampaikan pesan yang didengarnya dari drg. Manuel kepada sang ibu.
“Aling langsung bilang ke saya, ‘Mami, sikat gigi itu tidak boleh yang keras, harus yang lembut!’” Cerita Nony sambil tertawa. “Padahal dari kecil Aling memang sudah terbiasa pakai sikat gigi berbulu halus khusus anak.”
Di rumah, Aling disiplin menjauhi permen dan cokelat meski tidak menyukai sayuran hijau. Melihat ketulusan relawan yang melayani tanpa membedakan latar belakang, hati Nony pun tergerak untuk ikut bersumbangsih.
“Melihat ketulusan para relawan, saya tergerak ingin bergabung di Tzu Chi karena memang ingin berbuat karma baik. Dulu di Cirebon saya aktif di wihara dan dapur umum,” tuturnya. “Terima kasih atas hati dan waktu para relawan. Lelah mereka hari ini benar-benar membawa berkah bagi semua yang membutuhkan.”
Sentuhan Kasih di Ruang Tindakan
Di lantai dua, ruang kelas ditata menjadi area tindakan dengan deretan kursi periksa tanpa sekat. Penataan terbuka membuat anak-anak dapat melihat teman-temannya yang sedang menjalani perawatan. Di salah satu kursi, drg. Dina Winaya (24) tampak mensejajarkan pandangan sambil sabar mengajak seorang anak membuka mulut.
Baksos ini istimewa bagi dokter gigi lulusan Universitas Indonesia tersebut. Dina mengawali perjalanannya bersama Tzu Ching sejak 2020 dan kini aktif bersumbangsih di komunitas He Qi Jakarta Barat 3, sembari menanti pelantikan sebagai anggota TIMA pada November mendatang.
“Tantangan terbesar saat menangani anak-anak adalah membangun rasa percaya dalam waktu singkat, apalagi mereka sudah terlanjur takut dokter gigi,” tutur drg. Dina.

Dengan tutur kata lembut, drg. Dina Winaya mengajak Gwen Bylie berbincang untuk membangun rasa percaya sebelum tindakan medis dilakukan. Pendekatan persuasif menjadi bagian penting dalam pelayanan kepada anak-anak pada Bakti Sosial Kesehatan Gigi di Sekolah Kristen Genesaret, Minggu, 20 September 2026.
Menurut drg. Dina, pelayanan bukan sekadar tindakan medis. “Yang terpenting bukan sekadar tindakan medis, melainkan melayani dengan penuh kasih sayang. Bersumbangsih tidak selalu tentang hal besar. Memberikan waktu, ilmu, dan perhatian tulus sudah membuat mereka sangat senang. Saat melihat anak yang awalnya takut bisa pulang sambil tersenyum lepas, di situlah letak kebahagiaan batin saya.” Jelas drg. Dina tersenyum.
Kelancaran pelayanan juga tak lepas dari dukungan relawan pendamping. “Kekompakan tim sangat baik. Kami tenaga medis bisa fokus penuh pada tindakan karena relawan membantu menjaga suasana tetap rapi, tertib, dan nyaman bagi anak maupun orang tua,” tambahnya.
Koordinator tim medis, drg. Septriani, yang telah aktif dalam baksos Tzu Chi, juga menekankan pentingnya pendekatan persuasif. “Pasien anak-anak memang butuh kesabaran ekstra untuk membujuk dan memberi pengertian, serta diupayakan agar orang tua tetap mendampingi di samping kursi periksa,” jelas drg. Septriani adalah anggota TIMA sejak 2022.
Berdasarkan rekapitulasi medis, penambalan gigi berlubang dan pencabutan sisa akar gigi mendominasi pelayanan. Kondisi tersebut berkaitan dengan fase pergantian gigi susu menuju gigi tetap yang sedang dialami sebagian besar peserta anak.
“Pesan saya kepada orang tua dan pihak sekolah, selalu jaga kebersihan gigi dengan menyikat gigi secara benar dua kali sehari, pagi dan malam hari, serta perhatikan pola makan agar gigi anak tidak cepat rusak,” pungkas drg. Septriani.
Belajar Mengemban Amanah
Pelayanan terhadap 94 peserta berjalan lancar berkat koordinasi tim relawan yang dipimpin Andrew Ng (28). Alumnus Tzu Ching yang bergabung sejak 2018 ini untuk pertama kalinya dipercaya menjadi koordinator lapangan. Keterbatasan ruang sekolah menjadi tantangan dalam mengatur arus peserta.
“Perasaan saya senang karena dipercaya untuk belajar mengelola baksos yang krusial ini. Tantangannya lebih ke teknis ruangan yang tidak begitu besar sehingga pergerakan cukup terbatas. Namun, para relawan sangat suportif,” ungkap Andrew.
Baginya, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran tentang kekuatan kebersamaan. “Di Tzu Chi kita tidak perlu takut menjadi koordinator. Ada SOP yang sudah matang dari baksos sebelumnya serta para relawan fungsional yang siap mendukung penuh. Kuncinya adalah koordinasi sejak jauh hari bersama pihak sekolah dan tim medis.”
Setelah tindakan, anak-anak menuju ruang farmasi untuk menerima obat sesuai petunjuk dokter. Para apoteker juga mengingatkan orang tua mengenai aturan mengganti kasa steril dan pantangan makanan panas.
Bersama tenaga medis lainnya, drg. Septriani menyiapkan peralatan tindakan sebelum pelayanan dimulai dalam Bakti Sosial Kesehatan Gigi di Sekolah Kristen Genesaret, Minggu, 20 September 2026. Sebanyak 19 dokter gigi dan enam perawat berkolaborasi dengan 23 relawan untuk melayani 94 peserta.
Menjelang pukul 12.00 WIB, ruang kelas mulai lengang. Satu per satu anak meninggalkan sekolah dengan kasa masih tergigit di pipi, didampingi orang tua yang tersenyum lega.
Bagi para relawan, baksos ini bukan sekadar merawat gigi yang sakit, tetapi juga menghadirkan ruang aman bagi anak-anak untuk belajar menghadapi rasa takut. Keterlibatan drg. Dina dan Andrew menjadi bagian dari semangat bersumbangsih yang terus bertumbuh, sementara ketulusan para relawan turut mengetuk hati Nony untuk ikut berbuat baik.
Hari itu, ruang-ruang kelas Sekolah Genesaret bukan hanya menjadi tempat tindakan medis. Di sana, anak-anak belajar bahwa kursi dokter gigi tidak selalu menghadirkan ketakutan. Ada kesabaran, perhatian, dan kasih yang membantu mereka pulang dengan gigi yang lebih sehat serta keberanian untuk kembali tersenyum.
Editor: Anand Yahya