Menyiapkan Makanan dengan Sukacita

Jurnalis : Rudi Santoso (He Qi Utara), Fotografer : Rudi Santoso (He Qi Utara)
 
 

fotoArdin Arianto (paling kanan) sangat berterima kasih pada relawan dan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang telah menyediakan makanan sehat dan murah untuk mereka.

“Saya kerja di sini sekitar 2 bulan lebih, setiap minggu saya makan di sini 6 kali. Saya sangat berterima kasih sama relawan Yayasan Buddha Tzu Chi yang bekerja dari pagi menyiapkan makanan untuk kami. Makan di sini sangat murah dan kebersihannya sangat terjamin,” ujar Ardin Arianto (25), salah satu “seniman bangunan” (pekerja bangunan) yang baru saja selesai menyantap makanan yang disajikan oleh relawan Tzu Chi. Ketika ditanya bagaimana rasa masakan vegetarian para seniman bangunan itu menjawab hampir bersamaan, “Enak sekali. Tuh buktinya semua habis tak ada yang sisa.”

Dari hari Senin sampai Sabtu, para seniman bangunan yang bekerja di Aula Jing Si ini  disuguhkan hidangan Vegetarian yang sehat dan bersih (makan siang-red) hanya dengan membayar Rp 3,500. Sambil tersenyum seorang seniman bangunan berkata, “Makan di sini paling asyik, sudah masakannya beragam, rasanya enak, harga murah, boleh nambah lagi. Pokoknya saya suka sekali makan di sini.” 

Hampir semua seniman bangunan sependapat dengan komentar rekannya, namun ada lagi yang mengatakan bahwa, “Saya kerja di sini sudah 3 bulan. Saya merasa bekerja di sini sangat berbeda. Di sini saya sangat diperhatikan sekali, baik dari segi kesehatan maupun makanan. Selain mendapat makanan sehat dan murah, saya di sini juga dilarang merokok sehingga uang saya untuk membeli rokok bisa saya hemat dan saya kirim ke kampung di Cianjur untuk tambahan susu anak saya di sana,” ujar Jayan (27), ayah satu anak asal Cianjur. Memang mereka sangat merasakan perhatian dan rasa kekeluargaan dari relawan Tzu Chi yang sangat membekas di hati mereka. Ungkapan kepuasan dari seniman bangunan ini adalah hadiah terindah bagi relawan-relawan yang bekerja tanpa pamrih. Waktu itu Hu Ai Jelambar dari wilayah He Qi Utara, selama 2 hari (18 dan 19 April  2011) melakukan kegiatan memasak di dapur Aula Jing Si. Sejak jam 7 pagi relawan sudah berdatangan di dapur. Tanpa dikomando lagi, para relawan memulai pekerjaan mereka dengan mencuci sayuran, memetik sayur mayur, dan mengiris sayur.

foto  foto

Keterangan :

  • Jayan 27 tahun (kiri). Perhatian Tzu Chi atas kesehatan dan makanan para seniman bangunan sangat membekas di hatinya. (kiri)
  • Liana Shijie sedang menyiapkan minuman untuk para seniman bangunan. (kanan)

Selain di dapur ternyata di tempat makan pun relawan mulai terlihat membersihkan dan membereskan meja kursi. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat luar biasa. Mereka bekerja bahu-membahu sambil sesekali diiringi oleh gelak canda dan tawa. Tidak tersirat sedikit pun rasa lelah di wajah mereka.

Jam menunjukan pukul 11.30 WIB, semua menu masakan hari itu telah terhidang rapi di meja. Begitu juga minuman sudah tersedia dengan rapi di meja yang lain. Waktu tepat menunjukan pukul 12.00 saat para seniman bangunan mulai berdatangan. Dengan wajah berseri-seri para seniman bangunan mengantri dengan rapi. Dengan sigap dan cekatan para relawan mengambilkan sayur untuk para seniman bangunan.

foto  foto

Keterangan :

  • Relawan Go Tjai Suan sedang menyiapkan bumbu untuk menu kangkung tumis pedas. (kiri)
  • Setelah selesai makan para seniman bangunan mencuci peralatan makan mereka masing-masing dengan bersih dan rapi. Ini mencerminkan diterapkannya budaya humanis Tzu Chi di lingkungan para seniman bangunan. (kanan)

Setelah mengambil makanan para seniman bangunan pun makan dengan lahap dan penuh selera, banyak juga yang menambah makanannya. Ada sekitar 250 seniman bangunan yang makan di dapur Aula Jing Si siang itu. Setelah semua seniman bangunan selesai makan barulah relawan kemudian makan. Jam menunjukkan pukul 13.00 WIB. Para relawan pun membersihkan meja, merapikan kursi-kursi, membersihkan alat masak dan lain sebagainya. Setelah semua selesai, satu per satu relawan pulang ke rumah mereka dengan perasaan sukacita. Sukacita karena masakan mereka disenangi oleh para seniman bangunan dan sukacita karena mereka telah ikut mengurangi menyakiti mahluk hidup di sekitar kita. Cinta kasih Universal yang Master Cheng Yen ajarkan tetang menyayanggi dan menghargai semua mahluk hidup di praktikkan dalam bentuk tindakan nyata oleh para relawan Tzu Chi di dapur Aula Jing Si.
             

  
 

Artikel Terkait

Tekad Kuat Mengalahkan Segala Hambatan

Tekad Kuat Mengalahkan Segala Hambatan

29 Oktober 2014 Awal kedatangan Liu Su Mei ke Indonesia bersama suami pada 1992,  karena ingin mendirikan pabrik sepatu yang saat itu sedang berkembang. Indonesia dianggap sebagai negara yang memiliki potensi cukup besar. Saat itu meskipun berasal dari Taiwan, Ia mengaku belum mengenal Tzu Chi dengan baik. Perkenalannya dengan Tzu Chi dimulai saat bertemu dengan salah satu relawan Tzu Chi yang tengah berada di Indonesia, Liang Cheung.
“Studi - Aksi - Meditasi – Dharma”

“Studi - Aksi - Meditasi – Dharma”

08 Mei 2012 Siang itu, jam sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Setelah beberapa bulan sempat absen, Jing Si Talk kembali diselenggarakan di Jing Si Books & Cafe Pluit pada tanggal 15 April 2012.
Pemberkahan Akhir Tahun : 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan

Pemberkahan Akhir Tahun : 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan

12 Januari 2014 Pendalaman ini senantiasa mengingatkan setiap insan Tzu Chi untuk tidak hanya berbuat kebajikan saja namun senantiasa melatih ke dalam diri untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan.
Melatih diri adalah membina karakter serta memperbaiki perilaku.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -