Merajut Benang dan Harapan di Rumah Singgah
Jurnalis : Fran Sudandy (He Qi Jakarta Barat 1), Fotografer : Fran Sudandy, Yuni (He Qi Jakarta Barat 1)
Selvia (kiri) dari medan, yang mendampingi putrinya pertamanya berumur tujuh tahun, yang akan menjalani operasi jantung, mengikuti kelas merajut yang dimentori oleh relawan Tzu Chi.
Di tengah Rusun Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng, pada Sabtu, 18 April 2026, terdapat sebuah unit hunian yang menjadi tempat tinggal sementara bagi pasien dari berbagai daerah. Dari luar, bangunannya tampak rapi, bersih, dan terawat, dengan udara yang terasa lebih lega dibandingkan dengan hiruk-pikuk kemacetan di sekitarnya. Di dalamnya, suasana hangat langsung terasa. Ruang-ruang tertata sederhana namun memadai. Mulai dari kamar tidur, kamar mandi, hingga ruang pertemuan yang menjadi pusat aktivitas para penghuni.
Di ruang pertemuan ini, rak-rak kecil berisi buku-buku seperti novel, komik, dan bacaan lainnya tersusun rapi. Di sudut lain terdapat mainan anak-anak yang sering digunakan untuk mengisi waktu. Ruang pertemuan ini juga dilengkapi dengan dapur yang biasa digunakan untuk memasak bersama, terutama pada hari Sabtu dan Minggu.
Sekitar pukul 09:00 WIB, suasana ruang pertemuan berubah menjadi lebih hidup. Beberapa pasien dan pendamping berkumpul, penuh antusias dan semangat mengikuti kelas merajut yang diadakan oleh tim bakti amal dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Enam peserta, terdiri dari pasien dan pendamping, duduk berkelompok di atas karpet.
Mereka dibagi menjadi dua kelompok kecil untuk kenyamanan dan kelancaran proses belajar, sementara dua orang mentor mendampingi masing-masing kelompok. Tampak sabar, mereka mengajarkan teknik merajut, sesekali membenarkan posisi tangan dan membantu membetulkan simpul benang.

Salah satu relawan Tzu Chi, Phit Kian (kanan), berharap dengan kegiatan seperti ini para pendamping pasien bisa memberikan waktu untuk diri mereka, agar bisa rehat dari tekanan emosional selama mendampingi pasien.
Rumah singgah ini berada tak jauh dari rumah sakit dan menjadi tempat tinggal sementara bagi pasien luar kota yang harus menjalani pengobatan intensif. Dengan fasilitas yang cukup lengkap dan lingkungan yang bersih, serta beberapa relawan komunitas yang rutin datang mendampingi di rumah singgah dan bahkan saat berobat ke rumah sakit, tempat ini memberikan kenyamanan yang sangat dibutuhkan di tengah proses pengobatan yang panjang.
Bagi pasien seperti Tina Marisan (pasien kanker payudara), keputusan untuk berobat ke Jakarta bukanlah hal yang mudah. Beliau berasal dari Biak, Papua, dan telah menjalani pengobatan selama lima bulan terakhir. "Sebelumnya saya telah menjalani operasi di Biak, dan sempat akan menjalani pengobatan ke Makassar," ujarnya pelan.
Namun, atas pertimbangan pendamping dari relawan Tzu Chi Biak, Tina akhirnya berobat ke Jakarta, dengan alasan adanya rumah sakit yang lebih besar dan lebih lengkap, serta rumah singgah yang dapat ditempati selama proses pengobatan yang panjang. “Walaupun awalnya takut, saya terbang ke Jakarta, dan saya percaya pertimbangan Yayasan mengirim saya ke sini menjadi harapan terbaik,” tambahnya.

Kelas merajut dibagi dalam dua kelompok kecil, setiap kelompok terdiri dari tiga peserta, mereka adalah pasien dan pendamping pasien yang tinggal di rumah singgah Rusun Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng.
Kehadiran rumah singgah ini mengubah banyak hal. Di sini, pasien tidak perlu lagi memikirkan perjalanan panjang setiap kali kontrol. Mereka bisa fokus menjalani pengobatan dengan kondisi yang lebih stabil.
Menurut salah satu pengurus rumah singgah, Indah, tempat ini memang dirancang untuk menjadi ruang aman dan nyaman bagi pasien dan keluarga, sehingga mereka merasa tidak sendirian lagi berada di rumah singgah yang jauh dari kota asal mereka. Indah pun bercerita, setiap Sabtu dan Minggu, mereka mengajak pasien dan pendamping berkumpul di ruang pertemuan ini untuk memasak bersama. Dalam kebersamaan itu, mereka bisa saling bertukar cerita, bercanda, dan yang paling penting, saling menguatkan satu sama lain.
Setiap hari dimulai dengan ritme yang hampir sama. Pagi hari, beberapa pasien bersiap ke rumah sakit untuk kontrol rutin atau menjalani terapi. Sementara pasien lain menunggu jadwal pengobatan, mereka menghabiskan waktu dengan aktivitas sederhana seperti membaca buku, menemani anak-anak bermain di ruang pertemuan, atau bersumbangsih tenaga di depo pelestarian lingkungan yang tak jauh dari rumah singgah.

Relawan Tzu Chi yang menjadi mentor kelas, Rina (kiri), dengan sabar mendampingi salah satu pasien dari Biak, Papua.
Siang hari, suasana cenderung panas, tetapi di dalam ruang pertemuan, kegiatan kelas merajut berjalan dengan penuh semangat dan keceriaan. Dengan pendampingan relawan Tzu Chi, Rina dan Phit Kian, yang telah berpengalaman selama lima tahun sebagai pengajar merajut, para peserta belajar membuat simpul demi simpul dengan sabar.
“Ini bukan sekedar belajar merajut, tetapi juga memberikan ruang untuk diri sendiri,” ujar Rina.
Dengan kelas merajut ini, pasien dan pendamping dapat mengisi waktu luang dengan kegiatan yang punya nilai dan bermutu. “Jadi saat mereka kembali ke tempat masing-masing, yang dibawa bukan hanya kesembuhan, tapi ilmu baru yang bermanfaat,” ungkap Phit Kian.
Kehadiran dua mentor dalam kelas ini memungkinkan setiap peserta mendapat perhatian lebih. Mereka tidak hanya mengajarkan teknik merajut, tetapi juga menciptakan suasana hangat agar peserta merasa nyaman dan didukung. Di tengah tekanan pengobatan, aktivitas sederhana seperti merajut mampu menjadi terapi ringan. Tangan yang bergerak perlahan, fokus pada pola, membantu mengalihkan pikiran dari sakit yang terus menghantui. Dan bagi para pendamping, kegiatan ini juga menjadi jeda dari kelelahan emosional yang mereka rasakan.
Seperti yang dirasakan oleh Selvia dari Medan, yang mendampingi putrinya yang berumur tujuh tahun dan akan menjalani operasi kedua untuk penyakitnya. Selama menunggu jadwal berobat yang kadang cukup lama, kegiatan seperti kelas merajut ini terasa sangat bermanfaat. “Kadang ada rasa lelah, bosan, dan bercampur rasa rindu anak dan suami di rumah, tapi dengan kegiatan dan kebersamaan seperti ini, semua terasa ringan,” ujar Selvia lirih.

Kebersamaan di kelas belajar merajut di rumah singgah diharapkan dapat memberikan rasa nyaman, bahagia, dan dukungan moril kepada para pasien dan para pendamping.
Kebersamaan di rumah singgah menciptakan ikatan yang tak terduga. Mereka yang awalnya asing perlahan menjadi seperti keluarga, hingga saling menyemangati dalam kondisi yang tidak mudah. Menjelang siang, kelas mulai mereda. Phit Kian dan Rina mengajak mereka untuk mengobrol ringan tentang kegiatan hari ini, sambil beberapa peserta merapikan benang.
Di rumah singgah Rusun Cinta Kasih Tzu Chi yang bersih dan terawat itu, terkadang harapan tidak selalu datang dalam bentuk besar. Kadang, ia hadir lewat benang-benang kecil yang dirajut dengan sabar, menguatkan mereka yang sedang berjuang hari demi hari.
Editor: Fikhri Fathoni
Artikel Terkait
Merajut Benang dan Harapan di Rumah Singgah
21 April 2026Untuk meredakan pikiran dan tekanan emosional pasien serta pendamping pasien luar kota, relawan Tzu Chi mengadakan kelas merajut di rumah singgah Rusun Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng.







Sitemap