Para peserta tampak fokus mendengarkan materi yang disampaikan Lim Hung Jeng dalam kegiatan gathering Zhen Shan Mei.
Setiap langkah dalam berbagai kegiatan di Tzu Chi, berakar dari ketulusan hati untuk memberi tanpa pamrih. Dalam sebuah momen penuh kehangatan, Gathering Relawan Zhen Shan Mei Hu Ai Perintis hadir sebagai wadah untuk mempererat kekeluargaan dan menyalakan kembali api semangat dalam menebarkan kebaikan. Kegiatan diadakan Pada Minggu, 20 September 2026 di kantor Tzu Chi Medan, Jalan Perintis Kemerdekaan, Komplek Grand Jati Junction, Medan.
Gathering kali ini bukan sekadar ajang berkumpul, tetapi sebuah awal para relawan untuk memperkuat solidaritas. Melalui semangat baru yang disebarkan bersama, diharapkan setiap relawan yang terlibat dapat menjadi agen perubahan di lingkungan terdekat mereka membawa terang di tempat yang gelap dan menghadirkan harapan di tengah kesulitan.

Lim Hung Jeng, Wakil Kordinator Bidang Zhen Shan Mei Huai Perintis, menyampaikan materi gathering Zhen Shan Mei dengan penuh cinta kasih.
Peserta terlihat antusias mengikuti kegiatan gathering Zen Shan Mei yang diadakan oleh relawan Tzu Chi komunitas Hu Ai Perintis.
Dalam kegiatan ini juga dihadiri oleh Wakil Koordinator Bidang Zhen Shan Mei Hu Ai Perintis, Lim Hung Jeng, menyampaikan filosifi Zhen Shan Mei. Dalam materi tersebut disampaikan bahwa Relawan dokumentasi sudah ada sejak berdirinya Tzu chi. Master Cheng Yen disebut sebagai relawan dokumentasi pertama yang mengabadikan berbagai kegiatan Tzu Chi. Master juga pernah mengabadikan selembar foto bersejarah. Dalam foto tersebut terlihat relawan bahu-membahu mendorong bus yang terperosok di Sungai. Master menyadari pentingnya dokumentasi sejarah sehingga terbentuk lah barisan relawan dokumentasi Tzu Chi yang menjadi perpanjangan mata, telinga , untuk Master Cheng Yen. Pesan Master Cheng Yen mengingatkan bahwa sejarah merupakan akumulasi dari setiap momen yang telah berlalu. Karena itu, setiap momen perlu digenggam dan diabadikan untuk menjadi setiap bagian dari sejarah.
Selain itu, Lim Hung Jeng juga menyampaikan cerita-cerita filosofi klasik taoisme kuno yang berhubungan dengan kehidupan. Salah satunya mengenai perumpaan kapal kosong yang bercerita mengenai orang kaya yang sedang menyebrangi sungai menggunakan perahu, tiba-tiba ada perahu lain yang datang meluncur menabrak perahunya. Orang tersebut langsung merasa kesal dan hendak marah-marah kepada pengemudi perahu yang menabraknya. Namun, ketika ia melihat lebih dekat dan masuk ke perahu tersebut, ternyata perahu itu kosong tidak ada siapa-siapa di dalamnya, melainkan hanya perahu yang lepas dan hanyut terbawa arus. Seketika itu juga, amarahnya langsung lenyap.

Wakil ketua Hu Ai Perintis, Sumida dengan penuh kebahagiaan menyampaikan pesan cinta kasihnya kepada para peserta yang hadir.
Sebagian besar kemarahan atau kekesalan kita sebenarnya bukan disebabkan oleh peristiwa itu sendiri, melainkan oleh asumsi dan cerita yang kita buat di dalam kepala kita. Ketika kita menyadari bahwa situasi atau orang lain yang menyinggung kita sebenarnya bagaikan kapal kosong artinya mereka bertindak bukan atas dasar kebencian personal terhadap kita, melainkan karena kondisi, ketidaktahuan, atau masalah mereka sendiri maka kemarahan kita akan kehilangan alasannya. Jika kita bisa melatih diri untuk melihat masalah dan perilaku orang lain di sekitar kita sebagai kapal-kapal kosong yang sedang hanyut oleh arus kehidupan, kita akan lebih mudah menjaga ketenangan batin dan terhindar dari konflik yang tidak perlu.
“Perumpamaan cerita ini sama dengan salah satu filosofi dasar di Tzu Chi
(San Jie) yaitu Kemampuan untuk memahami sudut pandang orang lain, berpikiran terbuka, penuh pengertian dalam menghadapi berbagai situasi atau perbedaan. Ini juga perlu dipraktekkan saat menjalankan tugas sebagai relawan
Zhen Shan Mei (dokumentasi),” ungkap Lim Hung Jeng.

Para peserta gathering menerima cindera mata yang diberikan oleh relawan Tzu Chi dengan suka cita.
Filosofi Zhen Shan Mei yang berarti Kebenaran, Kebajikan, dan Keindahan menjadi landasan dalam setiap kegiatan Tzu Chi. Zhen mengajarkan untuk menyampaikan dan melakukan sesuatu berdasarkan kebenaran serta kejujuran, Shan mengajak kita menghadirkan cinta kasih dan kepedulian kepada sesama, sedangkan Mei mengingatkan bahwa kebaikan juga dapat disampaikan dengan cara yang indah dan menyentuh hati. Misalnya, ketika membuat dokumentasi kegiatan kunjungan kasih, relawan tidak hanya menceritakan kondisi penerima bantuan secara apa adanya (Zhen), tetapi juga menampilkan perhatian, ketulusan, dan kepedulian relawan saat mendampingi (Shan), lalu mengemas kisah tersebut melalui foto, video, atau tulisan yang humanis sehingga mampu menghadirkan kehangatan dan menginspirasi orang lain (Mei). Dengan demikian, Zhen Shan Mei mengajarkan bahwa sebuah kebaikan tidak hanya perlu dilakukan dengan benar, tetapi juga dengan hati yang tulus dan disampaikan secara indah agar nilai cinta kasih dapat terus menyebar.
Semoga melalui gathering yang sarat makna ini, para relawan Zhen Shan Mei Hu Ai Perintis semakin kompak, senantiasa diliputi ketulusan dalam mengemban misi kemanusiaan, serta terus menjadi perpanjangan tangan yang merekam jejak-jejak cinta kasih di jalan bodhisatwa. Mari jadikan momentum ini sebagai pengingat bahwa kebaikan sekecil apapun, jika dilakukan bersama-sama dengan ketulusan hati, akan menciptakan gelombang perubahan yang luar biasa bagi dunia.
Editor: Nur Al Fajar Rumsari