Merajut Kebersamaan, Mewariskan Cinta Kasih

Jurnalis : Kenji Ariya Kennard (He Qi Tangerang), Fotografer : Kenji Ariya Kennard, Ryanto Budiputra, Vivi Angel (He Qi Tangerang)

Relawan mengantre dengan tertib untuk menikmati beragam hidangan yang disiapkan oleh relawan komunitas Xie Li Cipondoh, Lippo Karawaci, dan Cibodas.

Hampir dua dekade telah berlalu sejak Kantor Penghubung Tzu Chi Tangerang diresmikan pada 16 September 2006 dan berkembang menjadi Kantor Perwakilan Tzu Chi Tangerang pada akhir tahun 2011. Berawal dari langkah sederhana yang dijalankan oleh segelintir relawan dengan semangat yang tak pernah surut, Tzu Chi Tangerang kini telah bertumbuh menjadi keluarga besar yang terus mengemban empat misi utama Tzu Chi serta menebarkan cinta kasih kepada masyarakat.

Perjalanan panjang yang dipenuhi ketulusan, pengabdian, dan semangat kebersamaan inilah yang menjadi landasan terselenggaranya Gathering Relawan Komunitas Hu Ai Tangerang bertema "Merajut Kebersamaan, Mewariskan Cinta Kasih." Kegiatan ini menjadi momentum berharga untuk mengenang perjalanan yang telah dilalui bersama, mempererat tali persaudaraan antarsesama relawan, sekaligus memperteguh tekad dalam melanjutkan estafet cinta kasih bagi masyarakat.

Gathering yang diselenggarakan pada Minggu, 19 Juli 2026, dihadiri oleh 15 panitia dan 122 relawan dari berbagai jenjang, termasuk relawan Tzu Chi International Medical Association (TIMA). Bertempat di Depo Pelestarian Lingkungan Gading Serpong, kegiatan ini berlangsung di Aula Serbaguna yang baru selesai dibangun dan menjadi salah satu momen perdana pemanfaatan gedung tersebut sebagai wadah kebersamaan para relawan.

Sejak pagi hari, relawan komunitas Xie Li Cipondoh, Lippo Karawaci, dan Cibodas telah bergotong royong menyiapkan berbagai hidangan untuk disajikan dalam gathering ini. Mulai dari nasi Padang vegetarian, aneka buah, camilan, hingga beragam hidangan penutup tersaji sebagai wujud ketulusan dalam menyambut seluruh relawan yang hadir.

Momen makan bersama pun menjadi awal yang menghangatkan suasana. Di sela-sela menikmati hidangan, para relawan saling bercengkerama, berbagi cerita, dan melepas rindu. Kehangatan dalam kebersamaan sederhana tersebut mencerminkan eratnya ikatan persaudaraan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Dari kiri, Mega, Hoyan, dan Ai Fen berbincang hangat di sela-sela gathering, menciptakan suasana penuh keakraban.

Suasana penuh keakraban kemudian berlanjut dengan sambutan dari Ketua dan Wakil Ketua Komunitas Hu Ai Tangerang. Dalam sambutannya, Ketua Komunitas Hu Ai Tangerang, Ai Fen, mengungkapkan rasa syukurnya atas antusiasme para relawan yang hadir.

"Saya bahagia karena banyak relawan yang hadir, terutama para relawan senior yang telah memberikan teladan, inspirasi, dan motivasi bagi kita. Marilah kita bergandeng tangan membantu Master Cheng Yen. Setiap relawan hendaknya menumbuhkan cinta kasih dan welas asih dalam diri. Dengan demikian, keharmonisan akan terwujud," ujar Ai Fen.

Senada dengan itu, Wakil Ketua Komunitas Hu Ai Tangerang, Hoyan, mengaku terharu melihat antusiasme para relawan, baik yang baru bergabung maupun yang telah lama mengabdi.

"Saya sangat senang sekaligus terharu melihat banyak wajah relawan baru, juga relawan yang telah lama tidak berjumpa dapat kembali berkumpul dalam gathering ini. Semoga kita semakin bersemangat dalam berbuat kebajikan dan selalu mengingat tekad awal saat bergabung di Tzu Chi," tutur Hoyan.

Pengabdian yang Menginspirasi
Salah satu agenda yang paling dinantikan dalam gathering ini adalah pemberian apresiasi kepada relawan yang telah mengabdi selama lebih dari satu dekade. Sebanyak 31 relawan komite menerima penghargaan sebagai ungkapan terima kasih atas ketulusan mereka dalam menapaki jalan Bodhisatwa selama bertahun-tahun.

Salah satunya adalah Melti. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengenang momen pertama kali bertemu relawan Tzu Chi saat mengikuti bakti sosial di sebuah wihara. Pengalaman sederhana itu justru menjadi awal jalinan jodohnya dengan Tzu Chi.

"Biasanya saat bakti sosial, kita tidak pernah menyentuh tangan Gan En Hu (penerima bantuan). Tetapi saya melihat (Almarhum) Lien Chu memegang tangan penerima bantuan sambil mendengarkan ceritanya," ujar Melti dengan haru saat mengenang sosok almarhum.

Hok Cun (tengah) berbagi kisah pertemuannya dengan Phillip dan Sukandi, diselingi candaan yang mengundang tawa para relawan.

Suasana gathering dipenuhi gelak tawa saat para relawan mendengarkan kisah dan candaan Hok Cun.

Kisah pengabdian juga dibagikan Hok Cun, salah satu relawan yang telah aktif sejak tahun 1994 di Tangerang. Selama lebih dari tiga dekade, ia meyakini bahwa pertemuannya dengan Tzu Chi merupakan bagian dari jodoh kehidupan yang membawanya untuk terus melayani sesama.

"Waktu itu saya bertemu Shixiong (panggilan relawan pria) Philip dan Sukandi. Mereka seharusnya menjadi anak saya, karena kami bisa dibilang termasuk perintis Tzu Chi di Tangerang," canda Hok Cun yang disambut tawa para relawan.

Sementara itu, Philip Tanjaya dan Sukandi memiliki perjalanan yang berbeda. Keduanya terlebih dahulu bergabung dengan Tzu Ching, komunitas muda-mudi Tzu Chi, sebelum melanjutkan pengabdiannya sebagai relawan Tzu Chi.

Bagi Philip, lingkungan yang penuh nilai-nilai positif menjadi alasan utamanya untuk terus bertahan. Sejak bergabung pada tahun 2014, ia merasa Tzu Chi membantunya bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Kini, Philip mengemban tanggung jawab sebagai fungsionaris kesehatan sekaligus sekretariat di komunitas Tzu Chi Tangerang.

"Nyaman bertemu orang-orang yang positif dan teman-teman yang selalu mendukung. Sejak bergabung pada 2014, saya banyak berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Walaupun belum sempurna, Tzu Chi telah membimbing saya untuk terus memperbaiki diri," ungkap Philip.

Hal senada disampaikan Sukandi yang bergabung dengan Tzu Ching pada tahun 2012. Baginya, perjalanan berorganisasi tidak selalu mudah, namun setiap tantangan justru menjadi kesempatan untuk belajar dan bertumbuh bersama para mitra kebajikan.

"Saya bergabung ke Tzu Chi karena ingin berbuat kebajikan melalui bakti sosial dan berbagai kegiatan kemanusiaan. Di sini saya juga bertemu mitra kebajikan dan belajar banyak hal. Sulit menjadi seorang manusia, karena itu kita harus menggenggam kesempatan sebaik mungkin untuk berada di lingkungan yang baik," tutur Sukandi.

Ai Fen mengajak seluruh relawan mengenang para relawan senior yang telah berpulang, termasuk mendiang Daniel Sulaiman, melalui doa dan refleksi bersama.

Di tengah suasana penuh kehangatan, gathering juga menjadi momen untuk mengenang para relawan senior yang telah berpulang. Para relawan diajak mengingat kembali sosok-sosok yang telah menjadi jalinan jodoh mereka dengan Tzu Chi, sekaligus mengenang keteladanan yang telah diwariskan. Ai Fen mengajak seluruh relawan menundukkan kepala sejenak, memanjatkan doa bagi para relawan senior, termasuk mengenang (Almarhum) Daniel Sulaiman yang belum lama ini berpulang.

Suasana aula pun berubah hening. Tak sedikit relawan yang tampak menyeka air mata saat mengenang sosok-sosok yang telah lebih dahulu berpulang. Momen tersebut mengundang haru bagi Steven. Sambil menahan tangis, ia mengenang perhatian yang pernah diberikan almarhum saat dirinya menjalani operasi patah tulang.

"Ketika saya akan menjalani operasi pemasangan pen akibat patah tulang, almarhum bersama istrinya datang menjenguk saya. Namun hingga akhir hayat Shibo (panggilan relawan pria senior) Daniel, saya tidak sempat menjenguk beliau. Selagi masih ada waktu, segeralah berbuat baik karena kita tidak tahu kapan waktu kita akan habis. Selagi masih ada ladang berkah, manfaatkanlah sebaik mungkin," tutur Steven dengan suara bergetar.

Melanjutkan Estafet Cinta Kasih
Sebagai penanggung jawab komunitas di tingkat He Qi, Lily Santoso turut menyampaikan pesan dan harapannya kepada seluruh relawan Hu Ai yang hadir. Ia mengajak para relawan untuk terus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya serta tidak berhenti belajar dan bertumbuh di jalan Bodhisatwa.

"Mengutip perkataan Master, kita harus lebih giat memanfaatkan waktu dengan baik. Tujuan kita datang ke Tzu Chi adalah berbuat baik sekaligus melatih diri menjadi pribadi yang lebih baik. Karena itu, mari lebih aktif mengikuti kegiatan dan pelatihan Tzu Chi agar semakin memahami nilai-nilai yang diajarkan. Kita semua harus terus belajar, semakin giat berkegiatan, dan bersama-sama menjalankan misi Tzu Chi," ujar Lily.

Ia berharap barisan relawan Tzu Chi, khususnya di komunitas Tangerang, terus bertumbuh sehingga semakin banyak orang yang bergabung dalam jalan kebajikan.

Relawan mengikuti penampilan Shou Yu (isyarat tangan) berjudul Wen Hou Ge (Lagu Salam) yang mengajak setiap orang membiasakan diri menyapa dengan ramah, menumbuhkan kepedulian, dan semangat saling membantu.

Senada dengan Lily, Wakil Ketua He Qi Tangerang, Wey Alam, menyampaikan apresiasinya atas kekompakan seluruh relawan yang hadir. Menurutnya, kebersamaan yang terjalin menjadi kekuatan penting untuk terus melangkah dalam menjalankan misi Tzu Chi.

"Semua relawan harus selalu berpegang teguh pada tekad awal. Kita perlu terus berpikir positif, menurunkan ego pribadi, dan tidak berhenti belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan mempraktikkan ajaran Master Cheng Yen," ungkap Wey.

Ia berharap seluruh relawan dapat menjadikan Tzu Chi sebagai ladang berkah untuk menyucikan hati manusia, mewujudkan masyarakat yang aman dan tenteram, serta bersama-sama menciptakan dunia yang penuh kedamaian dan terhindar dari bencana.

Gathering pun ditutup dengan penuh sukacita. Kebersamaan yang terjalin sepanjang hari menjadi pengingat bahwa perjalanan Tzu Chi Tangerang akan terus berlanjut melalui tekad para relawan untuk mewariskan cinta kasih kepada generasi berikutnya.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

 Gathering He Qi Utara 1 yang Menghangatkan Hati

Gathering He Qi Utara 1 yang Menghangatkan Hati

24 Februari 2023

Suasana hangat sangat terasa siang itu, saat memasuki Xi She Ting, Tzu Chi Center, PIK, Jakarta. Para relawan dan peserta gathering saling menyapa dengan rasa syukur, setelah hampir tiga tahun tak bisa mengadakan kegiatan bersama karena pandemi.

Gathering Relawan Komite Tzu Chi 2025: Menyalakan Kembali Semangat Awal

Gathering Relawan Komite Tzu Chi 2025: Menyalakan Kembali Semangat Awal

28 Juli 2025
Aula Jing Si Indonesia dipenuhi semangat kebersamaan. Sebanyak 603 relawan dan 80 panitia mengikuti gathering relawan komite, baik secara langsung maupun daring dari 11 kota.
Menghargai Berkah dan Terus Berbuat Kebajikan

Menghargai Berkah dan Terus Berbuat Kebajikan

16 April 2024

Acara Belajar Bersama Tzu Chi Surabaya terasa istimewa dengan kedatangan Johnny Chandrina, Ketua He Qi Tangerang. Ia berbagi pandangan dan pengalamannya tentang ketidakkekalan, serta bagaimana akhirnya menjadi relawan Tzu Chi.

Penyakit dalam diri manusia, 30 persen adalah rasa sakit pada fisiknya, 70 persen lainnya adalah penderitaan batin.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -