Merangkai Cinta dalam Kebersamaan Waisak, Hari Tzu Chi International, dan Hari Ibu Sedunia

Jurnalis : Diyang Yoga W (Tzu Chi Surabaya), Fotografer : Diyang Yoga W, Davian, Dimas, Jenny (Tzu Chi Surabaya)

Pemandian rupang Budhha oleh tamu yang hadir berjalan begitu tenang dan khidmat dalam bertujuan mensucikan hati di Hari Raya Waisak yang diadakan di Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Surabaya.

Sejak pagi, kehangatan sudah terasa bahkan sebelum acara dimulai. Para relawan hadir lebih awal untuk melakukan gladi bersih, menata ruangan, dan mempersiapkan seluruh kebutuhan acara dengan penuh ketulusan. Tidak ada yang dilakukan sekadar tugas, semuanya dikerjakan dengan hati demi melancarkan kegiatan hari itu. Sebanyak 133 tamu hadir dalam semangat kebersamaan untuk memperingati Hari Waisak, Hari Tzu Chi International, dan Hari Ibu Sedunia dalam balutan cinta kasih dan keharmonisan.

Perjalanan batin diawali dengan peringatan Hari Waisak. Waisak menjadi momen untuk kembali menata hati dan merefleksikan kehidupan. Seperti teratai yang tumbuh dari lumpur namun tetap bersih dan indah, manusia pun diajak menjaga kejernihan batin di tengah berbagai tantangan kehidupan serta menumbuhkan cinta kasih tanpa batas kepada sesama. Saat Gatha Pendupaan dilantunkan, para relawan melangkah perlahan membawa persembahan berupa pelita, air, dan bunga menuju meja persembahan dengan penuh khidmat. Suasana hening dan damai menyelimuti ruangan, mengajak setiap hati kembali pada ketenangan dan kebajikan. Prosesi dilanjutkan dengan doa bersama serta penghormatan kepada Buddha sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan atas ajaran welas asih dan kebijaksanaan.

Pesan Cinta kasih dari Vivian Fan Ketua Tzu Chi Surabaya untuk Master Cheng Yen, Relawan dan juga dunia agar terbebas dari bencana.

Setelah rangkaian Waisak selesai, kegiatan dilanjutkan dengan peringatan Hari Tzu Chi International. Relawan Edy memandu sesi dengan menjelaskan perjalanan panjang Tzu Chi yang berawal dari niat sederhana namun penuh ketulusan. Tzu Chi didirikan oleh Master Cheng Yen di Hualien, Taiwan, pada tahun 1966. Awalnya hanya bermula dari 30 celengan bambu, di mana setiap hari orang-orang menabung lima puluh sen untuk membantu warga miskin di kampung halaman. Dari langkah kecil itulah, benih cinta kasih terus bertumbuh hingga kini jejak Tzu Chi telah hadir di 139 negara dan wilayah di dunia.

Dalam kesempatan tersebut, Vivian Fan selaku Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Surabaya menyampaikan pesan cinta kasih yang menginspirasi seluruh peserta. “Perjalanan 60 tahun Tzu Chi mengajarkan kita bahwa kebaikan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Dari ketulusan hati dan langkah kecil untuk membantu sesama, cinta kasih dapat terus bertumbuh dan menjangkau banyak kehidupan. Tzu Chi hadir bukan hanya untuk membantu mereka yang menderita, tetapi juga untuk mengajak setiap orang menumbuhkan welas asih dan menjaga keharmonisan dunia.”

Vivian Fan juga menyampaikan bahwa hingga saat ini Tzu Chi terus mengembangkan misi amal, kesehatan, pendidikan, budaya kemanusiaan, hingga pelestarian lingkungan. Semua itu menjadi bukti nyata bahwa kasih sayang dapat melampaui batas negara, suku, maupun agama.

Ekspresi bahagia ketika perayaan Hari Ibu, para ibu bisa berkumpul bersama anak-anak mereka dan berbagi kasih sayang bersama.

Dalam suasana penuh haru dan rasa syukur, Relawan Tzu Chi Surabaya juga bersama-sama mengucapkan selamat ulang tahun ke-90 kepada Master Cheng Yen. Seluruh peserta berdiri bersama sambil memanjatkan doa terbaik bagi kesehatan, kedamaian, dan panjang umur kepada Master Cheng Yen agar terus dapat membimbing insan Tzu Chi di seluruh dunia dalam menebarkan cinta kasih dan kebajikan. Suasana terasa begitu hangat dan menyentuh, menggambarkan rasa hormat dan cinta yang mendalam kepada sosok yang telah menginspirasi jutaan orang melalui jalan kemanusiaan.

Suasana penuh syukur kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan kue sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan kebajikan Tzu Chi. Kehangatan terasa saat seluruh peserta dan relawan bersama-sama merayakan momen tersebut dalam suasana kekeluargaan.

Kegiatan kemudian berlanjut ke lantai 3 dalam suasana yang lebih hangat dan penuh haru untuk memperingati Hari Ibu Sedunia. Dipandu oleh Aulia dan Fransisca, para peserta diajak memahami kembali makna seorang ibu, sosok yang memberi tanpa batas dan mencintai tanpa syarat. Ice breaking “Hujan Rintik-Rintik” menghadirkan tawa dan keceriaan, sementara You Natan menyiapkan permainan yang mempererat hubungan orang tua dan anak.

Momen paling menyentuh hadir saat anak-anak Teratai Tzu Chi Surabaya mempersembahkan puisi dan isyarat tangan untuk seluruh ibu di dunia. Dengan polos dan tulus, mereka menyampaikan rasa cinta dan terima kasih kepada ibu mereka. Suasana haru semakin terasa ketika anak-anak mencuci kaki ibu dan bersujud sebagai ungkapan bakti dan penghormatan.

Lina terharu saat Kei dan Kane berusaha mencuci kakinya sebagai bentuk rasa terima kasih karena telah merawatnya dan Suka cita terlihat sangat jelas saat Kei dan Kane Lina menyuapinya dengan penuh cinta kasih.

Salah satu peserta, Lina, yang sudah dua kali mengikuti kegiatan ini mengungkapkan rasa harunya. “Saya terharu karena melalui kegiatan ini kita bisa kembali melihat jasa mama, mulai dari melahirkan hingga membesarkan kita sampai saat ini. Sekarang saya juga sudah menjadi ibu, dan mama saya menjadi motivator sekaligus teladan bagi saya untuk menjadi ibu yang baik. Hingga anak-anak beranjak dewasa nanti, kita sebagai orang tua tetap akan terus mendampingi mereka.”

Senyum haru juga terlihat dari anak Lina yang berkata dengan wajah penuh bahagia, “Kegiatan hari ini seru dan juga membuat saya terharu. Saya jadi mengerti bahwa ibu sangat berjasa kepada saya. Saya berharap ibu tetap sehat agar bisa mendampingi saya saat menjadi dewasa.”

Suasana berlangsung begitu haru saat prosesi bakti kepada ibu dimulai. Beberapa ibu tampak menitikkan air mata ketika anak-anak mereka dengan penuh ketulusan menyuapi makanan, mencuci kaki, bersujud, dan memeluk mereka erat sebagai ungkapan cinta dan rasa terima kasih. Dalam momen sederhana itu, tersimpan kasih sayang yang selama ini mungkin jarang terungkap lewat kata-kata. Kehangatan pelukan antara ibu dan anak pun memenuhi ruangan, menghadirkan suasana yang menyentuh hati seluruh peserta yang hadir.

Momen Haru ketika perayaan Hari Ibu mengajak seluruh peserta untuk mencuci kaki ibu, menyuapi makanan yang telah disiapkan sendiri oleh anak anak, dan diakhiri dengan memeluk ibu bentuk dari rasa terima kasih dan kasih sayang dari awal dilahirkan.

Ceramah dari Master Cheng Yen kemudian menenangkan hati seluruh peserta, mengingatkan bahwa hubungan orang tua dan anak adalah ladang kebajikan yang harus dirawat dengan cinta kasih dan kesabaran. Rangkaian kegiatan hari itu akhirnya ditutup dengan foto bersama dan makan bersama dalam suasana hangat penuh kebersamaan. Senyum, pelukan, dan rasa syukur menjadi kenangan indah yang mengiringi seluruh peserta pulang membawa kebahagiaan.

Sebagai penutup, perenungan dari Master Cheng Yen mengingatkan, “Cinta kasih bukan hanya untuk dirasakan, tetapi untuk diwujudkan. Ketika hati kita tulus memberi, di situlah kebahagiaan sejati tumbuh.”

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Waisak Tzu Chi 2018: Memberikan Persembahan Pada Buddha (Bag. 1)

Waisak Tzu Chi 2018: Memberikan Persembahan Pada Buddha (Bag. 1)

15 Mei 2018
Di tahun 2018, ada dua sesi perayaan Waisak di Tzu Chi di Aula Jing Si, Jakarta (13/5/18). Setiap sesinya ada 120 orang relawan pembawa persembahan berupa air, pelita (lilin), dan bunga. Dokter Anthony Pratama yang berkeyakinan berbeda tidak segan untuk menjadi salah satu relawan pembawa persembahan.
Waisak Tzu Chi 2025: Refleksi Spiritual dalam Meneladani Ajaran Buddha

Waisak Tzu Chi 2025: Refleksi Spiritual dalam Meneladani Ajaran Buddha

16 Mei 2025

Perayaan tiga hari besar, yakni Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia, menjadi momen penuh makna bagi Yayasan Buddha Tzu Chi Tanjung Balai Karimun.

Waisak Tzu Chi 2018: Doa Jutaan Insan yang Penuh Berkah

Waisak Tzu Chi 2018: Doa Jutaan Insan yang Penuh Berkah

16 Mei 2018

Tak terkecuali Tzu Chi Pekanbaru, kegiatan Doa Jutaan Insan ini pun diadakan bersamaan dengan perayaan yang diadakan di kantor-kantor penghubung Tzu Chi lainnya di Indonesia pada tanggal 13 Mei 2018.

Dengan keyakinan, keuletan, dan keberanian, tidak ada yang tidak berhasil dilakukan di dunia ini.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -