Merangkai Kehangatan dan Welas Asih dalam Tiga Perayaan

Jurnalis : Listania (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun), Fotografer : Abdul Rahim, Beverly Clara (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun)

Para relawan komite Tzu Chi dengan penuh khidmat mempersembahkan air, pelita, dan bunga sebagai wujud ketulusan dalam membersihkan batin, menyalakan cahaya kebijaksanaan, serta menyebarkan keharuman Dharma.

Suasana khidmat dan penuh kedamaian menyelimuti aula Yayasan Buddha Tzu Chi Kantor Penghubung Tanjung Balai Karimun dalam perayaan Hari Raya Waisak yang berlangsung pada Minggu, 10 Mei 2026.

Aula dipenuhi relawan serta tamu undangan yang hadir bersama-sama mengikuti rangkaian acara dengan penuh kekhusyukan. Cahaya lampu yang lembut, lantunan doa, dan sikap hormat para peserta menciptakan nuansa damai yang terasa sejak awal acara dimulai.

Perayaan Waisak tahun ini terasa semakin bermakna karena bertepatan dengan perjalanan 60 tahun Tzu Chi dan peringatan ulang tahun ke-90 Master Cheng Yen. Siapa sangka, dari langkah kecil yang dimulai oleh sekelompok ibu rumah tangga di Hualien, Taiwan, semangat cinta kasih dan kepedulian kini telah tumbuh menjadi gerakan kemanusiaan yang terus menginspirasi banyak orang di berbagai negara.

Perayaan dibuka dengan penampilan isyarat tangan dari anak-anak kelas Budi Pekerti yang membawakan lagu Ma Ma Wo Ai Ni. Gerakan sederhana namun penuh makna itu menggambarkan kasih sayang dan bakti seorang anak kepada ibu.

Kehadiran relawan abu-putih yang turut berperan sebagai “Mama” membuat penampilan terasa semakin hangat dan menyentuh hati. Harmoni antara gerakan tangan, alunan lagu, dan ekspresi polos anak-anak menghadirkan suasana haru di tengah para hadirin.

Ketua harian Tzu Chi, Sukmawati, mendampingi masyarakat umum mengikuti prosesi pemandian Rupang Buddha dengan penuh khidmat sebagai simbol penyucian batin, serta pengingat untuk senantiasa bersyukur kepada Buddha, orang tua, dan semua makhluk hidup.

Koordinator kegiatan, Lissa, mendampingi siswa kelas budi pekerti untuk menyentuh air suci sebagai simbol pembersihan hati dari sifat-sifat buruk serta pengingat untuk terus menumbuhkan kebijaksanaan dan welas asih dalam diri.

Memasuki rangkaian inti acara, seluruh peserta bersama-sama mengikuti prosesi Waisak dengan penuh penghormatan. Suasana aula berubah menjadi hening ketika doa-doa mulai dilantunkan. Alunan Lu Xiang Zan dan Zan Fo Zi menggema lembut, membawa ketenangan bagi setiap orang yang hadir. Dalam keheningan tersebut, hadirin diajak untuk menenangkan batin, membersihkan pikiran, serta menumbuhkan niat baik dalam kehidupan sehari-hari.

Prosesi persembahan dilaksanakan dengan tertib dan penuh ketulusan sebagai ungkapan rasa hormat kepada Buddha dan Bodhisatwa. Setelah itu, peserta mengikuti prosesi Yu Fo atau pemandian Buddha secara bergantian. Air yang disentuh menjadi simbol pembersihan hati dari sifat-sifat buruk serta pengingat untuk terus menumbuhkan kebijaksanaan dan welas asih dalam diri. Makna dalam prosesi tersebut sangat mendalam.

Air yang dipersembahkan melambangkan penyucian diri, sementara pelita yang dinyalakan menggambarkan cahaya Dharma yang menerangi jalan kehidupan. Di sisi lain, bunga menjadi lambang keharuman kebajikan yang menyebar luas, seperti cinta kasih yang tidak mengenal batas.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan Pradaksina, Li Zan, dan pelantunan Qian Cheng Qi San Yuan. Langkah demi langkah yang dilakukan dengan tenang menciptakan suasana yang begitu damai dan khusyuk. Tidak hanya menjadi sebuah ritual keagamaan, perayaan Waisak ini juga menjadi momen refleksi bagi seluruh peserta untuk kembali menanamkan nilai cinta kasih universal, rasa syukur, serta semangat berbagi kepada sesama.

Para relawan komite melafalkan doa dalam prosesi Waisak dengan penuh ketulusan dan kekhidmatan, menghadirkan suasana hening yang menyentuh hati serta menumbuhkan semangat kebajikan dan kedamaian batin.

Momen persembahan secangkir teh sebagai ungkapan hormat dan bakti kepada orang tua. Melalui secangkir teh yang disuguhkan dengan penuh ketulusan, anak-anak menyampaikan rasa syukur atas kasih sayang dan pengorbanan ibu, sekaligus mengungkapkan cinta kasih serta permohonan maaf dengan tulus.

Di balik kelancaran perayaan Waisak, para relawan juga merasakan banyak pengalaman berharga selama mempersiapkan acara. Lissa, koordinator kegiatan, mengungkapkan bahwa momen paling berkesan adalah saat seluruh peserta dan relawan dapat berkumpul bersama dengan penuh semangat dan kebahagiaan.

“Momen yang paling berkesan adalah saat seluruh peserta dan relawan dapat berkumpul bersama dengan penuh semangat dan kebahagiaan. Melihat semua orang bekerja sama tanpa pamrih demi kelancaran acara menjadi pengalaman yang sangat menyentuh dan membahagiakan,” ungkap Lissa.

Lissa menyampaikan bahwa tantangan terbesar dalam persiapan acara adalah mengatur waktu dan koordinasi di tengah banyaknya persiapan yang dilakukan secara bersamaan. “Tantangan yang paling dirasakan adalah mengatur waktu dan koordinasi karena banyak persiapan yang harus dilakukan dalam waktu bersamaan. Selain itu, menjaga agar semua kegiatan berjalan lancar juga membutuhkan kerja sama yang baik,” ujarnya. Menurutnya, komunikasi yang baik, kerja sama tim, dan sikap saling mendukung menjadi kunci untuk menghadapi setiap kendala selama persiapan berlangsung.

Lissa menambahkan bahwa kekompakan dan ketulusan hati menjadi hal penting agar perayaan Waisak dapat berjalan dengan lancar dan penuh makna. “Menjaga kerja sama, komunikasi, dan sikap saling menghargai antarsesama sangat penting. Selain itu, melaksanakan tugas dengan hati yang tulus dan penuh tanggung jawab juga menjadi kunci agar perayaan dapat berjalan dengan baik dan membawa manfaat bagi banyak orang,” tuturnya.

Suasana haru dan penuh sukacita mewarnai sesi Hari Ibu ketika para ibu berkumpul bersama di atas panggung untuk merayakan hari istimewa bagi para ibu di seluruh dunia. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka saat bersama-sama memotong kue sebagai simbol kasih sayang, kebersamaan, dan rasa syukur.

Suasana haru semakin terasa dalam sesi Hari Ibu ketika anak-anak kelas Budi Pekerti mulai membasuh kaki ibu mereka dengan penuh hormat dan kasih sayang. Dengan gerakan perlahan dan wajah yang tulus, anak-anak menunjukkan ungkapan terima kasih atas cinta dan pengorbanan seorang ibu yang selama ini merawat dan mendampingi mereka tanpa lelah.

Kehangatan suasana semakin bertambah ketika anak-anak satu per satu menyerahkan hadiah yang telah mereka persiapkan sepenuh hati. Hadiah sederhana berupa foto diri mereka sendiri yang dihias dengan kreatif dan menggemaskan menjadi simbol cinta dan perhatian yang tulus untuk sang ibu. Meski sederhana, hadiah tersebut membawa kebahagiaan tersendiri bagi para orang tua karena di dalamnya tersimpan usaha, ketulusan, dan kasih sayang anak-anak kepada ibu mereka.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Berbakti Pada Ibu di Waisak Tzu Chi

Berbakti Pada Ibu di Waisak Tzu Chi

06 Juni 2014 Wajah Nenek Hartati diliputi senyuman, walau kini umurnya telah mencapai 88 tahun, dengan kondisi pergerakannya sudah tidak leluasa lagi, tapi di umurnya yang telah lanjut nenek Hartati masih bisa mengikuti acara waisak yang di adakan oleh Tzu Chi di Aula Jing Si, Pantai Indah Kapuk, pada hari Minggu 11 Mei 2014.
Waisak 2025: Harmonisnya Waisak Tzu Chi Bersama Yayasan Perguruan Gajah Mada Binjai

Waisak 2025: Harmonisnya Waisak Tzu Chi Bersama Yayasan Perguruan Gajah Mada Binjai

23 Mei 2025

Waisak Bersama pertama kali yang diadakan di kota Binjai dengan menggandeng Yayasan Perguruan Gajah Mada Binjai. Kegiatan dihadiri ole lebih dari 150 peserta.

Waisak Tzu Chi 2018: Memberikan Persembahan Pada Buddha (Bag. 1)

Waisak Tzu Chi 2018: Memberikan Persembahan Pada Buddha (Bag. 1)

15 Mei 2018
Di tahun 2018, ada dua sesi perayaan Waisak di Tzu Chi di Aula Jing Si, Jakarta (13/5/18). Setiap sesinya ada 120 orang relawan pembawa persembahan berupa air, pelita (lilin), dan bunga. Dokter Anthony Pratama yang berkeyakinan berbeda tidak segan untuk menjadi salah satu relawan pembawa persembahan.
Orang yang berjiwa besar akan merasakan luasnya dunia dan ia dapat diterima oleh siapa saja!
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -