Merasakan Cinta Rodiah untuk Via

Jurnalis : Metta Wulandari, Fotografer : Metta Wulandari

doc tzu chi

Djalal, relawan Tzu Chi Hu Ai Angke melakukan kunjungan kasih ke rumah Rodiah kemarin, 28 November 2017. Ekspresi bahagia terlihat di wajah mereka ketika berbincang.

Alvia Bilqis Chairunisa (11) pasti sangat menyayangi neneknya, Rodiah (64), yang telah merawatnya penuh cinta sejak ia lahir, sebelas tahun yang lalu. Walaupun ada sang ibu, Via, panggilan akrabnya lebih dekat dengan sang nenek. Ditambah lagi setelah dua tahun lalu ibu Via meninggal, nenek menjadi satu-satunya orang yang bisa diandalkannya. Namun Sayang, ungkapan cinta untuk sang nenek tidak pernah terungkap dari bibir anak bungsu penderita hidrosefalus itu.

Dengan mata yang menerawang, Via kerap memandang Rodiah yang sedang berbincang dengan Djalal, seorang relawan Tzu Chi Komunitas Angke. Hari itu (28/11/17) relawan Tzu Chi Hu Ai Angke melakukan kunjungan kasih ke rumah Rodiah. Rodiah senang bukan main melihat relawan yang sudah tidak asing baginya datang berkunjung. “Pas banget ini pak datangnya, saya baru selesai keliling,” ucapnya seraya mempersilakan relawan masuk ke rumah tiga lantai itu.

Ekspresi Rodiah yang senang berbanding terbalik dengan ekspresi Via. Dia diam saja dengan kaki membujur kaku di atas kasur. Rambutnya pendek mirip laki-laki karena sisa operasi beberapa waktu lalu. Neneknya mengatakan bahwa sang cucu sebenarnya bisa mendengar dan berinteraksi dengan orang di sekelilingnya. “Senyum bisa, dengar bisa. Tapi ya sudah, begitu aja,” ucapnya.

doc tzu chi

Di rumah sederhana miliknya, Rodiah merawat Alvia Bilqis Chairunisa (baju biru berbaring) yang menderita hidrosefalus. Tzu Chi memberikan bantuan biaya hidup untuk mereka.

Setiap hari Rodiah harus mengurus cucu dari anak nomor 4-nya itu. Mulai dari memandikan, menyuapi, dan lain sebagainya. Ia juga masih harus mengantarkan Via ke rumah sakit apabila cucunya mendadak kejang. “Pokoknya saya selama masih bisa ngurus, saya urus. Karena siapa lagi yang peduli sama cucu saya kalau bukan saya?”

Untuk memenuhi setiap kebutuhan dirinya dan Via, Tzu Chi memberi bantuan biaya hidup sebesar 500 ribu per bulannya. Biaya itu mereka gunakan untuk membeli obat rutin bagi Via sebesar 250 ribu, biaya transpor untuk kontrol ke rumah sakit, dan sisanya digunakan sebagai modal usaha untuk Rodiah.

Dulu nenek 10 cucu itu memang masih bisa mencari nafkah dengan menerima jasa cuci-gosok, namun seiring bertambahnya usia kekuatannya pun semakin menurun dan geraknya semakin terbatas. Kini ia memilih berjualan pepes keliling untuk menambah pemasukan. Ia juga menerima pesanan makanan seperti pastel, dadar gulung, risol, atau kue bolu dari tetangga sekitar. “Pokoknya mah sisa uang bantuan dari Tzu Chi diputer-puter biar bisa mencukupi kebutuhan lainnya,” ujarnya tertawa.

Walaupun hidup dalam keterbatasan, Rodiah dengan penuh cinta merawat cucunya. Alih-alih mengeluh, ia memilih untuk tetap bersyukur atas berkah yang ia terima. “Sekarang saya banyak terima kasih sama Tzu Chi karena membantu kami. Saya sangat terbantu,” tutur nenek yang kerap menonton drama di DAAI TV Indonesia ini. Melalui drama kisah nyata tersebut pula, ia mengaku mendapatkan semangat dan pelajaran hidup. “Di drama itu saya belajar bahwa orang tua juga masih bisa berguna untuk keluarga dan orang lain, maka itu jadi pedoman saya,” ucapnya menggebu.

Mendengar pernyataan tersebut, Djalal mengangguk dan tersenyum. Ia senang karena mendapat pelajaran yang berharga dari para penerima bantuan. Seperti ucapan Master Cheng Yen bahwa, “Setiap manusia merupakan sutra hidup yang bisa dijadikan pelajaran. Sebagian Sutra ini menunjukkan penderitaan dan ada sebagian yang menunjukkan harapan.”

Editor: Yuliati


Artikel Terkait

Kasih Ibu Tiada Batasnya

Kasih Ibu Tiada Batasnya

08 Juli 2015

Minggu pagi, 24 Mei 2015 terdengar alunan lagu “Lukisan Anak Kambing Berlutut”.  Pagi yang spesial karena sebanyak 95 relawan berkumpul di Aula lantai 2 SMK Sekolah Cinta Kasih Cengkareng, Jakarta Barat. Mereka berkumpul pada acara Kunjungan Kasih Pasien Kasus (KKPK) yang bertema  “Hari Ibu”.

Nostalgia 30 Tahun, Pertemuan Liu Su Mei dan Jejak Pendampingan Pasien Pertama

Nostalgia 30 Tahun, Pertemuan Liu Su Mei dan Jejak Pendampingan Pasien Pertama

17 September 2025

Setelah 30 tahun, Liu Su Mei kembali dipertemukan dengan saksi kasus pertama pendampingan pasien Tzu Chi Indonesia, seorang anak bernama Ferry, pasien kelainan tulang. 

Berbagi Keceriaan di Panti Sentra Gau Mabaji

Berbagi Keceriaan di Panti Sentra Gau Mabaji

21 Juni 2024

Tzu Chi Makassar mengadakan kunjungan kasih ke Panti Sentra Gau Mabaji, Gowa, Selasa 18 Juni 2024. Kunjungan kasih ini merupakan wujud kepedulian, sekaligus untuk menumbuhkan empati dan kepekaan sosial.

Jika selalu mempunyai keinginan untuk belajar, maka setiap waktu dan tempat adalah kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -