Merawat Pelita Ketulusan dalam Perjalanan Enam Puluh Tahun Tzu Chi

Jurnalis : Vincent Salimputra, Triana Putri (He Qi Jakarta Utara 3), Fotografer : Henny Yohannes, Lestin Trisiati, Micheline Agatha Sugitan, Vincent Salimputra (He Qi Jakarta Utara 3)

Denting ratusan koin yang dituangkan para donatur menjadi simfoni cinta kasih yang siap dialirkan untuk meringankan beban sesama yang membutuhkan.

Denting koin di dasar celengan bambu Tzu Chi bukanlah sekadar suara logam yang terjatuh, melainkan gema cinta kasih yang terus dirawat untuk menyalakan harapan sesama. Semangat ini kembali dihidupkan oleh 79 relawan komunitas Jakarta Utara 3 pada Minggu, 22 Februari 2026, saat menyambut 146 tamu undangan dan donatur dalam Pemberkahan Awal Tahun di Xi She Ting, Tzu Chi Center, PIK.

Mengusung tema “Jangan Lupakan Tekad Awal Masa Celengan Bambu, Selamanya Mengingat Ikrar Agung Silsilah dan Mazhab Tzu Chi”, momen ini menjadi pengingat bagi setiap hati bahwa welas asih tak perlu menunggu kelimpahan harta. Ia bermula dari kemurnian niat harian yang diwujudkan dalam tindakan nyata.

Dalam penyampaian materinya, Auliani Gunawan menekankan bahwa berdana bukan sekadar hak istimewa orang kaya, melainkan kekuatan kolektif dari setiap orang yang berniat baik.

Suasana khidmat semakin terasa saat Auliani Gunawan mengajak hadirin merenung melalui filosofi celengan tersebut. Sambil memasukkan koin, ia melontarkan pertanyaan lembut, “Pernah mendengar suara cinta kasih?” Baginya, koin itu adalah kumpulan niat tulus dan ikhlas. “Berdana bukanlah hak istimewa orang kaya, melainkan partisipasi dari orang-orang berniat baik. Bila satu orang satu kebajikan, maka akan terkumpul kekuatan yang sangat besar,” tegasnya.

Niat tulus harian ini terbukti mampu mengubah wajah kemanusiaan secara masif melalui tangan Teksan Luis, Koordinator Program Bebenah Kampung. Ia memaparkan visi Tzu Chi dalam merenovasi 5.020 rumah tidak layak huni di seluruh Indonesia sebagai solusi menyeluruh bagi kesehatan dan ekonomi keluarga prasejahtera.

“Bedah kampung bukan hanya membangun rumahnya, tetapi kita juga membangun kehidupan mereka. Satu rumah bagaikan cahaya kecil seperti kunang-kunang. Ketika bersatu, mampu menerangi dan membawa perdamaian,” ungkap Teksan.

Teksan Luis memaparkan bagaimana program Bebenah Kampung bukan sekadar merenovasi bangunan, melainkan upaya membangun kembali martabat dan harapan baru bagi keluarga prasejahtera yang membutuhkan.  

Satu Frekuensi dalam Kebahagiaan Bersumbangsih
Filosofi "cahaya kunang-kunang" tersebut tercermin nyata dalam sesi talkshow yang menghadirkan lima narasumber. Mereka berbagi kisah tentang bagaimana Tzu Chi mengubah cara mereka memandang kebahagiaan sejati.

Kisah pembuka datang dari pasangan Zulkifli (36) dan Umi Komariatun (39). Jauh sebelum menjadi relawan, benih cinta kasih bagi mereka tumbuh di antara deretan rak sebuah toko buku tempat keduanya bekerja. Di sanalah Zulkifli mulai mengagumi sosok Master Cheng Yen melalui untaian Kata Perenungan Jing Si yang ia baca.

Namun, keyakinan itu benar-benar diuji saat Umi jatuh sakit pada 2019 dan membutuhkan biaya operasi yang besar. Di titik kritis itulah, bantuan Tzu Chi datang layaknya oase. “Saya tidak menyangka secepat itu dibantu. Setiap relawan yang berkunjung setiap bulan sudah kami anggap saudara sendiri,” ungkap Umi haru. Zulkifli pun menambahkan kekagumannya, “Tidak nyangka ada yayasan kemanusiaan sehebat ini. Kami merasa sangat dibantu dan diperhatikan.”

Triana Putri (kiri) dan Vincent Salimputra (kedua dari kiri) memandu sesi talkshow inspiratif bersama lima narasumber: Zulkifli, Umi, Sphatika, Ita Rosalyna, dan Jok Khian yang berbagi kisah tentang kebahagiaan batin dalam bersumbangsih.

Kini, cinta kasih tersebut mereka teruskan kembali dengan bergabung menjadi relawan. Salah satu momen terindah bagi Zulkifli adalah saat merayakan ulang tahun bersama Diza Arumi, seorang anak penderita leukemia. “Dulu saya diperlakukan dengan penuh kasih, sekarang saya bisa memperlakukan orang lain dengan cara yang sama. Inilah upaya melanjutkan rantai kebaikan,” ceritanya. Ia pun berpesan untuk selalu menghadapi tantangan hidup: “Dengan memberi lebih banyak, kita justru mendapatkan lebih banyak kebahagiaan dan ketenangan batin.”

Semangat melanjutkan rantai kebaikan ini juga berdenyut di hati Sphatika Winursita (27). Jalinan jodohnya dengan Tzu Chi bermula dari hobi keluarganya menonton drama DAAI TV, yang kemudian membawanya berkunjung ke Tzu Chi Center saat masih menjabat sebagai Kepala Departemen Pengabdian Masyarakat FIB UI pada 2019.

Kunjungan yang semula hanya tugas organisasi itu berubah menjadi ikatan kekeluargaan yang erat, bahkan ia berhasil mengajak 50 rekan kuliah serta keluarganya untuk ikut serta. “Dulu saya pikir kegiatan sosial akan berakhir setelah lulus kuliah. Tapi saya ingin perjalanan kemanusiaan ini berlanjut seumur hidup,” tegas Sphatika yang resmi menjadi relawan pada 2022 setelah melihat kredibilitas nyata Tzu Chi.

Sebagai Generasi Z, Sphatika menemukan "jangkar hidup" pada sosok Master Cheng Yen yang mengajarkannya untuk tetap tenang di dunia yang serba cepat. Ia merasa cara Tzu Chi mendidik relawan sangatlah elegan, terutama dalam melatih kemurnian hati. “Master mengajarkan saya untuk pelan-pelan menikmati perjalanan hidup. Bahkan saat menggalang dana, kita justru diajak membungkukkan badan untuk belajar rendah hati dan mengesampingkan ego,” tambahnya mengenai pelajaran berharga yang ia dapatkan.

Perspektif kebahagiaan dalam bersumbangsih ini meluas hingga ke lingkup keluarga Ita Rosalyna (46). Sebagai seorang dokter, ia menyadari tantangan besar membesarkan anak di zaman modern dengan pengaruh media sosial yang terbuka bebas. Baginya, anak-anak memerlukan "imunisasi" karakter agar tidak mudah goyah oleh pengaruh negatif. Ita pun memutuskan untuk mendaftarkan ketiga buah hatinya; Viriya (15), Vimala (13), dan Vritchael (10) ke Kelas Budi Pekerti Tzu Chi.

"Kita perlu menanamkan karakter baik yang kuat sejak dini agar di masa depan mereka memiliki benteng pertahanan. Di Tzu Chi, polanya unik, selain anak belajar budi pekerti, orang tua wajib menemani sehingga kami juga mendapatkan pendidikan untuk menjadi orang tua yang lebih baik. Karena bagaimanapun, karakter anak juga dibentuk dari rumah," jelas Ita.

Ia merasakan perubahan nyata pada perilaku ketiga anaknya yang menjadi lebih sopan, hormat, dan menghargai orang lain. Salah satu bukti transformasi yang paling mencolok terlihat pada si sulung, Viriya Michita Juwana. Viriya yang semula sangat introvert, perlahan mulai membuka diri berkat dukungan lingkungan relawan yang sangat suportif.

"Setiap tahun ada sesi penampilan di penutupan kelas di mana setiap anak diberi kesempatan tampil. Hal ini membuat mereka lebih berani dan percaya diri. Viriya pun kini berani tampil menjadi MC dan game leader meskipun tanpa latar belakang pengalaman sebelumnya," tambah Ita bangga. Bagi Ita, di Tzu Chi, orang tua tidak sekadar menitipkan anak, melainkan ikut upgrade bersama demi menciptakan lingkungan keluarga yang penuh cinta kasih bagi Viriya, Vimala, dan Vritchael.

Ketua He Qi Jakarta Utara 3, Jok Khian, menyampaikan apresiasi mendalam kepada para tamu undangan saat memberikan sambutan dalam acara Pemberkahan Awal Tahun 2026 di Xi She Ting, Tzu Chi Center, PIK pada Minggu, 22 Februari 2026, sebagai wujud syukur atas kepercayaan menggarap ladang berkah bersama.

Rangkaian kisah inspiratif ini ditutup secara emosional oleh Jok Khian, yang kini mengemban amanah sebagai Ketua He Qi Jakarta Utara 3. Jalinan jodohnya dengan Tzu Chi bermula saat ia setia mendampingi buah hatinya di Kelas Budi Pekerti. Namun, alih-alih hanya menjadi penonton, hatinya justru tergetar saat melihat ketulusan para relawan yang bersumbangsih.

“Hati saya bergejolak melihat dedikasi mereka. Saya merasa tidak ingin hanya duduk diam, saya ingin ikut memakai seragam dan terjun langsung melayani,” kenang Jok Khian. Transformasi inilah yang membawanya dari seorang ayah yang mendampingi anak, menjadi sosok pemimpin yang melayani masyarakat luas.

Sebagai ketua, ia menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam kepada para donatur yang hadir. “Pemberkahan ini adalah cara kami berterima kasih karena Bapak dan Ibu telah mempercayakan kami untuk menggarap 'ladang berkah' ini bersama-sama,” tuturnya dalam sambutan pembuka.

Bagi Jokkhian, kebahagiaan batin yang ia temukan kian lengkap saat menyaksikan langsung perjuangan Zulkifli dan Umi. Melihat mereka bangkit dari masa sulit hingga kini berdiri bersama di barisan relawan adalah kepuasan batin yang tak ternilai. “Melihat mereka kini ikut menebar kebaikan adalah kebahagiaan yang sangat besar bagi saya. Saya berharap lebih banyak orang tua mau meluangkan waktu di Tzu Chi. Selain melakukan hal positif bagi diri sendiri, kita juga bisa membantu sesama dan mendidik anak-anak untuk menghargai sesama serta memiliki etika yang baik,” pungkasnya mantap.

Ketulusan di Balik Layar
Di balik kekhidmatan suasana di Xi She Ting, terdapat jejak-jejak pengabdian yang bekerja dalam hening, jauh sebelum cahaya pagi menyapa Jakarta. Lenny Sujanto, koordinator tim konsumsi, bersama 25 relawan lainnya telah menyalakan api di dapur sejak pukul 3 subuh. Bagi mereka, menyiapkan 275 kotak paket cinta kasih bukan sekadar rutinitas memasak, melainkan cara mereka bersumbangsih melalui tenaga.

"Kami mendapatkan ladang berkah mempersiapkan konsumsi sebanyak 275 kotak. Kami mulai masak-masak dari jam 3 subuh. Kami sangat gan en dibantu oleh 25 relawan sehingga bisa selesai tepat waktu," tutur Lenny. Baginya, pembagian tugas yang merata ke masing-masing fungsional membuat tugas yang besar terasa lebih ringan.

Senyum tulus Takarina saat membagikan Angpao Berkah mencerminkan kebahagiaan dalam melayani dan berbagi keberkahan.

Semangat melayani ini pula yang dirasakan oleh Takarina. Walau tempat tinggalnya lumayan jauh dari PIK, yaitu di Kreo, Ciledug, ia tetap teguh menjalankan tugasnya di bagian pembagian angpao. Di matanya, memberi bukan tentang siapa yang lebih mampu, melainkan tentang kerendahan hati.

"Ini pertama kali saya melakukannya. Buat saya ini sangat luar biasa. Dari situ ada pelajaran penting buat saya bahwa memberi itu penuh dengan kerendahan hati, tidak dengan pongah atau sombong. Karena sesama manusia harus saling rendah hati. Selain itu saya bahagia banget dapat angpao dari Master. Gan en Master," ungkap Takarina haru.

Sebagai penutup dari barisan relawan, Melliza Suhartono dan Youmi selaku koordinator kegiatan menyampaikan rasa syukur mendalam kepada para relawan dan donatur yang telah mendukung acara ini. Mengingat Tzu Chi Internasional yang sudah berdiri sejak 60 tahun lalu dan Tzu Chi Indonesia selama 33 tahun, mereka mengajak semua orang untuk menengok kembali ke akar.

"Kita juga diingatkan akan tekad awal mengenai celengan bambu supaya aliran cinta kasih ini dapat mengalir ke seluruh dunia," ujar Youmi dan Melliza. Bagi mereka, keberhasilan acara ini adalah bukti nyata bahwa ketika niat murni dan kerja sama bersatu, pesan cinta kasih Master Cheng Yen akan selalu sampai ke hati setiap orang.

Mewariskan Pelita Empati kepada Generasi
Gema ketulusan para relawan rupanya meresap jauh ke sanubari para tamu yang hadir, seolah menjadi cermin bagi kebaikan yang tersembunyi di hati mereka masing-masing. Kegembiraan senada disampaikan oleh Loa Ping Hwa, yang datang bersama adik-adik dan anaknya, Indra Sugiarto, yang juga merupakan seorang relawan Tzu Chi.

Loa Ping Hwa (tengah) hadir dengan penuh sukacita bersama adik-adik dan anaknya untuk merayakan semangat kebersamaan dalam Pemberkahan Awal Tahun.

“Acaranya sangat bagus sekali karena diajarkan berbagi kasih. Melalui celengan bambu ini dapat membantu orang lain. Membantu orang lain tidak perlu menjadi kaya atau banyak uang, tapi dapat membantu melalui tenaga dan waktu,” ujar Ibu Loa Ping Hwa. Baginya, filosofi Master Cheng Yen sangat menyentuh hati. “Master Cheng Yen sangat luar biasa. Renungan-renungannya membuat hati saya tersentuh, seperti di celengan bambu ini: Dana Kecil, Amal Besar.”

Pesan kemanusiaan ini pula yang ingin dititipkan oleh Herdiana Dewi Nurfika, seorang Life Coach dan NLP Master, kepada putrinya, Aura Lathisha (13). Mengenal Tzu Chi melalui layar DAAI TV, Herdiana sengaja mengajak putrinya hadir untuk menyaksikan langsung wajah asli dari toleransi dan ketulusan.

“Yang paling berkesan adalah toleransi yang sangat tinggi, karena saya lihat keluarga yang dibantu dari berbagai agama. Seluruh relawan terlihat sangat tulus untuk membantu dan menebar cinta kasih,” ungkap Herdiana. Sebagai orang tua yang mendampingi anak dengan kesibukan akademik, ia sadar pentingnya keseimbangan antara prestasi dan empati. “Saya tidak mau anak saya seperti istilah ‘pinter keblinger’. Jadi saya ajak anak saya ikut kegiatan yang mendukung EQ-nya berkembang juga.”

Herdiana Dewi Nurfika (kiri) bersama putrinya, Aura Lathisha, menyimak penjelasan hangat dari Fiorenza mengenai pentingnya penanaman karakter dan budi pekerti sejak dini di stan Kelas Bimbingan Budi Pekerti.

Bagi Herdiana, memperkenalkan kegiatan sosial sejak dini adalah investasi karakter yang tak ternilai. “Agar tumbuh rasa empati sejak dini. Supaya kelak nanti jika mengambil keputusan, tidak hanya memikirkan diri sendiri saja, tapi juga bisa paham dampak terhadap orang lain dan lingkungan sekitar,” tambahnya. Ketertarikannya untuk bergabung dalam kegiatan sosial Tzu Chi ke depan menjadi bukti bahwa benih cinta kasih yang ditabur hari ini telah mulai bersemi di hati para tamu yang hadir.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel Terkait

PAT 2025: Kisah Himpunan Tetesan Kebajikan

PAT 2025: Kisah Himpunan Tetesan Kebajikan

05 Februari 2026
Pemberkahan Akhir Tahun 2025 komunitas He Qi Jakarta Utara 4 menjadi momen refleksidan mengingat kembali tekad awal celengan bambu serta kisah nyata welas asih melalui pendampingan dan bantuan bencana.
Menghimpun Cinta Kasih, Meneguhkan Langkah Kebajikan

Menghimpun Cinta Kasih, Meneguhkan Langkah Kebajikan

05 Maret 2026

Komunitas He Qi Jakarta Barat 2 menyelenggarakan Pemberkahan Awal Tahun 2026 di Aula Jing Si sebagai momentum refleksi dan penguatan tekad untuk terus menebar kebajikan.

Pemberkahan Akhir Tahun 2024 : Giat, Sadar, Tekun dan Semangat Mempraktikkan Jalan Bodhisatwa

Pemberkahan Akhir Tahun 2024 : Giat, Sadar, Tekun dan Semangat Mempraktikkan Jalan Bodhisatwa

17 Januari 2025

Dihadiri 914 peserta, pemberkahan akhir tahun di Aula Jing Si Batam berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Kegiatan ini juga dihadiri relawan Tzu Chi Singapura.

Benih yang kita tebar sendiri, hasilnya pasti akan kita tuai sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -