Sejak pagi, dengan antusias para warga berkumpul di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat, untuk mengikuti Baksos Kesehatan Umum Lansia.
Pagi itu, Minggu, 21 Juni 2026, suasana Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat tampak lebih ramai dari biasanya. Sejak pagi, para Lansia mulai berdatangan. Ada yang datang sendiri, ada pula yang ditemani keluarga. Sebagian berjalan perlahan, sebagian lainnya menunggu dengan sabar sambil membawa keluhan kesehatan yang selama ini mereka rasakan.
Di tempat inilah relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Pusat bersama Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Indonesia, menggelar Baksos Kesehatan Umum Lansia. Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian kepada mereka yang lanjut usia (Lansia), khususnya mereka yang memiliki keluhan kesehatan atau sekadar ingin memeriksa kondisi tubuhnya.
Dalam kegiatan tersebut, tim medis TIMA Indonesia memberikan berbagai layanan kesehatan, mulai dari pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan gula darah, tensi darah, pemeriksaan gigi, hingga pemberian obat dan vitamin. Sebanyak 248 pasien berhasil mendapatkan pelayanan kesehatan dari tim medis yang bertugas.
Relawan Tzu Chi sekaligus Koordinator Baksos, Diana, mendampingi salah satu pasien saat diperiksa kesehatannya oleh tim medis TIMA.
Salah satu tim medis TIMA, memeriksa kesehatan pasien pada pelaksanaan Baksos Kesehatan Umum lansia yang diadakan relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Pusat.
"Hari ini ada baksos kesehatan untuk Lansia. Ada pemeriksaan kesehatan seperti cek fisik, gigi, cek kesehatan umum, dan cek laboratorium," ungkap Diana, relawan Tzu Chi sekaligus Koordinator Baksos.
Tidak hanya pelayanan medis, perhatian juga diberikan melalui hal-hal sederhana yang menyentuh. Relawan Tzu Chi turut menyiapkan makanan bagi para pasien. Dengan kondisi tubuh yang lemah atau sedang kurang sehat, relawan ingin memastikan mereka tetap nyaman sebelum maupun setelah menjalani pemeriksaan.
"Jadi kami menyediakan makanan juga bagi warga yang belum makan dari rumah, bisa makan dulu baru diperiksa, atau bagi yang sudah makan dari rumah setelah selesai diperiksa baru makan. Jadi memang kita siapkan makanan," tambahnya.
Bagi para lansia, layanan kesehatan seperti ini sangat berarti. Salah satunya dirasakan oleh Nani (73) yang tinggal di sekitar Jalan Pangeran Jayakarta. Ia datang dengan keluhan sakit pada kaki yang kerap mengganggu aktivitas dan waktu istirahatnya. Biasanya, Nani memeriksakan kesehatan dan membeli obat di Puskesmas atau klinik terdekat.
Namun, kehadiran baksos kesehatan ini membuatnya merasa terbantu. Tidak hanya mendapatkan pemeriksaan dan obat, Nani juga merasakan keramahan para relawan dan tenaga medis yang mendampinginya sejak awal.
"Ini kaki pada linu, kalau malam susah tidur karena linu, kalau kata dokter ini asam urat. Dapat obat dan dapat makan bakmi. Seneng banget, semoga lancar dan ada pengobatan gratis lagi. Relawannya baik-baik semua sampai saya dituntun, dokternya juga baik-baik semua," ungkap bahagia Nani.
Kartini, salah satu pasien Lansia, merasa lemas dan pusing saat berada di ruang pemeriksaan. Dengan penuh perhatian relawan memberikan teh hangat serta pendampingan kepadanya.
Perasaan yang sama juga dirasakan oleh Kartini (68). Ia mengikuti baksos umum untuk memeriksakan tekanan darahnya karena memiliki riwayat darah tinggi. Saat mengantre di ruang pemeriksaan, ia sempat merasa lemas dan pusing. Relawan pun dengan sigap mendampingi serta memberikan segelas teh hangat untuk membantunya merasa lebih baik. Atas perhatian relawan dan tim medis yang bertugas, Kartini menyampaikan rasa terima kasihnya.
“Keluhan saya darah tinggi, kolestrol, dan asam urat. Terima kasih, mudah-mudahan kalau ada lagi saya mau. Kalau sehabis berobat saya merasa lega, apalagi ini enggak keluar uang,” ungkap Kartini.
Melalui baksos kesehatan umum ini, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama TIMA Indonesia berupaya meringankan beban masyarakat prasejahtera, khususnya para Lansia yang membutuhkan akses layanan kesehatan. Lebih dari sekadar pemeriksaan medis, kegiatan ini juga menjadi wujud perhatian dan pendampingan bagi mereka yang berada di usia senja.
Wibi, Santri Nurul Iman yang Menemukan Jalan Kerelawanan Bersama Tzu Chi
Kebaikan kadang hadir dari perjumpaan yang sederhana. Bagi Muhamad Wibisono, atau yang akrab disapa Wibi, perjumpaannya dengan Tzu Chi Indonesia bukan hanya menjadi pengalaman masa remaja di pesantren, tetapi juga menjadi pintu yang menuntunnya mengenal makna cinta kasih lintas universal.
Wibi (kanan), relawan Tzu Chi, yang menemukan jalan kerelawanan setelah melihat cinta kasih Tzu Chi tumbuh di pesantren tempat ia menuntut ilmu, yaitu di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor.
Wibi merupakan alumni Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor. Di pesantren inilah ia menempuh pendidikan hingga meraih gelar sarjana. Di tempat yang sama pula, ia pertama kali melihat bagaimana relawan Tzu Chi hadir membantu sesama dengan tulus, tanpa membedakan latar belakang agama, suku, maupun budaya.
Jodoh baik antara Tzu Chi Indonesia dan Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman telah terjalin sejak tahun 2003. Sejak saat itu, berbagai kegiatan kemanusiaan terus dilakukan bersama, baik dalam bidang pendidikan maupun kesehatan. Kehadiran relawan Tzu Chi di lingkungan pesantren menjadi pemandangan yang membekas bagi Wibi.
“Jadi pertama kali saya kenal Tzu Chi ketika saya mulai menjadi santri di Nurul Iman pada 2006. Saya kaget waktu itu, pas saya datang itu berbarengan dengan baksos Tzu Chi. Saya enggak menyangka, ini kan saya pesantren notabene muslim tetapi banyak sekali relawan Tzu Chi. Mereka bahkan ikut acara kami juga, seperti perayaan Maulid Nabi Muhammad,” kenang Wibi.
Pengalaman itu menumbuhkan rasa penasaran dalam diri Wibi. Di benaknya muncul banyak pertanyaan. Siapa Tzu Chi? Dari mana yayasan ini berasal? Mengapa relawannya begitu sering hadir di pesantren? Apa yang membuat mereka mau membantu para santri dengan penuh perhatian?
Wibi (kanan), saat menjadi sukarelawan kegiatan yang diadakan Tzu Chi Indonesia di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman.
Seiring berjalannya waktu, pertanyaan-pertanyaan itu perlahan menemukan jawabannya. Wibi memahami bahwa Yayasan Buddha Tzu Chi adalah organisasi kemanusiaan yang bergerak untuk membantu sesama tanpa memandang ras, agama, dan golongan. Nilai universal cinta kasih yang diterapkan para relawan membuatnya semakin dekat dengan kegiatan-kegiatan Tzu Chi.
Kedekatan itu tidak berhenti pada rasa kagum. Saat masih menjadi santri, Wibi mulai ikut terlibat sebagai sukarelawan dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan Tzu Chi di pesantren.
“Sebelum saya lulus pun saya sudah aktif menjadi sukarelawan untuk kegiatan di pesantren. Ketika di pesantren, kegiatan seperti baksos maupun acara lain yang diselenggarakan oleh Tzu Chi, saya selalu ikut jadi panitia,”
Setelah lulus dari pesantren, hubungan Wibi dengan Tzu Chi tetap terjaga dengan dirinya menjadi relawan kembang Tzu Chi. Ia beberapa kali mengikuti kegiatan di Tzu Chi, termasuk kegiatan di Aula Jing Si. Bahkan setiap tahun, ia turut hadir dalam perayaan Waisak. Dukungan dari para relawan juga menjadi salah satu hal yang membuatnya merasa terus dirangkul dalam keluarga besar Tzu Chi.
“Seiring berjalannya waktu, ketika saya lulus saya beberapa kali ikut kegiatan yang ada di Tzu Chi seperti acara di Aula Jing Si, setiap tahun untuk perayaan Waisak saya juga selalu hadir. Saya selalu dirangkul oleh Shixiong Rudi dan Shijie Yuli untuk beberapa kegiatan baksos,”
Berkat cinta kasih Tzu Chi yang Wibi lihat di pesantren, ia kini berniat untuk ikut berbagai kegiatan Tzu Chi Indonesia.
Kini, di tengah kesibukannya bekerja, Wibi tetap berusaha menyempatkan waktu untuk ambil bagian dalam kegiatan kerelawanan. Baginya, ketika niat baik sudah tertanam, selalu ada jalan untuk melakukan hal-hal positif.
“Berhubung saya punya rutinitas bekerja, kira-kira saya bisa atau tidak antara pekerjaan dan kegiatan Tzu Chi. Karena sudah ada niat, ketika saya memutuskan untuk ikut kegiatan Tzu Chi, Alhamdulliah ternyata saya selalu dipermudah dan diberikan waktu yang luang untuk kegiatan-kegiatan positif ini,”
Perjalanan Wibi bersama Tzu Chi menjadi gambaran bahwa cinta kasih dapat tumbuh dari perjumpaan yang tulus. Dari seorang santri yang awalnya hanya penasaran melihat baksos di pesantren, Wibi kemudian menemukan jalan untuk ikut menebarkan kebaikan.
Editor: Hadi Pranoto