Mewariskan Budaya Bervegetarian
Jurnalis : Wie Sioeng (He Qi Timur), Fotografer : Wie Sioeng (He Qi Timur)
|
| ||
Pagi itu, 14 orang Shixiong dan Shijie dari He Qi Timur bertugas memasak bubur ala Tzu Chi untuk sarapan dan melayani makan untuk anak-anak murid Sekolah Tzu Chi Indonesia. Beberapa Shijie terlihat sibuk menyiapkan bahan-bahan dan sayur-sayurnya yang terdiri dari wortel, buncis dan kacang merah. Mulailah terlihat kesibukan di dapur, ada yang sedang memilah bahan atau sayur-sayurannya, ada juga yang mencuci sayur sebelum dipotong kecil-kecil, dan semua ini dilakukan dengan penuh keceriaan. “Bagaikan masak untuk anak atau cucu sendiri jadi harus sepenuh hati dan harus enak rasanya agar anak-anak suka,” ucap seorang relawan. Setelah matang, bubur disiapkan dalam nampan penyajian untuk dibagikan ke-23 kelas mulai dari nursery, kindergarten hingga primary kelas 1 sampai kelas 3. Total yang disiapkan untuk hari itu yaitu sekitar 600 porsi. Mempersiapkan Menu Makan Siang dengan Bahagia dan Sepenuh Hati
Keterangan :
Menu makan siang hari ini pun siap dan kami segera membawanya ke ruang penyajian untuk disiapkan bagi 10 kelas murid-murid primary. Setelah persiapan pembagian selesai mulailah kami bawa ke lantai 1 dimana kelas anak-anak berada. Di depan setiap kelas sudah disediakan masing-masing sebuah meja yang nantinya akan disajikan 4 macam sayur dan nasi. Ada satu keunikan di Sekolah Tzu Chi Indonesia ini tanda mulai belajar, istirahat maupun pulang ditandai bukan dengan bunyi bel akan tetapi oleh suara lagu. Mewariskan Budaya Humanis dan Bervegetarian Sebelum makan mereka akan berdoa bersama terlebih dahulu. Budaya humanis Tzu Chi akan tertanam di dalam jiwa mereka mulai dari belajar bervegetarian setiap hari saat mereka ada di sekolah dan melayani teman-temannya pada saat makan siang ini. Ternyata setelah kurang lebih 3 bulan berlalu sejak tahun ajaran baru dimulai hingga kini, anak-anak ini sangat menyukai menu-menu makanan vegetarian. Terlihat awalnya mereka mengambil sedikit dahulu ternyata setelah suka mereka pun menambah lagi dan menu yang disajikan selalu habis. Hal tersebut tentu merupakan kebahagiaan bagi para relawan yang bertugas di sana. Seperti yang dikatakan Michelle Nathalia yang saat ini duduk di kelas P3, “Menjadi siswa di sini enak Shibo, makanannya aku suka sekali,“ ucapnya memuji. Orang tuanya mengetahui Sekolah Tzu Chi Indonesia dari tayangan DAAI TV. Mereka adalah keluarga Katolik, namun menyukai Tzu Chi karena pendidikan budaya humanis dan budi pekerti di sekolah ini. Sang ibu, Elizabeth bercerita, “Sejak sekolah di sini kalau pulang sekolah saya belikan atau bawakan makanan untuk makan di mobil, bila ternyata makanan tersebut mengandung kandungan hewani, dia tidak mau. ‘Aku masih pakai seragam, Mommy, jadi tidak boleh makan makanan yang mengandung daging katanya.’ Alangkah polosnya anakku ini, dan sekarang dirumah pun sudah suka dengan menu sayur-sayuran.” Setelah selesai makan anak-anak pun bersiap untuk menggosok gigi mereka. Kami pun juga mulai merapikan ruangan makan lalu kembali ke ruang penyajian untuk membersihkan sebagian alat-alat di sana dan sebagian dibawa ke dapur untuk dibersihkan. Hari berlalu begitu cepat, setelah alat-alat bersih dan terkumpul lengkap, kami pun bersiap-siap kembali pulang ke Kelapa Gading dengan hati penuh kebahagiaan. | |||
Artikel Terkait
Bantuan Tanggap Darurat Tzu Chi untuk Korban Angin Puting Beliung
01 Maret 2024Relawan Tzu Chi memberikan bantuan tanggap darurat bagi 24 rumah korban puting beliung di Dusun Mangunarga, Kampung Situbuntu dan Dusun Bojong Bolang, Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Titik Pemilihan Sampah di Kebayoran Lama
27 Februari 2014 Depo pelestarian lingkungan yang berlokasi di halaman sekolah Surya Dharma jalan Toepekong Kebayoran Lama Jakarta Selatan ini rutin dilaksanakan setiap hari minggu pagi.Rasa Sayang Tzu Chi untuk Kenzi
05 November 2021Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Utara 2 mengunjungi Kenzi, bayi berusia 19 bulan yang didiagnosa mengalami Epilepsi Intraktable dan mikrosefali.








Sitemap