Mewujudkan Harapan Melodi

Jurnalis : Leo Samuel Salim (Tzu Chi Medan), Fotografer : Leo Samuel Salim, Lily Hermanto (Tzu Chi Medan)
 

foto "Melodi menceritakan kisah hidupnya kepada salah saorang dokter TIMA dan mengucapkan syukur karena telah diberikan kesempatan untuk melihat lagi"

 “Diriku susah sendiri, tidak ada pernah berarti….”, itulah sepenggal bait lagu yang dinyanyikan Melodi (25 tahun) pada saat diminta untuk bernyanyi oleh salah satu dokter TIMA (Tzu Chi International Medical Association) . “Sudah cukup Melodi,” ujar dokter tersebut. Dari syair yang dinyanyikannya, semua orang dapat merasakan kepedihan hatinya. Melodi sudah tidak dapat melihat dengan baik semenjak lahir. Melodi, anak bungsu dari 5 bersaudara ini juga memiliki saudara perempuan dan laki-laki yang mengidap penyakit katarak. Tetapi mereka sudah meninggal. Sekarang Melodi tinggal bertiga karena kedua orang tuanya juga sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu.

Semenjak orang tuanya meninggal, kehidupan Melodi tidaklah sebaik dulu. Dirinya harus selalu ikut kemanapun saudara-saudaranya pergi. Melodi sendiri pernah dibawa saudara laki-lakinya yang lain ke Medan selama 11 tahun. Selama itu, Melodi yang tidak dapat melihat selalu saja menjadi sasaran emosi saudara-saudaranya. Meski demikian, Melodi masih dapat mengurus dirinya sendiri seperti mencuci baju dan menyapu.  

Pada tahun 2008, Melodi diantarkan kembali ke Nias dan tinggal bersama saudara perempuannya. Tetapi dikarenanya keterbatasannya, Melodi dianggap sebagai beban dan kembali menjadi sasaran bulan-bulanan dari orang-orang yang tinggal bersamanya. Kekerasan fisik terus mendarat di tubuhnya dan Melodi hanya dapat pasrah. Tak lama kemudian, Melodi diusir dari rumah dan harus tinggal di kaki lima. Penderitaan hidup serasa tidak habis-habisnya datang dan kian bertambah.  

 “Saya pernah selama sebulan tidak pernah makan hanya minum air karena tidak mendapat makanan,” ujar Melodi. Untuk kesehariannya, Melodi terpaksa harus meminta-minta dengan bernyanyi. Jika ada acara pekan raya di kota, setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis maka Melodi akan menuju ke sana untuk membantu para penjual di sana untuk berjualan. “Saya membantu berjualan parang (golok-red) jika ada orang yang meminta saya untuk menjualnya,” tambahnya. Melodi juga terkadang dikasih modal sedikit untuk berjualan rokok, permen, atau es. Meski sering ditipu pada saat berjualan, Melodi tidak pernah putus asa. “Saya lebih senang kalau berada di pekan, tidak ada beban pikiran. Daripada cuma duduk-duduk saja,” jelasnya.

Melodi mendapatkan kabar akan adanya operasi katarak gratis oleh Yayasan Buddha Tzu Chi dari sepupunya yang bernama Rumini. “Saya yang membawanya untuk diperiksa pada saat penjaringan,” katanya. Di hati Melodi, Rumini-lah satu-satunya orang yang mengasihinya. “Melodi pernah tinggal di rumah saya. Cuma dikarenakan itu masih rumah orang tua saya. Melodi tidak dapat tinggal di sana dalam waktu yang lama,” kata Rumini.

Rumini juga mengatakan jika anggota keluarga Rumini kurang menyukai sikap dan tutur kata Melodi yang sedikit kasar. Pembawaan Melodi yang tidak lembut itu muncul akibat kekerasan yang sering dialaminya. Kejadian yang terus berulang menempa karakter Melodi menjadi pribadi yang keras. Karena hal tersebut, Melodi mau tidak mau harus pindah dari keluarga Rumini dan tinggal di kaki lima.

foto   foto

Keterangan :

  • Relawan kembali menjelaskan bagaimana cara mengganti perban dan meneteskan obat mata kepada Melodi dan Rumini agar ketika di rumah nanti, mereka dapat melakukannya dengan benar (kiri).
  • Perasaan bahagia dapat menjalani operasi membuat wajah Melodi selalu cerah, afeksi ini juga ditularkan kepada dokter yang mengoperasi. Selama proses operasi, para dokter terlihat rileks dan santai sehingga proses operasi berjalan dengan lancar (kanan).

Suatu hari, Melody mendengar jika ada bakti sosial operasi katarak di Rumah Sakit Stella Marris, Teluk Dalam. Mengetahui hal tersebut, perasaan senang, bahagia meluap Keluar, bagai Lahar Panas yang menyembur dan memuntahkan semua isinya tanpa kenal ampun. Asa yang telah lama dipendam dan tidak pernah padam itu mulai mengeliat kembali. Dengan penuh semangat Melody mengajak Rumini untuk menemaninya. Ketika sampai di rumah sakit, Melody harus menjalani beberapa prosedur tes kesehatan. Setiap langkah dan prosedur ia jalani, ketika dokter yang memeriksa menyatakan matanya layak untuk dioperasi, raut wajah Melodi seketika  tersenyum bahagia. Wajah tersenyumnya ini terus tampak hingga di ruang operasi dan membuat tim medis yang akan mengoperasikannya turut berbahagia.

Setelah selesai dioperasi, Melodi diantar ke ruang pemulihan. Meski masih ada rasa nyeri di mata, Melodi tidak pernah berhenti tersenyum dan terus berdoa mengucapkan syukur. Di sisi lain, Rumini bercerita kalau dirinya tidak berani meminta izin orang tuanya untuk menemani Melodi karena takut dimarahi. Jadi Rumini diam-diam keluar dari rumah untuk menemani Melodi dan bermalam di rumah sakit.

Diesokkan harinya, pada saat pemeriksaan paska operasi. Melodi dapat melihat dengan jelas semua yang ada di hadapannya. Meski tidak diperbolehkan untuk menangis, air mata terus mengalir dan membasahi pipinya. Melodi serasa mendapatkan berkah yang luar biasa dari Tuhan. “Melodi, kamu harus memaafkan semua orang yang pernah menyakitimu agar jalanmu dibuka dan diberkati Tuhan. Sekarang dirimu diberikan kesempatan untuk melihat adalah hadiah dari Tuhan jadi nantinya kamu harus dapat berbagi kasih kepada sesama,” ujar relawan kepadanya.

Sebelum pulang, relawan kembali menjelaskan bagaimana meneteskan obat mata dan mengganti perban serta menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan agar nantinya hasil operasinya akan lebih maksimal. Rumini pun berjanji akan menjaga Melodi selama 2 bulan karena selama itulah kondisi matanya harus dijaga. Dengan sabar Rumini menuntun Melodi untuk meninggalkan rumah sakit. Sebelumnya, Melodi juga berkata bahwa dirinya bertekad akan terus bertahan dan menjadi orang yang mandiri dengan berdagang kecil-kecilan

Dengan melihat kasus ini, dapat disadari bahwa apa yang dikatakan Master Cheng Yen adalah benar, setelah melihat penderitaan barulah menyadari keberkahan. Relawan-relawan pun berbagi cerita kalau mereka menyadari betapa beruntungnya dapat tinggal di daerah yang semuanya dapat diperoleh dengan mudah serta memiliki tubuh yang sehat. Dengan berkegiatan Tzu Chi, bukan saja kita mempraktikkan kewelasasihan tetapi setelah kita melakukannya sendiri barulah kita menyadari sesuatu keberkahan, inilah yang Master Cheng Yen katakan, kebijaksanan.

  
 

Artikel Terkait

Rumah Nenek Siti yang Penuh Cinta Kasih

Rumah Nenek Siti yang Penuh Cinta Kasih

14 Agustus 2018
Pada 10 Mei 2018 lalu, Tzu Ching bersama relawan serta aparat dari Angkatan Darat ikut merobohkan rumah Nenek Siti yang tidak layak huni. Sejak saat itulah proses pembangunan rumah nenek berusia 80 tahun tersebut dimulai. Tiga bulan berselang, pada 12 Agustus 2018 kesabaran mereka diganjar dengan sebuah bangunan rumah yang berdiri kokoh dan siap huni.
Suara Kasih: Menginspirasi Lebih Banyak Bodhisatwa

Suara Kasih: Menginspirasi Lebih Banyak Bodhisatwa

03 Desember 2012 Pada saat yang bersamaan, kita juga mengadakan acara Pemberkahan Akhir Tahun. Usai acara Pemberkahan Akhir Tahun, kita akan menyambut tahun yang baru. Waktu berlalu dengan sangat cepat. Seiring berlalunya waktu satu hari, usia kehidupan kita juga berkurang satu hari.
Tabah Dalam Menerima Bencana

Tabah Dalam Menerima Bencana

12 Juni 2015 Atas bencana yang menimpa warga Kedoya, beberapa relawan Yayasan Budha Tzu Chi yang tergabung dalam tim tanggap darurat melakukan survei ke lokasi kebakaran pada hari Jumat, 29 Mei 2015
Meski sebutir tetesan air nampak tidak berarti, lambat laun akan memenuhi tempat penampungan besar.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -