Niat dari Hati

Jurnalis : Hadi Pranoto, Fotografer : Hadi Pranoto
 
foto

* Relawan Tzu Chi mengucapkan rasa syukur atas partisipasi warga Pademangan Barat, Jakarta Utara yang telah rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk disumbangkan melalui celengan bambu Tzu Chi.

“Berdana bukanlah hak orang kaya saja, tetapi merupakan perwujudan dari sebuah cinta kasih yang tulus.”
(Master Cheng Yen)

“Tahun berapa Tzu Chi didirikan?” tanya Suriadi kepada warga Pademangan Barat, Jakarta Utara. “Tahun 1967,” sahut salah seorang warga. Suriadi pun merajuk, “Ya salah, berarti kemarin waktu sosialisasi, kenalannya nggak benar-benar dong?” Jawaban pun kembali muncul bersahut-sahutan, namun belum ada yang benar. “Sudah hampir benar,” jawab Suriadi ketika warga menyebut tahun yang sudah mendekati jawaban. Tiba-tiba, dari ujung kiri belakang, seorang ibu menyahut dengan lantang, “Tahun 1966.” Wajah Suriadi dan para relawan Tzu Chi pun mendadak cerah. “Betul!” seru Suriadi setengah berteriak. Suvenir dari Tzu Chi pun berpindah tangan ke tangan Liliana, warga RT 15/12 No. 13 Pademangan Barat itu.

Celengan Bambu, Wujud Sebuah Syukur
Liliana merupakan salah satu dari 80 lebih warga Pademangan Barat yang menerima bantuan program Bebenah Kampung. Siang itu, Minggu 26 April 2009, warga bermaksud menyerahkan celengan bambu yang telah penuh terisi kepada Tzu Chi. Ini merupakan sebuah wujud rasa syukur warga atas berkah yang mereka terima, sekaligus merasa terpanggil untuk turut berbuat kebajikan membantu sesama. “Saya jadi terbuka gitu loh, tadinya saya pikir harus punya dana besar untuk bantu orang. Tapi begitu tahu Tzu Chi, ternyata nggak perlu dana besar untuk bantu orang, dana kecil pun bisa untuk bantu orang lain,” ungkap Liliana atau yang akrab dipanggil Lili ini. Sementara Usmiatri, salah seorang ketua Posyandu yang juga menjadi penerima bantuan program Bebenah Kampung mengungkapkan, “Ini bentuk sumbangsih saya supaya orang-orang yang kesusahan seperti saya, bisa juga merasakan kenikmatan yang saya dapat.”

foto  foto

Ket : - Suriadi, salah seorang relawan Tzu Chi saat berinteraksi dengan warga. Kedekatan ini menjadikan relawan
           Tzu Chi dan warga menjadi lebih semakin dekat. (kiri)
         - Lebih dari 80 orang warga Kelurahan Pademangan Barat, Jakarta Utara yang menerima bantuan
           Bebenah Kampung, kini telah menjadi donatur dengan menabung dalam celengan bambu Tzu Chi. (kanan)

Meski awalnya program Bebenah Kampung ini sempat didera isu tak sedap, warga tetap yakin bahwa Yayasan Buddha Tzu Chi membantu mereka tanpa pamrih, tanpa embel-embel apapun, termasuk penyebaran agama. “Awalnya memang ada tetangga yang ngomong kayak gitu, buktinya sampai sekarang saya masih di agama saya (Islam –red). Kalaupun rumah saya dibedah, saya nggak akan pindah agama,” kata Lili mengenang saat-saat rumahnya akan diperbaiki Tzu Chi. Lucunya, sang tetangga tersebut akhirnya juga mendapat bantuan. “Sekarang dia merasakan sendiri, kalau Tzu Chi itu memang nggak mandang agama, dan tulus membantu,” tambah ibu 3 anak ini bersemangat.

Pademangan Barat “Berahmat”
Menurut Ustad Agus Yatim, salah seorang tokoh masyarakat yang juga turut menggalakkan program celengan bambu Tzu Chi di Pademangan Barat, program celengan bambu ini sangat baik dilakukan karena dapat memupuk rasa solidaritas dan persaudaraan di antara sesama. “Celengan (bambu) yang kita kasih ini adalah untuk saudara-saudara kita,” ujarnya. Ustad Agus sendiri, kini sudah resmi bergabung bergabung menjadi relawan dan memakai seragam relawan Tzu Chi. “Saya menjadi relawan (Tzu Chi) bukan karena rumah saya dibedah, tapi karena memang sudah terpanggil, dan Insya Allah menjadi ladang amal,” tegasnya. Menurut Ustad Agus, mengutip salah satu surat dalam Alquran, “Barangsiapa yang menanam kebaikan, maka kebaikan itu untuk dirinya. Dan barangsiapa yang menanam keburukan, sesungguhnya keburukan itu untuk dirinya sendiri.”

foto  foto

Ket : - Agar semakin memahami budaya humanis Tzu Chi, relawan memperagakan bahasa isyarat tangan
           "Satu Keluarga" kepada warga Pademangan Barat. (kiri)
         - Senyum kebahagiaan tampak di wajah warga yang menerima celengan bambunya kembali. Warga dengan
           tulus memberikan sumbangsihnya dan berniat mengisi kembali untuk diserahkan kepada Tzu Chi
           beberapa bulan mendatang. (kanan)

Selain menggalakkan program celengan bambu, Ustad Agus Yatim juga sedang menjalankan program “Rumah Kompos” di wilayah Pademangan Barat yang didukung oleh Tzu Chi. Jadi, dengan rumah yang lebih layak, lingkungan yang lebih sejuk dan sehat, diharapkan kehidupan warga menjadi lebih baik. Terlebih Rumah Kompos ini dapat memberi tambahan penghasilan bagi warga.

Harapan yang sama juga disampaikan Lurah Pademangan Barat Purnomo, “Semoga cita-cita kita menjadikan wilayah Pademangan “Berahmat” akan menjadi kenyataan.” Berahmat sendiri memiliki arti: “Bersih, Tertib, Ramah, Hijau, Madani, dan Religius”. “Jika di tempat ini banyak energi kebaikan, maka energi kejahatan akan jauh dari tempat itu,” kata Ustad Agus menyakinkan warga.

 

Artikel Terkait

Setiap Orang Memiliki Hati Buddha

Setiap Orang Memiliki Hati Buddha

06 Juni 2011
Minggu, 22 Mei 2011, relawan berkumpul di Jing Si Books & Cafe Pluit untuk melakukan kunjungan kasih ke rumah Rosmiati, seorang pasien penderita penumpukan cairan di otak yang mendapatkan bantuan pengobatan dari yayasan Buddha Tzu Chi. 
Suara Kasih: Menginspirasi Sesama

Suara Kasih: Menginspirasi Sesama

12 April 2012
Sesungguhnya, jika kita selalu berbagi tentang Tzu Chi saat bertemu dengan orang lain, maka berarti kita memiliki Tzu Chi di dalam hati. Jika kita selalu bersedia berpartisipasi dalam kegiatan Tzu Chi, maka pasti akan ada orang yang terinspirasi.
Kebersamaan Membuahkan Kebahagiaan

Kebersamaan Membuahkan Kebahagiaan

01 Juli 2016
Sabtu tanggal 18 Juni 2016, relawan Tzu Chi He Qi Barat membagikan kupon sembako kepada 2.146 KK di RW 03 dan RW 04 Kelurahan Kamal, Kampung Belakang, Dadap, Jakarta Barat. Untuk membagikan kupon secara langsung, relawan berjalan menuju lokasi-lokasi yang sulit dilalui oleh kendaraan, mereka berjalan kaki melewati daerah-daerah yang rawan banjir.
Jangan menganggap remeh diri sendiri, karena setiap orang memiliki potensi yang tidak terhingga.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -