Sebanyak 100 penyelam Sutra menjalani latihan dari pertengahan November 2025.
“Rasanya seperti ada batu besar yang diturunkan, hati terasa lega tanpa beban,” ungkap Makado, salah satu penyelam Sutra dalam Pemberkahan Akhir Tahun 2025 yang digelar di Aula Jing Si Batam, 1 Februari 2026.
Perasaan serupa dirasakan oleh sekitar 100 penyelam Sutra yang telah menjalani latihan sejak pertengahan November 2025. Isyarat tangan tahun ini disusun selaras dengan tema Pemberkahan Akhir Tahun 2025, “Jangan lupakan tekad awal masa celengan bambu, selamanya mengingat ikrar agung silsilah dan Mazhab Tzu Chi.” Tema tersebut ditampilkan melalui tiga bagian Sutra Makna Tanpa Batas yang dipadukan dengan lagu Asteroid Tzu Chi.
“Tahun ini kami merayakan 60 tahun Tzu Chi, sehingga melalui isyarat tangan ini kami ingin menyampaikan satu niat awal yang terus kita jaga dan pertahankan,” jelas Sulastri, koordinator isyarat tangan Pemberkahan Akhir Tahun 2025.
Sulastri (kiri), Koordinator Isyarat Tangan Pemberkahan, berharap dapat menyalurkan semangat Tzu Chi kepada para peserta.
Aula Jing Si Batam menjadi saksi bisu besarnya curahan waktu dan kesungguhan hati para penyelam Sutra demi menghadirkan penampilan terbaik di hadapan lebih dari seribu hadirin. Makado, yang berprofesi sebagai guru Mandarin, bahkan rela menyesuaikan jadwal les murid-muridnya agar tidak berbenturan dengan jadwal latihan isyarat tangan setiap Selasa dan Kamis malam.
Mimpi yang Akhirnya Terkabul
Lebih dari dua puluh tahun lalu, Makado melihat kegiatan relawan Yayasan Buddha Tzu Chi melalui sebuah media. Aksi nyata para relawan yang bersumbangsih di tengah masyarakat membuatnya terharu. Dalam hati, ia bergumam suatu hari nanti saya pasti akan bergabung menjadi relawan. Namun saat itu, Makado tinggal di daerah pedesaan yang belum memiliki kantor Tzu Chi.
Makado mengubah jadwal les murid-muridnya agar dapat mengikuti latihan isyarat tangan.
Tahun lalu, Makado pindah ke Batam. “Saya merasa kesempatan itu akhirnya datang. Setelah pindah ke sini, saya terus mencari tahu bagaimana cara bergabung dengan Tzu Chi. Kebetulan saat peringatan HUT RI ada kegiatan Tzu Chi, jadi saya datang untuk mengenal lebih dalam,” tuturnya.
“Setelah menunggu lebih dari 20 tahun, akhirnya mimpi ini terwujud,” ucapnya bahagia, mengenang momen pertama kali mengikuti sosialisasi relawan baru pada 31 Agustus 2025. Namun, pengalaman bergabung dengan Tzu Chi ternyata jauh melampaui bayangannya. “Saya kira Tzu Chi hanya sebatas yayasan sosial untuk membantu orang lain. Setelah terjun langsung, saya menyadari bahwa ini juga merupakan ladang pelatihan diri, tempat kita melatih cinta kasih dan menumbuhkan hati Buddha,” tutur Makado.
Setiap kali terlibat dalam kegiatan dan bertemu penerima bantuan, Makado justru merasa dirinya adalah orang yang paling beruntung. “Orang yang bisa membantu dan orang yang membutuhkan bantuan, siapa yang lebih bahagia? Tentu kita yang mampu membantu, karena kebutuhan kita tercukupi. Saat melihat orang sakit dan menderita, saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk bersyukur. Perasaan ini yang mendorong saya untuk terus melangkah,” tambahnya.
Relawan tengah latihan untuk membawakan lagu Asteroid Tzu Chi.
Sejak bergabung sebagai relawan, Makado aktif mengikuti berbagai kegiatan Tzu Chi. Ketika diminta bergabung dalam tim isyarat tangan, ia pun langsung menyanggupi. “Saya senang mencoba hal baru. Semua kegiatan Tzu Chi membuat saya tertarik untuk terlibat,” ujarnya antusias.
Bagi Makado, isyarat tangan yang memadukan Sutra dan lagu Tzu Chi membantunya lebih berkonsentrasi dan merasakan ketenangan batin selama latihan. “Saya merasa kerja sama selama dua bulan ini tidak sia-sia. Semua dilakukan dengan penuh ketulusan,” ungkapnya.
Kesungguhan Hati Tim Isyarat Tangan
Seiring langkah Tzu Chi Batam dalam memantapkan misi pendidikan melalui pembangunan Tzu Chi School, pementasan isyarat tangan ini juga memiliki makna yang erat dengan misi tersebut. “Pada lagu terakhir, kami mengajak siswa siswi kelas budi pekerti Tzu Shao untuk turut tampil sebagai simbol anak-anak didikan kelas budi pekerti kita,” tambah Sulastri.
Jadwal latihan pun disesuaikan dengan kebutuhan peserta dewasa dan anak-anak. “Anak-anak tidak bisa keluar di malam hari, sehingga kami mengadakan latihan khusus bagi Tzu Shao pada hari Minggu,” jelasnya.
Pembabarkan dharma lewat isyarat tangan merupakan tanggung jawab besar sehingga para penyelam menyikapinya dengan serius. Tidak heran setelah pementasan selesai, relawan merasa seakan batu yang telah dipikul selama 2 bulan ini akhirnya dapat dilepas.
Tidak hanya berfokus pada gerakan, Sulastri juga memastikan setiap peserta memahami makna Sutra yang diperagakan. “Dalam setiap latihan, kami menyediakan waktu sekitar setengah jam untuk menyosialisasikan makna lagu. Rahmat Shxiong menjelaskan isi lagu, kutipan Sutra yang digunakan, serta maknanya,” paparnya.
“Ini supaya peserta bisa tahu, memahami apa yang mereka peragakan. Jadi mereka bukan cuma menghafal gerakan, tetapi benar-benar bisa memahami dan menyelami Sutra,” lanjut Sulastri.
Ia berharap, melalui pementasan isyarat tangan ini, para hadirin dapat semakin mengenal Yayasan Buddha Tzu Chi serta memahami makna Sutra yang dipelajari, sekaligus mendapatkan dukungan masyarakat bagi pembangunan Tzu Chi School Batam.
Editor: Metta Wulandari