Pemberkahan Akhir Tahun 2025 menghadirkan sharing tanggap darurat bencana Sumatera yang dibawakan oleh empat relawan Tzu Chi Medan, yakni Lukman Chairuddin, Steel Edwin, Sylvia Chuwardi, dan Shu Tjheng (dari kanan ke kiri), yang membagikan pengalaman mereka dalam menyalurkan bantuan bagi warga terdampak bencana banjir di Sumatera.
Sebanyak 2.332 relawan, donatur, dan staf badan misi Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia mengikuti Pemberkahan Akhir Tahun 2025 yang digelar pada Sabtu, 31 Januari 2025, di Aula Jing Si, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Mengusung tema “Jangan Lupakan Tekad Awal Masa Celengan Bambu – Selamanya Mengingat Ikrar Agung Silsilah dan Mazhab Tzu Chi”, kegiatan ini menjadi momentum refleksi dan rasa syukur atas perjalanan praktik cinta kasih sepanjang tahun.
Pada momen ini, peserta juga diajak untuk kembali mengingat tekad awal dan semangat Tzu Chi yang tumbuh dari welas asih sederhana, yakni berawal dari donasi 5 sen melalui celengan bambu, sebagai fondasi komitmen yang dijaga secara konsisten di jalan kebajikan. Dari nilai-nilai yang terus diingat dan dirawat inilah, langkah-langkah nyata para relawan bermula. Semangat untuk tidak melupakan tekad awal kemudian tercermin dalam berbagai perjalanan kemanusiaan yang dijalani sepanjang tahun.
Pada kesempatan ini, para peserta diajak menyimak beragam sharing yang menghadirkan kembali kisah-kisah di lapangan, sebagai pengingat bahwa welas asih selalu menemukan jalinan jodohnya. Salah satunya adalah sharing tanggap darurat bencana Sumatera yang dibawakan oleh empat relawan Tzu Chi Medan: Lukman, Steel Edwin, Shu Tjheng, dan Sylvia Chuwardi yang membagikan pengalaman mereka dalam menyalurkan bantuan bagi warga terdampak di Sumatera.
Aksi Tanggap Darurat Tak Kenal Kata Terbatas
Lukman menuturkan bahwa sejak awal kondisi darurat, relawan Tzu Chi Medan langsung bergerak cepat dengan koordinasi yang terus disesuaikan di lapangan. Di tengah banjir besar yang melumpuhkan hampir seluruh Kota Medan, bahkan merendam rumah para relawan sendiri, semangat untuk melayani tidak surut.
“Banjir kali ini bukan banjir biasa. Tapi di tengah keterbatasan, relawan tetap memilih untuk bergerak dan melayani,” ungkapnya.
Dukungan masyarakat yang mengalir deras, baik dalam bentuk barang maupun dana, menjadi penguat langkah relawan untuk terus bekerja siang dan malam demi memastikan bantuan menjangkau warga yang paling membutuhkan. Dari titik inilah, bantuan darurat itu berlanjut menembus batas wilayah dan medan yang jauh lebih berat.
Lukman Chairuddin, menyampaikan gambaran awal kondisi darurat bencana banjir di Sumatera serta langkah cepat relawan Tzu Chi Medan dalam melakukan koordinasi dan penyaluran bantuan di tengah keterbatasan akses dan medan yang berat.
Steel Edwin membagikan pengalaman saat melakukan survei lapangan dan menempuh perjalanan berisiko menuju wilayah terdampak, termasuk tantangan medan ekstrem, jalur terputus, dan longsor yang dihadapi relawan di lapangan.
Steel Edwin pun merasakan langsung beratnya bencana ketika turun ke lapangan. Padahal awalnya dia sempat menganggap banjir ini seperti banjir yang sudah-sudah. “Oh, paling ya segitu aja, masih okelah,” pikirnya. Tapi perjalanan menuju wilayah terdampak yang bukan hanya jauh, tetapi juga penuh risiko akibat jalur terputus, longsor, dan medan ekstrem, membuatnya sadar bahwa ini bencana berbeda. “Kondisi lapangan, ternyata sangat parah.”
Ketika menjalankan survei lokasi untuk rencana pembangunan 2.000 rumah (Aceh dan Sumatera Utara), tantangan itu semakin terasa nyata. Walau awalnya terdengar ringan, namun kenyataan di lapangan sama sekali tidak mudah.
“Untuk mencapai Sibolga, kami harus melewati Tapanuli dan memutar cukup jauh karena banyak jalur yang terputus. Saya sempat berpikir perjalanan ini akan gampang, ternyata tidak. Sepanjang jalan, kami melihat langsung jalan yang putus akibat longsor, jalan yang patah, bahkan sungai-sungai yang menurut warga dulunya kecil, kini berubah menjadi sangat besar,” tuturnya, “jalan yang kami lalui juga harus dilewati bergantian dengan proses perbaikan. Di satu sisi gunung, di sisi lain jurang, kondisi licin, dan mobil harus pelan-pelan. Itu benar-benar membuat perjalanan terasa menakutkan.”
Namun satu momen membekas ketika mereka tersesat dan bertanya pada warga, ternyata warga tersebut mengenali kedatangan mereka sebagai relawan Tzu Chi yang akan membangun rumah.
“Di situ saya benar-benar tersentuh. Ternyata nama Tzu Chi sudah sampai ke sana, bahkan sebelum bantuan itu tiba,” katanya.
Pengalaman tersebut meneguhkan keyakinannya bahwa niat tulus mampu membuka jalan, bahkan di tengah keterbatasan akses dan kondisi alam yang tak bersahabat. Namun di balik perjalanan yang penuh risiko itu, masih ada kenyataan yang jauh lebih getir menanti di lokasi bencana.
Berusaha Kuat Menahan Tangis
Kenyataan pahit itu disaksikan langsung oleh Shu Tjeng, yang menggambarkan bencana banjir yang melanda Sumatera sebagai dampak ketika empat unsur alam tidak lagi selaras.
Shu Tjeng bercerita, ia sejak awal banjir sudah turun langsung ke lapangan, khususnya di Aceh, bahkan terus mencari celah bagaimana relawan bisa masuk ke daerah yang terisolir sekalipun. Hingga mereka memutuskan melakukan perjalanan laut.
Shu Tjheng menceritakan upaya relawan menembus daerah yang terisolasi, termasuk perjalanan melalui jalur laut, serta kondisi warga yang bertahan hidup tanpa bantuan, listrik, dan air bersih selama berhari-hari.
Di daerah bencana itu, selama lima hari warga terisolasi tanpa bantuan, tidak ada listrik, tidak ada air bersih, tidak ada sinyal, dan tidak ada jalan masuk. Warga terpaksa bertahan hidup, berusaha semampu mereka dengan sisa beras yang sudah bercampur lumpur.
“Ada berita tentang masyarakat yang menjarah. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah warga mengambil sembako yang sudah tertimbun lumpur selama lima hari. Ini bukan tentang penjarahan, ini adalah jeritan orang lapar,” tegas Shu Tjeng miris mengingat apa yang terjadi.
Shu Tjeng juga melanjutkan, “Selama mereka makan beras bercampur lumpur itu, kami di Medan terus berusaha mencari jalan masuk. Sampai tanggal 1 Desember, belum ada kabar jalur darat bisa dilewati. Baru kemudian diketahui ada jalur pengungsian lewat laut, dari Selat Malaka. Kemudian di Kuala Simpang, wilayah yang tiga tahun lalu juga pernah kita bantu, relawan di sana pun sudah sangat pasrah. Mereka setempat mengirim pesan: ‘Tolong antarkan air minum, di sini sudah tidak ada air minum lagi.’”
Perasaan Shu Tjeng saat itu begitu berat. Beberapa malam ia bahkan sulit untuk beristirahat. Namun akhirnya, ketika lokasi bencana mulai dapat dijangkau dan jalur dinilai cukup aman, keberangkatan pun dilakukan dengan satu niat, menolong sesama. Dengan niat tersebut, jalur laut ditempuh sambil membawa bantuan berupa air minum, yang menjadi kebutuhan paling utama, serta makanan instan seperti biskuit dan roti.
Pada tanggal 3 Desember 2025, perjalanan dilakukan dari Medan menuju Pangkalan Susu, kemudian dilanjutkan dengan menyeberang menggunakan kapal. Perjalanan tersebut diakui memiliki risiko, sehingga pelampung digunakan demi keselamatan. Dengan semangat membantu sesama, selama jalur masih dapat dilalui, upaya tetap dijalankan.
“Kondisinya seperti tsunami Aceh. Jalan-jalan penuh lumpur, rumah-rumah tertutup lumpur, mobil-mobil bertumpuk dan saling menimpa. Kami mulai mengantarkan bantuan dari titik ke titik, dalam kondisi malam yang gelap gulita tanpa listrik. Ada warga yang berkata, ‘Bapak penyelamat kami.’ Tapi secara refleks saya menjawab, ‘Bukan saya. Master Cheng Yen yang membantu bapak ibu semua’. Tanpa Master Cheng Yen, tanpa Tzu Chi, kami tidak bisa membawa apa pun ke sana,” tutur Shu Tjeng haru.
Demi mempercepat proses distribusi bantuan dan memulihkan warga, relawan membangun dapur umum hingga pengerahan alat berat dan penyaluran air bersih, ia melihat bagaimana kepedulian sesama mampu mengubah keputusasaan menjadi harapan. Namun setelah kebutuhan paling mendasar terpenuhi, tantangan berikutnya justru muncul dalam sunyi: luka, penyakit, dan trauma yang tertinggal.
Memulihkan Masyarakat Lewat Kesehatan dan Pembangunan Hunian Tetap
Di tahap inilah peran tim medis yang dijalankan melalui bakti sosial kesehatan menjadi krusial. Sylvia Chuwardi menjelaskan seiring akses jalan menuju Kuala Simpang, Aceh Tamiang, yang mulai lancar, relawan langsung mengajak tim medis dan relawan komunitas Medan untuk turut membantu dan menjadi pemerhati korban bencana. Pasalnya, minimnya air bersih dan tumpukan lumpur memicu merebaknya penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan, serta trauma psikologis, terutama pada anak-anak.
Sylvia Chuwardi menjelaskan peran bakti sosial kesehatan dalam fase pemulihan pascabencana, termasuk penanganan penyakit akibat lumpur dan minimnya air bersih, serta pendampingan bagi warga yang mengalami trauma.
Dalam kegiatan bakti sosial kesehatan ini, mereka tidak hanya berupaya memulihkan kesehatan fisik warga, tetapi juga memberikan perhatian kepada mereka yang mengalami trauma maupun sedang berduka. “Kami tidak hanya merawat tubuh mereka, tapi juga berusaha merawat hati yang sedang terluka,” ujarnya. Dalam dua bulan, ribuan pasien terlayani dan hal ini diharapkan bisa memulihkan kondisi masyarakat.
Bantuan jangka panjang pun langsung dilakukan oleh Tzu Chi berupa pembangunan 1.000 unit hunian tetap di Aceh, 1.000 unit hunian tetap di Sumatera Utara, dan 500 unit hunian tetap di Padang, Sumatera Barat. Pembangunan rumah ini direncanakan akan terealisasi pada bulan Mei 2026 mendatang.
Untuk melihat bagaimana besarnya bencana di Sumatera, ini adalah perkiraan data statistik dimana berdasarkan pembaruan data per 31 Januari 2026, bencana di wilayah Sumatera telah berdampak luas pada 52 kabupaten/kota. Jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 1.204 jiwa, sementara 140 jiwa dinyatakan hilang dan sekitar 4.900 jiwa mengalami luka-luka.
Dari sisi kerusakan infrastruktur, tercatat 264.105 unit rumah mengalami kerusakan, dengan rincian 53.396 rumah rusak berat, 59.132 rumah rusak sedang, dan 151.577 rumah rusak ringan. Selain itu, kerusakan juga terjadi pada berbagai fasilitas publik, meliputi sekitar 4.200 fasilitas umum, 200 fasilitas kesehatan, dan 3.200 fasilitas pendidikan.
Dampak bencana turut merusak 813 rumah ibadah, 288 gedung atau kantor, serta 734 jembatan, yang berakibat pada terganggunya akses dan aktivitas masyarakat. Besarnya skala kerusakan ini menyebabkan ribuan warga terpaksa mengungsi, terutama di wilayah-wilayah terdampak berat seperti Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Tapanuli Selatan.
Buah dari Kepercayaan
Seluruh rangkaian tanggap darurat yang dijalankan di Sumatera, dari menembus medan terisolasi, mendirikan dapur umum, layanan kesehatan, hingga rencana pembangunan hunian tetap, menjadi cerminan nyata dari tekad awal yang terus diingat dan dijalani. Di tengah keterbatasan, relawan tetap bergerak dengan satu keyakinan bahwa welas asih harus hadir tepat di saat paling dibutuhkan. Semangat inilah yang sejak awal tumbuh dari celengan bambu, dan menjelma menjadi aksi kemanusiaan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Sesi sharing ditutup dengan kisah para relawan Tzu Chi Medan bersama Ketua dan Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang datang langsung ke Taiwan untuk melaporkan rangkaian kegiatan tanggap darurat serta berbagai upaya kemanusiaan yang telah dilakukan bagi warga terdampak bencana banjir di Sumatera.
Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei, menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat dan para donatur menjadi kekuatan utama yang memungkinkan seluruh proses tanggap darurat tersebut berjalan dengan cepat dan tepat sasaran.
“Kali ini, saya sangat berterima kasih kepada para donatur, baik perorangan maupun organisasi, yang bersedia menyumbangkan dana kepada Tzu Chi karena mereka percaya bahwa Tzu Chi dapat menyalurkan bantuan secara langsung di lokasi bencana. Kepercayaan seperti ini membuat kita sangat terharu. Ini juga merupakan hasil usaha kita yang sehari-hari selama puluhan tahun sehingga masyarakat Indonesia percaya kepada kita. Ini adalah buah dari usaha para shixiong dan shijie sepanjang perjalanan ini,” ungkap Liu Su Mei.
Liu Su Mei menambahkan, apa yang terjadi di lapangan hari ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari tekad yang dijaga secara konsisten. Dari donasi lima sen dalam celengan bambu hingga kehadiran relawan di tengah bencana besar, ikrar agung Tzu Chi terus dihidupkan melalui aksi nyata, menjadikan tanggap darurat bukan hanya respons sesaat, melainkan bagian dari jalan panjang dari praktik cinta kasih yang tidak melupakan tekad awal.
Program Renovasi RTLH Masih Terus Berjalan
Di luar bantuan tanggap darurat bencana Sumatera, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia juga masih terus fokus menjalankan program Bebenah Kampung Renovasi 5.020 Rumah Tak Layak Huni di berbagai wilayah di Indonesia. Andre, Kepala Departemen External Relation Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menyampaikan bahwa program Bedah Kampung 5.020 Unit Rumah Tzu Chi ini merupakan solusi menyeluruh untuk mengatasi persoalan masyarakat dari akarnya, mencakup kesehatan, sosial, ekonomi, lingkungan, dan keluarga. Sejak tahun 2006, Tzu Chi telah merenovasi dan membangun 1.472 unit rumah, serta lebih dari 6.000 unit rumah pasca bencana, sehingga membawa kebahagiaan bagi sekitar 7.000 keluarga.

Andre (kiri) dan Teksan Luis (kanan) menegaskan bahwa Program Bedah Kampung 5.020 Rumah Tidak Layak Huni yang dilakukan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bukan sekadar membangun rumah, melainkan membangun kehidupan melalui solusi menyeluruh yang melibatkan gotong royong relawan dan dukungan donatur demi hunian layak bagi masyarakat.
Ia juga menyoroti terobosan Tzu Chi pada tahun 2024 sebagai organisasi kemanusiaan pertama yang berhasil menjalankan konsolidasi tanah vertikal melalui pembangunan mini apartemen di kawasan padat penduduk. Pada tahun 2025, Tzu Chi berkomitmen mendukung program nasional 3 juta rumah dengan perbaikan 5.000 rumah tidak layak huni di 7 provinsi dan 13 kabupaten/kota, bekerja sama dengan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Program ini didukung oleh 1.536 relawan yang terlibat dalam survei, pembangunan, dan pendampingan, dengan hampir 2.500 rumah telah disurvei. Harapannya, beberapa wilayah seperti DKI Jakarta, Tangerang, Bandung, dan Banyumas dapat menyelesaikan pembangunan sebelum Lebaran sebagai “kado” bagi para penerima manfaat.
Teksan Luis, Koordinator Program Bebenah Kampung Tzu Chi Indonesia menegaskan bahwa bedah kampung bukan sekadar membangun rumah, melainkan membangun kehidupan. Hingga saat ini, ratusan rumah telah selesai dan ribuan lainnya dalam proses di berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Bekasi, Tangerang, Banyumas, Surabaya, Depok, Cirebon, Bogor, Palembang, hingga Medan, berkat gotong royong relawan dan dukungan para donatur.
“Bedah kampung bukan hanya membangun rumahnya, tetapi kita juga membangun kehidupan mereka. Semua orang punya hak untuk tinggal di rumah yang lebih layak. Satu rumah bagaikan cahaya kecil seperti kunang-kunang; ketika bersatu, mampu menerangi dan membawa perdamaian,” ungkap Teksan.
Editor: Arimami Suryo A.