Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 1 bersama warga Rusun Cinta Kasih tampak bersemangat memilah botol plastik untuk didaur ulang.
Tumbuh dari hal sederhana, berdiri tempat yang menyimpan harapan besar untuk masa depan bumi. Bukan sekadar lokasi mengumpulkan sampah, Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi juga berkembang menjadi ruang belajar bagi warga Rusun Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng.
Sejak 1 Januari 2004, program pelestarian lingkungan Tzu Chi di Indonesia dimulai di sebuah depo yang dibangun di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta Barat. Tempat tersebut digunakan oleh relawan untuk menampung sampah daur ulang.
Pada Jumat, 26 Juni 2026, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 1 bersama warga Rusun Cinta Kasih kembali melakukan kepedulian dengan aksi nyata sederhana yang penuh ketulusan.
Setiap hari, depo menerima sumbangsih sampah yang dihasilkan dari masyarakat sekitar juga relawan Tzu Chi. Selain menerima donasi sampah, depo juga memberikan edukasi daur ulang sampah kepada masyarakat sekitar lewat pengenalan jenis-jenis sampah yang dapat di daur ulang.
Dengan penuh ketelitian, Nuraini, salah satu relawan Tzu Chi, melakukan proses pemotongan pakaian sebagai bagian dari upaya pemanfaatan kembali pakaian tak layak.
Teti Tambun (tengah), bersama relawan Tzu Chi dan salah satu ibu pendamping pasien rumah singgah melakukan kegiatan daur ulang.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam keseharian mereka, sehingga masyarakat menjadi lebih sadar akan pelestarian lingkungan juga dapat mengurangi sampah dan melindungi bumi dengan cinta kasih.
Lisawati, warga rusun yang menjadi koordinator depo, juga mengungkapkan rasa semangatnya untuk memajukan depo dengan melakukan edukasi kepada warga sekitar rusun, “Bersyukur kami mendapatkan berkah dan bisa berbuat baik. Para warga yang berdonasi sampah, kemudian lanjut kami olah agar bisa dijual dan hasilnya digunakan membantu orang yang membutuhkan,” ujar Lisawati.
Bagi sebagian orang, barang-barang tersebut mungkin hanyalah sampah yang tidak lagi memiliki nilai. Namun, di Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi, setiap sampah yang terkumpul dipandang sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan.
Tak hanya sebagai lokasi mengumpulkan botol plastik, kertas bekas, atau kardus yang sudah tak terpakai, depo pelestarian lingkungan ini juga menerima pakaian dengan kondisi layak pakai ataupun tidak layak pakai.
Botol plastik yang sudah didaur ulang, kemudian dimasukkan ke dalam mesin untuk dipadatkan agar tidak memakan banyak tempat saat proses pengepakan sebelum dikirim kepada pembeli.
Salah satu relawan Tzu Chi, Nuraini, mengungkapkan rasa bahagianya bisa bergabung di depo pelestarian lingkungan selama 22 tahun, selain bisa berkarya dalam memotong pakaian bekas, ia juga bisa membantu banyak orang.
“Harapannya agar masyarakat lebih banyak lagi yang datang bersumbangsih lewat barang yang sudah tidak terpakai, daripada dibiarkan menumpuk di rumah lebih baik didonasikan agar menjadi berkah, juga manfaat bagi mereka yang membutuhkan,” ujarnya.
Selain itu, depo pelestarian lingkungan juga menjadi tempat bertemunya para relawan Tzu Chi yang bersemangat bertemu banyak orang dengan tujuan yang sama.
Melalui kegiatan semangat daur ulang, kepedulian relawan terus tumbuh melalui kerja sama yang sederhana namun penuh makna. Mereka bergotong royong memilah dan mengumpulkan sampah yang masih memiliki nilai guna.
Lebih dari sekadar aktivitas mengelola sampah, daur ulang menjadi jembatan yang menghubungkan kepedulian terhadap alam juga kepedulian terhadap sesama.
Hal tersebut dirasakan oleh Teti Tambun, salah satu pendamping pasien rumah singgah yang berasal dari Biak, Papua. Dengan semangat antusiasmenya, ia mengikuti kegiatan daur ulang sampah bersama relawan Tzu Chi dan para ibu pendamping pasien rumah singgah lainnya.
Relawan Tzu Chi, Honi (Kanan) dan Yuli (Kiri) mendampingi Marcello yang tampak antusias bermain bersama di rumah singgah Rusun Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng.
Sejak Februari 2026, Marcello (6), anak dari Teti, didiagnosis mengalami kelainan pada katup pembuluh darah oleh dokter. Ia mendapatkan dukungan bantuan pengobatan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, selama proses pengobatan yang panjang, saat ini sudah hampir tiga bulan mereka tinggal di rumah singgah yaitu Rusun Cinta Kasih Tzu Chi.
“Rasanya senang, melakukan kegiatan bermanfaat ini bisa bertemu banyak orang, lewat langkah kecil bisa melakukan untuk menolong sesama,” ucap Teti.
Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi bukan sekadar tempat untuk mengelola sampah, tetapi juga menjadi ruang yang menumbuhkan harapan. Di tempat ini, setiap tindakan memiliki makna dan setiap kepedulian dapat menjadi berkah. Ketika bisa merawat lingkungan dengan penuh kesadaran, alam akan memberikan manfaat yang dapat dirasakan oleh banyak generasi di masa depan.
Editor: Fikhri Fathoni