Erlys (kedua dari kiri, mengenakan masker), relawan Komite Tzu Chi Medan, turut bersumbangsih dalam kegiatan verifikasi dan pengundian hunian tetap bagi warga terdampak banjir di Kantor Bupati Aceh Tamiang, Sabtu, 26 September 2026. Perjalanan dari Medan menuju Aceh Tamiang tidak menyurutkan semangatnya untuk membantu dengan tulus.
Senyum haru dan rasa syukur terpancar dari wajah warga korban banjir di Kantor Bupati Aceh Tamiang, Sabtu, 26 September 2026. Hari itu, relawan Tzu Chi Medan dan Aceh Tamiang melakukan verifikasi sekaligus pengundian nomor rumah bagi calon penghuni 312 unit rumah tahap kedua di Perumahan Tzu Chi Tanjung Seumantoh, Kabupaten Aceh Tamiang.
Bagi warga terdampak bencana, kegiatan ini bukan sekadar proses administratif. Di balik verifikasi dan pengundian nomor rumah, tersimpan harapan untuk kembali memiliki tempat tinggal yang layak sekaligus menata kehidupan setelah bencana banjir bandang yang melanda pada November 2025.
Elvi, koordinator relawan Tzu Chi Medan, menjelaskan bahwa para relawan memiliki tugas masing-masing, mulai dari pendaftaran calon penghuni, pengisian data, wawancara, hingga pengundian nomor rumah.
“Semoga para calon penerima unit rumah tidak risau lagi dan mereka mempunyai kemudahan untuk beraktivitas normal kembali seperti bekerja, sekolah, serta beribadah,” ungkap Elvi.
Toeng Tjin Lie, relawan Tzu Chi Medan, melayani calon penerima bantuan hunian tetap di pos pendaftaran dalam kegiatan verifikasi dan pengundian 312 unit hunian tetap tahap kedua di Kantor Bupati Aceh Tamiang, Sabtu, 26 September 2026.
Salah satu calon penerima hunian tetap mengambil nomor undian blok rumah yang akan ditempatinya dalam kegiatan verifikasi dan pengundian 312 unit hunian tetap tahap kedua di Kantor Bupati Aceh Tamiang, Sabtu, 26 September 2026. Rumah-rumah tersebut dibangun di kawasan Perumahan Tzu Chi Tanjung Seumantoh, Kabupaten Aceh Tamiang.
Erlys, salah satu relawan Tzu Chi, turut merasakan kebahagiaan para calon penerima rumah. Jarak perjalanan dari Medan menuju Aceh Tamiang tidak menyurutkan langkahnya untuk hadir dan membantu dengan tulus. Ia berharap rumah baru tersebut dapat menjadi tempat yang layak bagi para penerima untuk menjalani kehidupan bersama keluarga.
Erlys juga mendoakan agar aktivitas para penerima rumah kembali berjalan lancar dan anak-anak mereka dapat tumbuh sehat serta nyaman di rumah yang baru.
Empat Hari Tanpa Air Bersih
Di antara calon penerima rumah, Elida Nababan (58) kembali mengingat pengalaman pahit saat banjir bandang menerjang pada November 2025. Rumahnya hanyut, sementara harta benda yang dimiliki turut terbawa derasnya arus.
Dengan mata berkaca-kaca, Elida mengenang masa-masa sulit yang harus dilaluinya bersama keluarga.
“Sedih! Empat hari empat malam tidak minum karena tidak ada lagi air bersih, yang ada hanyalah lumpur. Makan pun dari beras yang terendam air lumpur,” tutur ibu lima anak tersebut.
Elida Nababan (58) tampak terharu dan bahagia setelah mengikuti proses verifikasi dan pengundian hunian tetap di Kantor Bupati Aceh Tamiang, Sabtu, 26 September 2026. Setelah merasakan langsung dampak banjir bandang November 2025, bantuan rumah dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia semakin menguatkan niatnya untuk bersumbangsih sebagai relawan.
Setelah kehilangan rumah, Elida dan keluarganya harus tinggal di rumah kontrakan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia membuka warung kecil. Namun, di tengah kesulitan tersebut, sebuah keinginan lama justru menemukan jalannya.
“Saya sudah lama berniat untuk bergabung menjadi relawan Tzu Chi sebelum bencana banjir ini dan baru terwujud pada bulan Januari 2026. Dari bencana banjir, saya semakin menyadari bahwa kehidupan ini tidak kekal dan bekal yang dibawa mati adalah amal kebaikan yang kita lakukan,” ujarnya.
Kini, Elida tidak hanya menjadi salah satu penerima manfaat pembangunan hunian tetap, tetapi juga telah menjadi bagian dari barisan relawan yang membantu sesama.
“Setelah bergabung menjadi relawan, bisa menolong sesama, ada rasa kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” katanya.
Bagi Elida, pengalaman sebagai korban bencana membuatnya memahami arti berbagi dengan lebih dalam. Kehilangan yang pernah dialaminya justru menjadi jalan untuk mengenal arti kebersamaan dan menolong orang lain.
Rumah untuk Menata Kembali Kehidupan
Rasa haru juga dirasakan Syamsuddin Said (78). Sebagai salah satu korban banjir bandang, ia merasa bersyukur mendapatkan bantuan hunian tetap dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
“Saya merasa terharu atas tindakan dari Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah memberikan bantuan hunian tetap kepada kami sebagai korban bencana banjir. Sungguh sebuah perbuatan yang mulia,” ungkap Syamsuddin.
Baginya, rumah baru bukan hanya bangunan untuk berlindung, tetapi juga kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan dengan lebih tenang. Ia pun mengapresiasi adanya aturan bahwa rumah tersebut tidak boleh dialihkan kepada orang lain.
“Rumah hunian yang baru ini tidak boleh dialihkan kepada yang lain. Ini adalah aturan yang baik sehingga kami benar-benar merasakan manfaatnya. Ke depannya, saya tetap berharap tindakan baik ini masih berlanjut,” tuturnya.
Relawan Tzu Chi Medan dan relawan Aceh Tamiang berfoto bersama seusai kegiatan verifikasi dan pengundian 312 unit hunian tetap tahap kedua di Kantor Bupati Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu, 26 September 2026.
Syamsuddin kemudian menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan para relawan yang telah hadir membantu warga terdampak bencana.
“Terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah membantu. Para relawan diberikan umur yang panjang dan murah rezeki.”
Verifikasi dan pengundian nomor rumah pada tahap kedua ini menjadi salah satu langkah penting dalam proses pembangunan hunian tetap di Tanjung Seumantoh. Bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir, nomor rumah yang mereka terima hari itu bukan sekadar angka. Di dalamnya tersimpan harapan untuk membuka lembaran baru bersama keluarga, kembali bekerja, menyekolahkan anak, beribadah, dan menjalani kehidupan dengan lebih tenang.
Dari pengalaman pahit kehilangan rumah, perlahan tumbuh keyakinan bahwa kehidupan dapat kembali ditata. Rumah baru menjadi tempat untuk memulai kembali, sementara semangat saling membantu menjadi penguat langkah menuju hari-hari yang lebih baik.
Editor: Anand Yahya