Hunian tetap di Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, telah siap dihuni oleh warga yang terdampak banjir dan tanah longsor. Rumah-rumah ini dibangun sebagai tempat tinggal yang lebih aman bagi warga setelah kehilangan tempat tinggal akibat bencana.
Luka akibat bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatera Utara pada akhir tahun lalu perlahan mulai terobati. Senyum haru dan rasa syukur terpancar dari wajah ratusan warga Kabupaten Tapanuli Selatan saat mengikuti prosesi verifikasi dan pengundian nomor rumah untuk Hunian Tetap (Huntap) yang berlangsung di Kantor Kecamatan Batang Toru pada Kamis, 12 Maret 2026.
Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan, Camat Batang Toru Mara Tinggi, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan (Asisten III), jajaran Muspida Tapanuli Selatan, Ustad Wahno, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara Mujianto, serta para relawan. Walaupun harus menempuh jarak yang jauh, hal ini tidak mengurangi semangat relawan dalam membantu proses verifikasi ini. Ada 19 relawan yang ikut kegiatan ini, terdiri dari 14 relawan Medan dan 5 relawan Jakarta.
Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan, turut menyaksikan proses verifikasi data dan pengundian nomor rumah bagi warga penerima hunian tetap yang berlangsung di Kantor Camat Batang Toru.
Sejak pagi hari, warga sudah berkumpul di Kantor Camat Batang Toru untuk mengambil nomor antrean sebelum mengikuti proses verifikasi data dan pengundian rumah, dengan pendampingan dari para relawan.
Memegang teguh prinsip bahwa keterlambatan bantuan akan menambah penderitaan masyarakat, Yayasan Buddha Tzu Chi bersama Kementerian PKP dan pemerintah bergerak cepat membangun hunian tetap. Salah satunya berada di Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, yang terdiri dari 227 unit rumah. Hunian ini berdiri di lahan PTPN IV Kebun Hapesong, yang dipilih sebagai lokasi relokasi karena dinilai aman dan jauh dari zona rawan longsor.
Pada tahap pertama ini, sebanyak 71 unit rumah telah rampung dan siap diserahterimakan kepada warga. Sementara sisanya akan terus diselesaikan secara bertahap hingga seluruh keluarga terdampak dapat menempati hunian yang layak dan aman.
Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, mengapresiasi langkah cepat ini. “Terima kasih atas gotong royong luar biasa dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Target kami, per tanggal 15 nanti, tidak ada lagi warga yang tinggal di pengungsian. Semua sudah mendapatkan tempat yang layak,” ungkapnya.
Di Kantor Camat Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, para relawan melakukan proses verifikasi dengan mencocokkan data warga penerima hunian tetap sebelum pengundian nomor rumah dilaksanakan.
Huntap tipe 36 yang dibangun di atas lahan 8 x 12 meter ini bukan sekadar deretan rumah. Kawasan ini telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum, mulai dari masjid, taman, sistem drainase yang baik, hingga jaringan listrik dan air bersih.
Mujianto, Ketua Tzu Chi Sumut, pun turur menyampaikan rasa syukurnya atas tercapainya target pembangunan ini. “Perjuangan selama dua bulan bolak-balik Sumatera Utara–Sumatera Barat akhirnya membuahkan hasil. Tujuan utama kami adalah agar warga bisa merayakan Idul Fitri di rumah baru. Melihat mereka senang, kami pun merasa sangat puas,” tutur Mujianto.
Kisah Haru di Balik Dinding Baru
Bagi Adanan Lubis (69), rumah baru ini adalah akhir dari trauma panjang. Setelah puluhan tahun tinggal di kawasan rawan bencana, ia kerap tidak bisa tidur tenang setiap kali hujan deras turun.
“Kalau di rumah lama, air lumpur masuk sampai satu meter. Sekarang, insya Allah di sini aman. Saya bisa lebaran dengan tenang bersama keluarga,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Rosmawaty tampak terharu ketika menerima nomor undian rumah. “Akhirnya saya bisa kembali memiliki tempat tinggal dan tidak perlu menumpang lagi,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia mendapatkan nomor hunian tetap di Blok A3. Ia kemudian berfoto bersama anaknya sebagai momen syukur atas rumah baru yang akan mereka tempati.
Rasa serupa dialami Rosmawaty Marpaung (66). Rumah yang ia tinggali selama 50 tahun di Desa Pesanggrahan Baru hilang total disapu banjir setinggi 10 meter hingga lahannya berubah menjadi aliran sungai.
“Saya sangat terharu ada yang peduli pada kami yang sudah tua ini. Saya akan merawat rumah ini dengan baik,” ucapnya lirih saat mengikuti lagu isyarat tangan “Satu Keluarga” bersama para relawan.
Mujianto, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara, memberikan perhatian kepada warga yang sedang mengantre untuk melakukan verifikasi data sebelum proses pengundian hunian tetap.
Harapan baru kini telah tegak berdiri di Tapanuli Selatan, membawa berkah menjelang bulan suci Ramadan dan hari kemenangan, di mana warga tidak lagi dihantui rasa takut akan banjir, melainkan kenyamanan dalam rumah yang aman. Sebanyak 71 keluarga kini mulai menempati hunian baru mereka, sementara pembangunan rumah lainnya terus dilanjutkan secara bertahap hingga seluruh 227 unit hunian tetap dapat diserahterimakan kepada warga terdampak.
Editor: Metta Wulandari