Para siswa menyambut dan memberi hormat kepada Mahaguru Agung Sakya, His Holiness Kyabgon Gongma Sakya Trichen Rinpoche ke-41 (tampak di layar), dalam kegiatan “Indonesia for Peace & Prosperity” di NICE PIK 2.
Indonesia kembali mencatatkan momen bersejarah dalam perjalanan spiritual dan kebudayaannya. Melalui kegiatan bertajuk “Indonesia for Peace & Prosperity”, tiga Mahaguru Agung Sakya: His Holiness Kyabgon Gongma Sakya Trichen Rinpoche ke-41, His Holiness Sakya Trizin ke-42 Ratna Vajra Rinpoche, dan His Holiness Sakya Trizin ke-43 Gyana Vajra Rinpoche, hadir secara bersamaan untuk pertama kalinya di Indonesia, membawa pesan perdamaian, kebijaksanaan, dan kesejahteraan bagi umat serta masyarakat luas.
Acara istimewa ini diselenggarakan pada Minggu, 25 Januari 2026, bertempat di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Kehadiran langsung dari para pemimpin tertinggi Sakya lineage menjadikan kegiatan ini sebagai momentum penting, tidak hanya bagi umat Buddha, tetapi juga bagi masyarakat lintas latar belakang yang mendambakan harmoni dan kedamaian dunia.
Menariknya, rangkaian acara tidak hanya diisi dengan sesi spiritual dan kebijaksanaan, tetapi juga diperkaya dengan pertunjukan seni yang sarat makna. Salah satu yang menjadi sorotan adalah penampilan Tabuh Genderang yang dibawakan oleh 50 murid Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng.
Dengan penuh semangat dan kekompakan, para murid mempersembahkan tabuhan genderang sebagai simbol keteguhan hati, kebersamaan, dan harapan akan masa depan yang harmonis di hadapan 5 ribu peserta yang hadir di “Indonesia for Peace & Prosperity”. Di balik dentuman genderang yang ritmis, tersimpan nilai pendidikan karakter tentang disiplin, kerja sama, dan keberanian yang ditanamkan sejak dini kepada para siswa.
Penampilan tabuh genderang dibawakan dengan khidmat oleh 50 murid Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng.
Jerrico Windlis (depan, ketiga dari kanan), siswa kelas 11 SMK Cinta Kasih, merasa bangga dan terhormat mendapat kesempatan menjadi tim genderang dan tampil di hadapan Mahaguru Agung Sakya.
Galih Yoga Purnama S.Si, Guru Olahraga SMK Cinta Kasih sekaligus pengajar tim genderang, menjelaskan bahwa penampilan genderang merupakan persembahan yang dipersiapkan dengan penuh kesungguhan. “Penampilan genderang ini sebenarnya adalah persembahan kepada Buddha. Sehingga kami betul-betul mempersiapkannya dengan sangat maksimal. Latihan pun kami ambil dari sela-sela waktu belajar siswa, biasanya di jam terakhir sekolah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tabuh genderang yang ditampilkan tidak sekadar pertunjukan seni, karena penampilan genderang juga membawa nilai dan semangat kebersamaan. “Ini adalah semangat dan antusiasme, rasa memiliki, keyakinan, dan keharmonisan. Tabuh genderang juga bisa ditujukan untuk perdamaian, kerukunan umat, dan saling mengeratkan satu sama lain. Ditambah lagi, siswa kami pun tidak semuanya beragama Buddha, tetapi mereka saling toleran dan saling mendukung,” ungkapnya.
Kebanggaan juga dirasakan oleh Galih karena penampilan ini menjadi pengalaman pertama bagi para siswa menyambut tokoh dunia. “Ini kebanggaan bagi kami. Kami membawa nama Tzu Chi, sekaligus membawa nama Indonesia di hadapan masyarakat internasional yang hadir, tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari Malaysia, Singapura, dan negara lainnya,” tutur Galih. Ia pun mengaku terharu melihat hasil latihan intensif selama ini. “Awalnya anak-anak deg-degan, tapi mereka tampil luar biasa.”
Penampilan tabuh genderang menjadi simbol penghormatan, kebersamaan, sekaligus doa bagi perdamaian dunia.
Hal senada disampaikan Kristian Mulyaningtyas, Guru Seni SMP Cinta Kasih. Ia merasa bangga dapat memberikan pengalaman berharga di luar kegiatan belajar di kelas. “Ternyata mereka hebat, bisa konsisten. Diajak latihan setiap hari pun mau, dan itu secara tidak langsung melatih kedisiplinan mereka,” katanya.
Menurut Kristian, tantangan terbesar selama persiapan adalah pengaturan waktu latihan yang sempat berbenturan dengan agenda sekolah lain serta kondisi cuaca. Meski demikian, semangat siswa tidak surut.
“Sebetulnya kami awal memilih tim penampil genderang ini dari tinggi badan, agar seragam. Lalu baru menawarkan kepada mereka apakah bersedia untuk masuk dalam tim, ya istilahnya berdasarkan kesiapan dan kesediaan mereka. Ternyata dari kesediaan mereka, benar-benar muncul komitmen dari dalam diri sendiri. Sehingga walaupun dengan latihan setiap hari, mereka tetap menunjukkan semangat luar biasa dan hasilnya betul-betul maksimal,” ujarnya.
Dari sisi siswa, pengalaman tampil dalam acara besar ini meninggalkan kesan mendalam. Vivian Felicia Weslee, siswi kelas 9 SMP Cinta Kasih, mengungkapkan rasa bahagianya. “Senang dan bahagia banget. Walaupun hari libur, kami tetap produktif. Deg-degan di awal, tapi lega saat tampil dan melihat apresiasi penonton,” katanya. Ia menilai latihan genderang mengajarkan makna kebersamaan dan kekompakan. “Yang paling sulit itu menyamakan ritme. Kami fokus latihan dan evaluasi dari video supaya bisa tampil kompak.”
Sementara itu, Jerrico Windlis, siswa kelas 11 SMK Cinta Kasih, menyebut keterlibatannya dalam penampilan ini sebagai sebuah kehormatan. “Ini event yang sangat langka. His Holiness berkunjung ke Indonesia dan kami bisa turut menyambut dengan memainkan genderang. Rasanya bangga,” ujarnya. Meski sempat merasa tertekan tampil di hadapan ribuan penonton, ia belajar mengendalikan diri dan tetap fokus. “Dari genderang, kami belajar percaya diri, kekompakan, dan mengendalikan diri. Tidak bisa asal memukul, semua harus selaras.”
Kristian Mulyaningtyas (berbatik, tengah), Guru Seni SMP Cinta Kasih, berfoto bersama para siswa usai penampilan. Tampak pula Vivian Felicia Weslee (depan, kiri bawah). Wajah mereka memancarkan perasaan lega sekaligus bangga.
Keterlibatan anak-anak dalam acara berskala internasional ini menjadi pesan kuat bahwa benih perdamaian dapat ditanamkan sejak usia sekolah, dan generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan dunia.
Melalui “Indonesia for Peace & Prosperity”, semangat kebersamaan lintas generasi, lintas budaya, dan lintas keyakinan, diharapkan mampu merajut Indonesia dan dunia yang lebih damai dan sejahtera.
Editor: Arimami Suryo A