Perayaan Waisak yang Khidmat Bersama Oma dan Opa

Jurnalis : Sisilia (Tzu Chi Medan), Fotografer : Amir Tan, Kamin (Tzu Chi Medan)

Relawan Tzu Chi bersama oma dan opa warga panti jompo, berdoa memanjatkan tiga ikrar dengan melantunkan lagu Cheng Xin Qi San Yuan (Memanjatkan Tiga Ikrar Dengan Hati Tulus).

Dalam rangka memperingati Hari Raya Waisak 2026, relawan Tzu Chi Medan komunitas Hu Ai Mandala mengadakan perayaan Waisak di Panti Jompo Nelly Huang pada Kamis, 14 Mei 2026. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh kehangatan dan sukacita bersama 82 oma dan opa warga panti jompo, 16 pengurus panti, serta 24 relawan Tzu Chi. Kehadiran para relawan dan pengurus panti memberikan suasana penuh perhatian dan kebersamaan dalam semangat Waisak.

“Kegiatan ini bertujuan mengajak oma dan opa memperingati Hari Waisak bersama sekaligus menjalin jodoh baik dengan mereka. Relawan berbagi kebahagiaan, memberikan perhatian dan pendampingan secara langsung kepada oma dan opa. Momen ini menjadi bentuk nyata kepedulian sosial dan cinta kasih tanpa membedakan latar belakang dan status,” kata Melinda, relawan Tzu Chi selaku koordinator kegiatan.

Sebelum kegiatan dimulai, meja prosesi dan rupang Buddha mulai dipersiapkan serta disusun berbaris dengan rapi. Tidak ketinggalan pelita, air, dan bunga yang merupakan wujud balas budi kepada Buddha, orang tua dan semua makhluk. Pelita sebagai penghormatan kepada Buddha dan mengingatkan kita pada pancaran sinar kebijaksanaan yang menghalau kegelapan dan ketidaktahuan dalam diri manusia. Air melambangkan kesucian, kemurnian dan ketenangan yang mendorong kita dalam melatih tindakan, ucapan dan pikiran untuk memperoleh kebijaksanaan. Bunga sebagai pengingat akan ketidakkekalan segala sesuatu termasuk hidup kita sendiri sehingga kita dapat menghargai setiap momen dalam hidup kita dan tidak terikat padanya.

Oma dan opa yang tidak leluasa berjalan ataupun bergerak menjalani prosesi Waisak di dalam kamar dengan dibantu relawan Tzu Chi.

Pemilik panti jompo, Nelly Huang (kiri), menjalani prosesi Jie Hua Xiang (menerima harumnya bunga) dengan dipandu relawan Tzu Chi.

Para relawan memandu oma dan opa mengikuti prosesi Waisak, yaitu Li Fo Zu (kedua tangan menyentuh air dan bersujud di kaki Buddha), bermakna bersyukur atas budi luhur Buddha, membangkitkan rasa hormat yang paling tulus, refleksi diri pada kesalahan masa lalu, menaklukkan kesombangan dan noda batin.

Lalu diikuti Zi Cheng Fa Yuan (dengan hati tulus berikrar di hadapan Buddha). Selanjutnya adalah Jie Hua Xiang (menerima harumnya bunga), bermakna tulus menerima keharuman ajaran Buddha. Untuk yang terakhir adalah Zhu Fu Ji Xiang (semoga selalu dipenuhi berkah), yaitu bertekad untuk mengembangkan cinta kasih, welas asih, sukacita, keseimbangan bathin dan mewujudkannya secara nyata.

Para relawan hadir tidak hanya untuk menemani sast pemandian rupang Buddha, tetapi juga memberikan perhatian secara langsung kepada para oma dan opa, yakni mengajak berbincang ringan, menyuapi makanan dan minuman, serta mendampingi selama berlangsungnya kegiatan.

Oma dan opa yang tidak leluasa berjalan dan bergerak menjalani prosesi Waisak di dalam kamar dengan dibantu relawan. Suasana haru pun terasa ketika beberapa oma dan opa terlihat menangis karena merasa sangat diperhatikan dan ditemani dengan tulus. Momen para relawan menyuapi makanan kepada oma dan opa juga menjadi pengalaman menyentuh yang mengingatkan mereka kepada orang tua sendiri. Kegiatan ini menjadi wujud nyata semangat cinta kasih dan welas asih dalam perayaan Waisak.

Para relawan memberikan perhatian dan pendampingan secara langsung kepada para oma dan opa, yaitu mengajak berbincang ringan, menyuapi makanan dan minuman, serta mendampingi selama berlangsungnya perayaan Waisak.

Nelly Huang, pemilik panti jompo, merasa bersyukur dan terharu melihat oma opa penghuni panti mengikuti acara Waisak dengan sukacita. “Saya juga berharap semoga mereka bisa buat acara untuk orang-orang tua panti jompo, supaya bisa merasa bahagia dan senang,” ungkapnya.

Juliana (63), warga panti jompo, merasa terharu dengan perhatian yang diberikan oleh relawan Tzu Chi. “Saya sangat berterima kasih kepada relawan Tzu Chi yang penuh perhatian dan cinta kasih. Saya juga bersyukur atas bantuan dan kehadiran relawan Tzu Chi. Saya doakan semua kegiatan yang diadakan Tzu Chi berjalan dengan baik,” ungkap Juliana.

Memberikan perhatian dan pendampingan kepada oma dan opa di panti jompo merupakan salah satu bentuk bakti kepada orang tua. “Seperti yang dikatakan Master Cheng Yen, berbakti sebenarnya adalah ajaran utama Tzu Chi. Oleh karena itu, gunakanlah waktu sebaik mungkin sewaktu orang tua masih ada. Saat orang tua telah tiada, ungkapan dan kata-kata apapun tidak ada gunanya lagi,” jelas Hui Nie, relawan Tzu Chi.

Relawan Tzu Chi selaku koordinator kegiatan, Melinda, merasa bersukacita mendapat kesempatan untuk melakukan kebajikan kepada orang tua dan menciptakan berkah baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Melalui kegiatan ini, para relawan tidak hanya hadir untuk memberikan perhatian dan pendampingan kepadaoma dan opa di panti jompo, tetapi juga belajar memaknai kebajikan sebagai jalan untuk menumbuhkan cinta kasih dan kebahagiaan bersama. Rasa syukur itu turut dirasakan oleh Melinda, relawan Tzu Chi selaku koordinator kegiatan.

“Saya sangat bersukacita mendapat kesempatan untuk melakukan kebajikan kepada orang tua dan menciptakan berkah baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Semoga kegiatan ini dapat terus menumbuhkan nilai kemanusiaan, cinta kasih universal, serta membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi semua makhluk,” tutur Melinda.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Waisak Tzu Chi 2018: Rasa Syukur dan Ketulusan Berdoa yang Memancarkan Keagungan

Waisak Tzu Chi 2018: Rasa Syukur dan Ketulusan Berdoa yang Memancarkan Keagungan

14 Mei 2018
Doa jutaan insan Tzu Chi Pekanbaru dilaksanakan di Gedung SKA Co Ex (Convention & Exibixion Centre) yang dihadiri sekitar 1.000 orang.
Waisak 2025: Kebersamaan Penuh Makna dalam Perayaan Waisak Tzu Chi

Waisak 2025: Kebersamaan Penuh Makna dalam Perayaan Waisak Tzu Chi

11 Mei 2025
Di balik khidmatnya prosesi Waisak dan megahnya formasi, tersembunyi cerita-cerita sederhana akan sukacita perayaan Waisak bersama Tzu Chi. Semua menyuarakan satu semangat: berbagi dan bersatu dalam kasih tanpa pamrih.
Waisak Tzu Chi 2018: Memberikan Persembahan Pada Buddha (Bag. 1)

Waisak Tzu Chi 2018: Memberikan Persembahan Pada Buddha (Bag. 1)

15 Mei 2018
Di tahun 2018, ada dua sesi perayaan Waisak di Tzu Chi di Aula Jing Si, Jakarta (13/5/18). Setiap sesinya ada 120 orang relawan pembawa persembahan berupa air, pelita (lilin), dan bunga. Dokter Anthony Pratama yang berkeyakinan berbeda tidak segan untuk menjadi salah satu relawan pembawa persembahan.
Gunakanlah waktu dengan baik, karena ia terus berlalu tanpa kita sadari.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -