Jembatan Cinta Kasih Aek Poring diresmikan penggunaannya oleh masyarakat Siantar Naipospos. Jembatan ini dibangun dengan panjang 60 meter yang menghubungkan akses warga dari Lobu Haminjon menuju Siantar Naipospos. Jembatan ini membuka kembali akses warga untuk beraktivitas, mengantarkan anak ke sekolah.
Selama bertahun-tahun, sebuah jembatan menjadi bagian penting dalam keseharian masyarakat Desa Siantar Naipospos, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Jembatan ini menjadi akses warga dari Lobu Haminjon menuju Siantar Naipospos untuk bekerja di ladang, membawa hasil panen, hingga menjalani berbagai aktivitas sehari-hari.
Namun, pada akhir November 2025, banjir yang melanda wilayah Sumatera Utara membuat jembatan tersebut putus dan hanyut terbawa arus. Akses yang selama ini memudahkan mobilitas warga pun terhenti.
Setelah jembatan tidak lagi dapat digunakan, warga harus menempuh jalan memutar dari Dusun Limus menuju Lobu Haminjon, atau sebaliknya. Perjalanan yang sebelumnya dapat dilakukan dengan lebih mudah kini membutuhkan waktu lebih lama dan menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat.
Mujianto, Ketua Tzu Chi Sumatera Utara, bersama Jonius TP Hutabarat, Bupati Tapanuli Utara, meresmikan penggunaan Jembatan Cinta Kasih Aek Poring yang hanyut terbawa banjir bandang pada November 2025 lalu.
Bagi warga yang menggantungkan kehidupan dari hasil pertanian dan perkebunan, kondisi ini tentu sangat berpengaruh. Akses menuju ladang menjadi lebih jauh. Begitu pula ketika mereka harus membawa hasil panen, seperti kacang dan getah kemenyan.
Tidak hanya aktivitas ekonomi yang terdampak. Anak-anak juga terpaksa tidak masuk sekolah apabila hujan deras membuat arus sungai semakin kuat dan berbahaya untuk diseberangi.
“Banyak dari masyarakat ini memang menggantungkan hidupnya pada pertanian atau perkebunan. Jadi, pascabencana kemarin (November 2025), jembatan ini roboh dan hanyut. Masyarakat terpaksa memutar kampung atau menyeberang secara langsung, dan ini berbahaya. Bahkan terkadang anak sekolah, kalau sudah turun hujan, terpaksa libur daripada membahayakan diri sendiri,” ungkap Jonius TP Hutabarat, Bupati Tapanuli Utara.
Jonius TP Hutabarat, Bupati Tapanuli Utara, mencoba berjalan menyeberangi sungai di atas Jembatan Cinta Kasih Aek Poring bersama dengan Mujianto, Ketua Tzu Chi Sumatera Utara, setelah menggunting pita.
Melihat pentingnya akses tersebut bagi kehidupan masyarakat, Yayasan Buddha Tzu Chi Medan hadir untuk membantu membangun kembali Jembatan Cinta Kasih Aek Poring. Pembangunan jembatan gantung sepanjang 60 meter ini dimulai pada Maret 2026. Pada 12 September 2026, Jembatan Cinta Kasih Aek Poring akhirnya diresmikan dan kembali dapat digunakan oleh masyarakat, termasuk untuk dilalui sepeda motor.
Pembangunan kembali jembatan ini bukan sekadar menghubungkan dua wilayah yang sempat terpisah. Lebih dari itu, jembatan ini membuka kembali akses warga untuk bekerja, beraktivitas, mengantarkan anak ke sekolah, hingga memenuhi kebutuhan keluarga.
Peresmian Jembatan Cinta Kasih Aek Poring dihadiri oleh ratusan masyarakat dari berbagai dusun di Desa Siantar Naipospos. Kehadiran mereka menjadi bentuk rasa syukur atas kembali terbukanya akses yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Steel Edwin, Ketua Tzu Chi Medan, bersama relawan lainnya berfoto bersama dengan anak-anak yang datang untuk menyaksikan acara peresmian Jembatan Cinta Kasih Aek Poring.
Steel Edwin, Ketua Tzu Chi Medan, mengaku bersyukur kehadiran Jembatan Cinta Kasih Aek Poring disambut baik oleh masyarakat Siantar Naipospos.
“Kita berharap jembatan ini bisa menunjang kembali roda ekonomi masyarakat di desa ini. Jembatan ini tidak hanya menjadi penyambung cinta kasih kita (relawan Tzu Chi Medan) kepada masyarakat di sini, tetapi juga menjadi harapan relawan agar nantinya masyarakat dapat merawat jembatan ini agar akses menuju desa lainnya menjadi lebih mudah,” harap Steel Edwin.
Bagi masyarakat Siantar Naipospos, jembatan yang kembali berdiri ini membawa lebih dari sekadar kemudahan untuk menyeberangi sungai. Setelah kehilangan akses akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor pada November 2025, kini jalan menuju ladang dan sumber penghidupan kembali terbuka.
Jembatan Cinta Kasih Aek Poring pun menjadi wujud kepedulian Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia terhadap masyarakat yang terdampak bencana. Di atas jembatan sepanjang 60 meter ini, harapan warga kembali tersambung—menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya, sekaligus membuka kembali jalan bagi mereka untuk melanjutkan kehidupan.
Editor: Anand Yahya