Para relawan yang menjadi peserta pelatihan langsung melakukan pendaftaran dengan tertib dan penuh semangat, menandai langkah awal dalam mengikuti Pelatihan Relawan Abu Putih.
Setelah beberapa hari Jakarta diguyur hujan deras yang menyebabkan banjir di sejumlah wilayah, pagi itu langit tampak kembali cerah. Seolah menyambut langkah para relawan yang berkumpul untuk mengikuti Pelatihan Relawan Abu Putih 1, pada Minggu, 25 Januari 2026 di Fu Hui Ting Lantai 2, Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara.
Tuti, relawan Tzu Chi yang menjadi koordinator pelatihan, menyampaikan bahwa pelatihan kali ini terasa sangat istimewa. “Pelatihan kali ini sangat istimewa, tidak hanya diikuti oleh relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 1 saja, tetapi kegiatan ini juga dihadiri relawan dari He Qi Jakarta Pusat, He Qi Jakarta Utara 3, serta perwakilan dari Badan Misi Tzu Chi,” ungkap Tuti.
Kehadiran lintas komunitas relawan menghadirkan kesan kebersamaan yang begitu kuat. Sebanyak 103 relawan berkumpul memenuhi lantai 2 Tzu Chi Center, membawa semangat yang sama yaitu ‘melangkah bersama di jalan kebajikan’.
Tuti (kiri), relawan Tzu Chi yang menjadi koordinator pelatihan dan Tjhai Ha (kanan) yang bertugas di bagian pendaftaran, memastikan seluruh proses administrasi berjalan dengan tertib dan lancar.
Sejak pagi, para relawan tampak antusias. Mereka langsung menuju meja pendaftaran. Bagi relawan baru yang belum memiliki seragam dan atribut, panitia telah menyiapkan stan penjualan. Setelah itu, peserta diarahkan untuk sesi foto pembuatan nametag. Sementara relawan yang telah lengkap berseragam diarahkan ke area istirahat untuk pembagian kelompok sambil menunggu peserta lainnya. Tepat pukul 10.00 WIB, didampingi mentor masing-masing kelompok, para peserta berbaris rapi sebelum memasuki Ruang Fu Hui Ting.
Dalam salah satu sesi, muncul pertanyaan yang kerap terdengar, mengapa dalam setiap kegiatan Tzu Chi relawan diwajibkan mengenakan seragam? Lalu dijawab oleh Surya, relawan Tzu Chi, ia menjelaskan bahwa seragam bukan semata tentang kerapian dan keindahan, melainkan simbol kesetaraan. Dalam lingkungan Tzu Chi tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, tidak ada perbedaan, dan semua adalah satu keluarga.

Salah satu keindahan dan keselarasan yang ditampilkan melalui penampilan isyarat tangan, mencerminkan kebersamaan dan keharmonisan dalam setiap langkah relawan.
Lasmi, relawan Tzu Chi yang menjadi wakil koordinator pelatihan, memberikan arahan dengan penuh ketulusan kepada para peserta.
Pelatihan kali ini mengusung tema ‘Perjalanan Ribuan Mil Dimulai dari Langkah Pertama’. Tema ini digagas oleh relawan Linda dan Lasmi, dengan harapan para relawan baru yang telah mengikuti sosialisasi Tzu Chi dan minimal tiga kali, dapat menapaki langkah awal mereka melalui Pelatihan Abu Putih 1. Pelatihan ini juga menjadi pijakan awal bagi relawan yang mengemban tanggung jawab dalam struktur kepengurusan periode baru.
Pesan utama dari pelatihan ini sederhana namun mendalam, ‘tanpa keberanian untuk melangkah, kita akan terus berada di tempat yang sama’. Dengan ketulusan hati, setiap relawan diajak untuk berani mengambil langkah pertama demi mencapai tujuan yang lebih bermakna.
Kegiatan dibuka oleh relawan Yuni sebagai pembawa acara, dilanjutkan dengan rangkaian materi yang disampaikan secara runtut dan penuh perhatian oleh para relawan, mulai dari kisah awal berdirinya Tzu Chi disampaikan oleh Christine, materi Misi Amal Tzu Chi disampaikan oleh Lily, materi Tata Krama Tzu Chi disampaikan oleh Maggie, hingga pengenalan wilayah dan proses menjadi relawan Komite Tzu Chi disampaikan oleh Surya. Beberapa relawan tampak tekun mencatat, menyerap setiap nilai yang disampaikan.
Amat, relawan Tzu Chi yang menjadi peserta pelatihan, berbagi kisah tentang dirinya yang bergabung menjadi relawan karena membaca buku karya Master Cheng Yen.
Peserta pelatihan berasal dari beragam latar belakang ada dari ibu rumah tangga, karyawan, pengusaha, dokter, perawat, pekerja media, pendidik, serta terdapat beberapa influencer yang turut bergabung. Keberagaman ini justru memperkaya dinamika pelatihan dan menghadirkan warna yang saling melengkapi.
Dalam sesi sharing, Amat, salah satu peserta yang merupkan seorang pengusaha, membagikan kisah awal perjalanannya mengenal Tzu Chi. “Setelah membaca buku karya Master Cheng Yen, hati saya tersentuh oleh cinta kasih universal yang ditujukan kepada seluruh makhluk dan dunia. Dari sanalah tumbuh keinginan untuk mencari buku-buku Master lainnya, hingga akhirnya menguatkan tekad saya untuk ikut bersumbangsih menebar cinta kasih,” ungkap Amat.
Langkah pertamanya dimulai dengan mengikuti perayaan Waisak 2024 di Tzu Chi Center PIK. Sejak saat itu, ia memantapkan diri bergabung sebagai relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 1. Di tengah kesibukannya, ia berusaha membagi waktu untuk tetap terlibat dalam kegiatan Tzu Chi, karena merasakan perubahan positif dalam dirinya dan terus berupaya menjadi pribadi yang lebih baik agar dapat memberi teladan bagi lingkungan sekitar.
Muara Mula, relawan Tzu Chi yang menjadi peserta pelatihan, sangat terkesan oleh materi yang disampaikan oleh Surya mengenai prinsip 4 in 1.
Sharing berikutnya disampaikan oleh Muara Mula, relawan Tzu Chi dari He Qi Jakarta Pusat. Ia mengungkapkan bahwa selama mengikuti pelatihan di komunitas He Qi Jakarta Barat 1, dirinya benar-benar merasakan suasana kekeluargaan tanpa sekat wilayah. Materi yang disampaikan terasa mudah dipahami, dengan pemaparan filosofi yang menarik.
Salah satu materi yang paling berkesan bagi Muara Mula adalah tentang prinsip 4 in 1 yang disampaikan oleh Surya, di mana seorang relawan dapat berperan sebagai He Xin, namun dalam kegiatan juga menjadi Xie Li. Prinsip ini kembali menegaskan bahwa di Tzu Chi semua setara dan saling melengkapi.
Editor: Fikhri Fathoni