Praktik Nyata Daur Ulang

Jurnalis : Rudi Santoso (He Qi Utara), Fotografer : Rudi Santoso (He Qi Utara)
 
 

fotoMelanjutkan sosialisasi pelestarian lingkungan sebelumnya, para relawan dari wilayah He Qi Utara (Hu Ai Jelambar) bersama ibu-ibu dari Kelompok Senam Perumahan Grawisa melakukan kegiatan daur ulang.

“Kehidupan ini tidak kekal, namun kesadaran jiwa bersifat abadi.

Dengan cinta kasih yang tak berbatas maka semangat kita akan tetap bergelora”.

(Master Cheng Yen)

 

 

Sabtu pagi, tanggal 30 Oktober 2010, para relawan dari wilayah He Qi Utara (Hu Ai Jelambar) bekerja sama dengan ibu-ibu dari Kelompok Senam Perumahan Grawisa melakukan kegiatan lanjutan sosialisasi daur ulang dalam bentuk praktik nyata. Dalam kegiatan yang dimulai pada pukul 07.30 WIB ini diadakan peragaan tentang bagaimana melakukan daur ulang, bagaimana memilih sampah yang masih bisa didaur ulang, atau sampah-sampah yang tidak bisa didaur ulang. Ibu-ibu yang ikut dalam kegiatan kali ini terlihat sangat antusias dan bersemangat dalam melihat dan mendengar penjelasan dalam memilah sampah daur ulang.

Dalam kegiatan kali ini juga hadir Ketua RW setempat. Ketika ditanya tentang kegiatan ini beliau dengan lugas berkata bahwa ini adalah kegiatan yang sangat positif sekali. Karena dengan mengumpulkan sampah yang bisa didaur ulang berarti kita telah ikut dalam kegiatan pelestarian lingkungan,  menjaga lingkungan yang bersih, dan mengurangi volume sampah yang ada. Ia mengharapkan kegiatan seperti ini akan terus berlanjut.

Terlihat juga beberapa petugas kebersihan dan keamanan Perumahan Grawisa ikut menyaksikan bagaimana para relawan memberikan pengarahan dan masukan tentang daur ulang dan pemilahan. Tak lupa relawan Jan Sen membagikan brosur pelestarian lingkungan serta buku Kata Perenungan Master Cheng Yen kepada ibu-ibu serta petugas kebersihan dan keamanan perumahan Grawisa.

foto  foto

Keterangan :

  • Seusai berolahraga, para ibu dari Perumahan Grawisa ini melakukan pemilahan sampah daur ulang. (kiri)
  • Relawan Tzu Chi tengah membimbing dan mencontohkan cara memilah sampah daur ulang agar menjadi lebih bernilai ekonomis. (kanan)

Mengurangi Penggunaan Plastik
Di kesempatan kali ini,  para relawan Tzu Chi tidak hanya memberikan masukan tentang pemilahan sampah daur ulang kepada ibu-ibu kelompok senam di Perumahan Grawisa, namun juga memberi masukan tentang pentingnya pengunaan huan bao (alat makan yang digunakan para relawan). Setelah dijelaskan tentang kegunaan huan bao kepada para ibu, mereka menjadi mengerti bahwa yang terpenting untuk melestarikan lingkungan adalah dengan cara mengurangi sampah.

Salah seorang peserta, Ibu Linda, mengatakan bahwa ia sangat mendukung kegiatan seperti ini karena dengan semakin seringnya kegiatan seperti ini dilakukan maka akan semakin membuat masyarakat, terutama warga Perumahan Grawisa semakin mengerti tentang pentingnya pelestarian lingkungan dan memilah sampah yang bisa didaur ulang.

foto  foto

Keterangan :

  • Kertas koran, botol plastik, dan gelas minuman kemasan menjadi barang daur ulang (limbah) yang paling sering ditemui di lingkungan perumahan.  (kiri)
  • Petugas kebersihan sebagai ujung tombak pertama dalam pelestarian lingkungan juga perlu mendapatkan informasi tentang sampah-sampah yang masih bisa didaur ulang. (kanan)

Masalah sampah memang menjadi permasalahan setiap orang, terutama mereka yang hidup di kota-kota besar. Semakin padat lingkungan tersebut dihuni maka volume sampah yang dihasilkan pun akan semakin banyak. Hal ini akan menjadi semakin buruk dengan perilaku sebagian orang yang masih belum peduli terhadap kebersihan lingkungan. Lihatlah banjir yang terjadi beberapa waktu lalu, hal itu terjadi juga akibat sampah yang dibuang secara sembarangan ke sungai dan got-got hingga saluran air menjadi tersumbat. Ketika terjadi hujan maka banjir pun segera datang menhampiri.

Karena itu, sudah saatnya kita bersatu hati dalam gerakan praktik nyata pelestarian lingkungan ini. Waktu kita semakin hari semakin terbatas. Janganlah melewatkan detik-detik yang sangat berharga ini. Pergunakanlah waktu sebaik mungkin. Lakukanlah apa yang bisa kita lakukan. Jangan menunggu waktu lewat dengan sia-sia. Lebih baik kita berusaha dari pada kita hanya bisa menghela napas dan berpangku tangan melihat kerusakan yang semakin hari semakin parah. Mari bersatu, karena bersatu adalah sumber tenaga yang kuat dan tak terkira.

  
 

Artikel Terkait

Menjaga Asa Alim untuk Kembali Pulih

Menjaga Asa Alim untuk Kembali Pulih

01 Juli 2026

Di tengah perjuangan melawan TB usus, Alim Nugraha tidak berjalan sendiri. Kasih seorang ibu dan perhatian relawan Tzu Chi menjadi penguat yang menumbuhkan kembali harapan Alim untuk pulih dan beraktivitas kembali.

Baksos Tzu Chi ke 119: Melihat Lebih Jelas, Hati Lebih Bersyukur

Baksos Tzu Chi ke 119: Melihat Lebih Jelas, Hati Lebih Bersyukur

11 Agustus 2017
Sebanyak 77 warga Cikarang dan sekitarnya mengikuti bakti sosial kesehatan Tzu Chi ke-119 di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang, Jumat, 11 Agustus 2017. Ditemani anggota keluarganya serta para relawan, para pasien mata (katarak dan pterygium) ini mengikuti tahapan-tahapan sebelum memasuki ruang operasi.
Siap Siaga Menghadapi Bencana

Siap Siaga Menghadapi Bencana

03 November 2014 Dalam kegiatan ini, Yayasan Buddha Tzu Chi menjadi salah satu organisasi sosial yang diundang untuk dilibatkan dalam penanganan bencana. Tumbuhnya kepercayaan dari berbagai pihak kepada Tzu Chi tidak lain karena Tzu Chi selalu siap-siaga membantu masyarakat yang membutuhkan. Baik dalam bencana maupun kegiatan sosial lainnya.
Tiga faktor utama untuk menyehatkan batin adalah: bersikap optimis, penuh pengertian, dan memiliki cinta kasih.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -