Relawan Tzu Chi Medan melakukan survei langsung ke rumah-rumah calon penerima manfaat Program Bebenah Kampung di Kecamatan Medan Labuhan untuk melihat langsung dan berinteraksi langsung dengan pemilik rumah.
Melihat penderitaan orang lain mengingatkan kita untuk semakin mensyukuri berkah yang telah dimiliki. Semangat inilah yang terus menggerakkan relawan Tzu Chi Medan untuk menghadirkan aksi nyata bagi masyarakat, salah satunya melalui program renovasi rumah tidak layak huni agar lebih banyak keluarga dapat tinggal dengan aman, nyaman, dan bermartabat.
Komitmen tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Medan melalui kolaborasi bersama Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas. Melalui Program Bebenah Kampung, Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara berencana merenovasi 500 unit rumah tidak layak huni sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat prasejahtera.
Langkah awal program ini dimulai pada Selasa, 5 Mei 2026. Inisiatif tersebut hadir sebagai respons atas masih tingginya kebutuhan hunian layak di Kota Medan yang mencapai sekitar 61 ribu unit rumah.
Mujianto, Ketua Tzu Chi Sumatera Utara, menjelaskan bahwa Program Bebenah Kampung merupakan bentuk sinergi antara Yayasan Tzu Chi dan pemerintah daerah dalam menghadirkan tempat tinggal yang lebih layak bagi masyarakat. Renovasi yang dilakukan mencakup perbaikan atap, lantai, dan dinding rumah sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup keluarga penerima manfaat.
"Kami berharap masyarakat Sumatera Utara dapat tinggal di hunian yang layak, terlebih setelah berbagai bencana yang terjadi beberapa waktu lalu. Rumah-rumah ini nantinya menjadi rumah berkah karena terwujud dari kepedulian banyak orang yang ingin membantu sesama," ujar Mujianto.
Andre Zulman, Kepala External Relation & Social Project Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia memberikan arahan kepada relawan Tzu Chi Medan sebelum melakukan survei rumah-rumah warga yang tidak layak huni di enam kelurahan di Kecamatan Medan Labuhan.
Andre Zulman mendata kelengkapan surat-surat kepemilikan rumah warga sebagai bagian dari proses verifikasi calon penerima manfaat Program Bebenah Kampung Renovasi Rumah Tidak Layak Huni.
Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, turut mengapresiasi kolaborasi ini. Menurutnya, program renovasi rumah tidak layak huni bukan sekadar memperbaiki bangunan, tetapi juga menumbuhkan harapan bagi masyarakat prasejahtera.
"Kami ingin masyarakat dapat tinggal dengan nyaman dan merasa lebih aman, khususnya di wilayah pesisir seperti Medan Labuhan yang kerap terdampak banjir rob. Karena itu, kami menyambut baik kolaborasi ini dalam Gerakan Renovasi Rumah Merah Putih," ungkap Rico.
Sebagai tindak lanjut dari program tersebut, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menggelar survei lapangan pada 4 Juli 2026. Berpusat di Kantor Camat Medan Labuhan, puluhan relawan Tzu Chi Medan turun langsung mengunjungi rumah-rumah calon penerima manfaat.
Andre Zulman, Kepala External Relation & Social Project Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, menjelaskan bahwa survei dilakukan agar bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran dan sesuai kebutuhan warga. Ia mengingatkan para relawan untuk tidak hanya melihat kondisi fisik rumah, tetapi juga memahami kehidupan masyarakat yang akan dibantu.
"Seperti pesan Master Cheng Yen, kita datang bukan hanya untuk melihat rumahnya, tetapi juga merasakan kehidupan mereka, sehingga bantuan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan yang ada," ujar Andre.
Steel Edwin, Ketua Tzu Chi Medan, berdialog dengan keluarga calon penerima manfaat guna memahami kebutuhan serta kondisi tempat tinggal yang akan direnovasi melalui Program Bebenah Kampung.
Kunjungan rumah menjadi kesempatan bagi relawan Tzu Chi untuk mendengarkan langsung cerita dan harapan warga yang selama ini hidup dalam rumah yang tidak layak huni.
Relawan dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengunjungi enam kelurahan di Kecamatan Medan Labuhan, yaitu Kelurahan Besar, Martubung, Nelayan Indah, Pekan Labuhan, Sei Mati, dan Tangkahan. Sebanyak 32 unit rumah calon penerima manfaat ditinjau secara langsung.
Kehadiran relawan disambut hangat oleh warga. Salah satunya adalah Hamdan Syahrial, warga Lingkungan VIII, Kelurahan Besar, yang masih menyimpan trauma akibat banjir besar pada November tahun lalu. Rumahnya yang berdinding papan sempat terendam air hingga mencapai dua meter.
"Saya sangat senang dan berharap program ini segera terlaksana. Saat banjir akhir tahun 2025, kami benar-benar terombang-ambing oleh derasnya air. Tingginya bahkan melewati kepala orang dewasa," tutur Hamdan dengan haru.

Audiensi Ketua Tzu Chi Sumatera Utara Mujianto bersama Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, menjadi langkah awal kolaborasi Program Bebenah Kampung Renovasi Rumah Tidak Huni yang menargetkan 500 unit rumah tidak layak huni di Kota Medan.
Ketua Tzu Chi Medan, Steel Edwin, berharap Program Bebenah Kampung dapat menghadirkan manfaat nyata sekaligus menjadi bentuk perhatian bagi masyarakat yang membutuhkan. Baginya, setiap kunjungan ke rumah warga menjadi kesempatan berharga untuk memahami kehidupan mereka secara lebih dekat.
"Ketika melihat langsung kondisi rumah-rumah warga, kita semakin menyadari bahwa bantuan yang diberikan bukan sekadar memperbaiki bangunan, tetapi juga menyampaikan perhatian, cinta kasih, dan harapan baru bagi keluarga yang sedang berjuang," ujar Steel.
Ia juga mengungkapkan rasa syukur karena para relawan diberi kesempatan untuk menyaksikan langsung kehidupan masyarakat yang masih tinggal dalam keterbatasan. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa setiap uluran tangan yang diberikan dapat menghadirkan ketenangan dan semangat baru bagi mereka yang terdampak.
"Kami bersyukur dapat hadir dan melihat langsung kondisi warga. Semoga rasa takut dan kekhawatiran yang selama ini dirasakan akibat banjir maupun keterbatasan tempat tinggal dapat perlahan terobati, dan masyarakat memiliki harapan baru untuk menata kehidupan yang lebih baik," tutup Steel.
Editor: Anand Yahya