Rasa Syukur yang Tak Terhingga

Jurnalis : Hendianna (Tzu Chi Medan), Fotografer : Sutanto (Tzu Chi Medan)
 
 

fotoDalam acara ini, relawan Tzu Chi dan para Gan En Hu berbagi kisah di antara mereka. Dengan berbagi, beban kehidupan terasa lebih ringan untuk dilalui.

Relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Kantor Perwakilan Medan di Kota Tebing Tinggi mengadakan ramah tamah dengan para Gan En Hu (penerima bantuan) di Huiso Tebing Tinggi pada hari Minggu, tanggal 20 Maret 2011. Acara itu dimulai pukul 15.00 WIB dan dihadiri oleh 85 orang Gan En Hu yang berasal dari berbagai kecamatan yang ada di Kota Tebing Tinggi.

Mereka adalah para pasien yang telah menerima bantuan pengobatan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, misalnya seperti Raihan (4) yang jantungnya dioperasi, dan Reny (42) yang gondoknya dioperasi. Demikian juga halnya dengan mereka yang mendapatkan pengobatan karena terkena katarak, luka akibat kecelakaan lalu lintas, diabetes, dan penyakit-penyakit lainnya. Mereka mendapatkan bantuan tunjangan biaya hidup setiap bulan dan bantuan-bantuan lainnya.

Kegiatan ini mendapatkan sambutan baik para Gan En Hu. Hal itu terlihat dari tekunnya mereka mengikuti acara demi acara, mulai dari pengenalan visi dan misi Tzu Chi, riwayat berdirinya Yayasan Buddha Tzu Chi oleh Master Cheng Yen, filosofi Tzu Chi yang disampaikan oleh Wardi Shixiong, perkenalan misi pelestarian lingkungan (melalui daur ulang) yang dibawakan oleh Peter Shixiong, serta begitu antusiasnya para Gan En Hu mengikuti peragaan isyarat tangan yang diajarkan oleh Elin Juwita Shijie dan beberapa relawan biru putih.

“Rasa syukur yang tak terhingga dan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah menolong saya dengan keikhlasan hati serta rasa satu keluarga yang selalu ditunjukkan oleh relawan Tzu Chi. Dari saya yang tidak bisa melihat apa-apa sekarang sudah bisa melihat, bahkan sekarang saya dapat memasukkan benang ke dalam lubang jarum jahit,“ ujar Nenek Wartia (58) sambil meneteskan air mata. Untuk membiayai hidupnya, Nenek Wartia ini setiap hari menjual daun pisang, daun pandan, dan daun kunyit yang diambil dari hasil tanamannya sendiri. Selain itu ia juga sangat kreatif dalam memanfaatkan barang-barang bekas seperti sedotan (pipet plastik) dan bungkusan bubuk teh yang dibuat menjadi hiasan gantung ataupun hiasan dinding di rumahnya. Kreativitas nenek ini dapat menginspirasi kita untuk memanfaatkan barang-barang bekas yang ada di sekitar kita.

foto  foto

Keterangan :

  • Relawan dan para Gan En Hu bersama-sama memeragakan isyarat tangan "Satu Keluarga". Satu simbol bahwa kita semua adalah sama dan laksana sebuah keluarga besar. (kiri)
  • Para Gan En Hu dengan penuh perhatian menyimak apa yang disampaikan oleh salah satu Gan En Hu yang merasakan adanya perbaikan kondisi kesehatan di tubuhnya. (kanan)

Saat itu Bapak Rosib (59), salah satu Gan En Hu juga mengatakan  betapa susah dan sedihnya ia saat matanya tidak dapat melihat apa-apa. Terlebih lagi ketika ia menikahkan putrinya dalam keadaan buta, sungguh kejadian yang tak dapat ia lupakan. Sekarang dia selalu bersyukur karena sudah dapat melihat kembali dan sangat berterima kasih kepada relawan Tzu Chi yang telah memberikan pengobatan katarak gratis kepadanya. “Bantuan Tzu Chi ini tak akan saya lupakan,” ungkap Bapak Rosib dengan rasa haru dan berlinang air mata.

Wajah para relawan tampak bahagia dan bangga karena dapat melakukan kebajikan untuk sesama. Sesuai dengan renungan kalbu dari Master Cheng Yen berikut ini, “Dengan keyakinan, keuletan dan keberanian, tidak ada yang tidak berhasil dilakukan di dunia ini. Hal yang paling menenangkan hati dalam kehidupan adalah dapat bersumbangsih semampunya sesegera mungkin pada saat sekarang juga.”  Gan En untuk para Gan En Hu.

  
 

Artikel Terkait

Bepartisipasi Melalui Celengan Bambu

Bepartisipasi Melalui Celengan Bambu

22 Mei 2017

Pagi itu, Stephen dan Kania, serta 375 siswa SMP Santa Maria mengikuti sosialisasi Misi Amal Tzu Chi di aula sekolah mereka. Pengenalan Misi Amal Tzu Chi ini dibawakan Andre Zulman dan Yuli Simorangkir dari Sekretariat Tzu Chi Indonesia.

Peranan Segitiga dalam Dunia Pendidikan

Peranan Segitiga dalam Dunia Pendidikan

26 Juni 2014

Dalam masa liburan sekolah, Susie Shijie, wakil Kepala Sekolah di Sekolah Tzu Chi Indonesia, PIK memberikan sharing mengenai misi Pendidikan pada relawan Tzu Chi Medan dan juga guru di sekolah Dharma Bakti, Lubuk Pakam.

Bahu Membahu di Bidang Medis

Bahu Membahu di Bidang Medis

05 Maret 2013 Bagaimana membuat agar semangat cinta kasih Tzu Chi tersebar ke seluruh penjuru dunia? Untuk melakukan hal tersebut dibutuhkan banyak orang. Kita harus menggalang lebih banyak orang untuk bergabung dalam misi Tzu Chi.
Menghadapi kata-kata buruk yang ditujukan pada diri kita, juga merupakan pelatihan diri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -