Dengan senyum di wajah, Yuni berjalan pulang menyusuri jalan dan gang sempit menuju rumahnya. Lima kilogram beras yang dibawanya menjadi bekal berharga untuk memenuhi kebutuhan hidup beberapa hari ke depan.
Mendung sedang menggantung di langit Teluknaga pada Minggu pagi itu ketika Yuni bersama para tetangganya berjalan kaki menuju Kantor Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang. Perjalanan sekitar 10 menit dari rumah mereka ditempuh dengan santai, hingga sekitar pukul 07.00 WIB mereka sudah tiba di lokasi pembagian paket cinta kasih. Di sana, relawan Tzu Chi komunitas Xie Li Agung Sedayu Grup (ASG) dan relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 1 telah lebih dulu bersiap menyambut warga yang berdatangan.
Yuni memilih duduk di kursi barisan paling depan. Sesekali ia berbincang santai dengan para tetangganya. Ia bercerita bahwa hari itu sengaja tidak berkeliling mencari rongsokan karena ingin menghadiri kegiatan pembagian paket cinta kasih tersebut. "Alhamdulillah kan, rezeki," katanya ringan.
Sehari-hari, Yuni bekerja sebagai pencari rongsokan. Ia menyebutnya, kerompongan. Sejak pukul 07.00 pagi, ia biasa berkeliling kampung dan wilayah sekitarnya, lalu baru selesai sekitar pukul 12.00 malam. Tentu bukan tanpa jeda istirahat, tetapi sebagian besar waktunya memang dihabiskan untuk mencari barang-barang bekas yang masih memiliki nilai jual.
Tak hanya itu, dalam beberapa hari sekali ia juga menjadi tenaga pendorong gerobak sampah. Jika ada panggilan pekerjaan lain, Yuni tak segan beralih profesi menjadi tukang pijat, pengangkut air, pengaduk semen bangunan, atau pekerjaan serabutan lainnya. Apa pun ia kerjakan demi menyambung hidup, karena ia tahu, ia tak bisa menggantungkan harapan kepada orang lain.
Yuni tinggal di rumah sederhana yang kondisinya jauh dari layak. Sebagian dinding rumahnya menumpang pada bangunan kerabat, sementara atap yang bocor ditutupi lembaran plastik. Di tengah keterbatasan itu, ia bersyukur masih banyak orang yang peduli dan berbagi kepada warga yang membutuhkan.
Di usianya yang telah menginjak 50 tahun, Yuni hidup sendiri tanpa pendamping. Ia tinggal di sebuah rumah sederhana yang kondisinya jauh dari kata layak bersama keluarga keponakannya. Ruang yang ia tempati dan disebut sebagai kamar hanya berupa satu ruangan kecil yang nyaris tak menyerupai kamar pada umumnya. Rumah itu pun menempel pada rumah kerabat di sebelahnya. Dinding bagian depannya terbuat dari triplek, sementara atap genteng yang sudah renggang ditutupi lembaran plastik untuk mengurangi kebocoran, meski tak banyak membantu saat hujan turun.
Hidup seorang diri tak membuat Yuni memilih jalan yang mudah. Walaupun kata orang ia tak punya tanggungan, tapi anak kedua dari lima bersaudara itu justru terus menjalani hidup dengan penuh kerja keras, sebagaimana didikan kedua orang tuanya semasa kecil yang kini telah tiada.
"Ya sejak kecil sudah biasa diajarin kerja keras, bantu hidupin adik-adik. Kebawa lah sampai sekarang. Alhamdulillah bisa kerja apa aja, salah satunya ya ngumpulin kerompongan (memulung) ini, lumayan saya bisa dapat sekitar 100 ribu sampai 250 ribu seminggunya. Kadang juga bisa lebih," ujar Yuni dengan senyum penuh syukur.
"Tapi makin ke sini kan harga semua naik. Minyak, beras, semua naik. Kalau nggak kerja, nggak bisa makan. Masa mau minta-minta? Saya rasa saya masih sanggup kerja," tambahnya penuh semangat.
Karena itu, ketika pekan lalu rumahnya didatangi relawan Tzu Chi Xie Li ASG bersama pihak RT/RW yang membawa kupon bantuan untuk ditukarkan dengan beras seberat lima kilogram pada Minggu (14/6/2026), Yuni tak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
"Cari kerompongannya sorean aja, nggak apa-apa. Ini rezeki," ucapnya senang. "Kegiatan kayak gini mah beneran ngasih bantuan ke warga. Bayangin neng, beras 5 kilo ini bisa buat dua minggu. Kalau beli sekarang bisa 80 ribu. Lumayan itu uangnya bisa dipake buat belanja yang lain," lanjutnya penuh antusias.
Suhada dibantu relawan saat menerima paket beras. Meski harus berjalan dengan bertumpu pada tongkat, perempuan berusia 76 tahun itu tetap datang ke lokasi pembagian sebagai bentuk rasa syukur sekaligus untuk menjalin silaturahmi.
Rasa syukur yang sama juga dirasakan Suhada (76). Warga Kampung Rawa Lini itu datang untuk menerima paket cinta kasih meski harus menempuh perjalanan sekitar 10 menit dengan kendaraan bermotor. Dengan langkah tertatih dan bertumpu pada sebuah tongkat, Suhada tetap bersemangat hadir. Baginya, kesempatan itu sekaligus menjadi wadah untuk bersilaturahmi.
Bersama cucu yang tinggal bersamanya. Senyum tak lepas dari wajah perempuan lanjut usia itu sejak tiba di lokasi. "Alhamdulillah, banyak yang kasih bantuan ke nenek," tuturnya dengan tawa.
Sehari-hari, Suhada tinggal di sebuah rumah sederhana yang kondisinya juga 11-12 dengan Yuni, yang jauh dari kata layak. Di antara rumah-rumah tetangganya di Kampung Rawa Lini, hanya rumah miliknya yang masih berdinding bilik bambu yang sudah renggang. Bocor tentu tak bisa terhindar ketika musim hujan datang. Kalau angin kencang datang, ia bahkan tak berani duduk di dalam rumah, takut rumah tua itu ambruk sewaktu-waktu. Lantai rumahnya juga masih berupa tanah, sehingga setiap kali hujan turun, air merembes masuk dan membuat bagian dalam rumah menjadi becek.
"Biasanya sampai nggak berani jalan, takut kepleset. Apalagi nenek pakai tongkat ini kan. Udah pasrah lah," katanya.
Di rumah sederhana berdinding bilik bambu yang telah lapuk dimakan usia inilah Suhada tinggal bersama cucunya. Meski kondisinya memprihatinkan, ia tetap menjalani hari-harinya dengan penuh rasa syukur dan ketabahan.
Di usianya yang telah senja, memperbaiki rumah hanya menjadi harapan yang belum mampu diwujudkan. Padahal, ia menyimpan keinginan sederhana, yakni bisa merebahkan tubuh di atas lantai keramik yang kering dan sejuk.
"Tapi buat makan aja susah, gimana mau benerin rumah," ucapnya lirih. "Kalau sehari-hari sih alhamdulillah ya ada aja tetangga kasih bantuan, antar makanan, ada juga kasih uang. Semuanya baik ke nenek. Beras juga ada aja yang datang antar. Kayak hari ini, alhamdulillah ada lagi yang kasih beras, yang ini dari Buddha Tzu Chi. Terima kasih banyak."
Saling Mendampingi
Selepas menyaksikan senyum Yuni dan Suhada, mudah dipahami mengapa pagi itu juga menjadi momen yang membahagiakan bagi para relawan. Bagi mereka, 5 kilogram beras yang dibawa pulang setiap warga mungkin hanya cukup memenuhi kebutuhan selama satu atau dua pekan. Namun, perhatian dan cinta kasih yang menyertainya diharapkan dapat tinggal lebih lama di hati para penerima.
"Melihat banyak penerima bantuan yang terharu, kami juga ikut bersyukur. Mungkin beras ini habis dalam seminggu atau dua minggu, tetapi kami berharap cinta kasihnya tidak dilupakan dan bisa terus dikenang," ujar PIC kegiatan, Agus Minan.
Sebanyak 1.000 paket beras, masing-masing seberat 5 kilogram, dibagikan kepada warga dari 12 desa di Kecamatan Teluknaga. Kegiatan tersebut terselenggara melalui kolaborasi relawan Tzu Chi komunitas Xie Li Agung Sedayu Grup (ASG), relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 1, serta dukungan pemerintah setempat.
Pembagian paket beras secara simbolis dilakukan oleh relawan Tzu Chi sekaligus Ketua Tzu Chi Agung Sedayu Grup, Natalia Kusumo, didampingi Camat Teluknaga, Kurnia beserta jajaran pemerintah setempat sebagai bentuk sinergi dalam melayani masyarakat.
Agus menjelaskan bahwa keterlibatan relawan Tzu Chi He Qi Jakarta Utara 1 juga menjadi bentuk pendampingan bagi komunitas Xie Li ASG yang baru berdiri sekitar satu tahun lalu. Meski masih tergolong baru, menurutnya semangat para relawan Tzu Chi ASG sangat luar biasa.
"Saya melihat relawan Tzu Chi ASG bekerja dengan sepenuh hati. Begitu diumumkan akan ada pembagian beras, kuota relawan langsung penuh. Semoga ke depannya mereka semakin mandiri dan terus semangat berkontribusi untuk masyarakat," katanya.
Hal senada disampaikan relawan Tzu Chi sekaligus Ketua Tzu Chi Agung Sedayu Grup, Natalia Kusumo. Ia menuturkan bahwa sebelum pembagian dilakukan, para relawan telah mendatangi rumah-rumah warga untuk melakukan survei sekaligus membagikan kupon penerimaan bantuan.
"Kami melihat masih banyak masyarakat yang membutuhkan uluran tangan. Yang ingin kami berikan sebenarnya bukan hanya bantuan materi, tetapi juga cinta kasih kepada masyarakat," ujarnya di tengah kegiatan.
Natalia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut di masa mendatang. Selain pembagian beras, Relawan Tzu Chi Agung Sedayu Grup juga tengah mempersiapkan berbagai program sosial lain, termasuk layanan kesehatan dan harapan untuk mewujudkan bakti sosial operasi katarak bagi warga yang membutuhkan karena dari pengamatannya, banyak warga yang menderita katarak di wilayah ini.
"Harapan kami, masyarakat bukan hanya kenyang di perut, tetapi juga kenyang di hati," ungkapnya.
Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 1 turut mendampingi jalannya kegiatan sekaligus menyerahkan paket beras secara simbolis kepada perwakilan warga penerima manfaat.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari Pemerintah Kecamatan Teluknaga. Camat Teluknaga, Kurnia, menyampaikan apresiasi atas kepedulian Yayasan Buddha Tzu Chi dan Agung Sedayu Grup yang selama ini aktif mendampingi masyarakat melalui berbagai program sosial.
"Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih kepada Tzu Chi dan Agung Sedayu Grup yang telah membersamai masyarakat Teluknaga. Semoga bantuan ini bermanfaat dan dapat terus berkesinambungan untuk meningkatkan taraf hidup warga," tuturnya.
Menurut Kurnia, kerja sama antara Tzu Chi dan Agung Sedayu Grup di wilayah Teluknaga telah terjalin melalui berbagai kegiatan, mulai dari bedah rumah, pendistribusian air bersih gratis, pembagian paket hari raya, hingga aksi sosial lainnya. Ia berharap jalinan kemitraan tersebut dapat terus berlanjut demi menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Editor: Arimami Suryo A.