Relawan Tzu Chi komunitas Hu Ai Titikuning mengadakan baksos kesehatan degeneratif untuk penerima bantuan Tzu Chi yang berusia 40 tahun ke atas di Depo Pelestarian Lingkungan Titikuning.
Kesehatan yang optimal dan gaya hidup seimbang merupakan fondasi utama bagi kesejahteraan setiap individu. Mewujudkan hal tersebut, relawan Tzu Chi komunitas Hu Ai Titikuning kembali menggelar kegiatan Bakti Sosial (Baksos) Kesehatan Degeneratif tahap kedua yang dirangkaikan dengan persiapan ajang Teratai Cup. Kegiatan ini dilakukan pada Minggu, 6 September 2026.
Kegiatan terpadu ini hadir untuk merawat kesehatan para Gan En Hu (penerima bantuan) sekaligus wadah pengembangan potensi generasi muda penerima beasiswa anak asuh Tzu Chi.
Sebanyak 17 relawan Tzu Chi dan 9 tim medis TIMA Indonesia, dengan penuh cinta kasih melayani 14 penerima bantuan beserta pendamping, serta 24 anak asuh. Pada baksos kesehatan degeneratif ini, para peserta mendapatkan pemeriksaan kesehatan berkala yang meliputi penimbangan berat badan, pengukuran lingkar pinggang, pemeriksaan tekanan darah, cek kadar gula darah, asam urat, hingga kolesterol. Layanan dilengkapi dengan konsultasi medis serta konseling obat bersama tim medis TIMA Indonesia.
Edukasi Bijak Obat dan Terapi Kesehatan
Selain pemeriksaan fisik, edukasi kesehatan menjadi fokus penting dalam kegiatan ini. Tim yang bertugas dalam sesi ini yaitu dr. Rahmat bersama apoteker Mimi Wike, S.Farm., memberikan penyuluhan mendalam bertema “Jangan Minum Obat Sembarangan.”
Selain pemeriksaan fisik, edukasi kesehatan menjadi fokus penting dalam kegiatan ini. Dokter Rahmat bersama apoteker Mimi Wike, S.Farm., memberikan penyuluhan mendalam bertema “Jangan Minum Obat Sembarangan.”
Salah satu Tim Medis TIMA Indonesia, dr. Cynthia Yaputri mengajak penerima bantuan dan relawan Tzu Chi melakukan peregangan tubuh yang sehat.
Dalam sesi tersebut, dr. Rahmat memaparkan tujuh penandaan dan simbol golongan obat, mulai dari obat bebas (lingkaran hijau), obat keras (huruf K dalam lingkaran merah), hingga fitofarmaka (simbol kristal es), sebagai petunjuk keamanan dan legalitas.
"Konsumsi obat sesuai kebutuhan tubuh, aturan pakai, serta dosis yang tepat. Suplemen bersifat melengkapi nutrisi utama dari makanan bergizi seimbang, sementara obat herbal perlu digunakan secara bijak," tegas dr. Rahmat.
Pada kesempatan yang sama, apoteker Mimi Wike, S.Farm., turut mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap obat sebagai konsumsi harian tanpa indikasi yang jelas. Mengatur dosis sendiri, menggunakan obat milik orang lain, atau mengonsumsi obat yang telah kadaluarsa dapat membahayakan tubuh. Untuk melengkapi edukasi jasmani, dr. Cynthia Yaputri juga memandu gerakan terapi merilekskan tubuh guna menjaga keseimbangan batin dan fisik para peserta.
Wadah Unjuk Bakat dan Kemandirian Anak Asuh
Di saat yang sama, semangat membara ditunjukkan oleh para anak asuh yang bersiap menghadapi ajang Teratai Cup. Perlombaan ini mencakup cabang melukis, Shou Yu (isyarat tangan), pembacaan Kata Perenungan Master Cheng Yen, serta dokumentasi foto dan video.
Salah satu anak asuh Tzu Chi, Franky mengikuti kelas dokumentasi dan belajar untuk mendokumentasikan kegiatan dengan dipandu oleh relawan Tzu Chi.
Franky Gespen Hapu Ginting (16), siswa SMK Pencawan Medan, menjadi salah satu peserta yang antusias mendalami bidang dokumentasi video.
"Setelah mengikuti pelatihan, saya mendapatkan teknik pengambilan gambar dan pengeditan yang lebih baik. Harapan saya kelak setelah lulus bisa membantu Tzu Chi dalam bidang rekaman video dan memotivasi anak asuh lainnya. Terima kasih atas bimbingan dan bantuan pendidikan yang sangat berarti ini," tutur Franky.
Relawan Tzu Chi sekaligus koordinator kegiatan, Yenny, menjelaskan bahwa gabungan kedua program ini bertujuan jangka panjang. Selain menjaga kesehatan warga usia produktif hingga lansia, Teratai Cup dirancang untuk melatih kemandirian, rasa percaya diri, dan keberanian anak asuh untuk tampil di depan umum.
"Kami menyelipkan pesan-pesan kebajikan dan Kata Perenungan Master Cheng Yen agar dapat diterapkan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. Sinergi antara relawan dan tim medis TIMA berjalan sangat harmonis dalam membimbing mereka," ujar Yenny.
Manfaat perubahan pola hidup sehat ini dirasakan langsung oleh Roselmi (kanan), salah satu penerima bantuan yang telah menjadi bagian dari keluarga Tzu Chi sejak Oktober 2025.
Sesi kegiatan ditutup dengan santap bersama hidangan vegetarian yang sehat. Melalui sajian sederhana berbahan dasar tahu, tempe, dan sayuran segar, relawan ingin memberikan pemahaman nyata bahwa makanan bernutrisi tinggi tidak harus mahal.
Manfaat perubahan pola hidup sehat ini dirasakan langsung oleh Roselmi (50), salah satu penerima bantuan yang telah menjadi bagian dari keluarga Tzu Chi sejak Oktober 2025.
"Setelah rutin mengikuti penyuluhan baksos degeneratif dan mempraktikkan pola makan sehat tanpa pengawet di rumah, pencernaan saya jadi lebih lancar dan kadar kolesterol saya turun. Terima kasih kepada para relawan yang selalu perhatian dan membimbing kami," ungkap Roselmi penuh rasa syukur.
Melalui perhatian medis yang berkesinambungan serta pendampingan karakter bagi anak asuh, Tzu Chi terus berkomitmen mendampingi masyarakat, tidak hanya untuk pulih secara fisik, tetapi juga bertumbuh secara mandiri dan penuh harapan.
Editor: Fikhri Fathoni