Sebuah Keluarga Universal

Jurnalis : Teddy Lianto, Fotografer : TeddyLianto

fotoPaulus Utama (kedua kanan), relawan Tzu Chi menjelaskan mengenai kegunaan ruang packaging ialah untuk membuka peluang kerja untuk warga rusun yang kurang mampu.

 

Kamis, 3 November 2011, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia mengadakan acara ramah tamah di aula lantai dua Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng untuk menyambut para pengusaha yang ingin berkunjung untuk mengenal lebih dalam visi dan Misi Tzu Chi. Sebagian besar pengusaha yang datang adalah pengusaha yang datang dari negara Australia. Pada pukul 8 pagi, para pengusaha tersebut telah tiba di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng, Jakarta Barat.

 

 

Kedatangan mereka (pengusaha) disambut dengan sorak gembira oleh para murid-murid dari Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi. 

“Mereka adalah pengusaha Indonesia yang kebetulan melakukan usaha di Australia. Pengusaha-pengusaha tersebut kita ajak kemari untuk mengenal lebih dalam mengenai  visi dan misi Tzu Chi,” ujar Sugianto Kusuma, Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Sugianto Kusuma  juga menjelaskan jika kita (Tzu Chi -red) hanya ingin memberitahukan kalau semua orang dapat membangun rumah susun untuk orang tidak mampu. Dalam hal ini Tzu Chi tidak hanya menyediakan bangunan fisik, tetapi juga mendampingi mereka (warga tidak mampu) dan membina mereka agar generasi berikut bisa memiliki moral dan budi pekerti yang baik. Itulah yang telah Tzu Chi terapkan hingga saat ini.

Selain itu tujuan dari acara ramah tamah ini ialah ingin memperkenalkan kepada para pengusaha mengenai perubahan pada diri relawan setelah mereka melakukan kegiatan Tzu Chi sehingga diharapkan mereka dapat terinspirasi dan begitu kembali ke Australia, mereka dapat melakukan kegiatan Tzu Chi di Australia. Sebagai informasi tambahan, para pengusaha diajak berkeliling ke sekitar lingkungan Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi,  Sekolah Cinta Kasih, ruang hasta karya, ruang daur ulang, rumah sakit, dan rumah contoh untuk desain ruangan Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi.

Dokter Leonard Chan, peserta acara ramah tamah ini mengatakan jika dirinya merasa sangat terkesan dengan apa yang telah Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia lakukan. ”Kalian (Tzu Chi) melakukan perbuatan yang sangat mulia dan pekerjaan ini haruslah terus kalian lakukan, karena kita adalah sebuah keluarga universal maka  sudah seharusnya kita saling membantu. Saya sendiri sangat menyukai pekerjaan seperti ini dan saya tertarik untuk ikut bergabung membantu kalian,” jelas Dokter Leonard Chan, dokter umum  yang membuka praktik di Australia.

foto  foto

Keterangan :

  • Liu Su Mei, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia memberikan penjelasan kepada para peserta mengenai Aula Jing Si. (kiri)
  • Dokter Deasy Thio (pertama kanan), Wakil Direktur RSKB sedang menjelaskan perihal berdirinya dan aktivitas di RSKB kepada Charles Napoli (kedua kanan), Dokter Leonard Chan (tengah), Father Nicholas Nweke (pertama kiri). (kanan)

Dr. Leonard pun menambahkan jika pada umumnya setiap manusia akan mengalami kematian. Kita hidup karena anugerah dari Sang Pencipta dan Sang Pencipta akan menganugerahi kita berdasarkan apa yang telah kita lakukan di dunia. Dirinya merasa sangat senang dapat berada di sini dan bergabung dengan para relawan Tzu Chi. ”Saya berharap ketika kita berjumpa kembali, kita dapat bekerjasama untuk menolong kaum papa,” ungkap Leonard, yang telah melakukan kegiatan sosial ke Vietnam sebanyak delapan kali.

Selain Leonard, peserta lain yang merasa terkesan ialah Mimi Wong, seorang Ketua Wanita di Golden Group Team Australia. Pada tahun 2002, anaknya menjalani operasi cangkok jantung di Australia dan biaya operasi untuk cangkok jantung tersebut ditanggung oleh Pemerintah Australia. Mengingat peristiwa tersebut membuatnya sangat terharu. Selain itu, Paulus Utama, sahabat karib Mimi yang aktif di kegiatan amal kemanusiaan menginspirasinya untuk ikut bergabung ke Tzu Chi. “Saya Lihat pak Paulus sangat membantu di bidang amal, melihat sepak terjangnya di bidang amal, seolah kita mendapatkan setitik embun, “ jelas Mimi.

“Saya sendiri menganggap Tzu Chi adalah lintas agama, sehingga saya berkomitmen sebisa mungkin akan membantu Tzu Chi Indonesia,” ungkap Mimi, wanita kelahiran Deli, Medan, Sumatera Utara ini.  Mimi pun menambahkan kemungkinan dirinya akan membawa dokter-dokter Australia yang memiliki itikad baik untuk sharing kepada dokter- dokter di Indonesia mengenai penyakit leukimia dan jantung. “Tujuan kali ini ialah untuk membuka mata dokter-dokter dari Australia untuk melihat apa yang telah dikerjakan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi,” jelas Mimi.

Paulus Utomo, relawan Tzu Chi menjelaskan dengan adanya kunjungan ini diharapkan para peserta yang hadir dapat terinspirasi dan begitu mereka kembali, mereka dapat bersumbangsih melalui Tzu Chi yang ada di Australia. ”Biasanya di Australia mereka (para pengusaha) setelah office hour atau hari libur tidak memiliki aktivitas lagi. Jadi kita mengajak mereka untuk setelah office hour dan hari libur, mereka dapat melakukan kegiatan sosial,“ ungkap Paulus.    

  
 

Artikel Terkait

Tzu Chi Indonesia Sambut Hangat Kunjungan Pastor dan Awam Gereja Regio Jawa Plus Keuskupan Agung Jakarta

Tzu Chi Indonesia Sambut Hangat Kunjungan Pastor dan Awam Gereja Regio Jawa Plus Keuskupan Agung Jakarta

21 Agustus 2025

Tzu Chi Indonesia menerima kunjungan para pastor dan awam Gereja Katolik Regio Jawa Plus, Kamis, 21 Agustus 2025.

Membantu Masyarakat di Pulau-pulau Terpencil

Membantu Masyarakat di Pulau-pulau Terpencil

03 Juni 2015 Sebagai negara kepulauan, Indonesia diuntungkan memiliki tiga  jenis wilayah: darat, laut, dan udara. Kondisi geografis seperti itu memiliki potensi sekaligus kelemahan. Potensi terbesarnya adalah sumber daya yang ada di dalamnya, sedangkan kelemahannya adalah masalah perhubungan antar pulau-pulau serta masalah keamanan, kedaulatan, dan kesejahteraan.
Study Tour ke Aula Jing Si

Study Tour ke Aula Jing Si

23 Desember 2013 Dalam kurikulum pendidikan setiap Sekolah Dasar di Jakarta wajib memiliki kurikulum study tour tentang pengenalan Jakarta. Dan berhubung Tzu Chi Indonesia memiliki gedung sebagai bagian dari budaya kemanusiaan, maka sejak pertengahan tahun 2013 siswa-siswi Sekolah Dasar Cinta Kasih rutin mengadakan study tour ke tempat ini.
Ada tiga "tiada" di dunia ini, tiada orang yang tidak saya cintai, tiada orang yang tidak saya percayai, tiada orang yang tidak saya maafkan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -