Selamat dari Bencana (bagian 4)
Jurnalis : Apriyanto , Fotografer : Apriyanto
|
| |
Melihat keadaan ini, relawan Tzu Chi langsung berunding mengenai tindakan yang tepat dilakukan oleh Tzu Chi. ”Di sini sudah terlalu banyak lembaga swadaya masyarakat. Bahkan terlihat sudah membanjiri. Kita Tzu Chi tidak ingin terlihat tampil. Kalau kita bandingkan dengan yang di Ciamis, di sana mereka belum tersentuh bantuan dan hanya baru kita yang masuk,” terang Heming kepada Agus Djohan. ”Betul shixiong, di sana makanan yang baru mereka terima itu adalah mi (instan) yang kita serahkan kemarin, dan sampai malam kita pulang belum ada bantuan dari LSM lain. Sampai terakhir kita pulang,” kata Benny menambahkan. Di luar perundingan, Rudi Suryana sedang berkumpul-kumpul dengan warga yang berada di tenda pengungsian. Di antara warga yang mengerumuninya, Rudi sebisa mungkin menghibur mereka dengan canda-canda kecil dan nasihat seputar kesehatan. Selanjutnya Rudi pergi mengunjungi bagian logistik yang ada di posko bantuan bencana. Salah satu petugas mengatakan kepada Rudi bahwa mereka menerima banyak bahan makanan, tetapi sayangnya mereka mengalami kekurangan bumbu dapur. Mengetahui kebutuhan yang diperlukan oleh pihak logistik, Rudi langsung berinisiatif pergi ke Pasar Ikan Singaparna untuk membeli bumbu dapur. “Pak, kami mau beli banyak bumbu, bawang, cabe, (dan) daun salam. Tolong dikasih murah ya, karena ini untuk sumbangan korban bencana alam,” tawar Rudi kepada salah seorang pedagang sayuran. “Oh, kemarin kita tukang sayur juga sudah nyumbang buat mereka.” “Iya, tapi sekarang yang mereka butuhkan itu bumbu dapur,” balas Rudi. “Ya enggaklah, Pak. Kita nga mainin begitu, apa lagi saya lagi puasa saya nga berani,” jelas si pedagang. Rudi pun akhirnya membeli banyak bumbu untuk persediaan satu minggu. Sebelum Rudi mengakhiri transaksi dengan pembayaran, si pedagang berkata, “Pak, ini ada banyak kol masih bagus-bagus, dibawa aja ke sana.” “Ya sudah, Pak, daun serehnya ga usah dibayar, saya ikhlas buat ngebantu,” kata salah satu pedagang lainnya yang barang dagangannya ikut dibeli Rudi. “Kalau begitu terima kasih banyak ya, Pak,” balas Rudi gembira.
Ket :- Rudi Suryana sedang berkumpul-kumpul dengan warga yang berada di tenda pengungsian. Berdialog adalah salah satu terapi untuk menghilangkan trauma bagi warga korban gempa. (kiri) Sambil menunggu Rudi yang sedang berbelanja di pasar, beberapa relawan mencoba membuat kesibukan dengan membantu masyarakat mendirikan tenda di salah satu RT. Saat sedang asik bekerja, shijie Nadya, Pepeng, Imelda, Hj. Ebok, dan H. Sahid shixiong dari Bandung datang menghampiri Adi dan Benny yang sedang berdiri di depan tenda. Mereka bilang, mereka membawa makanan kecil dalam jumlah yang tidak besar. Kepada relawan Tzu Chi Bandung, Benny menerangkan kalau di Mangunjaya, Ciamis masih kekurangan bantuan dan sampai tengah hari ini pun masyarakat di sana belum mendapat suplai logistik dari pihak lain. Tanpa banyak buang waktu, kelima relawan ini langsung pergi meninggalkan Cigalontang menuju Mangunjaya. Ketika Rudi telah kembali dari pasar dan semua relawan berkumpul, Abdul Muis bertanya kepada Adi, “Pak Adi, ini sebelum kita putuskan akan memberikan bantuan kelanjutan, apa ada baiknya kalau kita pergi dulu melihat kondisi di Mangunjaya?” “Iya betul. Langsung aja ya, kita berangkat sekarang,” kata Adi setuju. Segera saja mereka melanjutkan perjalanan dengan terlebih dahulu mendatangi batalion untuk menjemput Letkol Andi dan bersama-sama mengunjungi Mangunjaya. Kunjungan Kedua di Mangunjaya dan Banjarsari Letkol Andi yang tadinya berada di luar kerumunan relawan Tzu Chi menjadi ikut bergabung untuk menjernihkan situasi yang mulai mengeruh. “Mungkin Camat memiliki misi tersendiri. Melihat jumlah korban yang banyak, tetapi sedikitnya bantuan, membuat camat harus memilah-milah penyerahan bantuan,” terang Andi. “Lebih baik kita survei berapa keluarga yang menjadi korban gempa dan kebutuhan-kebutuhan apa saja yang mereka perlukan. Cara ini akan lebih efektif,” tukas Adi. “Iya, itu akan lebih baik. Atau, bagaimana bila relawan Tzu Chi yang menyurvei dan kami dari yonif akan memfasilitasi keamanannya,” sambung Letkol Andi.
Ket : -Para relawan Tzu Chi bersama-sama mendirikan tenda darurat untuk para korban gempa di Desa Mangunjaya dan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. (kiri) Dari perundingan yang singkat itu akhirnya disepakati Tzu Chi meminta bantuan kepada yonif untuk mendata kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat, dan siapa-siapa saja yang berhak menerima bantuan lanjutan. Sebab yang dikhawatirkan oleh relawan Tzu Chi adalah akan muncul orang-orang susah dadakan hanya karena mereka ingin menerima bantuan yang sesungguhnya mereka masih sanggup untuk memulihkan sendiri. “Ini merupakan tanggung jawab yang besar karena memerlukan objektivitas. Kami akan gunakan intelijen dalam hal ini,” kata Letkol Andi kepada relawan Tzu Chi. “Terima kasih, Pak, kami sangat mempercayakan tugas ini kepada Bapak,” ucap Benny. Kelar berunding, sebagian relawan mulai bekerja mendirikan tenda darurat dan sebagian lagi pergi bersama Letkol Andi untuk meninjau warga yang mengungsi di tenda-tenda. Dalam kunjungan yang kedua ini, rencananya Adi dan Heming akan membawa berita ini untuk dirapatkan di Tzu Chi Jakarta guna membahas program bantuan kelanjutan Tzu Chi ke depannya bagi para warga korban gempa ini. Gempa yang terjadi pada hari Rabu, 2 September 2009 dengan kekuatan 7,3 skala Richter ini telah membawa kerugian, baik materil maupun jiwa bagi masyarakat di Kabupaten Tasik, Ciamis, dan Cianjur, Jawa Barat. Gempa juga menimbulkan kepedulian dari banyak pihak. Tidak hanya Tzu Chi, tetapi lembaga-lembaga lain juga turut bersumbangsih pada musibah ini. Adi Prasetyo, Letkol Andi Perdana Kahar, Heming, Benny Makulawu, Radhitya Raharja Asikin, dua orang pedagang sayur di Pasar Ikan Singaparna, dan relawan Tzu Chi lainnya adalah mereka-mereka yang terpanggil jiwanya untuk bersumbangsih kepada masyarakat. Yang dapat dipetik dari kejadian ini adalah bahwa kehidupan manusia penuh ketidakpastian, dan di balik kehidupan manusia yang individualis dan materealistis, ternyata masih ada sisi kemuliaan, yaitu jiwa kerelawanan. Tamat | ||
Artikel Terkait
Inspirasi dari Perjalanan Hidup Gan En Hu
07 April 2017Meski pernah terkena tumor dan sempat membuatnya lumpuh, semangat Budi tak tak pernah padam. Ia pun berhasil melawan tumor di tulang belakang dan terus semangat bekerja bagi keluarga.
Proses Mewujudkan Hunian yang Layak di Cempaka Baru
19 Mei 2023Selasa, 16 Mei 2023 sebanyak 9 orang relawan Tzu Chi komunitas He Qi Timur mengadakan kegiatan pembongkaran rumah warga Cempaka Baru, Jakarta Pusat yang mendapat bantuan dalam Program Bebenah Kampung Tzu Chi di Jakarta Pusat.
Tzu Chi Sinar Mas Salurkan APD ke RS. Pratama Parenggean Kotawaringin
05 Mei 2020Tzu Chi Sinar Mas terus melanjutkan penyaluran bantuan kebutuhan medis ke rumah sakit yang minim persediaan APD di berbagai daerah di sekitar wilayah komunitas relawan. Dalam kesempatan kali ini, Xie Li Kalimantan Tengah 5 bergerak menyalurkan bantuan APD bagi salah satu rumah sakit di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.








Sitemap