Semangat dan Tekad Awal yang Tidak Pernah Padam

Jurnalis : Liani, Robby Mulia Halim (Tzu Chi Medan), Fotografer : Amir Tan, Liani, Lili Hermanto, Tanoto (Tzu Chi Medan)

Relawan dan tamu undangan mengikuti acara Pemberkahan Awal Tahun 2026 di Gedung STBA–PIA Medan. Mengusung tema “Jangan Melupakan Tekad Awal Masa Celengan Bambu, Selamanya Mengingat Ikrar Agung dan Mazhab Tzu Chi”, para peserta diajak menjaga tekad awal dan terus menebarkan cinta kasih.

“Selamat Tahun Baru Imlek 2026. Semoga tahun baru membawa berkah kesehatan, keselamatan, kedamaian, dan kebijaksanaan bagi kita semua. Merupakan jodoh yang baik bagi kita untuk berkumpul dalam acara ini sebagai ungkapan apresiasi dan rasa syukur dari pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi, Master Cheng Yen, kepada para relawan, donatur, serta shixiong dan shijie yang selama ini mendukung visi dan misi Tzu Chi,” ujar relawan Tony Honkley saat membuka acara Pemberkahan Awal Tahun 2026 pada Minggu, 1 Maret 2026 di Gedung Sekolah Tinggi Bahasa Asing - Persahabatan Indonesia Asia.

Acara ini dihadiri sekitar 700 relawan dan tamu undangan yang terdiri dari anggota Sangha, pemuka agama, donatur, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum.

Pemberkahan awal tahun merupakan agenda tahunan untuk bersyukur, mendoakan kedamaian dunia, sekaligus meninjau perjalanan misi kemanusiaan Tzu Chi. Kegiatan ini juga menjadi bentuk apresiasi kepada para relawan, donatur, dan masyarakat yang selama ini mendukung tersebarnya cinta kasih dan kebajikan.

Tahun ini terasa istimewa karena Tzu Chi memasuki usia ke-60 tahun. Berawal dari tekad sederhana melalui gerakan celengan bambu, Tzu Chi kini telah hadir di sekitar 68 negara dan wilayah serta menjangkau lebih dari 136 negara dan wilayah. Mengusung tema “Jangan Melupakan Tekad Awal Masa Celengan Bambu, Selamanya Mengingat Ikrar Agung dan Mazhab Tzu Chi,” para peserta diajak untuk terus menjaga tekad awal dalam menebarkan cinta kasih dan kebajikan.

Acara dibuka dengan penampilan genderang dan genta (zhong gu) oleh relawan, Tzu Ching, dan anggota TIMA yang diiringi lagu Qing Qing Song, menghadirkan suasana hening dan khidmat.

Acara diawali dengan penampilan genderang dan genta (zhong gu) oleh relawan, Tzu Ching, dan anggota TIMA yang diiringi lagu Qing Qing Song. Tabuhan genderang melambangkan bahwa kebajikan tidak dapat dilakukan sendiri, tetapi perlu dilakukan bersama-sama agar gema cinta kasih dapat tersebar luas.

Para hadirin juga diajak menyaksikan tayangan kilas balik perjalanan misi kemanusiaan Tzu Chi Indonesia, khususnya di Sumatera Utara dan Aceh sepanjang tahun 2025, yang menunjukkan berbagai upaya relawan dalam menebarkan cinta kasih dan membantu masyarakat yang membutuhkan.

Didalam sharingnya, relawan Tzu Chi Medan sangat prihatin terhadap bencana banjir besar yang melanda Sumatera dan Aceh pada akhir November 2025 lalu. Di banyak daerah, listrik padam, komunikasi terputus, dan informasi sulit diperoleh. Banyak warga terdampak yang membutuhkan bantuan segera. Dalam kesempatan ini, para hadirin diajak mendengarkan sharing pengalaman bantuan bencana banjir di Sumatera dan Aceh.

Relawan Tzu Chi Medan berbagi pengalaman menyalurkan bantuan bagi korban banjir besar di Sumatera dan Aceh pada akhir November 2025. Lukman Chairuddin, Steel Edwin, Shu Tjeng, dan Sylvia Chuwardi menceritakan berbagai tantangan di lapangan.

Relawan Lukman Chairuddin, Steel Edwin, Shu Tjeng, dan Sylvia Chuwardi membagikan pengalaman mereka bersama tim relawan Sumatera Utara dan Aceh saat menghadapi medan yang penuh tantangan. Keterbatasan air bersih serta sulitnya akses menuju lokasi terdampak tidak mematahkan semangat relawan untuk memberikan pertolongan dan dukungan bagi para korban. Para relawan terus berupaya mencari berbagai alternatif untuk menembus lokasi terdampak demi meringankan penderitaan warga. Selain itu, relawan juga mengadakan bakti sosial kesehatan di lokasi terdampak pascabencana sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Perjuangan tanpa lelah relawan ini mendapat banyak apresiasi dari masyarakat dan menjadi motivasi bagi relawan untuk terus menyebarkan cinta kasih kepada mereka yang membutuhkan.

Sulastri bersama empat saudaranya, penerima bantuan bedah rumah, menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi karena kini mereka dapat tinggal di rumah yang lebih layak dan aman dari banjir.

Sharing inspiratif lainnya datang dari Sulastri yang menerima bantuan bedah rumah dari Tzu Chi. Rumah peninggalan orang tuanya yang terbuat dari kayu dan papan sering kebanjiran saat hujan deras. Rumah tersebut juga terdampak banjir besar yang melanda Sumatera dan Aceh sehingga tidak lagi layak dihuni. Ia pun mengajukan permohonan bantuan kepada Tzu Chi. Tidak hanya rumahnya, empat rumah milik saudaranya juga mendapatkan bantuan perbaikan dari Tzu Chi.

“Terima kasih banyak kepada Yayasan Buddha Tzu Chi atas bantuannya. Sekarang kami tidak kebanjiran lagi dan bisa tinggal tanpa rasa takut. Hanya Allah yang dapat membalas kebaikan ini,” ungkap Sulastri dengan mata berkaca-kaca.

Hikmah dan Harapan di Balik Bencana
Selain sharing, para hadirin juga disuguhi pertunjukan drama dan peragaan isyarat tangan.

Andre, yang ikut memerankan drama dari DAAAI TV berjudul Harapan yang Tidak Ikut Luntur mengaku sangat tersentuh dengan tema yang diangkat. Menurutnya, drama tersebut ingin menyampaikan bahwa di tengah bencana selalu ada harapan. Kisah yang ditampilkan menggambarkan realitas bencana yang melanda Sumatera Utara, Aceh, dan sekitarnya pada tahun lalu. Puing-puing kehancuran tidak mematahkan semangat, melainkan justru menghadirkan harapan baru.

Drama pendek Harapan yang Tidak Ikut Luntur oleh tim DAAI TV dan relawan menyampaikan pesan agar tidak kehilangan harapan meski tertimpa bencana. Melalui kebersamaan dan saling menguatkan, setiap rintangan dapat dilalui.

“Teman-teman tim DAAI TV sangat menjiwai perannya walaupun latihan kami hanya lima hari. Mereka pernah turun langsung ke lapangan melihat situasi bencana, sehingga bisa membawakannya dengan tulus dan penuh penghayatan,” ungkap Andre dengan haru.

Ada pula penampilan isyarat tangan lagu Qian Shou Shi Jie (Dunia Bodhisatwa Bertangan Seribu). Lagu ini menyiratkan makna bahwa insan Tzu Chi yang terjun ke daerah bencana bagaikan Bodhisatwa bertangan seribu yang penuh welas asih dalam membantu meringankan penderitaan para korban.

Peraga juga menampilkan lagu Ci Bei De Xin Lu (Jalan Hati yang Penuh Welas Asih) yang menggambarkan bahwa welas asih lahir dari penderitaan. Welas asih bukan sekadar perasaan, melainkan jalan yang harus ditempuh melalui tindakan nyata untuk membantu sesama. Selain itu, relawan pria juga menampilkan isyarat tangan lagu Tzu Cheng Dui Ge sebagai bentuk apresiasi atas peran relawan pria yang sering terlibat dalam kegiatan penuh tantangan seperti penanganan bencana.

Isyarat tangan lagu Ci Bei De Xin Lu (Jalan Hati yang Penuh Welas Asih) menggambarkan bahwa welas asih bukan sekadar perasaan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata membantu sesama.

Menurut Sufinah, peserta sekaligus pembimbing isyarat tangan di komunitas, peragaan isyarat tangan Tzu Chi bukan sekadar hiburan, tetapi sarat dengan Dharma ajaran Master Cheng Yen. Gerakan tangan yang lembut dan rapi memadukan ajaran Dharma, musik, serta cinta kasih untuk menyampaikan pesan kebajikan, kedamaian, dan ketenangan. Selain mempelajari gerakan, para relawan juga belajar membina diri melalui lirik lagu yang mengandung ajaran Dharma. Dengan latihan rutin setiap minggu, para relawan diharapkan dapat terus menumbuhkan kebijaksanaan sekaligus mempererat kebersamaan.

Doa dan Harapan di Tahun yang Baru
Puncak acara ditandai dengan pembagian angpao berkah dan kebijaksanaan dari Master Cheng Yen kepada seluruh peserta. Angpao tersebut mengusung tema “Enam Puluh Tahun Tzu Chi Mempraktikkan Kebajikan Bersama dengan Cinta Kasih” dan berisi pesan untuk terus menanam benih kebajikan dalam kehidupan.

Di akhir acara, para hadirin menerima Angpao penuh berkah sebagai ungkapan doa dari Master Cheng Yen agar semua orang menumbuhkan kebajikan serta mengamalkan welas asih dalam kehidupan sehari-hari.

Momen ini juga meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta yang hadir. Salah satunya adalah Richard Stanley, yang mengaku mengenal Tzu Chi melalui DAAI TV sebelum akhirnya mulai terlibat dalam berbagai kegiatan pada tahun 2007. Seiring waktu, keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kemanusiaan, termasuk turun langsung ke lapangan saat survei kasus, mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Melihat langsung kondisi masyarakat pra-sejahtera membuat Richard merasa bahwa justru dirinya yang banyak belajar dan dibantu untuk lebih pandai bersyukur. Dalam penanganan pascabanjir yang melanda Sumatera Utara baru-baru ini, ia turut aktif menyebarkan informasi mengenai kondisi dan kebutuhan korban melalui media sosial, membantu penggalangan dana, serta terlibat langsung dalam penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak.

“Saya mengagumi konsistensi Tzu Chi dalam misi kemanusiaan, mulai dari tsunami Aceh tahun 2004 hingga sekarang. Di tahun baru ini saya berharap dunia terbebas dari bencana dan penderitaan, serta Tzu Chi tetap menjadi garda terdepan dalam membantu masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.

Richard Stanley (3 kanan baris 2) mengapresiasi konsistensi Tzu Chi dalam misi kemanusiaan sejak tsunami Aceh 2004 hingga kini, serta berharap Tzu Chi terus membantu masyarakat yang membutuhkan.

Wakil Ketua Pelaksana Tzu Chi Medan, Steel Edwin, juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung berbagai kegiatan kemanusiaan Tzu Chi, khususnya dalam penanganan bencana banjir di Sumatera dan Aceh.

“Perjalanan Tzu Chi tidak terlepas dari dukungan donatur, relawan, dan masyarakat. Terima kasih atas semua partisipasi dan kepercayaan yang diberikan kepada Tzu Chi. Semoga semangat cinta kasih terus berkembang sehingga kita dapat membantu lebih banyak orang,” ujarnya.

Senada dengan itu, Koordinator kegiatan Herlina Arifin berharap momen pemberkahan awal tahun ini dapat menjadi ruang refleksi bagi para relawan untuk terus menebarkan kebajikan.

“Semoga di tahun ini dunia semakin damai dan para relawan Tzu Chi dapat terus membantu lebih banyak orang, sekaligus membina diri agar kebijaksanaan dalam diri semakin tumbuh,” tuturnya.

Para hadirin dan relawan turut berdonasi dengan menuangkan isi celengan bambu sebagai wujud kepedulian kepada sesama.

Harapan-harapan tersebut sejalan dengan pesan yang disampaikan oleh Master Cheng Yen dalam ceramahnya. Ia mengingatkan bahwa kehidupan tidaklah kekal dan masih banyak makhluk yang menderita. Oleh karena itu, manusia hendaknya memanfaatkan waktu untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi sesama.

“Semoga kekuatan cinta kasih setiap orang dapat dikerahkan sepenuhnya bagi sesama. Dengan mewariskan cinta kasih, kita mewariskan keluhuran. Memupuk keluhuran bagi anak cucu lebih berharga daripada mewariskan kekayaan materi. Mari kita bersungguh hati mengerahkan kekuatan cinta kasih dan berdoa agar dunia aman dan tenteram. Saya mendoakan kalian semua,” pesan Master Cheng Yen.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

PAT 2025: Kisah Himpunan Tetesan Kebajikan

PAT 2025: Kisah Himpunan Tetesan Kebajikan

05 Februari 2026
Pemberkahan Akhir Tahun 2025 komunitas He Qi Jakarta Utara 4 menjadi momen refleksidan mengingat kembali tekad awal celengan bambu serta kisah nyata welas asih melalui pendampingan dan bantuan bencana.
PAT 2025: Tzu Chi Surabaya Satukan Tekad dan Cinta Kasih

PAT 2025: Tzu Chi Surabaya Satukan Tekad dan Cinta Kasih

26 Februari 2025

Tzu Chi Surabaya kembali mengadakan Acara Pemberkahan Awal Tahun 2025. Acara ini merupakan momen para insan Tzu Chi berkumpul bersama untuk menyatukan tekad, semangat dan doa bersama dalam melangkah di tahun 2025. 

Pemberkahan Akhir Tahun 2024 Tzu Chi Makassar: Momen Sukacita dan Syukur Bersama Tzu Chi

Pemberkahan Akhir Tahun 2024 Tzu Chi Makassar: Momen Sukacita dan Syukur Bersama Tzu Chi

21 Januari 2025

Pemberkahan Akhir Tahun 2024 Tzu Chi Makassar merayakan semangat kebersamaan dan kebaikan melalui berbagai kisah inspiratif, diikuti dengan peluncuran Komunitas Tunas untuk relawan muda.

Menghadapi kata-kata buruk yang ditujukan pada diri kita, juga merupakan pelatihan diri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -